Pos

Obituari Romo Mudji Sutrisno, SJ: Penasihat Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF)

Oleh Bhante Ditthisampanno Mahathera, Ph.D.*   Duka cita yang mendalam atas wafatnya Romo Mudji Sutrisno, SJ, Penasihat BWCF, rohaniwan, intelektual, dan humanis yang sepanjang hidupnya mendedikasikan pemikiran dan tindakan bagi kebudayaan, keadilan sosial, serta dialog lintas iman dan peradaban. Bagi BWCF, Romo Mudji bukan sekadar figur penasihat secara struktural, melainkan penjaga nurani intelektual dan etika […]

Akal Bulus Amerika di Venezuela: Petrodollar, Hegemoni Berdarah, dan Senjakala Imperialisme Finansial

Oleh: Gus Nas Jogja*   Topeng Demokrasi di Atas Sumur Minyak Sabtu dini hari, 3 Januari 2026, sejarah mengulang rima kelamnya. Penangkapan Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat bukan sekadar operasi penegakan hukum terhadap “diktator” atau “gembong narkoba”. Di balik narasi moralitas yang diproduksi oleh mesin propaganda Washington, tersimpan sebuah Akal Bulus yang sangat pragmatis, […]

Menjadi Saksi: Balada sebagai Zikir Tanah Leluhur

Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Menjadi Saksi Langit dan Tanah Saya menulis bukan untuk menentukan makna tanah leluhur, apalagi menafsirkannya dengan tergesa. Saya datang sebagai orang yang menepi: berdiri di pinggir sawah, di batas kebun, atau di bawah pohon tua yang tak lagi ditanya umurnya. Di sana saya belajar mendengar, bukan hanya suara alam, […]

Teater Dalam Pembelajaran Mendalam (Mengulik Teater Pelajar)

Oleh: Madin Tyasawan* Kendala sistemik dan guru yang tak menguasai strategi pengajaran membuat teater kurang mendapat perhatian di sekolah. Kita akan berdecak kagum saat menyaksikan penampilan kelompok teater pelajar berlaga di Festival Teater Pelajar (FTP) yang digelar setiap tahun di Jakarta. Pada rerata penampilannya, mereka memiliki semangat bermain yang enerjik, tubuh yang luwes, dengan vokal […]

Dialektika Genosida dan Ekosida dalam Kebiadaban Manusia

Oleh: Gus Nas Jogja*   Preludium: Ketika Langit Malu Menatap Bumi Di hadapan mimbar sejarah yang retak, kita berdiri memegang dua belah pisau yang sama tajamnya: Genosida dan Ekosida. Satunya menyayat nadi kemanusiaan (humanity), yang lainnya memutus napas alam semesta (ecosystem). Pertanyaan “mana yang lebih biadab?” sejatinya adalah sebuah upaya untuk mengukur kedalaman neraka di […]

Seni dan Hermeneutika: Ketika “Tafsir” dan “Riset” Menjadi Senjata Legitimasi

Oleh: Eko Yuds*   Tulisan ini berpijak pada satu posisi yang tegas: hermeneutika bukanlah pembenar tafsir bebas dalam seni, melainkan disiplin pemaknaan yang justru membatasi kesewenang-wenangan makna. Ketika “tafsir” dan “riset” digunakan tanpa prinsip metodologis dan kesadaran etis, seni berisiko kehilangan watak dialogisnya dan berubah menjadi instrumen legitimasi simbolik—baik bagi ego individual maupun kepentingan institusional. […]

Kaleidoskop Pendidikan 2025: Antropologi Disrupsi dan Politik Pencerahan

Oleh: Gus Nas Jogja*   “Dunia ini adalah sekolah, dan setiap insan adalah buku yang harus kita baca dengan rasa hormat.”   Fragmen Pembuka: Dialektika Ruang Hampa Pendidikan bukanlah sekadar transmisi dogma di atas papan tulis yang berdebu; ia adalah sebuah Kaleidoskop. Sebuah tabung optik di mana setiap pecahan kaca—baik melalui metafisika Sunan Kalijaga, nalar […]

Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS

HALO   bahkan untuk mengabarkan padamu amat sulit dan terbata sinyal tiada bersama tumbangnya menara seperti juga jembatan putus menghentikan segala perjalanan   telepon genggam tak aktif lampu layar kerap padam tiangtiang pengantar listrik rubuh bencana membuat segala lumpuh juga pesan pendek dan halo darimu hanya melayang di udara   kalau sudah begini percakapan sungguh […]

Demokrasi Tabrak Lari: Genealogi Caci-maki dan Banalitas Digital dalam Arus Post Truth

Oleh: Gus Nas Jogja*   Mukaddimah Senjakala Diskursus Publik Demokrasi, yang secara etimologis berakar pada demos dan kratos, seharusnya menjadi ruang bagi kedaulatan yang diskursif. Namun, di bawah bayang-bayang revolusi digital, kita menyaksikan mutasi radikal: Demokrasi Tabrak Lari. Ini adalah kondisi di mana partisipasi politik tidak lagi berbasis pada argumen yang diuji, melainkan pada serangan […]

Menyobek Kalender: Kapai-Kapai Arifin C Noer dan Ilusi Pergantian Waktu

Oleh: Purnawan Andra*   Yang Kelam: Ini adalah tahun 1960. Ini bukan tahun 1919. Dia akan mati pada tahun 1980. Sudah waktunya kerut ditambah di dahinya. Abu: Tobat, apa yang telah kau lakukan? Yang Kelam: Menyobek kalender! (Kapai-kapai, Arifin C Noer, 1970)   —— Pergantian tahun hampir selalu dibingkai sebagai peristiwa yang menjanjikan dan penuh […]