Pos

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA NISAN TANPA NAMA Di bukit sunyi, di bawah pohon bidara yang menggugurkan bayang, ada seonggok tanah merah yang tak dikunjungi pelayat. Tak ada batu pualam, tak ada tanggal wafat, hanya sekeping kayu lapuk tanpa aksara dan wangi samar yang turun tiap petang menjelma doa. Burung hantu sering bertengger di dahannya, bukan membawa kabar, tapi […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA JIN PENJAGA SUMUR LANGGAR Di balik langgar kayu tua yang menganga sepi selepas Isya, ada sumur kecil berlumut hijau dan bercahaya samar seperti mata yang tak ingin dilihat. Tak ada yang berani menimba kecuali mereka yang telah bersuci dan menyebut nama-Nya dengan nafas pelan dan dada tunduk. Dulu, kata Mbah Sarwan, ada jin alim […]

Suminto A. Sayuti: Dari Ledakan Sunyi ke Suluk Ketibaan

(Malam Taman Sari ke Bangsal Sri Manganti)   Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Ketika Puisi Tidak Pernah Sia-sia Puisi tidak sekadar deretan kata yang indah; ia adalah tubuh pengalaman batin yang melampaui waktu dan ruang. Ia hadir bukan sekadar sebagai objek estetika, tetapi sebagai peristiwa bahasa yang menuntut pembacaan yang sungguh-sungguh: pembacaan yang bersedia […]

Puisi-puisi Mulyadi J. Amalik

WAYANG SULUH Jangan bangunkan aku di lautan mimpi tengah malam. Tunggulah usai bersauh dini pagi diurai kokok ayam. Tiba padam mercusuar, tiba matahari penggantinya. Aku kan sarapan sesuai harapan. Makan berlauk garam berbutir penantian. Menggosok gigi seputih hati dan lisan. Lalu bekerja menjalankan mimpi selepas tadi. Aku wayang pencetus janji tanpa tepi. Maju menjadi suluh […]

Puisi-puisi Abang Patdeli Abang Muhi

Penjilat Barangkali, sudah tersurat dalam lohmahfuz  bahawasanya demi pangkat dan darjat demi kuasa yang tidak kekal lama demi harta yang tidak seberapa demi kedudukan yang tidak setinggi mana ada sida-sida yang sejak sekian lama kerjanya hanya membodek dan menjilat meski mereka tahu persis yang dijilat itu penuh nista dan najis kendati mereka tahu benar yang […]

ASLI: Akademi Seni Lupa Indonesia

Oleh Agus Dermawan T. *   Lupa adalah penyakit turunan orang Indonesia, kata orang tua yang tak mau disebut namanya. Kumpulan lupa yang paling mudah diingat adalah yang menimpa para pejabat negara. ————- DALAM pagelaran stand up comedy saya menyaksikan seorang monodramator beraksi. Kedengarannya benar. Namun menurut keyakinan saya, apa yang ia katakan ada yang […]

Isra Mi’raj dalam Tafsir Sastra

Dialektika Cahaya, Ruang, dan Waktu Oleh: Gus Nas Jogja Ketika malam mencapai titik nadir keheningannya, sebuah peristiwa kosmik yang melampaui seluruh nalar fisika Newton dan mekanika kuantum meledak dalam kesunyian. Isra Mi’raj bukanlah sekadar migrasi horizontal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu vertikal menembus tujuh samudra langit menuju Sidratul Muntaha. Dalam tafsir sastra, ia […]

Hari yang Berbahaya: Krisis Makna dan Kehidupan yang Menjadi Biasa dalam Puisi Beno Siang Pamungkas

Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Ketika Hidup Terasa Baik-Baik Saja Ada masa dalam hidup ketika segalanya tampak berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada tragedi yang memaksa kita berhenti. Tidak ada kehilangan besar yang membuat dunia runtuh seketika. Hari datang dan pergi dengan tertib, pekerjaan selesai sesuai jadwal, tubuh relatif sehat, relasi sosial tidak sedang retak. […]

Kolektor sebagai Produsen Makna: Membaca EZ Halim dan Amrus Natalsya

Oleh Syakieb Sungkar* Cara seorang kolektor mengoleksi dapat dipahami sebagai suatu disiplin pengetahuan tersendiri, sebagai bentuk epistemologi praksis: pengetahuan yang lahir dari pengalaman berulang, afeksi, intuisi, kegagalan, dan keterlibatan jangka panjang dengan karya seni. Dalam memilih karya, cara mengkurasi seorang kolektor sering kali tidak sepenuhnya dapat dirumuskan secara verbal, namun hasilnya sangat presisi dalam praktik. […]

Kesiur Cinta: Bahasa, Sunyi, dan Etika Ketidakhadiran dalam Puisi Timur Sinar Suprabana

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Kesiur Cinta: Metafora yang Sunyi Puisi cinta, dalam kebiasaan baca yang umum, kerap dipahami sebagai wilayah luapan emosi. Ia diharapkan menyuarakan kegembiraan, kehilangan, cemburu, atau rindu dengan nada yang tegas, bahkan kadang berlebih. Cinta diasumsikan mesti hadir sebagai peristiwa yang terasa: menyala, menggelegak, dan mudah dikenali. Dalam kerangka semacam […]