Pos

Merah Putih dan Pekerjaan Kebudayaan

Oleh: Purnawan Andra* Setiap Agustus, merah putih hadir di hampir seluruh ruang kehidupan kita. Ia berkibar di halaman kantor, sekolah, jalan kampung, rumah-rumah warga, hingga gang-gang kecil. Selama beberapa pekan, warna itu menjadi pemandangan yang nyaris tak terpisahkan dari Indonesia. Bendera merah putih memang identitas negara. Namun, dua warna itu sesungguhnya memiliki kehidupan budaya yang […]

Mengenal Kuliner Khas Kepulauan Talaud Sulawesi Utara

Oleh: Hari Suroto* Kepulauan Talaud terletak di paling utara Indonesia, berbatasan langsung dengan Filipina. Kepulauan Talaud memiliki kuliner khas yang yang diolah secara tradisional berbahan pangan lokal seperti keladi, kelapa, kacang merah, dan ikan laut. Bagi masyarakat Talaud, keladi bersama sagu adalah makanan pokok. Tanaman keladi di Talaud ditanam di sawah maupun kebun. Pada masa […]

Zaini, Manusia, Lukisan, dan Kabut

 Oleh: Agus Dermawan T.* Tahun 2026 terbilang sebagai 100 tahun Zaini. Seabad seniman besar ini diperingati lewat pameran kecil dan singkat, “Menyibak Kabut, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 20 Juni sampai 11 Juli 2026.  Pada 1985 saya diminta oleh Jakob Oetama, Pemimpin Umum/Redaksi Kompas, untuk menulis artikel panjang tentang Zaini. Tulisan diterbitkan dalam katalog “Pameran […]

Rumah Proklamasi dan Ingatan Bangsa Membangun Kembali Simbol Kemerdekaan atau Membangun Masa Depan Sejarah Indonesia?

Oleh: Asfarinal* “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.” Kalimat yang sering dikutip dari Bung Karno tersebut sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang penghormatan kepada manusia, tetapi juga kepada ruang-ruang tempat sejarah bangsa itu dilahirkan. Sebab sejarah tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Ia selalu memiliki panggung, memiliki lanskap, memiliki bangunan yang menjadi […]

Memerdekakan Seniman, Memerdekakan Kesenian

Oleh: Prof. Dr. Kasiyan, M.Hum.* Setiap Agustus, kita kembali mendengar lagu lama, melihat merah-putih berkibar, dan mengucap “merdeka” hampir otomatis. Namun peringatan mungkin justru bermakna ketika kita berhenti sejenak dari perayaan, lalu menengok republik dengan pandangan lebih jernih—dan, kalau perlu, sedikit nakal. Dari kegelisahan itulah, esai ini lahir: refleksi satiris tentang seniman dan dunia kesenian, […]

Trilogi Konseptual Abdul Wachid B.S.: Memetakan Sastra Pencerahan, Sastra Hikmah, dan Sastra Santri dalam Kesusastraan Indonesia

Oleh: KRHA. Prof. (HC). Dr. Dimas Indianto S.*   Pendahuluan Di tengah mekanisasi digital dan riuh-rendah algoritma yang semakin memengaruhi kehidupan sehari-hari, kesusastraan religius kita masih kerap ditempatkan dalam dikotomi yang kurang produktif. Kritik sastra modern yang bertumpu pada nalar sekuler acap kali memandang curiga karya yang lahir dari pengalaman keagamaan. Karya semacam itu mudah […]

Menakar Ulang Gotong Royong

Oleh: Pietra Widiadi* Setiap bulan Agustus, warga Indonesia selalu disibukkan dengan kemeriahan peringatan hari Kemerdekaan, negeri ini. Tradisi peringatan dan kemeriah atas kemerdekaan sudah hadir sejak, dikumandangan Indonesia merdeka. Bahkan sejak berabad lalu, peringatan semacam ini ada, dalam berbagai tradisi daerah dan dalam bentuk berbagai peringatan. Kemeriahan tidak hanya di kota, di mana pusat pemerintahan […]

Ebeg Banyumasan: Seni sebagai Ortopedi Dalam Psikoanalisis Lacanian

Oleh: Indro Suprobo* Tahap cermin adalah sebuah proses pemeranan (subyek) yang dorongan internalnya dipicu oleh rasa berkekurangan menuju kepada apa yang diantisipasikan (diharapkan) – dan yang bagi semua subjek yang terjebak dalam daya tarik identifikasi spasial, tahap cermin itu menciptakan rangkaian fantasi yang membentang dari citra tubuh yang terfragmentasi hingga bentuk keseluruhannya, yang akan saya […]

Melankolia dalam Aruna dan Lidahnya

Oleh: Anton Kurnia Ada satu pertanyaan yang secara implisit terus menghantui penonton sepanjang film Aruna dan Lidahnya (2018) garapan Edwin:[1]apa yang sesungguhnya dicari oleh Aruna? Film yang diadaptasi dari novel Laksmi Pamuntjak[2] dengan judul sama (2014) ini sepintas tampak menjawab pertanyaan itu dengan sederhana: Aruna mencari comfort food yang ia rindukan tanpa tahu persis apa […]

Taufiq Ismail dan Kesaksian Dunia Sastra Indonesia

Oleh: Mahwi Air Tawar* Dukungan terhadap Taufiq Ismail sebagai kandidat penerima Hadiah Nobel Sastra terus mengalir dari berbagai penjuru Indonesia. Suara itu datang dari para sastrawan, akademisi, komunitas kebudayaan, lembaga pendidikan, serta Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) dari berbagai daerah di Indonesia. Dukungan tersebut bukan sekadar seremoni atau pernyataan sesaat. Ia tumbuh dari penghargaan terhadap perjalanan […]