Pos

Puisi-puisi Seno Joko Suyono

Dua arca Yang Lelah di Museum Terlalu banyak menerima umat Yang meminta berkah dan permohonan-permohonan selama ratusan tahun Kulihat mata kedua arca itu lelah Meski terpejam seolah meditasi Kulihat ada sedikit embun di pelupuknya “Bagaima Anda tahu. Anda dari mana?” Aku merasa arca itu gusar bertanya kepadaku Aku merasa bersalah dan akan berusaha hati-hati Agar […]

Wajah Bahasa Kita

Oleh: Muhammad Panji Gozali* Berbicara tentang Indonesia dan budayanya tidak akan lengkap bila tidak membahas tentang bahasanya. Bahasa merupakan bagian kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan keseharian. Bahasa merupakan alat komunikasi manusia baik secara lisan maupun tulisan. Berangkat dari hal tersebut Indonesia sebagai bangsa yang bangga terhadap bahasa, di setiap tahunnya Indonesia memperingati […]

Potret Peradaban di Jalanan

Oleh: Agus Dermawan T. Di Tiongkok, budaya pengajaran dan penghajaran lalu-lintas jalanan menghasilkan ketertipan signifikan. Tiongkok percaya bahwa potret peradaban suatu bangsa bisa terlihat dari cara masyarakatnya memperlakukan jalan raya. —————– DALAM perjalanan wisata di Tiongkok di bulan Agustus 2026, bus yang saya tumpangi mampir di toilet stop Weilong Service Area. Suatu tempat yang jauh […]

Puisi-puisi Seno Joko Suyono

Sajak Sajak Korea   67 Cheonho-daero 45-gil Angin musim gugur mendinginkan ginsengku Kutahu jalan di depan sepi dini hari ini Entah yang kudengar deram kereta atau Suara-suara dari lorong yang terbantun luruh menjelang subuh Jarak dari stasiun Cheongyangni tak begitu jauh Bunyi sepatu tergesa-gesa turun naik tangga terbawa sampai kamar kecilku Tapi kemudian menghilang ketika […]

Desil Hitam Estetika: Ketika Keindahan Mengkhianati Kebenaran dan Kebaikan

Oleh: Kasiyan*   Ada sebuah kata yang belakangan seperti naik kelas, dari tabel statistik ke percakapan publik: desil. Kata yang terdengar dingin dan administratif itu, dipakai untuk membaca lapisan kesejahteraan: siapa berada di bawah, siapa di tengah, siapa di atas. Angka akhirnya bukan sekadar angka. Ia menjadi cara negara menyigi kehidupan warga, meskipun selalu ada […]

Melihat Merah Putih Compang-Camping

Oleh: Doddi Ahmad Fauji * Perempuan itu bersimpuh dalam balutan mukena seputih kapas, putih yang bagai awan suci, duduk di atas sajadah dalam posisi tahiyat akhir. Ia bukan sedang salat loh. Dari sebuah teko kaca, ia mengucurkan cairan merah pekat bak anggur ke dalam gelas kaca bening berkaki, gelas yang biasa mendenting untuk bersulang ala […]

Cello Asep Hidayat dan Tiga Zaman  Musik Kontemporer Indonesia

Oleh: Aristofani Fahmi* Jumat malam, 28 Agustus 2026, Teater Wahyu Sihombing dalam kondisi remang ketika Asep Hidayat berjalan ke tengah panggung membawa cello. Selama satu setengah jam berikutnya, ia membawakan sembilan karya solo cello karya komponis Indonesia, dari yang ditulis tahun 1960 sampai karya generasi termuda hari ini. Pertunjukan bertajuk Suara Nusantara: Suara Cello Menyusuri […]

Merdesa dan Cara Mencintai Desa yang Terus Berubah

Oleh: Eko Yuds*   Peluncuran buku tentang Jolenan di Kemetul membuka percakapan tentang ingatan, kerja warga, dan hak generasi berikutnya ikut menentukan masa depan tradisi. KABUPATEN SEMARANG — Catatan lapangan penulis yang sebagai peneliti merekam Desa Kemetul pada pagi 11 Juli 2026 melalui bentang sawah selepas panen. Matahari yang mulai muncul dari balik perbukitan menyinari petani […]

Ketika Lukisan Keluar dari Kanvas

Oleh: Abad Akbar* Melihat Intermedialitas dalam Seni melalui Praktik Living Canvas Berawal dari karya seni rupa yang digunakan sebagai media pendukung film Siapa Dia karya Garin Nugroho, sebuah pertanyaan muncul dalam benak saya: bagaimana sebuah karya statis dua dimensi dapat memaksimalkan fungsinya selain sekadar menjadi pajangan di ruang pamer? Dari film ini saya melihat bahwa […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

NING Malam turun ke sebuah tanah di antara sawah dan bukit. Bukan hujan, bukan angin. Malam. Ia turun dari punggung gunung, menyusuri rumpun bambu, melewati pematang, menyentuh rumah-rumah yang lampunya satu demi satu memadamkan diri. Dari sebuah pesantren suara ngaji naik ke langit. Satu lampu. Dua. Tiga. Lalu seluruh pesantren menjadi perahu yang berlayar tanpa […]