Pos

Sekolah Tanpa Seni: Ketika Imajinasi Menjadi Hak Istimewa

Oleh: Karen Hardini   Di balik riuh rendah sistem full day school, sebuah gejala laten pelan-pelan membesar. Meski jadwal sekolah sudah menyita hampir seluruh hari, para orang tua (baca: keluarga muda) justru kian gencar mencari ruang tambahan bagi buah hatinya. Selepas bel pulang, anak-anak diajak beralih ke studio seni—seni rupa misalnya, mulai dari menggambar, mewarnai, […]

Bahasa Kebangsaan Penyatu Bangsa

Oleh: Kim Young  Soo* Tiga unsur, yaitu Tanah, Rakyat, dan Bahasa Kebangsaan, membentuk suatu negara. Tanpa tiga unsur itu, negara tersebut bukanlah negara yang berdaulat. Bahasa Kebangsaan pula mencerminkan jati diri bangsa tersebut. Demikian pandangan KIM YOUNG SOO. Sebagaimana diketahui, Rakyat, Tanah dan Bahasa Kebangsaan merupakan tiga unsur utama untuk membentuk sebuah negara. Dengan kata […]

Nonton Film Odyssey di Open Air Swiss

Oleh: Sigit Susanto Kamis, 30 Juli 2026 menjelang pukul 21.00 aku naik sepeda ontel menuju Open Air di tepi danau Zug, untuk menonton film bahasa Jerman Die Odysee (Odyssey). Seorang satpam berseragam biru memeriksa tiketku dan aku berlengggang masuk arena berpagar besi itu. Kulihat banyak orang sedang menikmati makanan dan minuman di meja-meja berpayung. Maklum […]

(Festival) Tari dan Produksi Pengetahuan

Oleh: Purnawan Andra *   Dalam dua dekade terakhir, ekosistem festival tari di Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin beragam. Indonesian Dance Festival (IDF) tetap menjadi rujukan utama bagi tari kontemporer Indonesia, sementara sejumlah festival lain, termasuk Jakarta International Contemporary Dance Festival (JICON), mulai menghadirkan ruang-ruang baru bagi pertunjukan, percakapan, lokakarya, dan kolaborasi lintas negara. Perkembangan […]

 Perfect Days: Narasi Tanpa Kegaduhan

Oleh: Bambang Supriadi ICS*   “Bukan selera penonton sinetron.”Kalimat itu mungkin muncul setelah beberapa menit pertama menyaksikan Perfect Days (2023), film karya sutradara Jerman Wim Wenders. Reaksi tersebut dapat dimengerti. Film ini tidak dibuka dengan konflik, kejutan, atau peristiwa yang segera menggerakkan cerita. Sebaliknya, Wenders mengajak penonton mengikuti kehidupan sehari-hari Hirayama, seorang petugas kebersihan toilet […]

L.K. Ara dan Poetika Kesetiaan: Membaca Dunia Puitik Seorang Maestro dari Tanah Gayo

oleh: Abdul Wachid B.S.* Mengapa L.K. Ara Perlu Dibaca Kembali Penganugerahan Anugerah Kepenyairan Adiluhung kepada L.K. Ara membuka kembali percakapan mengenai salah satu penyair yang telah menempuh perjalanan panjang dalam sastra Indonesia. Namun, penghargaan semacam itu sesungguhnya bukan titik akhir pembacaan, justru kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana dunia puitik yang dibangun L.K. […]

Kongres Kebudayaan Nusantara 2026: Kerinduan Pada Akar Lampau

Oleh: Chrisman Hadi Nanti pada 8 Agustus 2026 sejumlah pemangku adat, penghayat kepercayaan, budayawan, seniman, akademisi, sejarawan, peneliti dan komunitas kebudayaan dari berbagai daerah direncanakan berkumpul di Malang dalam Kongres Kebudayaan Nusantara. Perhelatan yang diselenggarakan Himpunan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tersebut membawa harapsn besar: Menggali kembali nilai-nilai peradaban Nusantara sebagai fondasi pembangunan […]

Performance Art, Politik & Kita di Antaranya

Oleh: Purnawan Andra* Kita hidup di zaman yang semakin sulit membedakan kenyataan dan pertunjukan. Hampir setiap hari publik disuguhi peresmian proyek, kunjungan kerja, konferensi pers, dan berbagai seremoni kenegaraan yang diproduksi dengan estetika visual yang semakin canggih. Politik tidak lagi hanya bekerja melalui kebijakan, tapi juga melalui citra. Yang diperebutkan tidak sekedar keputusan, tapi juga […]

Suatu Kali Seperjalanan dengan Mas Nasirun

Oleh: Hairus Salim HS* Perupa Nasirun (1965-2026) adalah manusia yang unik. Unik dalam pengertian tidak seperti orang kebanyakan. Di antaranya, ia tidak memiliki dan tidak menggunakan telpon genggam pribadi, sesuatu yang amat langka sekarang ini. Tentu saja ia bisa beli, yang ter-up date dan termahal sekali pun. Tapi itu tadi, ia tidak merasa perlu memiliki […]

Khotbah Nasirun

Oleh: Agus Dermawan T. Nasirun, kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, 1965, wafat pada 1 Agustus 2026 di Yogyakarta. Perupa amat terkenal ini memberangkatkan karyanya dari dua tradisi yang diturunkan orang tuanya. Ibunya, Supiyah, wanita berlatar Sunda Wiwitan. Ayahnya, Samrustam, orang Jawa yang meniti tradisi dengan kedalaman. Nasirun banyak mewariskan rupa seni dan cerita kehidupan. ————- SAYA […]