Pos

Mens Rea Panggung Tunggal Penuh Kritik

Oleh Pietra Widiadi* Dalam beberapa hari terakhir, ruang publik Indonesia kembali dipenuhi oleh paradoks yang berulang: bencana struktural di Sumatra yang lahir dari kebijakan politik tak kunjung menemukan jalan pemulihan yang jelas, sementara kegagapan rezim pemerintah dalam mengelola negara justru menjelma tontonan. Negara seolah hadir bukan sebagai pengelola krisis, melainkan sebagai produsen absurditas. Di tengah […]

Kemerdekaan Imajinasi

Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Membuka Pintu Imajinasi Kemerdekaan fisik adalah sebuah pintu gerbang yang megah. Kita sering menganggapnya sebagai puncak, garis finis dari perjuangan panjang sebuah bangsa. Namun, di balik pintu itu terbentang ruang yang jauh lebih luas dan dalam: ruang kebebasan batin dan kebebasan berpikir. Ruang itulah yang sesungguhnya menentukan apakah kemerdekaan […]

Patung Macan Putih Kediri, Humor, dan Masyarakat

Oleh: Agus Dermawan T.*   Patung Monumen Macan Putih yang konyol di Balongjeruk, Kediri, viral sejak ujung 2025. Patung ini menyadarkan bahwa karya seni yang aneh, rusak dan “kocak” adalah magnit yang mengandung humor, sehingga menghibur. Ada yang menyebut ini bagian dari kebudayaan kontemporer. —————————–   DALAM kisah legenda Sie Jin Kui, orang hebat era […]

Desa, Bencana dan Politik Liyan

Oleh: Purnawan Andra*   Bencana sering kita pahami sebagai peristiwa alam yang datang tiba-tiba. Hujan deras, tanah longsor, banjir bandang, atau kebakaran hutan kerap dijelaskan sebagai akibat cuaca ekstrem atau perubahan iklim global. Penjelasan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi ia belum menyentuh akar persoalan yang lebih dalam. Dalam banyak kasus di Indonesia, bencana bukan semata […]

Obituari Romo Mudji Sutrisno, SJ: Penasihat Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF)

Oleh Bhante Ditthisampanno Mahathera, Ph.D.*   Duka cita yang mendalam atas wafatnya Romo Mudji Sutrisno, SJ, Penasihat BWCF, rohaniwan, intelektual, dan humanis yang sepanjang hidupnya mendedikasikan pemikiran dan tindakan bagi kebudayaan, keadilan sosial, serta dialog lintas iman dan peradaban. Bagi BWCF, Romo Mudji bukan sekadar figur penasihat secara struktural, melainkan penjaga nurani intelektual dan etika […]

Akal Bulus Amerika di Venezuela: Petrodollar, Hegemoni Berdarah, dan Senjakala Imperialisme Finansial

Oleh: Gus Nas Jogja*   Topeng Demokrasi di Atas Sumur Minyak Sabtu dini hari, 3 Januari 2026, sejarah mengulang rima kelamnya. Penangkapan Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat bukan sekadar operasi penegakan hukum terhadap “diktator” atau “gembong narkoba”. Di balik narasi moralitas yang diproduksi oleh mesin propaganda Washington, tersimpan sebuah Akal Bulus yang sangat pragmatis, […]

Menjadi Saksi: Balada sebagai Zikir Tanah Leluhur

Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Menjadi Saksi Langit dan Tanah Saya menulis bukan untuk menentukan makna tanah leluhur, apalagi menafsirkannya dengan tergesa. Saya datang sebagai orang yang menepi: berdiri di pinggir sawah, di batas kebun, atau di bawah pohon tua yang tak lagi ditanya umurnya. Di sana saya belajar mendengar, bukan hanya suara alam, […]

Teater Dalam Pembelajaran Mendalam (Mengulik Teater Pelajar)

Oleh: Madin Tyasawan* Kendala sistemik dan guru yang tak menguasai strategi pengajaran membuat teater kurang mendapat perhatian di sekolah. Kita akan berdecak kagum saat menyaksikan penampilan kelompok teater pelajar berlaga di Festival Teater Pelajar (FTP) yang digelar setiap tahun di Jakarta. Pada rerata penampilannya, mereka memiliki semangat bermain yang enerjik, tubuh yang luwes, dengan vokal […]

Dialektika Genosida dan Ekosida dalam Kebiadaban Manusia

Oleh: Gus Nas Jogja*   Preludium: Ketika Langit Malu Menatap Bumi Di hadapan mimbar sejarah yang retak, kita berdiri memegang dua belah pisau yang sama tajamnya: Genosida dan Ekosida. Satunya menyayat nadi kemanusiaan (humanity), yang lainnya memutus napas alam semesta (ecosystem). Pertanyaan “mana yang lebih biadab?” sejatinya adalah sebuah upaya untuk mengukur kedalaman neraka di […]

Seni dan Hermeneutika: Ketika “Tafsir” dan “Riset” Menjadi Senjata Legitimasi

Oleh: Eko Yuds*   Tulisan ini berpijak pada satu posisi yang tegas: hermeneutika bukanlah pembenar tafsir bebas dalam seni, melainkan disiplin pemaknaan yang justru membatasi kesewenang-wenangan makna. Ketika “tafsir” dan “riset” digunakan tanpa prinsip metodologis dan kesadaran etis, seni berisiko kehilangan watak dialogisnya dan berubah menjadi instrumen legitimasi simbolik—baik bagi ego individual maupun kepentingan institusional. […]