Pos

Absurditas Sastra dan Cacat Linguistik: Mengapresiasi Retakan dalam Bejana Simulakra

Oleh: Gus Nas Jogja*   Sastra sering kali dirayakan sebagai puncak pencapaian peradaban manusia dalam mengorganisasi makna. Namun, di balik kemegahan metafora dan presisi diksi, tersembunyi sebuah tragedi ontologis yang tak terelakkan: Cacat Linguistik. Esai ini akan membedah bagaimana sastra, sebagai sebuah sistem simulakra, justru menemukan keagungannya bukan melalui kesempurnaan representasi, melainkan melalui pengakuan akan […]

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

KURBAN   “Dengan Basmalah Kuserahkan padaMu anakku tersayang Karena Engkaulah pemilik sejati”   Saat penyembelihan terjadi Langit menyanyikan gerimis   Saat anak itu mendengar Takbir Tak ada batu dan pasir yang tidak terseyum   Langit menjadi payung sutra biru Bagi Ayah, Ibu dan Anak Sehingga puisi ini tak punya lidah Menyebut nama mereka bertiga hamba […]

Wisata Bencana: Ontologi Penderitaan di Era Tontonan

Oleh: Gus Nas Jogja*   Selamat Datang di Era Nir Empati Di bawah langit Sumatera yang legam oleh mendung yang belum tuntas, air bah datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai penagih utang atas keserakahan hutan yang digunduli. Namun, di antara isak tangis warga yang kehilangan ternak dan atap, muncul sebuah fenomena yang lebih “ajaib” daripada […]

Mendengar Banyumas: Balada, Tanah, dan Suara yang Tersisa

Oleh: Abdul Wachid B.S.*   1. Mengapa Balada, Mengapa Banyumas Saya tidak datang ke Banyumas dengan membawa peta konsep atau daftar istilah budaya. Saya datang dengan langkah pelan, seperti orang yang menepi di pinggir jalan desa, lalu memilih duduk dan mendengarkan. Banyumas bagi saya bukan pertama-tama sebuah wilayah administratif, melainkan tanah hidup yang berbicara lewat […]

Membaca Panggung Konflik NU: Retaknya Cermin dan Kegagalan Mawas Diri

Oleh: Gus Nas Jogja*   Nahdlatul Ulama (NU) lahir bukan dari rahim konsensus politik yang kering, melainkan dari tetesan “air mata istikharah” dan “getaran wirid para kekasih Allah”. Secara filosofis, ia adalah sebuah barzakh—ruang antara yang menghubungkan kesucian cita-cita langit dengan realitas bumi yang berdebu. Namun, dalam lensa empiris dan deskriptif hari ini, kita melihat […]

Home Alone dan Produksi Makna Natal

Oleh: Purnawan Andra*   Setiap menjelang Natal, film Home Alone (1990, sutradara Chris Colombus) yang dibintangi Macaulay Culkin hampir selalu kembali diputar. Di televisi, layanan streaming, atau potongan klip di media sosial, film ini hadir sebagai tontonan yang dianggap “wajib”. Banyak orang menontonnya, sebagai hiburan, yang tak perlu banyak dipikirkan. Sebagai tontonan keluarga, nostalgia masa […]

Kebudayaan Digital dan Tradisi Lisan Nahdliyin: Apakah Kita Kehilangan Ruang Tafsir?

Oleh: Abdul Wachid B.S.*   Dari Langgar ke Layar: Lanskap Baru Tradisi Di banyak kampung yang dulu hidup oleh suara rebana dan lantunan syair manaqib setiap malam Jumat, kini udara terasa lebih senyap. Gamelan pengajian weton yang dahulu menjadi irama sosial, sekarang hanya terdengar sebulan sekali, atau bahkan lenyap tanpa jejak. Sebaliknya, anak-anak muda di […]

Sutardji, Puisi, dan Sepotong Roti

Oleh: Mahwi Air Tawar*   Bang Tardji—Sutardji Calzoum Bachri—saya menulis catatan ini bukan untuk mengulang legenda “pembebasan kata” yang telah lama kausiramkan ke tubuh sastra Indonesia. Bukan pula untuk menegaskan kembali julukan Presiden Penyair, sosok yang memukul-mukul bahasa sampai menyerah. Esai ini lahir dari sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih menusuk: sepotong roti, selembar puisi, […]

Puisi-puisi Ngatawi Al-Zastrouw

KURUSETRA 1   Di medan laga Kerusetra Jubah suci sang resi Berkiabar bagai aurat wanita jelita Melambai genit penuh pesona Membakar birahi lelaki jalang,   Di palagan Kurusetra Mahkota mulia sang Brahmana Diobral di meja pesta menyalakan nafsu gerombolan Srigala Dengan mata nanar dan nafsu membuncah Mereka mencabik jubah suci sang resi   Di balik […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA DALANG JEMBLUNG   1. Gemblung… gemblung… Meja kecil berderak pelan di desa Jumpoh, Kudhi menari di tangan dalang, Iket menahan kening dari angin khayal, Batik menempel di lutut yang bersila, Warga duduk menunggu tawa dan pelajaran.   (Meja goyang di tepi sawah, Kudhi menari sambil lompat, Selop nyebur masuk parit, Iket menahan dahi, gemblung… […]