Pos

Senjakala Sains?

Oleh : Dr. Soffa Ihsan* Perang,wabah, bencana alam, bencana tehnologi, bencana medis, krisis emergi, krisis pangan, kiamat internet, kekacauan massal (great refusal), kegaduhan politi, kekerasan dan terorisme adalah wajah-wajah giris nan mencekam yang akan terus mengintai dan menghujami kehidupan umat manusia. Yuval Noah Harari menujumankan berbagai ancaman terhadap umat manusia ke depan akan mengguncang dunia. […]

Retakan Raden Saleh: Agensi dalam Ambivalensi

oleh : Kasiyan* “Art is the lie that enables us to realize the truth.” Picasso, P. (1923). Picasso speaks. In M. de Zayas, The Arts, 3(4), 315–326. https://monoskop.org/images/5/5f/De_Zayas_Marius_Picasso_Speaks.pdf Mei yang basah, dan cermin yang retak. Mei selalu datang dengan janji yang manis sekaligus getir. Dalam imajinasi peradaban lama, ia adalah bulan ketika dunia seolah sedang memaafkan […]

Karya Seni yang Menggelisahkan Waktu

Oleh : Bambang Supriadi *   Manusia modern terjebak dalam labirin paradoks yang ganjil. Kita menciptakan jemari teknologi untuk merajut waktu dan meringankan beban, namun ironisnya, ruang hidup justru terasa kian menyempit. Segalanya bergegas: informasi melesat, komunikasi memintas, pekerjaan memburu, bahkan kehangatan antarmanusia lekas kedaluwarsa. Dunia seolah telah menghapus jeda, enggan memberi ruang sekadar untuk […]

Teh Semesta, Teko, dan Ibunda

Oleh : Agus Dermawan T.* Artikel untuk menyambut Hari Teh Internasional, 21 Mei. Ibu Sang Pemberi, sejak dulu disimbolkan sebagai teko teh, atau teapot. Dari mana teko teh itu menemukan makna dan legendanya? PENYAIR Lu Yu (733-804), menulis puisi “Secangkir Teh”, yang liriknya begini. Daun teh seharusnya menggulung, seperti lipatan kaki banteng, Berkerut seperti sepatu […]

Borobudur, Ketahanan Pangan, dan Kita yang Kerap Lupa

Oleh : Purnawan Andra* Di banyak tempat, candi diperlakukan seperti benda masa lalu yang harus dijaga dari lumut, debu dan turis. Tapi candi Borobudur tidak sesederhana itu. Ia bukan hanya monumen agama, tetapi juga semacam buku batu yang menyimpan cara hidup. Di tubuh candinya terdapat sekitar 2.672 relief, dengan 1.460 panel naratif yang menutupi kurang […]

Mendengar Banyumas Dari Dalam:Sebuah Pembacaan atas Balada Abdul Wachid B.S. dalam Kumpulan Balada Banyumas

Oleh : Talitha Salsabila* Ada cara tertentu orang Banyumas memandang dunia: tidak dari atas, tidak dari kejauhan, tetapi dari samping, sambil duduk, dengan tawa yang tidak tergesa dan kejujuran yang tidak memerlukan izin. Cara pandang itulah yang menjadi napas kumpulan puisi Abdul Wachid B.S. bertajuk Balada Banyumas, yang diterbitkan secara berseri di borobudurwriters.id sepanjang Desember […]

Membaca Puisi-Puisi Umi Kulsum Binti Jaenudin: Kesunyian Spiritual Gen Z dan Estetika “Keindahan yang Tidak Berisik”

oleh: Abdul Wachid B.S.* Puisi-puisi generasi muda hari ini banyak lahir dalam arus yang serba cepat. Media sosial membuat puisi sering hadir seperti kilatan singkat: menarik perhatian sesaat, mudah dikutip, lalu segera tenggelam dalam guliran berikutnya. Larik dipendekkan agar mudah dibagikan. Diksi dipilih bukan selalu demi kedalaman makna, melainkan demi efek cepat pada pembaca. Dalam […]

Puisi-puisi Umi Kulsum binti Jaenudin

HAKIKAT KEINDAHAN I Banyak yang mengira, Keindahan tinggal Di pelukan senja Atau cahaya bulan Yang menempel di pipimu Pasir membelai tubuh Dan bulu matamu Menggiring desir ke jantungku Namun, sesungguhnya, Keindahan kadang bersembunyi Di rintih perempuan lapar Yang tak bernama, Yang dibungkam jalan-jalan Dan pandangan orang-orang Yang sibuk menuju diri mereka sendiri Kau hadir, Bukan […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA PINTU CHAMPA JUMADIL KUBRO tanah masih basah di telapak pekerja tambak belum selesai mengeras menjadi pijakan laut menarik garisnya sendiri dengan tali jala yang tersangkut di paku dermaga di antara Samarkand yang jauh dan angin yang menempel di layar robek peta disimpan di peti kayu tinta di dalamnya masih bau damar tidak ada arah […]

Aku Ora Rumongso Diduweni: Taman Gandrung Terakota, Penipuan Royalti, dan Perlawanan Sunyi Seorang Maestro

Oleh : Elvin Anderson* Sore itu, 11 April 2026, angin dari kaki Gunung Ijen membawa dingin yang menusuk namun anehnya menghangatkan dada. Saya duduk di bangku amphitheater Taman Patung Terakota, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Di hadapan saya, ribuan patung tanah liat berdiri bisu. Tapi saya menangkap mereka tidak bisu. Mereka menari. Di depan, seorang perempuan tua […]