Puisi-Puisi Ulfatin Ch
Saat Aku Mencintaimu, Indonesia
Saat aku mencintaimu, Indonesia
bahasa baru tumbuh di rahim ibu
Burung-burung bersarang di atas dahan
menanam paruhnya
dipintu gerbang ruang hijau
Saat aku mencintaimu, Indonesia
desa-desa mekar, kota-kota terbang
Dan kau pulang dari perlawatan
membawa beras, gula, paha ayam dan garam
yang banyak tersimpan
di gudang
Keesokan hari
aku menyaksikan tanganmu menggapai ke kota lain
yang entah aku tak tahu di mana muaranya
Sedang mahkota kita memerah dipinang negeri seberang
Saat aku mencintaimu, Indonesia
dan aku ingin tetap mencintaimu
meski tanpa gunung emas, biji besi,
nikel, rotan, dan batubara
yang hilang terperah penjarah
Aku mencintaimu, Indonesia
meski dengan luka
kuserahkan hutang-hutang
pada anak-cucu
yang terbelenggu tangannya
menggenggam ratapan keadilan
Aku mencintaimu Indonesia
2020
Tentang Bencana
Apakah engkau sedang bicara padaku?
tentang negeri yang tengah berperang melawan dirinya
tentang negeri yang tertunda kemakmurannya
tentang negeri yang menghancurkan sejarahnya
tentang kita. Kau dan aku
Sementara angin yang terus kencang berlari
melewati batu-batu, melewati pohon-pohon
menyelinap di balik gunung
gelisah menggugurkan daun, lava mengalirkan lahar dingin
Apakah engkau akan tetap bicara padaku?
Tentang suara burung yang dipangkas nadanya
tentang serenade covid yang diperpanjang
tentang harapan yang berkali-kali hilang
tapi senantiasa didendangkan
Apakah engkau masih ingin bicara padaku?
Sedang yang kau inginkan aku tak tahu
2021
Dari Perbatasan Jelang Perayaan Hari Kemerdekaan
-1-
di sungai itu berduyun-duyun orang menyelam
mencari emas
berduyun duyun orang melambaikan tangan
pada kemiskinan
Sedang di jalan tol, mereka mengenakan barang mewah
mengendarai mercy
masuk ke pelosok kampung
menyaksikan seorang anak menyantap lahap ubi garam
dengan gembira
-2-
di sungai itu di perbatasan itu
dibentang-panjangkan bendera kita
dibentang-panjangkan Merah Putih
hingga beribu-ribu pulau
di pinggir sungai itu. Wajahnya legam ketulusan
tak meminta jasanya dipancangkan
layaknya di ibu kota yang gaduh penghargaan
di sungai itu di perbatasan itu
wajahnya legam
yang diinginkan kejayaan negerinya
yang didambakan kewibawaan pemimpinnya
kerja kerasnya, jujur dan berkeadilan
sampai di pinggir sungai perbatasan ini
2023
Cerita Bencana
Tak ada yang mengira
Hujan yang biasa turun di bulan November
pada musim penghujan ini
menjadi hujan air mata
yang menggenangi seluruh desa dan peta kota
Tak ada yang mengira
Si kecil periang harus menempuh jalan
ke atap menghindar dari bandang
Balok-balok kayu menerjang pukang
memporandakan tanah, alamat, rumah-rumah, tempat ibadah
bahkan baju-baju yang tersimpan didalam almari
ikut terseret lumpur
Apa dosa kita hingga Tuhan murka
atau ulah mereka yang bilang tak sengaja
menebas hutan demi cuan
Tak ada yang mengira
malam yang begitu hening, tiba-tiba berisik
oleh suara, “tolong!”
dan tak ada sinyal yang menyambungkan teriakan itu
semua padam terendam kelam
dan hanya harapan yang membuat mereka bertahan
siapa mengira
2025
Ketika Bencana
Adaka kapal Nuh berlayar
Adakah peringatan sebelumnya
Adakah lupa kita pada Tuhan
sehingga murka
Atau kesombongan telah menguasai akal pikiran
Atau ujian yang mesti kita lewati
sebelum mencapai rahmatMu
Atau
yang kita risaukan tak sempat terekam
didata kemanusiaan
Hingga bencana terus mengalir
bersama kayu-kayu glondong yang dikirim dari perbukitan
memenuhi dada kami yang sesak
inflasi local tiba-tiba
karena taka da pasokan beras pagi ini
Atau kita mesti gali lumpur dulu
untuk menanam benih
dan menunggu panen disaat sudah sekarat
Kita menanam padi
yang tumbuh tambang nkel
tongkang batubara menyeringai
bagai pedang siap menantang
Atau
pasrah saja dengan berbagai kemungkinan
Kita duduk di balkon tersepi
dari sisa terjangan bandang tempo hari
menatap udara tak bergeming
Kita akan kembali menata puing
menyusun puzzle jiwa yang retak
Kemana lagi kesabaran
2025
Pagar Laut
Sejak dipajangkan pagar-pagar di laut itu
ikan-ikan tak menarik perhatian lagi
Kenangan akan terumbu karang, bawal laut dan lokan
menyusut bersama ombak
Siapa menanam karang menjulang
hakim tak bisa bilang
Sebab ia tertidur saat malam-malam pengerjaan pagar
Para nelayan gemetar mendengar deru hardik para cukong
lalu menyisih menahan lapar
karena seharian tak ada pemasukan
Anak-anak merengek; Bapak, kenapa laut tumbuh bambu
dimana perahu yang menyimpan jala
ikan-ikan akan rindu kayuh
2025
Kenapa Hujan
Kenapa mesti hujan yang kau tulis
sebagai rindu
bukankah ia telah membasahimu
dengan derai
dan memelukmu sebagai ibu
Bukankah ia telah kuyup
menunjukkan jalanmu pada rumah yang dulu
mengajarimu pulang
Bukankah ia tak menghardikmu
dengan kata-kata tak menyenangkan
Ia hanya turun
selayaknya ibu menyambut anaknya
lalu membasuhkan peluh di dahi
dengan diam
Ia hanya ingin berbagi cerita padamu
tentang matahari, tentang bulan dan bintang
yang senantiasa berputar dalam peredarannya
Ia tak mengeluh
meski harus turun menyapu bersih polusi
pagi hari
lalu bersama sungai, ia menuju samudera
Dan ia tak lupa, kemana
kembali
2025
Sepi Di Laut
-scb-
Sepi sudah sangat lelah, kata penyair
Tapi, aku tak melihat lesu wajahnya
dibait-bait puisi
bahkan jidatnya mengkerut melahap
mantra
mengunyah kapak
berkali-kali
Laut diayunmainkan angin
dan gelombang
Laut tak pernah lesu selagi sajak
beranakpinak
Laut selalu riuh menampung kita
yang risau
Tapi, risau telah dikuburnya
dalam-dalam
agar tak merusak sajak
Dan sajak telah ditulis para penyair
yang risau lautnya bergelombang
2026
—-
Ulfatin Ch. Lahir di Pati, 31 Oktober 1966. Sebagian besar puisi karya penyair alumnus IAIN Sunan kalijaga ini telah dibacakan atas Undangan Dewan Kesenian Jakarta pada oktober 1994 di gedung Graha Bhakti taman ismail Marzuki (TIM) Jakarta, LIP yogyakarta, Dewan Kesenian Surakarta, Dewan kesenian Yogyakarta, Balai Bahasa Samarinda, Kupang, Festival international Belanda-Indonesia, Festival Puisi dan Syair Asean di malaysia 2017, dll. Sementara salah satu puisinya berjudul Rumah Masih Yang Dulu dalam Jurnal Puisi Indonesia I berhasil mendapat penghargaan Sih Award 2001 Yayasan Puisi Indonesia, puisi Rumah Bambu, kategori puisi sosial mendapat penghargaan ke-3 oleh Dekan Fak. Sastra UGM tahun 1989, puisi Yang Pergi dan Kembali, nominasi KSI tahun 2012, puisi Catatan Tugu mendapat penghargaan dari sastrawan MPU di Jakarta tahun 2013. Kumpulan puisi Kata Hujan (Interlude, 2013) mendapat penghargaan di Hari Puisi Indonesia tahun 2014. Kumpulan puisi Rajawali Satu Sayap (Interlude,2015) mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2015 dan Gelombang laut Ibu (Interlude,2024) mendapat 5 besar buku pilihan Tempo 2024. Antologi tunggalnya, Konser Sunyi (dibacakan di taman Budaya Surakarta, 1993), Selembar daun jati (Pustaka Firdaus, 1996), Nyanyian Alamanda (Bentang Pustaka, 2001), Kata Hujan (Interlude, 2013), Rajawali Satu Sayap (Interlude, 2015), Gelombang Laut Ibu (Interlude,2024). Saat ini tinggal di Perumahan. Jatimulyo baru Blok F-3 RT 28/06 Kricak, Tegalrejo, Yogyakarta. Email; ulfatinch66@gmail.com WA; 0823 4204 2661.





