Puisi-puisi Mulyadi J. Amalik
WAYANG SULUH
Jangan bangunkan aku di lautan mimpi tengah malam.
Tunggulah usai bersauh dini pagi diurai kokok ayam.
Tiba padam mercusuar, tiba matahari penggantinya.
Aku kan sarapan sesuai harapan.
Makan berlauk garam berbutir penantian.
Menggosok gigi seputih hati dan lisan.
Lalu bekerja menjalankan mimpi selepas tadi.
Aku wayang pencetus janji tanpa tepi.
Maju menjadi suluh kehadiran.
Wayang rumput tumbuh lincah di atas batu.
Batu berkilau menjadi akik selagi digosok.
Wayang rumput tak kenal surut di atas air pupuk.
Pupuk gelombang semakin menari di atas riuh badai.
Wayang rumput tak takut dikepung risau.
Ia perahu membonceng penumpang keinginan.
Hingga pelabuhan menjadi jembatan keakanan.
Wayang rumput suluh kerinduan.
Peneleh, Surabaya: 07/11/2025.
PERAHU RAKIT BAMBU SEPUCUK JAMBI SEMBILAN LURAH
Perahu rakit dianyam dari ikatan persatuan
rebung bambu dan galah yang membelah dirinya
menjadi anyaman bilah-bilah anak suku-suku Jambi.
Sungai-sungai dihamparkan dari keyakinan
kerukunan segala ikan-ikan air tawar dan
bubu-bubu joran pancing yang meramu wajahnya
menjadi bilik-bilik rumah perserahan diri
pada kasih-sayang Tuhan.
Bambu perahu rakit bertanya pada batu-batu terendam jeram:
“Sampai kapan prasasti tentang kita ditulis tinta romantis?”
Adakah terjawab sampai rahasia suku-suku asli Jambi
yang menabur makanan pada ikan di sungai dan danau
dibalas dengan kenyataan pantun kesejahteraan.
Perahu rakitan seribu ruas bambu menyisir sungai-sungai
dari Batanghari ke Batang Merangin menyapa wisatawan
yang berjajar di tebing, hutan, dan situs masa lalu Jambi
meminta menumpang membawa keranjang harapan akan:
“Sepucuk Jambi Sembilan Lurah”.
Rakyat berserah diri pada Tuhan Yang Mahakuasa, dan lalu
bersama pemimpin berjemur mengasin merakit perisai segi lima
mengusung jiwa tenang dalam masjid, dikawal keris Siginjai,
dan menarikan irama gong mufakat masa depan.
Surabaya, Peneleh: 29/06/2025.
KISAH ASMARA DI AJANG NGILING BUMBU
Rumah Tuo tempat kito bebalas pantun.
Ngiling bumbu perasaan kaseh betemu Adindo.
Andai belut tak lagi bekubang di relung sawah rawang.
Bumbu apo lagi buat digiling untuk masakan cinto.
Begitu tembang menyisir Sungai Batanghari mengalun.
Besampan di Batang Merangin membawa pesan pernikahan.
Undangan disebar diiringi tari nyanyi dan tetabuhan.
Selepas panen naiklah ke ladang pelaminan.
Kunyit lengkuas dikupas, serai diperas, jahe dan kelapa diparut.
Adindo, batin kito saat itu lebur digiling bak bumbu rempah.
Seluruh tanaman kebun dan hutan berbunga berputik asmara.
Rumah Tuo saksi dulu kito betemu ngiling bumbu.
Muda-mudi betukar pantun di situ kini sepi dimakan waktu.
Adindo, kito sekarang sudah betimang cucu zaman baru.
Banyak pelancong datang ingin tahu kearifan lokal tumbuh.
Ternak belut dan sawah rawang dipagari cinto dunio maya.
Cuma ngiling bumbu warisan berlian yang biso dititipkan.
Dan harapan ngidam pada pantun agar terus bersahutan.
Surabaya, Peneleh: 06/07/2025.
—
Mulyadi J. Amalik, lahir di Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, 10 Oktober 1969. Pernah kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Ikut komunitas Budaya Nusantara Seni Tradisi Lokal HIPREJS, Jawa Timur. Bergiat di komunitas seniman Gugum Tapa, Yogyakarta. Kontributor Perkumpulan Indonesia Raya Menggambar, Yogyakarta, dan partisan Teater Potlot, Palembang. Menginisiasi antologi Syair-syair Pembelaan Pemuda-Petani Karawang (2008). Pameran puisi-drawing di galeri Rumah Seni Muara, Yogyakarta (2004). Pameran puisi Perjuangan Tanah Surat Ijo di Rumah Peneleh, Surabaya (2024). Menulis dan membacakan puisi-puisi tafsiran dari lukisan Arik S. Wartono dalam pameran “Lukisan Yang Berdzikir Arik S. Wartono” di Balai Pemuda Surabaya (Agustus 2024). Menulis dan memamerkan puisi tafsiran dari lukisan Pelabuhan karya pelukis Oeta (Sri Wiryanti Budi Utami) dalam pameran “Jejak Akhir Tahun 2024” di Balai Pemuda Surabaya (Desember 2024). Antologi puisi: Kuburan Bagi Penyair (2004/tunggal); Komposisi Masyarakat Pasar dan Surat Perintah 21 Mei (2000/berdua); dan antologi bersama: Sipakamase (2025), Kepak Sayap Bunda: Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah (2025), Kitab Omon Omon (2025), Zamrud (2025), Warna Kitab Suara (2025), Semesta Ingatan, Trauma dan Imaji Kebebasan (2025), Empat Belas Purnama (2025), Layang-layang Tak Memilih Tangan (2025), Teh, Imajinasi, Puisi (2025), Luka yang Tak Menyerah, Bara yang Tak Padam (2025), Ramadan di Betawi (2025), Swara-swara Anak Pulau (2025), Jurnal Puisi Cinta (2025), Si Binatang Jalang (2025), Yuk, Belajar Ujaran dan Teladan Rama Mangun (2024), Membaca Ibu: Ibu, Aku Anakmu (2024), Serampai Kata Blambangan (2024), Merdeka Puisi (2024), Jauhari (2024), Ijen Purba: Tanah, Air, dan Batu (2024), Like (2024), Jakarta, Kota Literasi Kita (2024), Progo 9 (2024), dll.




