Puisi-puisi Eddy Pranata PNP
DI DEKAT JEMBATAN KALI CIREBAH
kau tahu, suasana kampung kecil di dekat jembatan kali cirebah?
hingga saat ini tetap merindukanmu, perempuan embun
au, kita menenun gugusan kabut menjadi puisi sederhana
kita masak daun singkong, jamur, pare, ikan asin, sayur
bening dan sambel terasi untuk menyambung hidup apa
adanya, tentu dengan harapan semuanya alami– juga
kecantikan serta kesetiaan
: “walau kita tahu; cinta adalah karunia cinta-Nya,
mengalir serupa air kali yang bening!”
tapi, boleh ya sesekali kita santap seafood? lalu berselancar
membelah selat, naik ke mercusuar mengabarkan kepada
dunia; sepasang camar bernyanyi-nyanyi sepanjang hari
di atas bongkah karang, au, kemarilah; kita bermain-main
semburat matahari pagi seraya menulis puisi dan sesekali
peluk aku ya? ciah....
Cirebah, 29 Oktober 2025
ANDAI AKU SELEMBAR DAUN
tak hanya ingin mendengar suara burung, jangkrik bersahutan
atau melihat embun mengapung
: “ada seserpih kesunyian melumuri setiap langkah dan
kesunyian itu adalah benih kebahagiaan tak terkira
hidup bersandar ke setiap tarikan napas dalam pelukan-Mu!”
alangkah menyenangkan dan menakjubkan embun yang
mengapung itu dan lihatlah satu pohon pete, dua pohon durian,
satu pohon akasia, enam pohon kelapa yang menjulang
aku mendongak; aku membayangkan andai aku selembar daun
hijau kemudian menguning; lepas dari tampuk, melayang
jatuh ke atas tanah
aku ingin menjadi humus menebar kebaikan; harum namaku
tidak menjadi gunjingan orang walau mungkin banyak orang
tidak mengingat lagi puisi-puisi sederhanaku.
Cirebah, 28 Oktober 2025
SEPANJANG JALAN BERKABUT TIPIS
sudah ia lupakan seluruh gores luka di tubuh
ia sekarang tengah melangkah tegap
sepanjang jalan berkabut tipis
menangkap setiap kata yang bergemeretak
dari sela rimbun daun
: “kesetiaan pada langkah sunyi
memelihara duri mawar
hingga batas langit
batu-batu kesabaran!”
gerimis bermesra cahaya lampu taman
sekelebat ia mengenangmu, weisku, laut
dalam dada kian bergelora
dan sepanjang jalan berkabut tipis
ia ingin tidak menangis untuk sebuah kerinduan
ia ingin tidak menyesal pada tubuh penuh luka
ia ingin kepergiannya serupa cahaya bulan sabit
yang diam-diam mengekalkan gelora laut dadanya
: “pergilah untuk melunaskan dendam!”
ia tidak ingin bersedih lagi.
Jaspinka, 27 Oktober 2021
KUPILIH JALAN SUNYI
kupilih jalan sunyi; berkabut tipis– sorot-Mu menyeruak lembut
: “abadilah rinduku pada-Mu, senikmat-nikmat rasa syukur!”
aku pun mendendangkan elegi pagi, dan menulis puisi-sederhana
setulus-tulusnya
di antara gerimis malam, seorang musafir kata-kata menyeret luka
yang disembunyikan dalam jubahnya sepanjang perjalanan
tiada keluh– menuju alamat yang amat jauh: rumah cahaya di lembah
: “hanya kepada penyair kuceritakan seluruh kisah; juga luka yang
kusembunyikan dalam jubah!”
di antara gerimis malam, diam-diam– segalanya dipertaruhkan
: cahaya dan luka
aku menghitung detik yang merayap di tengah gerimis
: doaku; engkau bisa berlayar di lautan air mata puisiku.
Jaspinka, 24 Oktober 2025
SERENADE PEREMPUAN EMBUN
kita telah bangun rumah di lereng bukit dengan pondasi dan ornamen
metafora, imaji, ikrar puisi serta suka cita bahwa langit-bumi kasih
menyerbu; seperih apa pun
di hari-hari libur berselancar di laut lalu santap seafood atau keliling kota
lalu ke nasi kapau, dan di sore lain; sate padang
: “aku selalu senang bila setiap makan disuapi, setiap tidur erat kaupeluk!”
au, perempuan embun sehatmu, sakitmu
tawamu, tangismu telah dalam ruang jiwa sublim dalam puisi
: “kita rayakan setiap pertemuan dengan arak cinta!”
matamu berbinar langkahmu di jalan benar tiada melupakan
dan elus segala kenangan
: “beri aku puisi setiap hari, setiap rinduku rindumu menderu!”
lereng bukit senantiasa menerbangkan kabut
laut dan langit mendendangkan elegi kesetiaan.
Jaspinka, 18 Oktober 2025
CINTA KASIH DARI TUHAN
kalau engkau ingin mendengarkan burung-burung
bernyanyi di atas ketinggian pohon-pohon
dan menyaksikan embun luruh di atas permukaan
daun-daun–. datanglah ke kampungku
: “…’kan kuberikan padamu, matahari perawan
dan harum cempaka!’
tetapi jangan sekalipun khianati sebuah kesetiaan,
bahwa alam, langit dan bumi seisinya bisa jadi hanya
untuk sebuah keniscayaan; cinta kasih dari tuhan: puisi!
Jaspika, 12 Oktober 2025
LELAKI YANG MELEWATI
JALUR KERETA
1//
Menjelang stasiun pasar Senen aku melihat rumah-
rumah kardus, tumpukan sampah dan seorang lelaki
menyeret nasibnya , berpeluh, sorot mata nanar
: “Aku ingin bertemu Chairil,” desisnya, “akan kupeluk,
lalu kuajak bertarung!”
Siang mempercepat rindu, ke TIM aku, tapi, aku bingung—
orang kampung yang tiba di kota, dengan segala keraguan,
lapar. Aku susuri lekuk TIM tak kutemui Chairil. Aku lihat
Isbedy tengah mengisap rokok di sebelah Teater Kecil.
Kutanyakan pada Isbedy, dia hanya diam menatapku.
“Eddy, di sini sudah tak ada lagi sahabatmu, Chairil.
Konon telah dihancurkan!”
Hatiku remuk. Aku serupa berada di negeri asing. Aku
menangis. Ke mesjid Amir Hamzah. Mengadu pada Tuhan.
: “ya yang Maha Bijaksana, beri aku kekuatan, untuk terus
menulis puisi– sampai mampus!”
Aku lihat gedung-gedung tinggi. Aku debu. Dan hanya
serupa kata tanpa makna.
2//
Seorang lelaki dengan puisi sepenuh ransel. Keringatnya
tetes. Sorot matanya menyala. Ia hendak tinggalkan Jakarta.
Hatinya berderak. Membentur peron, bangku ruang tunggu
dan bantalan rel membentang.
Matahari jatuh sempurna di atas stasiun
: “Jakarta bisa membuat aku gila, kalau lama-lama.
Kebudayaan busuk. Percintaan aneh. Dan garis kehidupan
absurd. Aku orang ndesa yang bodoh tak layak menghirup
udara Jakarta!”
Di Stasiun Senen, aku ingin segera masuk gerbong. Tubuhku
sempoyongan. Langsung tumbang di Sawunggalih kursi 5-A
gerbong 3. Mataku berat. Tapi pikiranku debur laut
bergelombang menghempas tebing karang. Aku muak dengan
kenyataan. Begitu absurdnya dunia persilatan cinta dan dendam.
: “Andai aku mandau, aku mandau yang tidak melukai. Andai
aku kata-kata, kata-kata yang tidak membunuh. Ciahhh!”
Aku lewati perkampungan kumuh. Sawah-sawah. Semak
perdu. Kebun tebu dan jagung. Di kejauhan tiang-tiang listrik
serupa mencemeehku.
: “Tuan penyair, jangan bilang, kumau tak seorang pun
‘kan merayu! Karena kata-katamu bisa pisau!”
Gerbong menjelma kubangan kenangan-kenangan jingga,
dan aku tenggelam di kedalaman paling duka-derita!
Jakarta/Purwokerto, 11-14 September 2025
MELIHAT LANGIT DARI KERETA
ada seribu peristiwa berlarian
di atas langit yang sebagian terang
sebagian gelap
: diamnya seseorang seraya
menyulam luka, di atas bukit pinus,
hingga kering air mata
seumpama ombak; ombak yang kusut
melambung-lambungkan sampan
hingga ke ceruk paling sunyi
tapi langit dari atas kereta
membuatku kian tenggelam
ke dasar samudera kerinduan
pada kedamaian
pada hal-hal kecil
kebersamaan
sudahlah, diam itu
kian memperdalam luka.
Pwt/Jkt 110925
DARI STASIUN KE STASIUN
deru kereta api; guncangan-guncangan kecil
ada bisik lirih perempuan embun
: “hati-hati di jalan, setiap detak waktu, ingat aku,
ingat bebatuan yang begitu indah di kali kecil di atas
bukit, tempat segala janji diucapkan!”
kerling matamu
di atas ranjang kesetiaan
sepanjang perjalanan engkau suapkan
makanan ringan
seraya terus memelukku
dari stasiun ke stasiun
sejarah kecil dituliskan
: hidup hanya untuk saling mengalah
aku elus lukamu selamanya
hingga sampai stasiun terakhir
kita turun
di kota yang indah.
Pwt-Jkt, 110925
STASIUN PURWOKERTO
kenanglah walau sesaat; stasiun purwokerto
pahit-getir wajah perpisahan
: bantarsoka, cirebah, baturaden, atau kolam renang
di bawah guyuran hujan, nasi uduk, o, peluk itu!
lalu ke jakarta tempat semua cita-cita
dilangitkan sepenuh doa
: “hidup harus menyenangkan, jangan cemas
pada teka-teki yang paling absurd sekalipun!”
aku ingin meninggalkan stasiun
dengan matahari setelah deras hujan
dengan kata-kata sederhana:
kedamaian, hatinurani…
Purwokerto, 11 September 2025
—
Eddy Pranata PNP, Ketua Jaspinka— Jaringan Sastra Pinggir Kali, Cirebah, Banyumas; peserta Pertemuan Penyair Nusantara XIII September 2025 di Jakarta dan penerima penghargaan/ bantuan pemerintah dari Badan Bahasa tahun 2025 atas dedikasinya berkarya sastra terus menerus sejak tahun 1980 s/d 2025.
Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019), Tembilang (2021).





