Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.
BALADA KENDHIT DAN LURIK LELUHUR
Pagi itu, embun masih menempel
di pucuk kelor dan bambu halaman.
Aku membuka peti tua warisan Bapak,
pada malam yang didekap mimpi
oleh suara azan yang tak sempat dijawab.
Dalam peti itu,
kendhit tua tergulung rapi
seperti ular tanah
yang lama berpuasa dalam doa.
Dan lurik kusam terlipat bisu
seperti bayang-bayang langgar tua
yang pernah menyaksikan sujud
di antara hujan dan rindu.
Masih ada bau tubuhnya
keringat, minyak kayu putih,
dan daun sirih yang dikunyah pelan
sambil membaca tafsir Al-Munir
pada malam yang penuh serangga.
“Pakailah ini kalau ingin kuat
menahan marah dan lapar,”
kata Bapak dahulu
dengan suara seperti desir angin
di balik surau.
Kendhit itu
dulu melingkar di pinggangnya
ketika menanam padi dengan tasbih di dada,
ketika menolak jadi lurah
demi menjaga wudu
di jantungnya yang sabar.
Dan lurik itu
lurik yang pernah menuntun ayam ke kandang
sebelum azan maghrib,
masih menyimpan garis takdir
yang dijahit dengan jarum kehati-hatian.
Kini, saat kugenggam kendhit itu,
terasa ada getar
yang tak berasal dari tanganku.
Mungkin dari ruhnya,
atau dari sabda yang belum selesai
dilafalkan saat ia wafat.
Kadang angin datang,
mengibaskan ujung kain
seperti cucu yang hendak memeluk
namun hanya sempat menyentuh bayang.
Aku memeluk lurik itu
seperti memeluk sabda,
bukan suara,
tapi gema dari tanah yang takut
pada Tuhan.
Lalu aku berjalan ke mushala,
dengan kendhit melingkar
dan lurik membungkus dadaku.
Tak seorang pun melihat bedanya,
tapi di dalam tubuhku
ada ruh yang mengiringi langkah
menuju sujud yang lebih dalam.
Mereka bukan kain.
Mereka adalah wirid yang menjelma tubuh,
doa yang menjadi warna,
dan zikir yang masih berhembus
di antara genting dan dedaunan.
2025
BALADA BAYANG DI SERAT DLUWANG
(Untuk kitab tua yang tak punya suara, tapi masih menyala)
Di rak tua yang bersandar pada tembok yang mulai rapuh,
sebuah kitab terdiam dalam sunyi,
serat dluwangnya menguning
seperti wajah kiai yang pulang dalam zikir panjang.
Tak ada cap penerbit,
tak pula tanggal cetak.
Hanya debu,
dan harum samar yang keluar setiap kali dibuka:
aroma tinta,
tapi juga aroma sajadah yang lama disujudkan.
Ayat-ayat itu
ditulis tangan oleh ulama
yang tak sempat mencetak namanya.
Bayang tangannya masih terasa,
kadang seperti mengelus punggungmu
saat kau membaca dengan hati gemetar.
Tiap halaman seperti lantunan pelan
yang mengalir dari tenggorokan tua,
bukan untuk didengar,
tapi untuk diresapi
sampai ke tulang belikat.
Dan dalam diamnya,
kitab itu menyimpan kisah
tentang murid yang tak pernah mengangkat suara,
tentang guru yang menyisipkan hikmah
di sela-sela isyarat tangan dan embun pagi.
Kadang malam menetes dari langit-langit,
dan huruf-huruf itu tampak basah
bukan karena air,
tapi karena tangis
yang tak pernah sempat diucapkan
oleh orang-orang yang membaca tanpa adab.
Serat dluwang itu,
seperti kulit manusia yang diajari sabar:
menerima guratan,
menyimpan rahasia,
dan diam dalam luka.
Ia bukan kitab biasa.
Ia adalah bayang
yang jika kau dekati dengan kesombongan,
tak akan kau lihat maknanya.
Tapi jika kau tunduk,
dan mencium halamannya dengan hati bersih,
kau mungkin akan mendengar
suara dari langit
yang membaca ulang huruf-huruf itu
dengan nafas para wali.
2025
BALADA KECAPI YANG DIPAKU DI DINDING
Sebuah kecapi
tergantung sunyi di dinding ruang tamu,
tak lagi bersuara
sejak dipaku oleh tangan
yang tak lagi percaya
pada getarannya.
Dulu,
ia bersenandung lirih
saat malam berselimut wirid,
dan jari-jari kakek
menyentuh senarnya
seperti menyentuh urat langit.
Nada-nadanya
bukan hiburan
tapi doa yang menjelma gema,
mengalir dari dada ke ubun-ubun
seperti air yang tahu jalan pulang
tanpa peta.
Tapi suatu hari,
datang seorang dengan wajah tegas
dan kitab yang berat,
mengucap,
“Ini bukan bagian dari syariat!”
lalu kecapi itu dibungkam
dengan paku-paku panjang
yang menusuk bukan hanya kayu,
tapi waktu.
Sejak itu,
dinding memeluknya seperti kubur,
dan senarnya,
yang dulu basah oleh zikir,
kini berdebu
oleh sunyi yang tak dimengerti.
Namun kadang,
angin subuh menyentuhnya diam-diam,
dan terdengar getar samar
seperti kenangan
yang tak rela dilupakan.
Kecapi itu,
masih menyimpan suara langit
di antara retaknya,
dan menunggu,
seorang anak
yang berani mencabut paku
dengan kasih
bukan dalih.
2025
BALADA GAMELAN DI RUANG TERTUTUP
Di sebuah ruang tua
yang pintunya tak pernah dibuka sejak
kematian Mbah Wiryo,
gamelan itu tertata rapi,
seperti barisan ruh
yang menunggu dipanggil kembali
ke tengah jagat suara.
Dulu, tiap malam Jumat
ruang ini menyala oleh
sesajen dan wangi kenanga,
suara gong melingkar
seperti planet dalam tarian semesta.
Anak-anak disuruh tidur lebih cepat,
sebab para wali datang diam-diam
untuk mendengarkan zikir dari logam.
Kini, gamelan hanya ditengok debu,
dan tikus-tikus
yang tak paham perbedaan antara
gong dan guci warisan.
Bilah-bilahnya membatu,
tetapi kadang, angin lewat dari sela jendela
dan bonang memekik kecil,
seperti mimpi yang jatuh
ke lantai kayu.
Tak ada yang berani memainkannya,
kata orang, suara kenong bisa memanggil
bayang dari abad silam,
dan saron bisa membangunkan
kisah yang belum selesai ditabuh.
Tapi seorang bocah
cucu Mbah Wiryo,
tiap malam mengintip dari lubang dinding.
Ia mendengar suara
yang tak bisa direkam siapa-siapa:
suara langit yang belajar gamelan,
suara ruh yang berzikir
dalam laras slendro.
Malam itu,
ia masuk diam-diam,
menyentuh satu bilah
dan merasa tubuhnya bergetar
seperti benang cahaya
yang ditarik oleh nada-nada suci.
Tak ada yang tahu,
tapi sejak malam itu
gamelan berbicara lagi
dalam mimpi orang-orang dusun,
dalam desir angin di sore hari,
dan dalam jiwa si bocah
yang kini telah hafal
bahwa suara bisa datang
dari kesunyian yang dicintai Tuhan.
2025
BALADA TOMBAK YANG DICIUM ANGIN
(Senjata warisan bukan untuk perang, tapi penjaga amanah)
Di pojok langit yang lain
angin menunduk setiap kali lewat pusaka itu:
tombak tua bersarung kain mori,
digantung di dinding ruang dalam
seperti mata yang terus terjaga
meski tak pernah berkedip.
Orang bilang, itu milik mbah canggah
yang ikut bergerilya bersama Pangeran Diponegoro
namanya hilang dari buku sejarah,
tapi tercatat dalam nyala
di dada para cucunya
yang masih mendengar suara
dari tanah basah tempatnya gugur.
Tombak itu tak pernah bicara,
tapi jika malam sunyi
dan pintu hati dibuka sedikit saja,
ia mengirim getar
seperti desir pohon randu
yang menyimpan pesan dari leluhur.
Suatu hari,
seorang anak lelaki
bertemu lelaki tak dikenal
di pelataran masjid lama.
Wajahnya asing,
tapi suaranya serupa embun di pagi subuh:
“Jangan tolak karamah leluhurmu.
Ia bukan warisan kekuatan,
tapi kasih
dijaga bukan dengan otot,
tapi shalat, istighfar,
shalawat, dan Fatihah.”
Lalu diberikanlah kepadanya
sebilah keris yang panjang seperti pedang.
“Ini bukan senjata,
ini cermin untuk melihat
siapa dirimu sebelum lupa.”
Sejak itu,
tombak di rumah tak lagi diam,
ia sering menyala
dalam mimpi si bocah
menjadi cahaya
di jalan yang belum dibuka siapa-siapa.
Tiap sujudnya kini seperti langkah
menuju jejak mbah canggah
yang tak butuh tanda jasa
kecuali doa dari darahnya sendiri.
Tombak itu,
tak lagi tajam di ujungnya,
tapi di maknanya.
2025
—-
*Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Wachid lulus Sarjana Sastra dan Magister Humaniora di UGM, dan menjadi Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Abdul Wachid B.S. lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (15/1/2019). Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022). Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***




