Nasirun dan Studionya

Oleh: Almeida Ganefabra*

Yogyakarta dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia. Kota ini tidak hanya menjadi tempat lahirnya banyak seniman penting, tetapi juga menyediakan ruang sosial, budaya, dan intelektual yang memungkinkan praktik seni berkembang secara dinamis. Di antara berbagai ruang kreatif yang berperan dalam dinamika tersebut, studio seniman sering menjadi tempat penting dalam proses penciptaan, refleksi, serta interaksi antar pelaku seni. 

Salah satu ruang yang memiliki signifikansi tersebut adalah Nasirun Studio. Pemiliknya adalah Nasirun. Letaknya di Perum Bayeman permai, Jl. Wates No.km 3 C2, Onggobayan, Ngestiharjo, Kec. Kasihan, Kabupaten Bantul.

Seniman Nasirun

Nasirun merupakan salah satu perupa Indonesia yang dikenal dengan eksplorasi visual yang kaya, terutama melalui pendekatan simbolik yang berakar pada tradisi budaya Jawa serta praktik seni kontemporer Indonesia. Dalam praktik artistiknya, Nasirun tidak hanya memproduksi karya visual, tetapi juga membangun ruang pemikiran dan refleksi melalui aktivitas kreatif sehari-hari. Nasirun Studio, dengan demikian, tidak sekadar berfungsi sebagai ruang kerja pribadi, melainkan juga menjadi ruang kultural yang berkontribusi terhadap ekosistem seni lokal di Yogyakarta.

Akulturasi Budaya ala Nasirun

Salah satu aspek penting dalam praktik artistik Nasirun adalah keterhubungannya dengan tradisi visual Nusantara, terutama tradisi wayang beber. Wayang beber merupakan bentuk seni visual naratif yang berasal dari Jawa dan biasanya menggambarkan kisah-kisah epik seperti Ramayana dan Mahabharata. Dalam penjelasannya, Nasirun menekankan bahwa karya yang ia ciptakan sering kali terinspirasi dari tradisi tersebut, namun tidak berhenti pada bentuk tradisionalnya saja.

Wayang beber kontemporer, 2025

Wayang beber sendiri merupakan contoh dari proses akulturasi budaya, di mana narasi epik dari India mengalami transformasi dalam konteks budaya Jawa. Proses ini menunjukkan bahwa kebudayaan tidak bersifat statis, melainkan selalu mengalami reinterpretasi. Dalam praktik seni Nasirun, semangat reinterpretasi ini menjadi dasar bagi penciptaan karya-karyanya. Ia tidak sekadar mereproduksi simbol tradisional, tetapi mengolahnya kembali melalui pendekatan visual yang lebih kontemporer.

Nasirun menekankan bahwa dalam tradisi seni terdapat konsep pakem sebagai standar atau struktur dasar, sementara inovasi muncul melalui apa yang disebut sebagai carangan, yakni variasi atau pengembangan dari struktur tersebut.

Dalam konteks ini, seorang seniman dituntut untuk menciptakan karya yang tidak berhenti pada pakem semata, tetapi mampu menghadirkan interpretasi baru. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa Nasirun memandang seni sebagai proses dialektis antara tradisi dan kebaruan. Tradisi menjadi sumber inspirasi, sementara kreativitas menjadi sarana untuk melampaui batas-batas tradisi tersebut.

Diskusi mahasiswa Pasca bersama Nasirun di Studionya

Ruang Kontemplasi

Bagi Nasirun, menjadi seniman bukan sekadar persoalan popularitas atau pengakuan sosial. Ia menegaskan bahwa identitas seorang seniman terbentuk melalui proses kreatif yang berkelanjutan. Seniman, dalam pandangannya, dilabeli oleh karya yang dihasilkan, bukan oleh citra atau popularitas yang dibangun di ruang publik.

Dalam proses kreatifnya, Nasirun menekankan pentingnya kontinuitas latihan dan pencatatan visual. Ia menuturkan bahwa pada masa studinya di ISI Yogyakarta, mahasiswa diwajibkan membuat ratusan hingga ribuan sketsa sebagai latihan visual. Praktik ini bertujuan untuk melatih sensitivitas seniman terhadap ide dan inspirasi yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan mencatat dan membuat sketsa juga menjadi bagian dari praktik kontemplatif Nasirun. Ia sering membuat catatan visual maupun tulisan kecil setiap hari, baik ketika berada di studio maupun saat melakukan perjalanan. Bagi Nasirun, catatan-catatan tersebut bukan sekadar dokumentasi, melainkan ruang refleksi yang memperkaya dimensi batin seorang seniman.

Dalam konteks ini, proses kreatif dipahami sebagai perjalanan panjang yang melibatkan ruang jeda, refleksi, dan kontemplasi. Nasirun menyebut bahwa seniman besar sering memiliki ruang untuk merenung, kontemplasi dan mencatat pengalaman mereka, yang kemudian menjadi bagian dari proses penciptaan karya.

Praktik ini menunjukkan bahwa seni bukan sekadar aktivitas produksi visual, tetapi juga proses intelektual dan spiritual yang melibatkan pengalaman hidup seniman.

Humanisme dan Narasi Visual

Nasirun juga menyinggung pentingnya pencapaian karya yang dapat disebut sebagai masterpiece. Ia mencontohkan karya pelukis Indonesia Sindoedarsono Soedjojono berjudul Di Depan Kelambu Terbuka, yang dianggap sebagai puncak pencapaian artistik karena mengandung dimensi humanisme yang kuat.

Konsep humanisme ini juga tercermin dalam pendekatan artistik Nasirun. Karya-karyanya sering memuat figur, simbol, serta narasi visual yang menggambarkan hubungan manusia dengan tradisi, sejarah, dan kehidupan sehari-hari. Dalam banyak lukisannya, figur manusia tidak hanya menjadi objek visual, tetapi juga representasi dari pengalaman kolektif masyarakat.

Secara visual, karya Nasirun menampilkan karakteristik khas melalui penggunaan simbol tradisional, seperti figur wayang dan elemen mitologis yang merefleksikan kedekatannya dengan budaya Jawa. Ia juga mengeksplorasi warna secara ekspresif untuk membangun atmosfer emosional, sementara komposisi visualnya kerap bersifat naratif dan mengingatkan pada tradisi representasi seperti wayang beber. 

Perpaduan antara simbol tradisional, eksplorasi warna, dan struktur naratif tersebut membentuk identitas visual yang kuat dalam praktik artistiknya, sekaligus menunjukkan upayanya menggabungkan unsur tradisional dengan bahasa visual modern yang memuat nilai estetika serta makna budaya dan historis.

Nasirun Studio sebagai Ruang Kreatif

Nasirun Studio memiliki peran penting dalam praktik artistik sang seniman. Studio ini bukan hanya tempat produksi karya, tetapi juga ruang penyimpanan gagasan, arsip visual, serta koleksi karya seni.

Di studio tersebut, Nasirun menyimpan berbagai catatan, sketsa, dan karya yang merekam perjalanan kreatifnya selama bertahun-tahun. Ia bahkan menyebut bahwa kumpulan catatan tersebut dapat menjadi sumber karya baru atau bahkan proyek artistik di masa depan.

Ruang penyimpanan/koleksi karya Nasirun

Selain itu, studio ini juga menjadi ruang interaksi dengan berbagai komunitas. Banyak seniman muda, peneliti, kolektor, maupun pengunjung dari berbagai bidang datang untuk berdiskusi atau melihat langsung proses kerja Nasirun. Dengan demikian, studio ini berfungsi sebagai ruang edukasi informal yang memungkinkan pertukaran gagasan antar generasi seniman.

Fenomena studio seniman sebagai ruang interaksi ini cukup penting dalam konteks Yogyakarta. Banyak studio seniman di kota ini yang berfungsi sebagai ruang alternatif bagi diskusi seni di luar institusi formal seperti galeri atau kampus seni.

Koleksi Seni dan Memori Sejarah

Salah satu aspek menarik dari Nasirun Studio adalah keberadaan koleksi benda seni yang dimiliki oleh Nasirun. Ia mengoleksi karya-karya seniman dari berbagai periode, termasuk karya seniman yang memiliki hubungan dengan sejarah politik dan budaya Indonesia.

Beberapa karya yang ia miliki bahkan berasal dari koleksi yang sebelumnya dimiliki oleh tokoh-tokoh penting atau kolektor internasional. Dalam penjelasannya, Nasirun menyebut bahwa banyak karya seni Indonesia yang pernah berpindah ke luar negeri, terutama pada masa transisi politik Indonesia pada era pasca-Sukarno.

Melalui koleksi tersebut, Nasirun tidak hanya berperan sebagai seniman, tetapi juga sebagai penjaga memori sejarah seni rupa Indonesia. Keberadaan karya-karya tersebut di studionya menunjukkan bagaimana studio seniman dapat berfungsi sebagai arsip alternatif bagi sejarah seni.

Peran Nasirun Studio 

Dalam ekosistem seni Yogyakarta, keberadaan ruang seperti Nasirun Studio memiliki arti penting. Studio ini berfungsi sebagai titik pertemuan antara berbagai elemen dalam dunia seni, mulai dari seniman, kurator, kolektor, peneliti, hingga mahasiswa seni.

Pertama, studio ini menjadi ruang pembelajaran bagi seniman muda. Melalui interaksi langsung dengan Nasirun, seniman muda dapat memahami proses kreatif serta nilai-nilai yang mendasari praktik seni.

Kedua, studio ini juga menjadi ruang jaringan seni. Banyak relasi antar seniman, kolektor, dan institusi seni yang terbentuk melalui pertemuan informal di ruang-ruang seperti ini.

Ketiga, studio ini berperan sebagai ruang produksi budaya yang memperkaya dinamika seni rupa Yogyakarta. Dengan aktivitas kreatif yang berlangsung di dalamnya, studio ini turut berkontribusi terhadap keberagaman praktik seni di kota Yogyakarta.

Dalam konteks yang lebih luas, studio seniman seperti Nasirun Studio menunjukkan bahwa ekosistem seni tidak hanya dibangun oleh institusi formal, tetapi juga oleh ruang-ruang personal yang memiliki komitmen terhadap praktik seni.

Aktor Budaya

Nasirun merupakan seniman yang praktik artistiknya berakar pada dialog antara tradisi dan inovasi. Adapun Nasirun Studio juga memainkan peran yang sama pentingnya dalam praktik berkaryanya. Sebagai ruang kreatif, studio ini tidak hanya menjadi tempat produksi karya, tetapi juga ruang refleksi, arsip, serta interaksi sosial dalam komunitas seni. Kehadiran koleksi seni dan aktivitas diskusi di dalamnya memperkuat fungsi studio sebagai bagian dari infrastruktur kultural di Yogyakarta.

Dalam ekosistem seni Yogyakarta, Nasirun Studio juga dianggap sebagai ruang alternatif yang berkontribusi pada pertumbuhan seni rupa kontemporer. Melalui praktik kreatif, koleksi karya, serta interaksi dengan komunitas seni, studio ini membantu membangun jaringan pengetahuan dan pengalaman yang memperkaya dinamika seni-budaya di Yogyakarta.

Merespon patung karya pematung budiani, 2022

Dengan demikian, peran Nasirun dan studionya dapat dipahami sebagai praktik kultural yang memiliki fungsi ganda dalam ekosistem seni. Studio ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang produksi karya, tempat seniman bekerja dan mengembangkan gagasan artistiknya, tetapi juga sebagai ruang refleksi yang merekam perjalanan kreatif seorang seniman. Di saat yang sama, studio tersebut melampaui fungsi studio seniman pada umumnya karena membuka dirinya sebagai ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman artistik kepada publik. Aktivitas diskusi, kunjungan, dan interaksi dengan berbagai kalangan menjadikan ruang ini memiliki dimensi edukatif. 

Selain itu, keberadaan karya-karya yang tersimpan dan ditata di dalamnya menjadikan studio ini berfungsi pula sebagai ruang pamer yang hidup. Dalam konteks yang lebih luas, akumulasi karya, arsip visual, dan jejak proses kreatif di dalamnya membentuk karakter yang menyerupai sebuah museum seni rupa. Kondisi ini menunjukkan bahwa studio tersebut tidak hanya menjadi ruang privat bagi praktik berkarya, tetapi juga ruang publik yang memiliki nilai kultural dan historis. Oleh karena itu, peran ganda ini menjadikan studio Nasirun memiliki posisi yang relatif unik dibandingkan dengan studio seniman lainnya dalam lanskap seni rupa Indonesia.

—-

* Almeida Ganefabra, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta, asal Timor-Leste.