Kolektor sebagai Produsen Makna: Membaca EZ Halim dan Amrus Natalsya
Oleh Syakieb Sungkar*
Cara seorang kolektor mengoleksi dapat dipahami sebagai suatu disiplin pengetahuan tersendiri, sebagai bentuk epistemologi praksis: pengetahuan yang lahir dari pengalaman berulang, afeksi, intuisi, kegagalan, dan keterlibatan jangka panjang dengan karya seni. Dalam memilih karya, cara mengkurasi seorang kolektor sering kali tidak sepenuhnya dapat dirumuskan secara verbal, namun hasilnya sangat presisi dalam praktik. Ini sejalan dengan konsep tacit knowledge, seorang kolektor berpengalaman dapat “merasakan” bobot artistik sebuah karya, membedakan mana karya penting dan mana yang hanya menarik secara permukaan, dan membaca potensi jangka panjang seorang seniman. Pengetahuan ini dibentuk oleh jam terbang, dalam pengertian ini, mengoleksi adalah keahlian kognitif.
Berbeda dengan kurator atau sejarawan seni yang bekerja dengan jarak kritis, kolektor bekerja dari kedekatan emosional. Pilihan koleksi sering lahir dari ketertarikan personal, resonansi psikologis, ingatan, dan kesenangan tertentu. Hal ini merupakan modus pengetahuan afektif. Dalam filsafat, persepsi dan tubuh adalah sumber pengetahuan yang sah. Maka apa yang “dirasakan” kolektor adalah bagian dari proses mengetahui. Jika disusun secara sadar dan konsisten, praktik mengoleksi dapat membentuk pola, preferensi, benang merah tematik, bahkan “argumen visual”. Pada titik ini, kolektor bertindak seperti kurator atas koleksinya, yang menjadi hidupnya sendiri, meskipun tanpa institusi. Koleksi bukan lagi tumpukan karya, melainkan sistem seleksi, cara membaca sejarah, dan sikap ideologis terhadap seni.
Pemikiran inilah yang mendasari saya dalam memahami buku “Amrus Natalsya, Mutiara dari Bumi Tarung”, yang ditulis oleh EZ Halim. EZ Halim adalah seorang kolektor yang mempunyai rumah besar dan asri di kawasan Sentul. Di dalamnya tertata karya-karya Amrus Natalsya, Hardi, Misbach Tamrin, Basuki Resobowo, Djoko Pekik, dan Harlim. Selain itu ia mempunyai sebuah Museum di bilangan Citereup, yang banyak terisi karya-karya Amrus Natalsya dan Hardi. Dapat dikatakan EZ Halim adalah kolektor terbesar dari kedua seniman tersebut.

Buku ini memberikan suatu gambaran atas relasi yang unik antara seorang kolektor dengan seniman. EZ Halim tidak sekedar menikmati dan menyimpan karya, tetapi ia juga memberikan gagasan dan pengaruh kepada seniman. Patung serial “Kapal Cheng Ho” karya Amrus, sebenarnya berasal dari gagasan EZ Halim untuk mengenang orang Tiongkok yang telah menemukan Amerika seabad lebih dulu dari Ferdinand Magellan. Selanjutnya EZ Halim dengan lancar memberikan tafsir dan komentar atas karya Amrus yang dikoleksinya. Suatu kemampuan menulis yang luar biasa. Kita mengetahui bahwa sebagian besar kolektor itu malas menulis dan membaca. Dalam banyak kasus, kolektor seringkali hanya menikmati gambar-gambar yang ada dalam katalog, ketimbang membaca uraian dan narasinya Tetapi EZ Halim berbeda. Ia dapat menulis dengan bagus dan puitis. Barangkali hal itu berasal dari latar belakangnya sebagai penulis cerpen di majalah sastra Horison tahun 1970an, sebelum ia kemudian berbelok arah menjadi pengusaha. Dalam penulisan cerpen ia menggunakan nama pena Zulky Ponti.
Membaca uraian EZ Halim, kolektor berperan sebagai produsen makna, bukan konsumen pasif. Seorang kolektor tidak hanya “memiliki” karya, tetapi ikut membentuk sejarah seni, menentukan apa yang diselamatkan, dan memberi konteks baru pada karya. Dengan kata lain, kolektor adalah agen epistemik, bukan sekadar pembeli. Cara ia mengoleksi—apa yang ia pilih, tolak, dan ulangi—adalah pernyataan pengetahuan tentang dunia seni. Karenanya, buku ini menjadi sangat penting, ia memberi pencerahan bagi dunia pengoleksian Indonesia.
—-
*Penulis dan Kolektor Seni rupa.





