Budaya sebagai Mesin Ekonomi: Provokasi Mickov & Doyle terhadap Tujuan Bernegara Indonesia

Oleh ​Mochammad Sulton Sahara*

Judul : Culture, Innovation and the Economy
Penulis : Biljana Mickov dan James E. Doyle (Editor)
Penerbit : Routledge (Taylor & Francis Group)
Cetakan : Pertama

Tahun : 2018
Tebal : 172 halaman (+ index)

Buku Culture, Innovation and the Economy (2018) karya Biljana Mickov dan James E. Doyle menantang paradigma ekonomi konvensional dengan menjadikan budaya sebagai pusat inovasi dan pertumbuhan berkelanjutan. Dari perspektif kebudayaan, karya ini bukan sekadar handbook bagi entrepreneur budaya, melainkan dogma atau manifesto yang memposisikan budaya sebagai ekosistem yang merangkul ekonomi, bukan sebaliknya.​ Budaya sebagai darah ekonomi. 

Kekuatan Budaya Ekonomi

Buku ini menyajikan bukti empiris bahwa sektor budaya dan kreatif lebih resilien terhadap krisis daripada ekonomi secara keseluruhan, dengan kontribusi global mencapai triliunan dolar AS. Mickov menekankan bahwa budaya menghasilkan nilai immaterial, seperti pengalaman, identitas, dan kolaborasi, yang mendorong inovasi lintas sektor, dari pariwisata hingga teknologi digital yang pada ujungnya akan berujung pada ketahanan negara. Contoh seperti dampak Harry Potter terhadap pariwisata Alnwick Castle menunjukkan bagaimana narasi budaya memicu multiplier effect ekonomi.​ Tampak absurb, sebagaimana immateriel berdampak pada materiel.

Kritik Akademis

Meski kaya contoh internasional seperti Eindhoven 2050 dan Novi Sad, buku ini kurang mendalami konteks negara berkembang seperti Indonesia, di mana budaya sering terpinggirkan oleh model ekonomi ekstraktif. Pendekatan heterodox seperti value-based economics ala Priyatej Kotipalli menjanjikan, tapi implementasinya memerlukan adaptasi lokal untuk menghindari komodifikasi budaya. Secara keseluruhan, narasi buku ini provokatif namun terlalu optimis terhadap “creative class” tanpa mengatasi ketimpangan akses.​ Perlu upaya keras bagi Indonesia menemukenali gagasan buku ini menjadi sebuah realitas.

Relevansi dengan Budaya Indonesia

Dalam Pancasila, khususnya sila kelima tentang keadilan sosial dan sila kedua tentang kemanusiaan, budaya menjadi fondasi tujuan bernegara: menciptakan masyarakat adil, makmur dalam keberkebhinekaan. Buku ini relevan bagi Indonesia karena menawarkan kerangka untuk mengaktifkan ekonomi kreatif, seperti batik, wayang, dan gamelan, sebagai pendorong ketahanan nasional, mirip “orange economy” yang disebut dalam teks utamanya setelah semuanya disuntik nilai-nilai kekinian. Dengan mengadopsi model budaya-ekonomi ini, Indonesia dapat merealisasikan visi gotong royong melalui ekosistem budaya yang inklusif, di mana inovasi budaya mendukung pembangunan berkelanjutan, dengan konsep kekinian “Beda-beda gayanya, dan gaya-gaya semuanya.”​

Implementasi Budaya Ekonomi: Strategi Pelaku Indonesia untuk Dominasi Global

Perspektif budaya-ekonomi dari buku Mickov dan Doyle dapat diimplementasikan dan dibumikan di Indonesia melalui kolaborasi pelaku untuk mengubah kekayaan budaya menjadi kekuatan global, selaras dengan target pertumbuhan nasional 8% via ekonomi kreatif.​​

Kolaborasi Antar-Pelaku

Pemerintah (Bappenas, Kemenparekraf), pelaku usaha, dan komunitas harus bentuk ekosistem seperti Rakernas Gekrafs 2026, dengan rencana induk 20 tahun untuk digitalisasi industri kreatif berbasis budaya seperti batik dan gamelan. Universitas dan kreator muda ikut Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) untuk mapping pelaku, memastikan data akurat bagi kebijakan. Swasta membangun platform e-commerce budaya, kolaborasi dengan diaspora Indonesia untuk mengakselerasi branding global.

Contoh Langkah Implementatif

  1. Digitalisasi Lokal: Kembangkan app VR untuk tur virtual situs budaya (Borobudur, Prambanan), integrasikan AI untuk personalisasi pengalaman wisata, target ekspor konten digital Rp 990 triliun sebagaimana proyeksi 2017.
  2. Pendidikan & Inkubasi: Latih 1 juta kreator via Bekraf-style program, fokus design thinking ala Doyle untuk inovasi seperti eco-batik Nganjuk, Jokjakarta, Madura.​​
  3. Branding Global: Ikut festival internasional (seperti Cannes Lions), MoU kota seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta untuk kota-kota kreatif, posisikan Indonesia sebagai poros “Orange Economy” Asia. 

Positioning Global

Dengan sinergi ini, Indonesia diharapkan mampu mencapai target Bekraf 2030: jadi powerhouse kreatif dunia, kontribusi 7-10% GDP, menyaingi Korea Selatan via K-pop model tapi berbasis Pancasila. MoU Jakarta-Menekraf perkuat kota global, tarik FDI via cultural tourism yang sudah 5.5% EU GDP analog. Hasil yang diharapkan: Budaya Indonesia bukan komoditas, tapi soft power dominan di Asia.

Budaya Buku Mickov-Doyle vs Indonesia: 10 Keunggulan Komparatif untuk Tujuan Bernegara

Buku Culture, Innovation and the Economy menyoroti keunggulan budaya Eropa/ Serbia sebagai fondasi ekonomi kreatif. Penulis langsung mengkomparasikan sekaligus membumikan buku ini dengan Indonesia, yang unggul dalam keragaman dan populasi masif untuk soft power global. Komparasi ini beri titik totok: adaptasi model buku ke Pancasila sebagai ruh budaya Indonesia untuk kesejahteraan adil dan persatuan nasional.

Resensi ini sekaligus ingin memebumikan buku untuk memperkuat budaya ekonomi. Berikut Tabel Komparasi 10 Keunggulan tersebut:

Strategi Berdaya Guna

Adaptasi Eropa ke Indonesia: Bangun “Nusantara 2050” ala Eindhoven, fokus desa wisata digital untuk akselerasi ekspor kreatif. Titik totok utama: Integrasi ke SE2026 untuk data-driven policy, kolaborasi diaspora-global, hasilkan multiplier GDP selaras tujuan bernegara adil-makmur, sebagaimana yang dirumuskan pada paragraf keempat Pembukaan UUD 1945. Indonesia tak kalah, bahkan unggul skala, guna mewujudkan dengan memaksimalkan sinergitas pemerintah-swasta-komunitas. Titik totoknya adalah bagaimana mengembangkan ekosistem yang ideal sebagaimana diformulasikan dalam buku ini. Jagjag!!

​—–

*Mochammad Sulton Sahara, Mahasiswa Doktoral Ilmu Teknik Universitas Sriwijaya.