Takziah di Tengah Hujan: Seruan Waras di Tengah Dunia yang Terlalu Bising

Oleh: Selwa Kumar* 

Hujan belum juga berhenti ketika saya melangkah meninggalkan pagar kedutaan itu.

Rintiknya masih jatuh pelan, seperti doa-doa yang tidak diucapkan dengan suara keras. Jalan Teuku Umar tetap sibuk.

Klakson mobil, motor yang terburu-buru, orang-orang berlari kecil menghindari genangan. Kota ini seperti tidak pernah benar-benar punya waktu untuk berduka.

Saya berjalan pelan.
Di kepala saya muncul satu pertanyaan sederhana:
mengapa dunia ini begitu mudah memilih perang, tetapi begitu sulit memilih kewarasan?

Sejarah manusia seharusnya sudah cukup menjadi pelajaran. Setiap perang selalu dimulai dengan pidato-pidato keras. Kata-kata tentang kehormatan, keamanan, kemenangan, dan kejayaan bangsa.

Tetapi yang selalu mengubur anak-anak adalah tanah yang sama.

Yang selalu menangis adalah ibu-ibu yang sama.

Yang selalu kehilangan rumah adalah rakyat kecil yang sama.

Perang tidak pernah benar-benar dimenangkan oleh rakyat.

Perang biasanya hanya dimenangkan oleh ambisi.

Saya berhenti sebentar di bawah pohon tua di pinggir jalan. Daunnya meneteskan air hujan ke bahu saya. Saya tidak terganggu. Hujan bagi saya selalu terasa seperti pengingat: alam semesta lebih bijak daripada manusia.

Bayangkan jika para pemimpin dunia duduk sebentar di bawah hujan seperti ini.
Tanpa podium.
Tanpa kamera.
Tanpa pidato panjang.
Hanya duduk sebagai manusia.

Mungkin mereka akan ingat bahwa kekuasaan itu sementara.

Bahwa peta negara yang mereka perebutkan sebenarnya hanyalah garis di atas kertas.

Bahwa setiap bom yang dijatuhkan selalu memiliki alamat yang nyata: rumah seseorang.

Saya tidak sedang berbicara sebagai ahli geopolitik.

Saya hanya berbicara sebagai manusia yang waras.

Waras itu sederhana.
Waras berarti tahu bahwa anak kecil di Gaza sama berharganya dengan anak kecil di New York, Teheran, Tel Aviv, atau Jakarta.

Waras berarti tahu bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kebanggaan atas kematian manusia lain.

Waras berarti tahu bahwa pemimpin sejati bukanlah mereka yang paling keras berbicara tentang perang, tetapi mereka yang paling berani menghentikannya.

Itulah sebabnya saya datang hari ini.

Bukan untuk memuja seorang tokoh.

Bukan untuk membela satu negara.

Bukan pula untuk memperdalam konflik yang sudah terlalu lama.

Saya datang untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa di tengah dunia yang sering kehilangan akal sehat, manusia biasa masih bisa berdiri di sisi kemanusiaan.

Kadang caranya sangat sederhana.
Datang.
Berdiri.
Berdoa.
Lalu pulang.
Tidak ada kamera. Tidak ada panggung.
Hanya hati yang mencoba tetap waras.

Langkah saya terus berjalan meninggalkan kawasan diplomatik itu.

Hujan perlahan mengecil. Langit Jakarta mulai sedikit terang.

Saya tersenyum kecil.
Mungkin dunia memang tidak berubah hari ini.

Perang mungkin masih akan terjadi. Politik mungkin masih akan berisik.

Tetapi selama masih ada manusia yang memilih kewarasan, harapan itu belum benar-benar hilang.

Dan kewarasan kadang dimulai dari hal kecil:
menolak membenci,
menolak menindas,
dan menolak percaya bahwa perang adalah takdir manusia.

Saya menarik napas panjang. Lalu saya berkata pelan kepada diri saya sendiri:
“Dunia ini tidak kekurangan senjata.
Yang kurang hanyalah manusia yang cukup waras untuk tidak menggunakannya.”

Hujan akhirnya berhenti.
Dan Jakarta kembali menjadi kota yang sibuk.

Tetapi di hati saya ada keyakinan sederhana:
suatu hari nanti, suara kewarasan akan lebih keras daripada suara perang.
Ahoi.

—–

*Selwa Kumar, PP IKA USU, Bidang Seni dan Budaya.