Mistisisme Transendental dan Absurditas Eksistensial dalam Cerita Kunjarakarna
Oleh Purnawan Andra
Di Candi Jago, Malang, Jawa Timur, terdapat relief Kunjakarna, yang menggambarkan cerita Buddhisme. Relief ini tidak hanya menyuguhkan keindahan estetika Nusantara yang khas, tetapi juga menyimpan narasi mendalam tentang pencarian pencerahan, konflik batin, dan perjalanan spiritual.
Kunjarakarna juga menjadi sebuah karya prosa berbentuk syair (kakawin) dari abad ke 14 dengan judul Kuñjarakarnadharmakathana dalam Bahasa Sansekerta yang bisa diartikan sebagai “cerita mengenai dharma (hukum) dan hubungannya dengan Kuñjarakarna” (A. Teeuw, S.O. Robson, A.J.B. Kempers, 1981, Kunjarakarna Dharmakathana, Leiden:KITLV. Bibliotheca Indonesia 21)
Cerita Kunjarakarna menggambarkan bagaimana sosok Yaksa, yang dahulu dikenal dengan watak kekerasan dan kejahatan, bertekad untuk mengubah dirinya melalui bersemedi di Gunung Semeru. Tujuannya adalah untuk menghadap Dewa Wairocana, sosok Buddha yang melambangkan kebenaran tertinggi, guna mendapatkan ajaran tentang dharma dan pemahaman atas nasib makhluk duniawi.
Dikisahkan Kunjarakarna juga bertemu dengan Dewa Yama dan menyaksikan penampakan bagi arwah-arwah (di neraka), yang mengajarkan bahwa setiap perbuatan memiliki akibat—konsep karma yang menjadi salah satu pilar utama Buddhisme. Relief Kunjarakarna di Candi Jago mengabadikan momen krusial ini, di mana transformasi batin dicatat sebagai pertempuran antara sifat duniawi dan aspirasi menuju kebebasan spiritual.
Dalam ajaran Buddha, perjalanan spiritual adalah inti dari pencarian pencerahan. Apa yang disampaikan dalam cerita Kunjarakarna ini menciptakan suatu ruang dialog tentang kompleksitas hubungan antara nilai moral, spiritual, karma,dan dharma. Ia menjadi refleksi esensial atas realitas kehidupan – bahwa penderitaan berasal dari keinginan dan kekekalan, dan pencerahan hanya dapat dicapai melalui pelepasan diri dari dunia fana.
Perjalanan Transendental
Relief ini juga mencerminkan dimensi mistik yang mendalam dalam tradisi keagamaan Nusantara. Mistisisme dalam konteks ini tidak hanya berbicara tentang kepercayaan terhadap kekuatan supranatural, tetapi juga sebagai perjalanan batin yang menghubungkan individu dengan alam semesta. Dalam cerita Kunjarakarna, perjalanan spiritual sang Yaksa tidak hanya tentang penolakan terhadap watak raksasanya, melainkan juga sebagai upaya untuk mengembalikan keseimbangan antara kekuatan destruktif dan potensi pencerahan.
Dalam tradisi Nusantara, alam selalu dianggap sebagai entitas yang memiliki kekuatan spiritual. Gunung Semeru, yang menjadi latar laku tapa Kunjarakarna, merupakan simbol kekuatan alam yang sakral dan tempat di mana batas antara dunia manusia dan yang transenden menjadi kabur. Dengan demikian, mistisisme yang melekat pada narasi ini mengajarkan bahwa pencerahan pencarian adalah proses yang harus terjadi di tengah interaksi yang dinamis antara manusia dan alam, di mana setiap elemen—baik elemen fisik maupun simbolis—memiliki peran untuk mengingatkan kita akan kefanaan hidup dan pentingnya mencapai pencerahan batin.
Kunjarakarna, dalam pencariannya, bukan hanya berusaha untuk mengubah nasibnya sendiri, tetapi juga sebagai simbol pengakuan terhadap keadilan universal. Ia mengajukan pertanyaan mendalam: apakah manusia mampu melepaskan dunia duniawi yang penuh dosa dan mencapai pencerahan? Pertanyaan ini, yang merupakan inti dari filsafat eksistensialme, mengajak kita untuk memikirkan bahwa pencarian makna hidup adalah perjalanan yang tak pernah usai dan harus ditempuh dengan keikhlasan serta kesadaran akan kefanaan.
Dalam kerangka pemikiran eksistensialis, para pemikir seperti Jean-Paul Sartre dan Albert Camus menegaskan bahwa makna hidup harus ditemukan melalui perjuangan pribadi di tengah absurditas dan penderitaan. Cerita Kunjarakarna menggambarkan bahwa setiap individu harus menghadapi penderitaan sebagai bagian dari proses pembentukan identitas.
Perjalanan spiritualnya, yang dipenuhi dengan konfrontasi terhadap kematian dan penderitaan, mencerminkan kenyataan bahwa kehidupan tidak selalu dipenuhi kebahagiaan; sebaliknya, penderitaan adalah elemen penting yang harus dihadapi untuk mencapai pencerahan. Pencerahan yang dicari Kunjarakarna bukan hanya merupakan kemandirian diri dari watak raksasa, tetapi juga merupakan simbol pengakuan atas keadilan universal, di mana setiap makhluk, tidak kecuali, berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah dan menemukan makna sejati dalam kehidupan.
Diskursus Kebudayaan
Hubungan antara diskursus kebudayaan dan religiositas tampak jelas dalam bagaimana narasi keimanan direpresentasikan melalui cerita Kunjarakarna. Agama (Buddha dalam hal ini) tidak berdiri sebagai entitas yang terpisah, namun sebagai bagian integral dari budaya yang selalu berkembang. Narasi Kunjarakarna sebagai relief di Candi Jago menggambarkan bahwa pemahaman keimanan (dalam konteks spiritualisme) selalu menjadi diskursus yang dikontekstualisasikan dengan sejarah, tradisi, kebudayaan dan dinamika sosial yang kompleks.
Dalam pemikiran cultural studies, cerita ini dapat diinterpretasikan sebagai konstruksi simbolik yang mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal Nusantara. Reliefnya di Candi Jago bukan hanya ornamen arkeologis, tetapi media komunikasi visual yang menjadi representasi penting dalam membangun kembali kesadaran keagamaan dan etika di masa kini, di mana diskursus kebudayaan sering kali dikendalikan oleh kapitalisme dan hedonisme.
Di era modern ini, di mana arus globalisasi dan teknologi informasi kerap merancukan esensi nilai spiritual, cerita Kunjarakarna mengungkapkan absurditas eksistensial yang mengingatkan kita pada pemikiran Albert Camus, di mana hidup yang penuh penderitaan dan memaksa setiap individu untuk mencari makna di tengah selubung duniawi.
Darinya, kita dapat melihat bahwa upaya untuk mencapai pencerahan bukanlah ilusi, melainkan suatu perjalanan yang menuntut keberanian untuk menghadapi kekurangan eksistensial. Pesan tersebut mengajak setiap individu untuk memikirkan kembali prioritas hidupnya dan untuk tidak melupakan nilai keadilan universal yang terpancar dari prinsip dharma dan karma, sehingga dapat membuka jalan menuju transformasi spiritual yang autentik dan berkelanjutan.
Muaranya adalah pribadi-pribadi yang selalu dilingkupi kesadaran transendental dalam laku asketis yang dijalankannya diantara hibuk dinamika jaman tak lagi mengenal kata jeda, di mana semua batas logika kemanusiaan menjadi kabur – manusia paripurna.
***
*Purnawan Andra, bekerja di Direktorat Bina SDM, Lembaga & Pranata Kebudayaan, Ditjen Pengembangan, Pemanfaatan & Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan.