Mens Rea Patung Macan Kediri: Dari Ilusi Estetik ke Delusi Birokrasi
Oleh: Gus Nas Jogja*
Catatan Kuratorial
Pendahuluan:
Singa yang Salah Identitas
Di sebuah persimpangan jalan di Kediri, atau mungkin dalam imajinasi kolektif kita yang paling liar, berdiri sebuah patung macan. Namun, ini bukan sembarang macan. Ini adalah macan yang tampak seperti sedang mengalami krisis eksistensial—wajahnya lebih mirip kucing yang baru saja melihat tagihan pajak daripada predator puncak di hutan tropis.
Dalam hukum pidana, kita mengenal istilah Mens Rea—niat jahat atau “pikiran yang bersalah”. Namun, ketika diterapkan pada sebuah karya seni rupa publik, pertanyaannya bergeser: Apa yang ada di dalam pikiran atau mens rea sang pematung? Apakah ia berniat menciptakan keindahan, ataukah ia sedang melakukan tindakan subversif terhadap estetika itu sendiri?
Ontologi Macan Lucu: Antara Mimesis dan “Meme-sis”
Filosof Plato mungkin akan menangis tersedu-sedu di pojok galeri jika melihat patung macan ini. Baginya, seni adalah mimesis—peniruan dari kenyataan. Namun, Patung Macan Kediri tidak meniru macan di alam; ia meniru macan dalam mimpi buruk seorang surrealis yang sedang mabuk tuak.
Secara filosofis, patung ini telah melompat dari Ilusi (bahwa ini adalah representasi macan) menuju Delusi (bahwa kita semua harus sepakat bahwa ini adalah macan).
“Seni tidak mereproduksi apa yang terlihat; sebaliknya, ia membuat sesuatu menjadi terlihat.”
— Paul Klee [1]
Masalahnya, yang dibuat “terlihat” oleh patung ini adalah ketidakberdayaan kita menghadapi selera pejabat publik yang memesan proyek tersebut. Ini bukan lagi soal estetika, melainkan soal keberanian untuk menjadi jelek secara paripurna.
Perlu saya kutipkan Anekdot Satire berikut sebagai pelengkap kelucuan esai ini: Seorang kurator seni dari Jakarta datang ke Kediri, menatap patung itu selama tiga jam tanpa berkedip. Seorang warga lokal bertanya, “Bagus ya, Pak?” Si kurator menjawab, “Ini bukan patung. Ini adalah protes diam terhadap teori evolusi Darwin. Macan ini berevolusi menjadi karikatur sebelum waktunya.”
Mens Rea Sang Seniman: Niat Jahat atau Kepasrahan Anggaran?
Jika kita membedah mens rea dari sang pematung, kita akan menemukan dialektika antara idealisme dan realisme anggaran. Seringkali, “wajah lucu” sebuah patung publik di Indonesia bukan karena kurangnya talenta, melainkan karena Hukum Termodinamika Proyek: Kualitas karya berbanding lurus dengan sisa anggaran setelah dipotong biaya administrasi, biaya kopi, dan biaya ‘persahabatan’.
Dalam konteks ini, patung macan tersebut adalah sebuah Kebenaran Heideggerian. Martin Heidegger dalam The Origin of the Work of Art menyatakan bahwa seni adalah “pembukaan atas kebenaran” (aletheia) [2]. Patung Macan Kediri membuka kebenaran yang pahit: bahwa dalam birokrasi kita, estetika adalah variabel terakhir setelah SPJ (Surat Pertanggungjawaban) selesai.
Kutipan Filosofis penting saya tuliskan:
“Kitsch adalah stasiun estetik bagi mereka yang ingin melupakan penderitaan eksistensial dengan sesuatu yang manis atau lucu, meskipun itu palsu.”
— Milan Kundera — Parafrase dari The Unbearable Lightness of Being [3]
Patung macan ini adalah Kitsch tingkat dewa. Ia lucu bukan karena ia ingin melucu, tapi karena ia gagal menjadi serius.
Transformasi: Dari Ilusi ke Delusi
Transformasi dari ilusi ke delusi terjadi ketika masyarakat tidak lagi menertawakan patung tersebut sebagai kesalahan, melainkan menerimanya sebagai ikon. Inilah yang oleh Jean Baudrillard disebut sebagai Simulakra [4].
Pertama, Tahap Ilusi:
Kita berharap patung itu gagah seperti Macan Lodaya.
Kedua, Tahap Delusi:
Kita mulai percaya bahwa mungkin macan purba di Kediri memang bermuka ramah dan sedikit ngantuk.
Ini adalah pergeseran dari realitas menuju “hiper-realitas”. Macan itu menjadi lebih nyata daripada macan aslinya di hutan. Orang tidak lagi pergi ke kebun binatang untuk melihat macan; mereka datang ke Kediri untuk melihat “Macan yang Itu”.
Estetika Kegagalan sebagai Bentuk Perlawanan
Ada keindahan dalam kegagalan. Immanuel Kant dalam Critique of Judgment bicara tentang “Sublim” [5]. Sesuatu yang sublim biasanya adalah sesuatu yang besar, menakutkan, dan melampaui nalar. Patung Macan Kediri mencapai level sublim karena saking jeleknya, ia melampaui kategori “jelek” dan menjadi “legendaris”.
Seniman patung ini, secara sadar atau tidak, telah mempraktikkan apa yang disebut Arthur Danto sebagai The End of Art [6]. Ketika seni tidak lagi harus indah, maka “Macan Lucu” adalah puncak pencapaian intelektual. Ia tidak lagi mengabdi pada mata, tapi pada tawa.
Anekdot Seniman:
Dulu, ada pematung yang diprotes karena patung pahlawannya tidak mirip aslinya. Ia menjawab santai, “Pahlawannya sudah mati, tidak bisa protes. Kalau Anda tidak setuju, silakan tanya beliau di akhirat nanti.” Itulah mens rea yang paling jujur: ketidakpedulian yang artistik.
Macan yang Menertawakan Kita
Pada akhirnya, Mens Rea Patung Macan Kediri adalah cermin bagi kita semua. Kita menertawakan wajah patung itu, padahal patung itu sedang menertawakan hidup kita yang penuh kepalsuan. Ia berdiri di sana, dengan wajah konyolnya, seolah berkata: “Aku mungkin jelek, tapi setidaknya aku nyata dan tidak berpura-pura menjadi pahlawan.”
Di tengah dunia yang terobsesi dengan filter Instagram dan pencitraan politik, Macan Kediri adalah oase kejujuran estetik. Ia adalah simbol bahwa di Indonesia, antara tragedi dan komedi hanya dibatasi oleh satu lapisan semen dan cat murah.
Psikoanalisis Macan: Id, Ego, dan Superego yang Peyot
Jika Sigmund Freud masih hidup dan kebetulan sedang melintas di Kediri sambil menyeruput kopi saring, ia mungkin akan mendiagnosis patung ini mengalami Kastrasi Estetik. Secara psikoanalisis, patung macan ini adalah manifestasi dari Id sang seniman yang ingin memberontak, namun ditekan oleh Superego berupa termin pembayaran, yaitu termin pertama yang tak kunjung cair.
Dalam seni rupa, bentuk atau (form) biasanya mengikuti fungsi atau (function). Namun di sini, bentuk mengikuti Disfungsi. Wajah macan yang tampak “terkejut” itu bukanlah sebuah kecelakaan anatomi, melainkan sebuah proyeksi dari ketakutan kolektif kita terhadap masa depan.
“Ketidaksadaran adalah terstruktur seperti sebuah bahasa.”
— Jacques Lacan [7]
Jika kita mengikuti logika Lacan, maka “bahasa” yang digunakan oleh patung macan ini adalah bahasa plesetan. Ia adalah sebuah signifier (penanda) yang kehilangan signified (petanda)-nya. Kita melihat macan, tapi kita merasakan kucing persia yang sedang depresi. Inilah yang disebut sebagai Trauma Representasional.
Dialektika Semen dan Keinginan: Anekdot “Macan Termodinamika”
Di kalangan seniman patung, ada sebuah rahasia umum yang disebut dengan Hukum Kekekalan Bahan. Konon, seorang pematung pernah ditanya oleh kepala dinas setempat: “Kenapa macannya kelihatan sedih dan badannya lebih mirip karung beras daripada predator?” Si seniman menjawab dengan takzim, “Bapak, ini adalah Macan Puasa. Ia sedang merepresentasikan penderitaan rakyat kecil yang dihimpit inflasi. Jika saya buat dia kekar, nanti dikira kita sedang mempromosikan gaya hidup mewah atau hedonisme di kalangan satwa liar.”
Inilah mens rea yang bersifat defensif-apologetik. Seniman kita adalah ahli retorika yang mampu mengubah kegagalan teknis menjadi keberhasilan filosofis.
Ijinkan saya hadirkan kembali kutipan Filosofis untuk membuat esai kuratorial terkesan ilmiah:
“Kreativitas membutuhkan keberanian untuk melepaskan kepastian.”
— Erich Fromm [8]
Dalam kasus Macan Kediri, sang seniman tidak hanya melepaskan kepastian, tapi juga melepaskan proporsi, anatomi, dan harga diri estetis demi selesainya kontrak tepat waktu.
Kritik Institusional: Seni dalam Cengkeraman Laporan Pertanggungjawaban (LPJ)
Mari kita bicara jujur sebagai sesama pemikir. Mengapa di negara dengan tradisi ukir sehebat relief Borobudur, kita bisa menghasilkan patung publik yang kualitasnya mirip mainan hadiah dari paket deterjen?
Jawabannya adalah: Birokratisasi Imajinasi.
Seorang seniman yang ingin membuat patung realis dengan detail otot yang presisi seringkali harus berhadapan dengan panitia lelang yang lebih peduli pada ketebalan kuitansi daripada ketebalan cat. Di sinilah terjadi transformasi dari Seni sebagai Ekspresi menjadi Seni sebagai Komoditas Administrasi.
Michel Foucault dalam Discipline and Punish bicara tentang bagaimana institusi mendisiplinkan tubuh [9]. Di sini, institusi mendisiplinkan “tubuh” macan tersebut. Macan itu harus patuh pada pagu anggaran. Ia tidak boleh terlalu garang, karena takut menyinggung pihak-pihak tertentu. Maka, jadilah ia macan yang “inklusif”—lucu bagi anak-anak, tidak menakutkan bagi politisi, dan mudah dipertanggungjawabkan secara audit.
Estetika “Wabi-Sabi” Versi Kearifan Lokal
Secara tidak sengaja, Patung Macan Kediri sebenarnya mendekati konsep Jepang Wabi-Sabi—keindahan dalam ketidaksempurnaan [10]. Namun, jika di Jepang ketidaksempurnaan itu direncanakan dengan meditatif, di Indonesia ketidaksempurnaan itu terjadi karena “semennya keburu kering sebelum sempat diamplas”.
Ini adalah estetika “Sing Penting Yakin”. Sebuah aliran seni baru yang lahir dari rahim keterdesakan. Di mata seorang filsuf dekonstruksionis seperti Jacques Derrida, patung ini adalah sebuah teks yang sedang mendekonstruksi dirinya sendiri. Ia menghancurkan otoritas “Macan” sebagai simbol kekuasaan dan menggantinya dengan “Macan” sebagai simbol kerentanan.
Delusi Massal: Ketika yang Buruk Menjadi Ikonik
Satu hal yang menarik dari fenomena Patung Macan Kediri adalah transformasi dari objek cemoohan menjadi objek wisata. Ini adalah bukti teori Walter Benjamin tentang “Karya Seni di Era Reproduksi Mekanis” [11]. Aura seni yang hilang karena kualitas yang buruk justru digantikan oleh “Aura Viral”.
Masyarakat mengalami delusi kolektif yang menyenangkan. Kita tahu itu jelek, tapi kita mencintainya karena ia menghibur. Ini adalah kemenangan komedi atas tragedi. Seperti kata Charlie Chaplin:
“Hidup adalah tragedi jika dilihat dari dekat, tapi komedi jika dilihat dari kejauhan.”
Patung Macan ini, jika dilihat dari dekat adalah kegagalan seni rupa, tapi jika dilihat dari kejauhan (melalui layar smartphone) adalah mahakarya komedi situasi.
Penutup Sementara:
Niat Baik di Balik Wajah Konyol
Secara Mens Rea, mungkin tidak ada niat jahat dari sang seniman untuk merusak estetika kota. Yang ada hanyalah niat untuk bertahan hidup di tengah ekosistem seni yang seringkali tidak memihak pada kualitas. Macan Kediri adalah monumen bagi para pejuang kreatif yang harus berkompromi dengan kenyataan.
Ia adalah pengingat bahwa di bawah langit Kediri, filosofi tertinggi bukanlah Cogito Ergo Sum (Aku berpikir maka aku ada), melainkan Kasep Ergo Sum (Aku Lucu maka Aku Viral).
Materialisme Semen: Dialektika Antara Debu dan Keabadian
Secara teknis, seni patung adalah pertarungan melawan gravitasi dan waktu. Hegel dalam Lectures on Aesthetics menempatkan seni patung sebagai medium yang mewujudkan “jiwa” ke dalam “materi padat” [12]. Namun, pada Macan Kediri, yang terjadi adalah Alienasi Material.
Semen, yang seharusnya menjadi otot-otot perkasa, justru menyerah pada hukum kepasrahan. Tekstur kulit macan yang kasar dan tidak rata bukan lagi representasi dari bulu predator, melainkan representasi dari “adukan yang kurang semen”. Di sini, materialitas berbicara lebih jujur daripada bentuknya. Ia adalah monumen bagi Materialisme Historis versi toko bangunan: bahwa ideologi sebesar apa pun akan tunduk pada kualitas pasir lokal.
Anekdot Satire terakhir:
Seorang mahasiswa seni rupa mencoba melakukan penelitian tesis tentang teknik finishing patung tersebut. Ia bertanya pada mandor proyek, “Teknik apa yang digunakan untuk mencapai efek rustic dan absurd pada wajah macan ini?” Si mandor menjawab sambil merokok, “Itu teknik ‘Kejar Tayang’, Dek. Kalau kami haluskan lagi, nanti anggaran tahun depan tidak turun karena dianggap proyeknya sudah terlalu sempurna.”
Politik Tertawa: Komedi sebagai Katarsis Kolektif
Kenapa kita tertawa melihat patung itu? Henri Bergson dalam esainya Laughter menyatakan bahwa tawa muncul ketika kita melihat “sesuatu yang mekanis ditempelkan pada sesuatu yang hidup” [13]. Macan adalah makhluk hidup yang luwes, namun ketika ia diwujudkan dalam bentuk semen yang kaku dengan ekspresi wajah manusia yang sedang bingung, terjadilah incongruity atau ketidakselarasan.
Tawa masyarakat Kediri—dan netizen Indonesia secara luas—adalah sebuah Tindakan Subversif. Kita tidak bisa memprotes korupsi atau inefisiensi birokrasi secara langsung tanpa risiko administratif, maka kita menertawakan produknya. Macan lucu itu adalah “kambing hitam” bagi kegagalan sistemik. Dengan menertawakannya, kita sedang melakukan katarsis kolektif atas segala rupa “kejelekan” layanan publik yang kita terima sehari-hari.
“Satu-satunya cara untuk menghadapi dunia yang tidak masuk akal adalah dengan menjadi begitu masuk akal sehingga keberadaanmu adalah sebuah tindakan pemberontakan.”
— Albert Camus [14]
Patung Macan Kediri, dalam segala ketidakmasukakalannya, adalah bentuk pemberontakan terhadap standar kesempurnaan yang dipaksakan oleh modernitas.
Estetika Perlawanan: Menuju Seni yang “Jujur-Jelek”
Mungkin kita perlu merumuskan ulang apa itu “Bagus”. Jika sebuah patung macan yang sangat mirip aslinya hanya akan dilewati orang tanpa kesan, sedangkan patung yang “salah bentuk” ini mampu menyatukan jutaan orang dalam tawa dan diskusi filosofis, bukankah yang terakhir lebih “berhasil” sebagai karya seni publik?
Inilah yang oleh para pemikir posmodern disebut sebagai The Aesthetics of Resistance. Seni tidak lagi harus melayani penguasa atau selera elit atau High Art, melainkan menjadi milik rakyat atau Low Brow. Patung Macan Kediri adalah pahlawan bagi mereka yang bosan dengan estetika gedung pencakar langit yang dingin dan kaku. Ia hangat, ia manusiawi, dan yang terpenting: ia berani tampil jelek di dunia yang terobsesi pada kecantikan artifisial.
Kesimpulan: Mens Rea yang Membebaskan
Kembali ke pertanyaan awal: apa Mens Rea di balik patung ini? Setelah membedahnya dari berbagai sudut, kita menemukan bahwa “niat” sang seniman mungkin bukanlah untuk menghina seni, melainkan untuk jujur pada keterbatasan.
Patung Macan Kediri adalah simbol dari Manusia Indonesia yang tangguh: dikepung anggaran terbatas, ditekan tenggat waktu birokrasi, namun tetap mampu melahirkan sesuatu yang—meskipun konyol—mampu membuat dunia tersenyum. Ia adalah manifestasi dari Filsafat Nrimo yang dipadukan dengan kreativitas kepepet.
Jika suatu saat patung itu dihancurkan dan diganti dengan macan yang lebih “gagah”, kita mungkin akan kehilangan sesuatu yang berharga: sebuah pengingat bahwa di balik kegagalan teknis, ada kemuliaan niat untuk menghibur sesama.
Jangan-jangan Sang Pematung memang sedang melakukan Body Shaming pada Sang Raja Hutan?
Embuhlah!***
Catatan Kaki
[1] Klee, Paul. (1920). Creative Confession. Reiss-Erika.
[2] Heidegger, Martin. (1950). Der Ursprung des Kunstwerkes (Asal-usul Karya Seni). Klostermann.
[3] Kundera, Milan. (1984). The Unbearable Lightness of Being. Harper & Row.
[4] Baudrillard, Jean. (1981). Simulacra and Simulation. University of Michigan Press.
[5] Kant, Immanuel. (1790). Critique of Judgment. (Terjemahan J.H. Bernard).
[6] Danto, Arthur C. (1997). After the End of Art: Contemporary Art and the Pale of History. Princeton University Press.
[7] Lacan, Jacques. (1977). Écrits: A Selection. W.W. Norton & Co.
[8] Fromm, Erich. (1959). The Creative Attitude. Harper.
[9] Foucault, Michel. (1975). Surveiller et punir: Naissance de la prison. Gallimard.
[10] Koren, Leonard. (1994). Wabi-Sabi for Artists, Designers, Poets & Philosophers. Imperfect Publishing.
[11] Benjamin, Walter. (1935). Das Kunstwerk im Zeitalter seiner technischen Reproduzierbarkeit. Suhrkamp.
[12] Hegel, G.W.F. (1835). Aesthetics: Lectures on Fine Art. Oxford University Press.
[13] Bergson, Henri. (1900). Le Rire (Laughter: An Essay on the Meaning of the Comic).
[14] Camus, Albert. (1951). The Rebel: An Essay on Man in Revolt. Vintage International.
Rujukan Ilmiah
Adorno, Theodor W. (1970). Aesthetic Theory. Routledge.
Eco, Umberto. (2007). On Ugliness. Harvill Secker.
Gombrich, E.H. (1960). Art and Illusion: A Study in the Psychology of Pictorial Representation. Pantheon Books.
Sudjojono, S. (2017). Seni Lukis, Kesenian, dan Seniman. Yayasan Jendela Seni.
Kuspit, Donald. (2004). The End of Art. Cambridge University Press.
Said, Edward. (1993). Culture and Imperialism. Knopf.
Zizek, Slavoj. (1989). The Sublime Object of Ideology. Verso.
————–
*Gus Nas Jogja, budayawan.




