Lagu Leo Kristi: Liriknya

Oleh Prof. Dr. Mudji Sutrisno SJ.*

Hening sekelilingmu
kau lihat fajar mulai menyingsing
kau dengar suara adzan pagi
kau dengar suara bedug di surau, hatimu menangis
jangan bersedih, Allah pengasih”

Inilah syair awal “Nyanyian Fajar”, sebuah lagu balada pagi dari Leo Kristi dalam acak “Nyanyian Fajar”. Ia menyapa pagi di ranah desa dengan menghibur jangan menangis karena Allah pengasih. Pagi diawali fajarnya dalam sujud nyanyi ke Allah penciptanya. Tidak hanya itu, di balik lirik-lirik selanjutnya diurai kegembiraan polos gadis-gadis desa yang menyambut merekahnya matahari. Romatiskah? Ya dan realis, artinya sentuhan dirasa, dihati dalam realita pengharapan hari.

Dengarlah lirik ini:

“lihat gadis di sawah: merah, kuning, jingga kebayanya,
fajar di hatinya
bangun ayo bangun,
berjalan tegar, tegakkan kepalamu
fajar di hatimu 2x
bangkit dan tegakkan kepala
menyongsong hari baru,
karena fajar merekah di hatimu,
fajar di hatimu
lalu disusul, sawah-sawah luas yang membiru
biru- biru- biru ….
kalindan penuh harapan dalam bekerja di sawah
dengarlah padi, mulai ditumbuk, suara dari gubuk-gubuk
dengarlah gerobak sayur, hampir tak mengenal tidur
pagi di sawah, kerja di ladang
dan suara menumbuk hasil panenan setelah di potong ani-ani”

Sebuah potret lengkap wajah dhusun dengan keriuhan gembira! Pertanyaanya, masihkah suasana rekah fajar ini kini? Nostalgiakah saat kembali dahulu itu? Atau pertanyaan pengenangan pada yang kini semakin menghilang karena modernisasi. Dengan selalu penuh konser rakyat Leo Kristi oleh penggemar-penggemar fanatiknya sampai kini, sah-lah pertanyaan-pertanyaan reflektif itu menjadi mendalam, membatin. Semangat untuk tetap fajar tiap hari kita dimanapun berada, itulah yang harus selalu dihidupi justru ketika yang batin semakin dikoyak oleh modernisasi, saat yang material fisik semakin menipiskan jeda-jeda batin renungan refleksi hidup kita. Itulah pesan lagu “Nyanyian Fajar”.

Dalam hermeneutika penafsiran, dari yang sudah dilakukan terhadap lirik lagu Leo Kristi, baru satu contoh saja belum diambilkan “Nyanyian Malam”, “Nyanyian Tanah Merdeka”, “Nyanyi Tambur”. Penafsir ada yang menggugat benarkah Leo Kristi identik dengan lagu rakyat? Bila digunakan metode dari dalam (intrinsik) dan deskripsi dari liriknya luar (ekstrinsik), dari lirik-lirik lagu Leo Kristi memang sebagian besar menyenandungkan rakyat, nelayan, kehidupan dhusun, nelayan kecil, lirik-lirik itu bernarasi, berkisah. Dari kisah lalu menyapa hening mendalam dari tatapan fisik saja. Lihatlah, lagu-lagu “Gulagalugu Suara Nelayan”, “Di Deretan Rel-Rel”, “Nyanyian Musim”, “Salam dari Desa”, “Nyanyian Tanah Merdeka”. Di lagu-lagu itulah petani, nelayan, orang-orang kecil disuarakan tanpa menggurui tapi menyemangati dengan sapa cerah manusiawi, seperti dalam lagu “Salam dari Desa”.

“kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
katakan padanya padi – padi telah kembang
ani – ani seluas padang roda giling berputar – putar
siang malam tapi bukan kami punya”.

“Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
katakan padanya tebu-tebu telah kembang
putih-putih seluas padang
roda lori berputar – putar siang malam
tapi bukan kami punya”.

Ekspresi kerja terus, siang malam petani dalam roda-roda giling berputar-putar, tak pernah tidur. Tetapi lihatlah nada riang di melodinya. Sapa lembut tragis kemiskinan mereka yang dibahasakan tajam mengiris.

“Tapi bukan kami punya, Lalu siapa empunya?
Tengkulakkah? Yang berpunya uang banyak?
Sementara para petani hanya punya tenaga kerja”.

Itulah sebabnya, di toreh “Tapi Bukan Punya Kami”. Di balik ini, pengkisahan ini, lamat-lamat tapi pasti muncullah soal keadilan. Karena itulah dalam ulang tahun kemerdekaan ini, dilantunkanlah tak henti-hentinya lagu keadilan di tanah merdeka. Lihat ketajaman kata-katanya “Nyanyian Tanah Merdeka”: 

“Seperti satu meriam kala meledak
seribu bedil adakah berarti
kalau laras laras sudah berbalik
apalagi kau tunggu saudara
ayo nyalakan api hatimu
seribu letupan pecah suara
sambut dengan satu kata “ merdeka ! “

Di sisi lain ditulis:

“Merah putih mawar melati,
merah putih bara hati,
merah putih mawar hati,
merah putih setiap hati
bunga-bunga berguguran
disana di bawah panji 

tanah airku, tanah merdeka
namun tetap menggaung,
kalimat tanya: “tapi bukan kami punya”.

Meski dari pendidikan, dikisahkan dalam lirik: 

“Anak-anak kini telah pandai nyanyi bersama-sama di tanah-tanah gunung
anak-anak kami telah pandai menyanyikan gema merdeka
nyanyi bersama-sama tapi bukan kami punya
lalu disadarkan bahwa tanah (kita)
tanah pusaka, tanah yang kaya
tumpah darahku, disana kuberdiri, disana kumengabdi
dan mati dalam cinta yang suci!” 

Sebuah kedambaan, sebuah harapan ke depan justru dalam situasi Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja ini.  Leo Kristi dengan nama lengkap Leo Imam Soekarno, terus menarik dan menyuarakan suara para nelayan, ya rakyat sejati yang semakin diharapkan sajak “Sapa dari Desa”, “Nyanyi Tanah Merdeka”, untuk mempunyai kemerdekaan keadilan itu, hingga pertanyaan mendasar “Tapi Bukan Kami Punya” perlahan tapi pasti menjadi pemilik tanah merdeka ini, ya Indonesia tumpah darahku. Tengoklah “Gulagalugu Suara Nelayan”:

Berayun ayun laju
perahu pak nelayan
laju memecah ombak
buih-buih memercik, di kiri kanan
buih-buih memercik di kiri kanan (perahu)

Lihat-lihat nelayan
rentang jala pukat
tarik tariklah tambang
umpan sudah lekat
ikannya melompat lompat

Jauh di kaki langit terbentang layarmu
kadang naik
kadang turun
dimainkan oleh ombak
badai laut biru

Lirik lagu “Di Kaki Langit Cintaku Berlabuh”

Angin malam yang berbisik padaku
mengapa bersedih
pilar pilar tegar gema memanjang
abadi cintaku

Burung malam kini terbang
melintasi langit terang
memikikkan kesunyian hati

Bintang bintang yang berkedip padaku
mengapa sendiri
kau pergi dan tak pernah kembali
tepati janji

Lampu lampu mulai kelam
jelang dingin berselimut kabut
kapal kapal mulai turun ,mulai turun
mengangkat sauh
laut kelam kaki langit cintaku berlabuh

Rakyat yang terus melaju dengan perahu nelayan dalam keriangan merah putih air yang memercik-mercik. Sebuah balada sang nelayan rakyat dalam tanah merdeka yang di damba agar bukan lagi bernada “Tapi Bukan Milik Kami” namun bertanah air merdeka betul.

—–

*Guru Besar STF Driyarkara, Dosen Pasca Sarjana UI, Budayawan.