Kembali kepada Pantun dan Warisan Aman Datuk Madjoindo yang Terlupakan
Oleh: Iwan Kurniawan*
Kembali kepada Pantun
dan Warisan Aman Datuk Madjoindo yang Terlupakan
Sejak zaman kolonial pantun sudah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sejumlah sastrawan besar terinspirasi keunikannya. Kini pemerintah wajib memelihara dan mengembangkannya.

Belakangan ini pantun kembali populer. Para pejabat ramai-ramai menyisipkan pantun dalam pidatonya di berbagai acara, dari peresmian pembukaan suatu acara hingga pidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pantun juga dilontarkan artis, seniman, dan bahkan kru pesawat terbang dan kereta api. Di Jakarta pantun yang mereka sampaikan akan dibalas penonton dengan kata “cakep” dan “artinya” sehingga suasana akan makin semarak.
Popularitas jenis sastra lama ini tentu patut diapresiasi dan didukung. Sayangnya, pantun yang mereka bikin kebanyakan bukanlah pantun yang baik. Pantun mereka pada umumnya hanya sekadar memenuhi syarat adanya sampiran dan isi serta berima di akhir baris. Padahal, pantun pada punya aturan tertentu sehingga sedap untuk dibaca atau didengarkan.
Mari kita simak empat contoh pantun yang dilontarkan pejabat negeri ini. Yang pertama adalah pantun Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Bambang Soesatyo saat membuka Masa Persidangan I Tahun Sidang 2019-2020 di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, pada 16 Agustus 2019. Pantunnya demikian (Kompas.tv, 2019):
Segi empat belah ketupat
ketupat dibuat bila Lebaran dekat,
para pemimpin jangan saling sindir dan silang pendapat
agar negeri tetap sehat dan kuat
Yang kedua adalah pantun Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Edhie Baskoro Yudhoyono saat membahas masa depan Rumah Pintar Nasional di Gedung MPR pada 20 Agustus 2025. Pantunnya demikian (Sekretariat Jenderal MPR RI, 2025):
Bunga melati harum lembut
tumbuh indah di pagi cerah,
jika ada kata yang tak tepat menyentuh
izinkan kami mohon maaf dengan penuh berkah.
Presiden Prabowo Subianto juga beberapa kali berpantun. Salah satunya demikian (Senopati, 2024):
Sumatera Utara warganya setia
suka berkata jujur apa adanya,
kalau ada yang menjelek-jelekkan kita dan kasih nilai rendah kepada kita,
jogetin aja.
Yang keempat adalah pantun Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. Dia pernah melemparkan pantun di Sidang Umum UNESCO pada 4 November 2025 yang berbunyi demikian (kumparanNEWS, 2026):
Dari Jakarta ke Samarkand
kota bersejarah nan menawan,
jika manusia bergandeng tangan
dunia indah penuh kedamaian.
Sebelum membahas pantun-pantun itu lebih lanjut, mari kita tengok kembali pengertian pantun dalam sastra Melayu lama yang menjadi dasar dari pantun masa kini. Tentu saja, bentuk pantun lama ini jauh lebih ketat daripada pantun yang kini sering kita dengarkan.
Prosodi Pantun
Berbeda dari syair, pantun terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, yang disebut “sampiran” atau “pembayang maksud”, memuat gambaran yang spesifik dan konkret mengenai alam atau dunia manusia, sedangkan bagian kedua, yang disebut “maksud” atau “isi”, menggunakan kata-kata abstrak untuk menyampaikan suatu pengamatan atau pesan (Thomas, 1979).
Tenas Effendy (1993) menyebut bahwa kalimat pertama dan kedua dalam sampiran hendaknya punya hubungan dan mengandung arti, walaupun arti itu tidak berkaitan dengan makna di bagian isi. Selain itu, suku kata terakhir di setiap baris (kerat) pada pantun juga memiliki rima berpola a-b-a-b, meski kadang juga bisa berpola a-a-a-a, dan sering kali terdapat rima internal berselang-seling (c-d-c-d) di antara suku kata sebelum jeda (caesura) (Thomas, 1979).
Tenas (1993) bahkan mengajukan bentuk pantun yang lebih ideal lagi, yakni ketika sampiran dapat menjadi isi dan isinya dapat menjadi sampiran. Bahkan ia menyarankan agar “dalam sebait pantun, tunjuk ajar berhimpun” atau, dengan kata lain, ada kesatuan makna di masing-masing bagian serta ada kaitan antara sampiran dan isi.
Phillip L. Thomas (1979) menemukan bahwa setiap baris pantun pada umumnya terdiri dari empat kata dengan jeda (caesura) yang cukup jelas setelah kata kedua. Selain itu, menurutnya, setiap baris dalam pantun memiliki dua varian yang sama, yaitu baris dengan empat posisi dan baris dengan tiga posisi. Kata atau suku kata yang dapat mengisi suatu posisi terdiri atas kata dasar yang terdiri dari dua suku kata atau lebih beserta imbuhannya ditambah satu kata bersuku kata tunggal yang terletak di dekatnya (biasanya mendahului). Dengan batasan tertentu, kata yang terdiri dari empat suku kata dapat mengisi dua posisi: kata ulang harus menempati dua posisi, sedangkan kata majemuk biasanya menempati satu posisi. Kata yang terdiri dari dua atau tiga suku kata masing-masing menempati satu posisi.
Kesimpulan Thomas itu berlaku pada pantun-pantun pendek Melayu lama yang berjumlah empat baris sehingga sering disebut juga sebagai kuatren (quatrain). Kita ambil contoh salah satu pantun Melayu lama yang cukup terkenal ini (Evawarni & S., 2008):
Kemumu/di dalam semak
jatuh melayang/selaranya ,
meski ilmu/setinggi tegak
tidak sembahyang/apa gunanya
Pantun itu tergolong pantun yang baik sebagaimana dirumuskan Tenas, yakni ada kesatuan di masing-masing bagian. Suku kata terakhir setiap baris juga berima a-b-a-b.
Pantun itu juga memenuhi ciri pantun yang disampaikan Thomas dengan adanya rima internal di dalamnya. Di baris pertama terlihat ada jeda antara “kemumu” dan “di dalam” yang selaras dengan jeda antara “ilmu” dan “setinggi” di baris ketiga. Begitu pula jeda antara “melayang” dan “selaranya” di baris kedua yang selaras dengan “sembahyang” dan “apa” di baris keempat.
Bandingkan dengan puisi Abdul Mu’ti yang juga memiliki rima internal.
Dari Jakarta/ke Samarkand
kota bersejarah/nan menawan,
jika manusia/bergandeng tangan
dunia indah/penuh kedamaian.
Pantun Abdul Mu’ti tergolong baik karena masing-masing bagian pantun bermakna dan selaras. Kalimat pertama dan kedua pada sampiran juga saling berhubungan. Rima internal juga konsisten muncul di setiap baris.
Rima internal inilah yang dilanggar oleh puisi Bambang Soesatyo dan Prabowo Subianto sehingga membuat puisi mereka tergolong buruk, terkesan dibuat-buat, dan ada semacam “paksaan” dalam menyampaikan isi. Namun, pantun Edhie Baskoro jauh lebih buruk karena mengabaikan rima di akhir setiap baris, tak ada rima internal, dan isi juga terkesan dipaksakan.
Para pejabat negara ini sepatutnya menggunakan pantun yang baik untuk dilontarkan ke publik karena pantun mereka akan dicontoh bawahannya dan bahkan juga masyarakat luas. Bila mereka hanya membuat pantun yang dibuat-buat seperti itu alias pantun-pantunan, mereka justru tidak sedang menghidupkan tradisi tapi malah merusaknya.
Penyebaran di Mancanegara
Ketika banyak pejabat di negeri ini merusak pantun, para sastrawan di negara lain justru berusaha mengadopsinya dan dengan tekun mempelajari prosodinya. Itu tidak terjadi sekarang saja tapi sudah sejak berabad-abad lalu, setidaknya sejak dunia tahu ada jenis sastra yang unik di kawasan Nusantara yang disebut pantun. Itu terutama berkat upaya sejumlah peneliti yang menghimpun ratusan pantun lama dan memperkenalkannya ke publik Eropa, seperti buku Pantun Melayu (1923) yang disusun Richard James Wilkinson dan Richard Olof Winstedt dan diterbitkan Methodist Publishing House di Singapura yang dianggap sebagai salah satu karya penting tentang pantun pada masanya.
Pantun juga menarik perhatian sastrawan Eropa. Victor-Marie Hugo (1802-1885), sastrawan Romantik Prancis penulis novel The Hunchback of Notre-Dame dan Les Misérables, misalnya, memasukkan empat contoh pantun dalam Les Orientales, kumpulan puisinya yang terbit pertama kali pada 1829, yang menjadikannya sebagai penulis pertama yang menerjemahkan pantun ke bahasa Prancis (Marre, 1897). Hugo (1968) menyebut pantun sebagai “batu permata” dari tambang besar di Timur karena “memiliki orisinalitas yang memikat”. Salah satu pantun itu adalah berikut ini.
Les papillons jouent á l’entour sur leurs ailes;
Ils volent vers la mer, près de la chaîne des rochers.
Mon cœur s’est senti malade dans ma poitrine,
Depuis mes premiers jours jusqu’á l’heure présente.
Hugo diduga memungut puisi itu dari untaian pantun “Kupu-Kupu Terbang Melintang”, pantun Melayu yang populer pada masa dahulu dan pernah diterjemahkan William Marsden ke bahasa Inggris dalam Grammar of the Malayan Language (Marsden, 1812). Bandingkan pantun Hugo di atas dengan pantun “Kupu-Kupu Terbang Melintang” yang dimuat Haji Ibrahim dalam Pantoen2 Malajoe (1877) ini (Redaksi Jantungmelayu, 2017):
Kupu-kupu terbang melintang
terbang di laut di hujung karang,
hati di dalam menaruh bimbang
dari dahulu sampai sekarang.
Masyarakat Eropa sudah mengenal berbagai karya sastra tradisional di Nusantara, seperti syair, sejak setidaknya abad ke-18, misalnya dari laporan Stamford Raffles dan Marsden. Namun, Vaderlandsche letteroefeningen (1847) mencatat respons negatif sejumlah peneliti terhadap jenis sastra tersebut, kecuali terhadap pantun: “Satu-satunya bentuk yang benar-benar khas di antara karya puitis mereka adalah pantun… Pantun-pantun ini bersifat ringan dan ceria; biasanya dilantunkan secara bersahut-sahutan dan sering menjadi hiburan sosial utama bagi masyarakat Melayu selama berjam-jam.”
Charles Baudelaire (1821-1867), penyair Prancis yang sejaman dengan Hugo, meminjam bentuk pengulangan bait-bait pantun pada puisinya (Couturier, 2021). Misalnya dalam puisi “Harmonie du soir” dalam Fleurs du mal (1857) berikut ini (Baudelaire, 2016).
Harmonie du soir
Voici venir les temps où vibrant sur sa tige
Chaque fleur s’évapore ainsi qu’un encensoir;
Les sons et les parfums tournent dans l’air du soir;
Valse mélancolique et langoureux vertige!
Chaque fleur s’évapore ainsi qu’un encensoir;
Le violon frémit comme un coeur qu’on afflige;
Valse mélancolique et langoureux vertige!
Le ciel est triste et beau comme un grand reposoir.
Le violon frémit comme un coeur qu’on afflige,
Un coeur tendre, qui hait le néant vaste et noir!
Le ciel est triste et beau comme un grand reposoir;
Le soleil s’est noyé dans son sang qui se fige.
Un coeur tendre, qui hait le néant vaste et noir,
Du passé lumineux recueille tout vestige!
Le soleil s’est noyé dans son sang qui se fige…
Ton souvenir en moi luit comme un ostensoir!
Perhatikan bahwa baris ke-2 dan ke-4 di bait pertama pada puisi Baudelaire itu diulang menjadi masing-masing baris ke-1 dan ke-3 di bait kedua. Perulangan juga terjadi untuk baris ke-2 dan ke-4 di bait kedua menjadi baris ke-1 dan ke-3 di bait ketiga dan begitu seterusnya. Pola ini dapat kita temukan pada pantun yang panjang, misalnya dalam Hikayat Koraish Mengindera seperti ini (Winstedt, 1969):
Ikan duri di atas batu
ikan sepat di padang saujana,
puteri yang baik buat menantu
sifatnya lengkap tujoh laksana.
Ikan sepat di padang saujana,
mati dipatok anak geroda,
sifatnya lengkap tujoh laksana
patutlah dengan paduka bonda.
Mati dipatok anak geroda
pandai melompat ka dalam berunda,
patutlah dengan paduka bonda
pandai mengambil hati baginda.
Meskipun pantun sudah populer di Prancis, tapi Eugène Aristide Marre (1897) menyesalkan kata “pantoun”, istilah lazim penutur bahasa Inggris, Prancis, dan Belanda untuk pantun, belum dimasukkan ke dalam Dictionnaire de l’Académie française, kamus resmi Prancis terbitan Académie française atau Akademi Prancis, lembaga yang konsepnya diadopsi Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menjadi Akademi Jakarta. Menurut Marre, istilah “pantun” dicetak keliru di buku Hugo menjadi “pantoum” dan diulangi lagi oleh pengarang-pengarang lain, termasuk sejarawan M. Henry Houssaye dalam pidato penerimaannya sebagai anggota Akademi Prancis pada sekitar 1894. Di Belanda, kesalahan tersebut dimulai oleh Frederik van Eeden dalam De Beweging

(1905) dengan istilah “pantoem” (Wely, 1910). Meskipun demikian, pantun terus menyebar dan menjadi salah satu bentuk puisi yang digunakan para sastrawan Eropa hingga kini.
Yang cukup unik adalah bagaimana pantun juga dikembangkan oleh masyarakat Asia atau Euroasia berbahasa kreol berbasis bahasa Portugis yang diperkirakan tinggal di Batavia pada abad ke-17. Ini terungkap dari manuskrip Panton Malaijoe dan Portugees di Museu Nacional de Arqueologia (Museum Arkeologi Nasional), Lisbon, Portugal yang “ditemukan” kembali pada 2018 setelah berabad-abad terlupakan (Cardoso, 2023). Kajian lengkap mengenai manuskrip itu diterbitkan museum tersebut dalam Livro de Pantuns/Book of Pantuns (Castro et al., 2022).
Saya kutipkan salah satu pantun dari bagian Pantoon Malaijoo Naga Patanij di manuskrip itu, yang sepanjang 72 kuatren dan diterjemahkan tim penulis buku Livro de Pantuns ke bahasa Melayu modern, berikut ini:
Sirih bersusun di dalam puan
makan burung di atas batu
minta kasih jangan dibuang
sudah miskin badan piatu
Sebaran pantun sangatlah luas. Georges Voisset (2018) telah menghimpun sekitar 100 pantun pilihan dalam berbagai bahasa asing yang dia telusuri sejak 1640 hingga kini dalam Les Centuries Pantoun. 100 Pantuns – 100 Traducteurs/100 Pantouns – 100 Translators. Dari buku Voisset saja sudah tergambarkan sejauh mana pantun sudah menjelajah di muka bumi ini.
Warisan Aman Datuk Madjoindo
Khazanah pantun Nusantara sangatlah kaya dan beragam. Tidak hanya pantun Melayu,

tetapi juga pantun Jawa, Sunda, Madura, dan daerah lain. Untuk tulisan pendek ini saya mengajak Anda untuk menengok kembali karya Aman Datuk Madjoindo (1896-1969). Aman telah menulis banyak buku pantun yang beragam jenisnya, dari pantun percintaan hingga teka-teki. Pantun Aman juga beragam bentuknya, dari pantun empat baris hingga tujuh baris.
Buku Aman yang mengenai pantun atau memuat pantun itu antara lain adalah:
- Si Doel Anak Betawi (Batavia, 1932);
- Peribahasa (Balai Pustaka, 1943) berisi 2.700 peribahasa yang dikumpulkan dan diterangkan oleh Kusuma St. Pamuntjak, Nur St. Iskandar, dan Aman;
- Apakah itu? 300 Teka-Teki (Balai Pustaka, 1952);
- Malim Deman dan Puteri Bungsu (Balai Poestaka, 1932); serta
- Pepatah 500 untuk anak-anak (Balai Pustaka, 1949).
Bahkan, bila kita membaca kembali Si Doel Anak Jakarta (2004), karya Aman paling populer yang terbit pertama kali pada 1932 dengan judul Si Doel Anak Betawi, kita akan menemukan pantun begini.
Cong-cong balicong
Si Kacong nunggang gaje,
di mane rume kosong
di situ ade die.
Undur-undur cari batu
pelempar kucing belang,
Bang Mandor buka pintu
penganten mau datang.
Aman menerbitkan buku roman Malim Deman dan Putri Bungsu pada 1932. Buku ini unik karena, meski bentuknya roman, Aman menyisipkan pantun di antara cerita, terutama dalam percakapan antara Malim Deman dan Puteri Bungsu, dua tokoh utama cerita ini.
Buku Malim Deman juga unik karena Aman menunjukkan berbagai bentuk pantun, dari bentuk kuatren (empat baris) yang kita kenal, sestet (enam baris), oktaf (delapan baris), hingga duodecima (12 baris) dan quatorzain (14 baris). Saya contohkan beberapa yang termuat di buku tersebut (Madjoindo, 1932), terutama yang bentuknya jarang kita temui, di bawah ini.
Pantun enam baris
Lampu pelita dengan dian,
bawa ke mudik Kampung Muka,
untuk dipasang hari raya.
Aku berkata demikian,
kusangka adik akan suka,
kalau tidak apakan daya.
Pantun delapan baris
Puan bersurat dari Paria,
pesanan haji Pariaman,
letak dibendul kayu anak,
tempat pulut di dalam gelas.
Tuan berbuat sia-sia,
menanam biji di halaman,
disangka tumbuh jadi anak,
kiranya hanyut hilang lelas.
Pantun 12 baris
Anak jentayu dari hulu,
disambar burung rambak-cina.
dibawa terbang ke perahu,
hinggap merahap di landasan,
turun minum ke muara,
dapat gurami ketindisan.
Kamilah tahu dari dulu,
adik jauhari bijaksana,
membuhul tidak membuku,
mengulas tidak mengesan,
mengatap langit dengan bicara,
bumi tidak ketirisan.
Pantun 14 baris
Bunga selada dekat titi,
bunga kahwa petik petenung.
Penenung kain di sekoci,
diambil orang Sungaibuluh,
dibawa ke darat berkecapi,
disambar maling sedang mandi,
jatuh ke lubuk perapatan.
Nanti kan iba malah hati,
orang bawa ke balik gunung,
sampai ke gunung Kurinci,
lalu ke ranah Limapulu,
tiba di darat gunung Merapi,
meski main belum jadi,
biarlah lapuk di lipatan.
Ragam pantun di buku-buku Aman itu cukup lengkap. Ini memudahkan bagi siapa pun yang ingin mendapatkan gambaran umum tentang pantun. Maka, bila kita berbicara soal Aman, janganlah berhenti pada buku Si Doel Anak Jakarta tetapi juga menengok Malim Deman dan Putri Bungsu serta karya-karyanya yang lain.
Penutup
Bila pemerintah, khususnya Kementerian Kebudayaan, hendak merayakan dan menghidupkan kembali pantun, maka pelajari kembali pantun-pantun lama karena itulah bentuk aslinya. Pengembangan tentu saja dapat dilakukan tetapi prosodi pantun tetap harus diperhitungkan sehingga pantun baru itu tetaplah bernama pantun, bukan puisi bebas. Karya Aman Datuk Madjoindo, seperti Malim Deman dan Puteri Bungsu, dapat menjadi salah satu titik tolak untuk memahami bentuk-bentuk pantun yang baik.
UNESCO telah menetapkan pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2020 berdasarkan usulan Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Penetapan itu bukan untuk keren-kerenan belaka tapi menimbulkan konsekuensi bahwa tiga negara itu wajib melaporkan perkembangan mengenai pantun secara berkala. Mereka juga wajib menjaga dan mengembangkannya. Bila terbukti ada pelanggaran, misalnya tindakan, program, atau kebijakan pemerintah yang malah merusaknya, maka bisa saja UNESCO mencabut status pantun tersebut.
Saya tutup tulisan ini dengan sebuah pantun.
Cabai laba kan disela selasih,
sampai jumpa dan terima kasih.
*Iwan Kurniawan adalah mantan wartawan Tempo, Detikcom, dan ADIL. Dia turut mendirikan Yayasan Multimedia Sastra dan menggagas Festival Sastra Internasional Bengkulu. Alumni Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada dan Magister Komunikasi Politik Paramadina Graduate School ini menulis sejumlah buku, seperti Kitab Alin (kumpulan puisi, 2020), Semiologi Roland Barthes (nonfiksi, 2001), Soneta untuk Ana: Senarai Puisi dan Esai Karya Robot Kecerdasan Buatan (fiksi, 2023), Empat Menyemai Gambut: Praktik-praktik Revitalisasi Ekonomi di Desa Peduli Gambut (nonfiksi, bersama Wisnu Caroko, 2020), dan Isu-isu Internasional Dewasa Ini: Dari Perang, Hak Asasi Manusia, Hingga Pemanasan Global (nonfiksi, 2008).
Daftar Pustaka
Baudelaire, C. (2016). Les Fleurs du Mal (The Flowers of Evil) (J. E. Tidball (Ed.)). Bishopston Editions.
Cardoso, H. C. (2023). Panton Malaijoe dan Portugees: A Rediscovered Manuscript. BiblioAsia. https://biblioasia.nlb.gov.sg/all-sections/vol-19-issue-3-oct-dec-2023-malay-portuguese-pantuns/
Castro, I., Cardoso, H. C., Baxter, A., Adelaar, A., & Koster, G. (2022). Livro de Pantuns/Book of Pantuns. Imprensa Nacional-Casa da Moeda.
Couturier, N. (2021). Le Pantoun des Pantoun de René Ghil, poème javanais? Fabula/Les colloques. https://doi.org/https://doi.org/10.58282/colloques.6973
Effendy, T. (1993). Pantun sebagai Media Dakwah dan Tunjuk Ajar Melayu. Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Riau.
Evawarni, & S., A. W. (2008). Pantun Melayu: Masa Silam dan Masa Kini (N. Tarigan (Ed.)). Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Hugo, V.-M. (1968). Odes et Ballades: Les Orientales. Garnier-Flammarion.
Kompas.tv. (2019). Momen Bambang Soesatyo Berpantun di Sidang Paripurna, Pejabat Tukang Sindir Kena Singgung
. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=Ppesn29UGDc
kumparanNEWS. (2026). Abdul Mu’ti Buka dan Tutup Pidato di Sidang Umum UNESCO dengan Pantun. kumparanNEWS. https://kumparan.com/kumparannews/abdul-muti-buka-dan-tutup-pidato-di-sidang-umum-unesco-dengan-pantun-26B4ADa2MKk/full
Madjoindo, A. D. (1932). Malim Deman dan Putri Bungsu. Balai Pustaka.
Madjoindo, A. D. (2004). Si Doel Anak Jakarta (Cetakan ke). Balai Pustaka.
Marre, E. A. (1897). Pantoun. In Glossaire explicatif des mots de provenance malaise et javanaise usités dans la langue francaise. Imprimerie Klein et C10.
Marsden, W. (1812). Grammar of the Malayan Language. Cox and Baylis.
Redaksi Jantungmelayu. (2017). Pantun Kupu-Kupu Terbang Melintang; Sumbangan Sastra Melayu kepada Sastra Perancis. jantungmelayu.co. https://jantungmelayu.co/2017/04/pantun-kupu-kupu-terbang-melintang-sumbangan-sastra-melayu-kepada-sastra-perancis/
Sekretariat Jenderal MPR RI. (2025). Mengingat Memori Mobil Pintar, Ibas Berpantun di Depan Mertua tentang Cinta, Ilmu, dan Harapan. Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. https://www.mpr.go.id/berita/di-kala-ibas-berpantun
Senopati. (2024). Pantun Prabowo di Medan: Tak Perlu Banyak Kata, Prabowo-Gibran Akan Kerja Nyata. Prabowosubianto.com. https://prabowosubianto.com/pantun-prabowo-di-medan-tak-perlu-banyak-kata-prabowo-gibran-akan-kerja-nyata/
Thomas, P. L. (1979). Syair and pantun prosody. Indonesia, 27, 51–63. http://www.jstor.org/stable/3350815
Vaderlandsche letteroefeningen. (1847). Vaderlandsche letteroefeningen. Jaargang 1847. G. S. Leeneman van der Kroe & J. W. Ijntema.
Voisset, G. (2018). Les Centuries Pantoun. 100 Pantuns – 100 Traducteurs/100 Pantouns – 100 Translators. Pantun Sayang. http://pantun-sayang-afp.fr/publications/
Wely, F. P. H. P. van. (1910). Pantoen. In Viertalig aanvullend hulpwoordenboek voor Groot-Nederland. G.B. van Goor Zonen’s N.V. Boekh. Visser & Co.
Winstedt, R. O. (1969). A History of Classical Malay Literature. Oxford University Press.





