Ekoteologi Ronggowarsito dan Manusia Avatar
Oleh: W. Sanavero*
Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan. Oleh karena adanya jaman Kala, kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi. Lain orang lain pikiran dan maksudnya.
(Serat Kalatidha, Ronggowarsito)
——–
Masa itu telah tiba (lagi), masa yang disebut-sebut sebagai masa Edan di dalam serat Kalatidha oleh pujangga Jawa masyhur Ronggowarsito. Esai ini bukan esai ramalan, tetapi sebuah esai muhasabah (agak) ilmiah untuk membaca kembali secara hemeneutika melalui naskah-naskah klasik yang bukan baru diketahui masyarakat urban. Ya, bukan hal baru, hanya saja lupa. Kita, sedang lupa membaca ulang (tafsir) mengenai hubungan manusia dengan alam semesta. Meskipun era modern, menyebut serat Kalatidha sebagai ramalan. Namun sesungguhnya, itu merupakan sebuah karya tulis dari objektivitas Ronggowarsito dalam menterjemahkan pola relasi manusia dan alam secara transenden–Ilahiah, yang kita sebut dengan ekoteologi.
Pada mulanya, ekoteologi berangkat dari satu kesadaran mendasar: bahwa hubungan manusia dengan alam adalah hubungan kesadaran etika, bukan sekedar relasi manfaat. Keberadaan gunung bukan sekedar batu besar yang menjulang tinggi, namun seperti pengantar bahasa dan pesan-pesan menuju langit, sungai-sungai bukan hanya aliran deras air yang mengalir tetapi seperti urat nadi tempat darah mengalir. Kesadaran itu menjadi etika, bahwa keberadaan alam dan manusia merupakan keseimbangan yang saling menjaga dna menghidupi. Namun di satu titik perjalanan panjang sejarah peradaban, manusia berada di titik terlemahnya. Berhenti membaca alam dan mulai menghitung, seolah-olah siapa yang lebih lama bertahan ada di muka bumi: manusia atau alam? Keselarasan dan sinkronisitas mulai tereduksi. Ekoteologi menjadi ruang paling usang dan kuno bagi masyarakat modern. Jauh sebelum adanya sebuah seminar atau penelitian ilmiah, ekoteologi sudah menjadi bagian dari alam bawah sadar manusia.
Ronggowarsito membaca zaman melaui batin yang peka. Belum sempat menjadi sebuah perhatian kajian, manusia telah lebih dulu menjadi monster yang menutup mata akan kodefikasi dan bahasa alam. Akhirnya, bencana dan fenomena alam yang mengerikan itu memilih waktunya sendiri.
Ketika hutan diratakan, yang runtuh tidak hanya pohon tetapi batas kesadaran manusia akan keberadaannya. Alam bukan sekedar objek eksistensi, tetapi bagian dari tubuh kita sebagai living being – makhluk hidup. Ketika eksplorasi manusia menjadi eksploitasi, melanggar batas-batas tatanan kesemestaan, alam tidak mengamuk, tidak berteriak, apalagi berdemonstrasi. Tetapi justru ‘hukum alam’ bekerja sesuai dengan sistem bagaimana semesta bekerja, yang tadinya kalimat itu dianggap hiperbola atau olah imajinasi. Manusia enggan melihat, bahwa segala hal ada ‘hukum’ dan sistem yang bekerja, termasuk sistem lingkungan. Ironis.
Manusia hari ini, menyebut diri mereka telah membawa zaman pada zaman yang paling maju dan modern, menguasai teknologi, mengirim satelit ke angkasa, bahkan menembus kedalaman misteri laut yang gelap. Lalu tsunami datang menggulung segala pencapaian itu, banjir bandang menjadi tangisan banyak orang. Maka, siapakah yang paling bertanggung jawab atas ketidakseimbangan alam ini? modernitas atau manusia? Ya, yang paling bertanggung jawab atas tuntutan besar ini adalah ‘kecerdasan’ manusia yang mulai tumpul dari sejarah. Kecerdasan itu tak lagi mampu membaca pertanda dan bahasa alam semesta. Tak lagi mampu melakukan sikronisasi kosmologis, bahkan secara ekstrim menjadi sebuah propaganda besar akal-akalan ‘Barat’ bahwa kesadaran kosmik merupakan mitos atau cerita folklore yang hanya ada dalam cerita-cerita nabi. Inferioritas manusia hari ini, menjadikan reduksi ketrampilan membaca alam. Merasa bahwa mereka tidak ada kapasitas kolektif dalam berperan menjaga alam: tak dapat mengendalikan dan mengukur, kecuali dalam kebijakan pemerintahan dan gerakan Internasional. Akhirnya hubungan manusia dan alam hanya menjadi legitimasi kekuasaan, yang justru jangan-jangan di baliknya berdiri para manusia setengah monster–yang tidak percaya diri– dan menantang alam, tentang siapa yang paling abadi di muka bumi.
Kalabedhu dan Modernitas
Raden Ngabehi Ronggowarsito, seorang cucu Yasadipuro II, berdarah campuran Kesultanan Pajang dan Kesultanan Demak. Dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya, telah merangkum kodefikasi alam itu ke dalam bait-bait putiknya Serat Kalatidha (sekitar 1930an), yang mustinya ini menjadi harta karun jika sewaktu-waktu manusia timur— seperti kita, di Indonesia menjadi tiba-tiba bodoh memaknai perubahan zaman. Serat Kalatidha tidak hanya bicara tentang perubahan iklim atau krisis ekologis secara harfiah: kala yang memiliki arti zaman atau suatu rentang waktu, dan kata yang kedua adalah tidha, yang memiliki arti ‘tidak menentu’, tidak pasti. Tetapi lebih epistimologis, menjelaskan tentang zaman ketika manusia kehilangan ukuran—kehilangan rasa, kehilangan malu, kehilangan arah. Zaman edan, kata Ronggowarsito, bukan karena dunia berubah, melainkan karena manusia tak lagi tahu di mana harus berdiri. Akhirnya, Serat Kalatidha mestinya bukan dimaknai sebagai ramalan yang bersifat fiktif, tetapi kode-kode literatur dalam membaca siklus. Memang, BMKG dengan teknologinya mampu memprediksi cuaca, tetapi tidak mampu membaca siklus peradaban: perubahan alam berdasarkan perubahan manusia. Yang tentu, hal itu sangat mungkin untuk dilakukan dengan menggunakan teknologi canggih dengan perumusan fisika dan geologi melalui tafsir-tafsir semiotik baik dari catatatan atau perjalanan manusia. Terang saja, di dalam serta Kalatidha tidak implisit menyebutkan kejadian-kejadian peristiwa dalam periode tertentu, karena bersifat simbolik dan siklus. Sebagai pola kosmik, siklus akan berulang hingga peradaban ini selesai:
Dasar karoban pawarta, bebaratan ujar lamis,
punidya dadya pangarsa, wekasan malah kawuri, yen pinikir sayekti,
mudhak apa aneng ngayun, andhedher kaluputan, siniram ing banyu lali, lamun tuwuh dadi kekembanging beka.
Terjemahannya:
Telah dibanjiri oleh berita, ibarat ucapan yang kosong, dijadikan pemuka (pembesar), akhirnya malah dibelakang (ditinggalkan), bila dipikir dengan baik-baik, untuk apa menjadi yang di depan, memperbanyak kesalahan-kesalahan, tersiram air yang melupakan, jikalau tumbuh hanya
akan memperbesar bencana.
(Serat Kalatidha bait ke-4)
Bait ini menujukkan siklus social system dalam zaman edan atau kalabedhu. Yang mana kebaikan-kebaikan yang niscaya di dalam individu, menghadapi inferioritas yang tinggi di hadapan kebijakan sistem pemerintahan dalam mengambil peran keseimbangan alam semesta. Orang kaya, diam. Orang baik, terbungkam. Para punjangga bersembunyi. Jikapun ada yang bergerak, mereka adalah orang-orang yang terbawa oleh nafsu situasi yang corrupt (rusak). Lalu, apakah tidak ada cara untuk selamat bagi manusia dan alam ketia masa Kalabedhu tiba? Ada, ketika Ronggowarsito menjabat sebagai panglima pengetahuan, sebagai pujangga kraton Surakarta. Satu kalimat yang fundamental dan proses rasionalisasi yang tinggi telah dia tinggalkan sebagai kode yang lain, berupa nasihat ‘siniram ing banyu lali, lamun tuwuh dadi kekembanging beka’ (tersiram air lupa bila menjabat dalam suatu kedudukan yang tinggi, sehingga turut memperbanyak datangnya bencana.). Dalam siklus zaman, Ronggowarsito menekankan eling lan waspodo (Sadar akan kesadaran) dalam menempuh peradaban. Kesadaran akan keseimbangan antara manusia sebagai entitas dan alam sebagai entitas yang lainnya, yang berkesinambungan dan hidup berdampingan. Baik dalam kecerdasan rasional dan spiritual.
Avatar The Last Airbender? Atau Ratu Adil?
Di tengah inferioritas manusia hari ini yang terbawa skenario para perampok dunia. Kapan dan di mana tepatnya kecerdasan membaca tafsir-tafsir siklus perubahan zaman itu kembali? Tepat, apakah manusia perlu merubah dirinya menjadi sosok animasi Avatar the Airbender? Atau Ratu Adil? Yang dapat mengendalikan 4 unsur alam— air, api, udara, dan angin—, atau haruskah menguasai falsafah Hastabrata yang terdiri dari 8 unsur dengan menambahkan unsur tanah, kayu dan logam dalam 5 unsur tadi? Apakah dengan kekuatan-kekuatan itu yang hanya mampu menghadapi para manusia monster di balik rekayasa alam?
Dalam perspektif Hermeneutika, Kekuatan ‘mengendalikan’ dalam kode ala Ronggowarsito bukan terletak pada kekuatan meta atau ghoib— sebagai sesuatu yang tak bisa dilihat dan dilakukan. Menjadi Ratu Adil atau menjadi manusia Avatar bukanlah berubah menjadi spearuh manusia astral. Namun, sebuah kekuatan yang lahir dari kesadaran. Kesadaran menyeimbangkan tersebut hanya dapat dicapai dengan sikronisasi dari kecerdasan murni manusia, sense of intellegent, kecerdasan majemuk: emotional intellegent (EQ), intelectual intellegent (IQ), spiritual intellegent (SQ) and social intellegent (SQ). Dengan keseimbangan kesadaran tersebut, manusia hari ini akan mampu menterjemahkan dengan tajam kodefikasi Ronggowarsito dalam Serat Kalatidha. Serat yang tertulis sebagai pesan dan kodefikasi kosmik untuk menekankan bahwa manusia dapat menandai siklus alam, di antaranya menurut Ronggowarsito: yaitu zaman Kalabendu (zaman Edan, corrupt— rusak) periode kekacauan, kebobrokan moral, dan ketidakstabilan sosial, di mana nilai-nilai runtuh. Zaman Kalasuba (zaman peralihan), masa transisi antara Kalabendu dan Kalatidha, di mana kebaikan mulai muncul. Zaman Kalatidha (zaman keemasan/kebaikan), masa kebangkitan, keharmonisan, dan keadilan, di mana kebenaran kembali berkuasa (sering disebut sebagai zaman yang dinantikan).
Lalu, di manakah zaman ini ketika membaca pola siklus Ronggowarsito? Pertanyaan ini tidak menuntut jawaban linier, melainkan pembacaan tanda. Sebab dalam hermeneutika, zaman tidak pernah hadir sebagai kategori tunggal, melainkan sebagai tumpang tindih kesadaran. Kita hidup di ruang ambigu: di mana kebobrokan moral berjalan seiring dengan pidato etika, di mana teknologi tumbuh cepat sementara kebijaksanaan tertatih. Ini menandakan bahwa manusia modern tidak sepenuhnya berada di Kalabendu, tetapi juga belum layak menyebut dirinya tiba di Kalatidha.
Zaman hari ini lebih tepat dibaca sebagai Kalasuba yang tersendat—sebuah masa peralihan yang kehilangan orientasi. Nilai-nilai kebaikan mulai disuarakan, tetapi belum menjadi laku. Kesadaran ekologis didengungkan, tetapi masih kalah oleh kepentingan jangka pendek. Dalam istilah sistem, manusia memiliki pengetahuan tentang krisis, tetapi gagal mengonversinya menjadi tindakan kolektif. Di sinilah satire zaman bekerja, kita tahu, tetapi tidak berubah; kita sadar, tetapi tetap melaju ke arah yang sama.
Ronggowarsito memberi isyarat bahwa peralihan zaman bukan ditentukan oleh peristiwa kosmik, melainkan oleh kualitas kesadaran manusia. Kalabendu berakhir bukan karena alam iba, tetapi karena manusia berhenti edan. Kalatidha hadir bukan sebagai hadiah, melainkan sebagai akibat dari disiplin batin dan kecerdasan yang terintegrasi. Tanpa sinkronisasi kecerdasan emosional, intelektual, spiritual, dan sosial, peralihan zaman akan mandek—berputar di tempat, mengulang kerusakan dengan wajah yang lebih rapi.
Dalam konteks ini, manusia modern tampak seperti avatar yang lupa misinya. Ia memiliki perangkat lengkap—ilmu pengetahuan, teknologi, dan akses informasi—tetapi kehilangan pusat kendali kesadaran. Kecerdasan intelektual bekerja cepat, tetapi terpisah dari kecerdasan emosional. Spiritualitas dirawat secara simbolik, tetapi gagal menubuh dalam etika sosial. Akibatnya, kesadaran manusia terfragmentasi, tidak cukup utuh untuk menggeser zaman.
Maka, pertanyaan “di manakah zaman ini” sejatinya adalah pertanyaan tentang di manakah manusia berdiri? Selama kesadaran masih terpecah, selama kecerdasan berjalan sendiri-sendiri, manusia akan terus mengklaim dirinya berada di masa peralihan, padahal masih mengulang pola Kalabendu dalam bentuk baru: lebih canggih, lebih legal, dan lebih sistematis.
Ronggowarsito tidak menawarkan optimisme kosong. Ia menawarkan peta kesadaran. Bahwa Kalatidha hanya mungkin hadir ketika manusia berhenti menjadi penonton zaman dan kembali menjadi subjek kesadaran. Bukan dengan kekuatan gaib, bukan dengan figur mesianik, melainkan dengan keberanian menyeimbangkan diri. Tanpa itu, zaman tidak pernah benar-benar berganti—ia hanya mengganti kostum, sementara kekacauan tetap berjalan di balik layar.***
Blora, 28 Desember 2025
——–
*W. Sanavero, penulis dan peneliti kebudayaan. Penerima ASEAN Scholarship jurusan Magister Sastra Dunia di Nalanda University.




