Borobudur Andrea Bocelli dan Prambanan Sarah Brightman

Oleh Agus Dermawan T.

Kompleks Candi Borobudur dan Candi Prambanan sering menjadi lokasi pementasan seni modern, karya pemanggung nasional dan internasional. Candi-candi megah itu tegak sebagai latar belakang. Sang candi kadang menjadi subyek tuturan dan inspirasi dialog, namun bisa dianggap hanya sebagai backdrop.

 Catatan tampilan Sarah Brigthman di Candi Prambanan, 19 Agustus 2017, dan penyanyi (tuna netra) luar biasa Andrea Bocelli di Candi Borobudur, 31 Oktober 2026.

———–

DALAM blog berjudul “Ketika Borobudur Hanya Sebagai Backdrop” yang dirilis 1 November 2026, perupa kampiun Teguh Ostenrik mengeritik pementasan penyanyi Andrea Bocelli yang digelar pada 31 Oktober 2026. Di situ disebut bahwa pentas Andrea telah melecehkan Candi Borobudur. Sebabnya, sang perancang panggung tidak memeluk Candi Borobudur. Tidak menjadikan candi sebagai bagian utama pengalaman tontonan. Akibatnya, tidak semua penonton bisa merasakan Candi Borobudur sebagai ruh pertunjukan.

“Salah satu mahakarya arsitektur dan spiritualitas terbesar di dunia telah diturunkan derajatnya menjadi dekorasi panggung,” tulisnya. Atau, dalam pemahaman saya, Candi Borobudur dianggap hanya gebèr, seperti layar pertunjukan wayang wong atau ketoprak, yang bisa diturun-naikkan di panggung sesuai dengan kebutuhan adegan.

Pada baris lain Teguh mempertanyakan, mengapa konser sebesar ini tidak diselenggarakan di concert hallyang netral saja, jika Borobudur hanya diperlakukan sebagai latar. Pertanyaan yang mengingatkan saya kepada konser André Rieu 2012 di concert hall Singapura, yang memang amat berbeda atmosfernya dengan konser André Rieu di alun-alun bersejarah Vrijthof Square, Maastricht, Belanda.

Yang ditulis Teguh Ostenrik benar. Tapi ada celah untuk diperdebatkan. Apalagi setelah sejumlah premisnya disandingkan dengan fakta pertunjukan lain yang bisa dipakai sebagai perbandingan.

Penampilan penyanyi Andrea Bocelli di kompleks Candi Borobudur, 31 Oktober 2026. Selain tampil di Candi Borobudur, ia juga pentas di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, pada 3 November 2026.

Sarah Brightman menyapa candi

Pada 19 Agustus 2017 saya menonton aksi maestro classical crossover soprano Sarah Brightman, di tengah pagelaran musik Prambanan Jazz Festival.

Begitu tampil di atas panggung, beberapa detik setelah menyapa 3.500 penonton yang menghadiahi tepuk gemuruh, artis asal Inggris itu segera menengok ke belakang. Tangannya lalu menunjuk Candi Prambanan yang tampak menjulang anggun sebagai latar belakang, dengan disinari lampu yang sebentar bercahaya dan sebentar lindap dalam malam.

“Sungguh saya berterimakasih karena sudah diundang menyanyi dengan latar Prambanan. Candi yang saya tahu sebagai paling cantik di dunia. Terimakasih kepada Anda semua yang sudah membawa saya ke sini,” katanya.

Kepada pers ia mengatakan bahwa Candi Prambanan sudah lama melekat dalam ingatannya. “Candi ini dibangun dengan kehormatan dari trinitas paling penting dari dewa Hindu, yakni Brahma, Wisnu, Syiwa.” (Republika, 28 Agustus 2017). Ia meyakini hanya keberuntunganlah yang membawanya ke candi itu. Padahal keberuntungan itu buta, fortuna caeca est, seperti dikatakan Cicero dahulu kala. “Maka untuk merayakan keberuntungan, di Candi Prambanan saya sebaik mungkin menyanyi dan berakting seperti dalam opera dan film. Itu semua kemampuan terbesar yang saya miliki,” katanya. (Liputan 6, 22 Agustus 2017)

Candi Prambanan sebagai latar belakang pementasan penyanyi Sarah Brightman, pada 19 Agustus 2017.

Dan Sarah tahu benar bahwa kala ia berpentas pada tengah Agustus, bangsa Indonesia sedang merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan. Sehingga Sarah menyanyikan secara tunggal 17 lagu. Sementara 8 (delapan) lagu lainnya dinyanyikan oleh orang lain, atau dibawakan secara bersama. Seperti Phantom Overture dari Phantom of the Opera karya Andrew Lloyd Webber. Lalu imajinasi pun menjelaskan: di panggung Prambanan itu Sarahberulang mengetuk nasionalisme dan rasa kemerdekaan bangsa Indonesia untuk terus menyala. Ya, tanggal tujuh belas (17) dan bulan delapan (8)!

Pada beberapa momentum ia bergaya. “Ini negeri yang sangat indah. Seperti candi ini…. yang lahir dari rasa cinta. Berkilau seperta emas!” Lagi-lagi ia menengok belakang panggung, menatap candi dengan penuh takjub, disertai uluran tangan penuh hormat.

Melihat tindak-tanduk dan mendengar kalimat nyaring Sarah, penonton sudah mendapat aura, gambaran dan atmosfer Candi Prambanan. Termasuk para penonton yang terselip di belakang, terpojok di pinggiran, terhalang penglihatannya oleh kepala-kepala orang, sehingga hanya bisa melihat pucuk-pucuk candi saja. Tepuk tangan pun membahana.

 (Catatan: Apalagi penuturan epik Sarah Brightman sejalan cerita dengan pidato Presiden Sukarno kala meresmikan Hotel Indonesia, Jakarta, pada 5 Agustus 1962, yang begini petikannya.

“Tuan-tuan dan Njonja-njonja dan Saudara-saudara sekalian… Di Prambanan ada relief Ramajana jang mentjeritakan Rama kehilangan isterinja, Cita (Sinta, adt). Di situ Sang Rama memerintahkan pasukan untuk mentjari Cita. Pentjarian harus dilakukan ke pelbagai negara, antara lain ke Suarna Dwipa. Dikatakan bahwa Suarna Dwipa adalah bagian dari negeri kita ini! Suarna Dwipa adalah satu nama jang berarti negeri emas. Suarna artinja emas. Di dalam kitab Ramajana itu Saudara-saudara, Tanah Air kita dinamakan Negeri Emas…”)

Apa bedanya?

Lalu, apa beda Sarah Brightman-Prambanan dengan Andrea Bocelli-Borobudur?

Sarah sanggup berkata-kata ihwal keagungan Candi Prambanan, karena penglihatannya bisa menceritakan itu. Sedangkan Andrea (yang tuna netra sejak kecil) hanya “melihat” Candi Borobudur lewat cerita yang lantas dikelola imajinasinya saja.

Di atas pentas Sarah dengan dramatik melakukan interaksi dengan Prambanan. Bahkan dengan sang candi ia bercakap-kata sambil bertatap muka.

Sarah Brightman dan Andrea Bocelli.

Di panggung, Andrea – menurut berbagai berita yang terbaca, dan menurut saya selaku penggemarnya – sama sekali tidak menunjukkan gestur seperti itu. Musababnya jelas, lantaran Andrea terhadang kegelapan penglihatan, sehingga ia tak berani “banyak cakap” atas apa yang tidak ia saksikan. Meski ia tahu betapa Candi Borobudur begitu agung sosok dan riwayatnya.

“Andrea Bocelli memang sangat jarang bicara. Hanya dengan David Foster ia sedikit mau ngomong, karena dipaksa. Pada malam itu ia hanya menjelaskan bahwa penampilannya di Borobudur membawa missi kultural, kemanusian dan perdamaian. Setelah itu langsung tancap lagu The Prayer,” kata Irawan Hadikusumo. Penggemar seni rupa dan pencinta musik dari Surabaya ini menyaksikan langsung pagelaran Andrea Bocelli di Candi Borobudur.

Kesimpulannya, Andrea memang tidak memainkan Candi Borobudur dalam atraksi panggungnya. Sehingga kegagahan candi – yang susah dilihat dari kursi penonton di pinggir dan belakang – tidak sanggup melintaskan keagungannya lewat cerita. Sehingga keanggunan sosok candi – yang terbendung layar LED sakhohah dan tiang-tiang penopang – tidak tergambar auranya. Ketiadaan uar-uar Andrea ini menyebabkan atmosfer candi jadi tipis-tipis saja kehadirannya.

Namun, apakah ketiadaan permainan dan uar-uar Andrea itu menjadikan Candi Borobudur hadir sekadar sebagai backdrop? Bisa ya bisa tidak. Itu terserah mata, pikiran dan hati yang melihatnya.

Maka kritik Teguh Ostenrik atas pentas Andrea Bocelli di Candi Borobudur tidak keliru. Tapi pengamatan yang berangkat dari sisi lain, akan memunculkan kebenaran yang berbeda. ***

*Agus Dermawan T. Pengamat kebudayaan. Penulis buku.