Akal Bulus Amerika di Venezuela: Petrodollar, Hegemoni Berdarah, dan Senjakala Imperialisme Finansial
Oleh: Gus Nas Jogja*
Topeng Demokrasi di Atas Sumur Minyak
Sabtu dini hari, 3 Januari 2026, sejarah mengulang rima kelamnya. Penangkapan Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat bukan sekadar operasi penegakan hukum terhadap “diktator” atau “gembong narkoba”. Di balik narasi moralitas yang diproduksi oleh mesin propaganda Washington, tersimpan sebuah Akal Bulus yang sangat pragmatis, dingin, dan eksistensial bagi kelangsungan hidup Amerika Serikat: pertahanan sistem Petrodollar.
Secara filosofis, ini adalah manifestasi dari “Kehendak untuk Berkuasa” atau Will to Power dalam nalar Nietzschean yang paling vulgar dan brutal. Amerika tidak sedang memperjuangkan nilai-nilai universal; mereka sedang memperjuangkan hak istimewa untuk mencetak kertas hijau tak bernilai yang dipaksakan menjadi mata uang dunia. Venezuela, dengan 303 miliar barel cadangan minyaknya—terbesar di bumi—telah melakukan “dosa asal” yang tak termaafkan bagi sang hegemon: mencoba hidup di luar orbit dolar.
Ontologi Petrodollar: Kertas yang Memperbudak Dunia
Untuk memahami akal bulus ini, kita harus membedah apa itu Petrodollar secara struktural. Sejak kesepakatan Henry Kissinger dengan Arab Saudi pada 1974, dolar AS berhenti menjadi sekadar mata uang; ia menjadi komoditas wajib global. Setiap liter minyak yang dibeli oleh negara mana pun harus menggunakan dolar.
Hal ini menciptakan permintaan buatan yang masif. Amerika bisa mencetak dolar tanpa batas—membiayai militer yang raksasa dan gaya hidup konsumtif—sementara negara-negara lain, termasuk Indonesia dan Venezuela, harus berkeringat memproduksi komoditas nyata hanya untuk mendapatkan selembar kertas tersebut. Dolar adalah “jangkar” yang mengikat leher ekonomi dunia. Ketika Maduro memutuskan untuk menjual minyak dalam Yuan, Euro, dan Rubel, serta mengajukan diri bergabung dengan BRICS, ia sebenarnya sedang mencabut jantung dari hegemoni Amerika.
Rima Sejarah: Pola Penggantungan para Pembangkang
Sejarah tidak pernah benar-benar baru; ia hanya berganti kostum. Akal bulus yang digunakan Donald Trump pada Maduro adalah cetak biru yang sama saat George Walker Bush menewaskan Saddam Hussein dan Muammar Gaddafi.
Mari kita putar ulang kembali sejarah kelam kekejaman Washington berikut:
1. Saddam Hussein (2000): Mengumumkan penjualan minyak dalam Euro. Hasilnya: Invasi 2003 dengan alasan “Senjata Pemusnah Massal” yang terbukti fiktif. Hasil nyata: Minyak Irak kembali ke pangkuan dolar.
2. Muammar Gaddafi (2009): Mengusulkan “Dinar Emas” untuk membebaskan Afrika dari ketergantungan dolar dan franc. Hasilnya: NATO membom Libya pada 2011. Hillary Clinton tertawa di layar kaca, sementara Dinar Emas mati bersama Gaddafi.
Kini, Maduro berdiri di atas cadangan minyak lima kali lipat lebih besar dari Irak dan Libya digabungkan. Maduro bukan hanya menantang dolar secara lisan, ia membangun jalur pembayaran yang melewati SWIFT melalui sistem CIPS Tiongkok. Ini adalah ancaman eksistensial. Bagi Amerika, ini bukan soal narkoba (yang faktanya Venezuela hanya menyumbang <1% kokain AS); ini adalah soal Kedaulatan Finansial.
Logika Perampokan: Ekspropriasi dan Klaim Absurd
Akal bulus ini mencapai puncaknya pada pernyataan Stephen Miller yang mengklaim bahwa minyak Venezuela adalah “properti Amerika” karena perusahaan AS yang mengembangkannya seabad lalu. Secara filosofis, ini adalah pengabaian total terhadap konsep kedaulatan wilayah. Ini adalah logika kolonial abad ke-19 yang dibungkus dengan terminologi keamanan nasional abad ke-21.
Jika setiap sumber daya alam yang dinasionalisasi dianggap “pencurian” terhadap investor asing, maka seluruh perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa di Global South adalah tindakan kriminal. Amerika sedang mencoba melegalkan Perampokan Energi secara global. Mereka menginginkan minyak Venezuela, namun mereka lebih menginginkan minyak tersebut tetap dihargai dalam dolar agar mesin cetak uang mereka tetap berputar.
Senjakala Hegemoni: Mengapa Invasi Ini Adalah Tanda Kelemahan?
Filsuf Hannah Arendt pernah menulis bahwa kekuasaan dan kekerasan adalah lawan; di mana yang satu berkuasa secara mutlak, yang lain tidak ada. Kekerasan muncul ketika kekuasaan (legitimasi) hilang. Penangkapan Maduro adalah tanda bahwa dolar tidak lagi bisa bersaing secara sehat di pasar global.
Saat ini, dunia sedang bergerak menuju Multipolaritas:
1. BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afsel) sedang membangun sistem pembayaran independen.
2. Arab Saudi mulai melirik Yuan.
3. Tiongkok telah membangun alternatif SWIFT.
Invasi ke Venezuela pada 3 Januari 2026—tepat 36 tahun setelah invasi Panama—adalah tindakan putus asa seorang hegemon yang sekarat. Ketika Anda harus membom dan menculik pemimpin negara lain agar mereka tetap menggunakan mata uang Anda, maka mata uang tersebut sebenarnya sudah kehilangan nilai moral dan ekonominya.
Perspektif Restorasi Nalar Nusantara:
Memilih Jalan Berdikari
Bagi Indonesia, peristiwa Venezuela adalah cermin. Kita diajarkan oleh Bung Karno tentang Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri). Akal bulus Amerika mengingatkan kita bahwa ketergantungan pada satu mata uang hegemonik adalah bentuk perbudakan modern.
Restorasi Nalar Nusantara menuntut kita untuk:
1. Mendukung De-dollarisasi: Memperkuat transaksi mata uang lokal (Local Currency Settlement) untuk melindungi kedaulatan ekonomi nasional.
2. Literasi Perdamaian yang Kritis: Menolak narasi “demokrasi” yang dijadikan alat untuk perampokan sumber daya.
3. Solidaritas Global South: Memperkuat posisi di BRICS atau aliansi strategis lainnya untuk mengakhiri era di mana satu negara bisa mencetak uang sementara dunia bekerja untuk mereka.
Akhir dari Sebuah Ilusi
Akal bulus Amerika di Venezuela mungkin berhasil secara militer dalam jangka pendek. Maduro mungkin ditangkap, dan pemerintahan boneka mungkin dipasang agar minyak kembali mengalir dalam dolar. Namun, secara moral dan filosofis, Amerika telah kalah.
Pesan yang dikirimkan ke dunia bukan lagi tentang “kehebatan Amerika”, melainkan tentang “ketakutan Amerika”. Setiap negara kini sadar bahwa satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan bergerak lebih cepat meninggalkan dolar. Venezuela bukan awal dari dominasi baru; ia adalah Lonceng Kematian bagi sistem Petrodollar yang dibangun di atas darah dan minyak.
Dunia tidak akan lagi menyerah pada gertakan. Fajar baru sedang menyingsing, di mana kedaulatan bangsa-bangsa tidak ditentukan oleh mesin cetak di Washington, melainkan oleh kejujuran dalam mengelola bumi dan menghormati sesama manusia.
Metafora Minyak: Antara Darah Bumi dan Air Mata Bangsa
Dalam tradisi sastra Amerika Latin yang kental dengan Magic Realism, minyak sering kali tidak digambarkan sebagai komoditas ekonomi semata, melainkan sebagai “darah hitam” bumi yang memiliki daya magis sekaligus kutukan. Gabriel García Márquez dalam banyak narasi tersiratnya menunjukkan bagaimana intervensi asing selalu datang dengan janji kemajuan, namun meninggalkan jejak kehancuran yang nyata—seperti yang dialami Venezuela hari ini.
Penangkapan Maduro di Caracas adalah rima dari tragedi Macondo. Sastra mengajarkan kita untuk melihat melampaui statistik barel minyak. Ia mengajak kita melihat air mata para ibu di Venezuela yang kedaulatan dapurnya dirampas oleh sanksi ekonomi demi menjaga kelangsungan hidup dolar di New York. Di sinilah sastra berperan sebagai Advokasi Eksistensial.
Menghadirkan Pejuang Kata: Dari Brecht hingga Eduardo Galeano
Untuk melengkapi perlawanan terhadap akal bulus Amerika, kita harus mengutip Eduardo Galeano, penulis kitab suci perlawanan Amerika Latin, Las Venas Abiertas de América Latina atau “Vena Terbuka Amerika Latin”.
Galeano menulis: “Kekayaan kita selalu melahirkan kemiskinan kita untuk memelihara kekayaan orang lain.” Kutipan ini adalah ringkasan paling akurat dari apa yang terjadi di Venezuela. Sastra Galeano adalah literasi sejarah yang didekonstruksi dari sudut pandang korban, bukan pemenang. Ia membongkar bahwa “bantuan demokrasi” AS adalah jarum suntik yang menguras vena minyak rakyat Venezuela.
Kita juga memanggil Bertolt Brecht, sastrawan Jerman yang mengingatkan kita tentang pentingnya literasi politik:
“Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik.”
Di Indonesia, nalar ini disambung oleh Rendra, Sitor Situmorang dan Chairil Anwar, yang mengajarkan bahwa menjadi merdeka berarti berani “sekali berarti, sudah itu mati”. Kemerdekaan bukan hanya lepas dari belenggu fisik, tapi lepas dari ketergantungan mental pada standar-standar yang ditetapkan oleh penjajah baru.
Literasi Perlawanan: Puisi sebagai Kontra-Intelijen
Mengapa penguasa dan hegemon takut pada penyair? Karena penyair memiliki kemampuan untuk melakukan Kontra-Intelijen Budaya. Ketika pemerintah AS menggunakan istilah “Operasi Pemulihan Demokrasi”, sastrawan menggunakan istilah “Perampokan Energi”.
Sastra menghancurkan eufemisme. Ia mengembalikan makna kata ke akarnya. Di bawah bayang-bayang invasi 3 Januari 2026, puisi menjadi satu-satunya tempat di mana rakyat bisa menemukan kebenaran yang tidak disensor oleh algoritma media sosial atau siaran berita pro-Barat. Sastra adalah Sanksi Moral yang lebih berat daripada sanksi ekonomi mana pun.
Menanam Kata, Menuai Daulat
Restorasi Nalar Nusantara dalam bagian ini menekankan bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki imajinasi sastrawi yang merdeka. Kita tidak boleh membiarkan nalar kita “dijajah” oleh narasi luar yang menganggap perampokan kedaulatan sebagai hal yang lumrah.
Mengaji pada para sastrawan perlawanan dunia adalah upaya untuk mempertebal kulit nurani kita agar tidak mudah ditembus oleh peluru-peluru hoaks dan akal bulus global. Kata adalah senjata, dan selama kita masih bisa menuliskan kebenaran, maka harapan untuk kedaulatan Venezuela, Indonesia, dan seluruh dunia tidak akan pernah padam.
Embuhlah!
—-
Daftar Pustaka dan Rujukan Ilmiah
Chomsky, Noam. (2003). Hegemony or Survival. (Analisis tentang ambisi global AS).
Kissinger, Henry. (1974). The Saudi-American Agreement. (Fondasi Petrodollar).
Arendt, Hannah. (1970). On Violence. (Hubungan antara kekuasaan dan kekerasan).
Kementerian Luar Negeri RI. (2026). Laporan Dinamika Global pasca Invasi Venezuela.
Gus Nas Jogja. (2026). Kiamat Petrodollar: Menuju Orde Baru Ekonomi Dunia.
Galeano, Eduardo. (1971). Open Veins of Latin America. (Monthly Review Press). (Analisis sejarah eksploitasi Amerika Latin).
Brecht, Bertolt. The Iniquities of the Ignorant. (Kutipan tentang buta politik).
García Márquez, Gabriel. (1967). One Hundred Years of Solitude. (Metafora tentang kesepian dan intervensi asing).
Anwar, Chairil. (1949). Aku. (Semangat vitalisme dan kemerdekaan individu).
Gus Nas Jogja. (2026). Estetika Gerilya: Mengasah Pena di Bawah Bayang-Bayang Bayonet.
—
*Gus Nas Jogja, Budayawan





