Lalat-Lalat Diatas Susu

Oleh Imran Hasibuan

Itulah sebutan yang ditabalkan William Walraven, seorang wartawan, terhadap masyarakat Belanda/Eropa yang tinggal di Batavia dan kota-kota besar Hindia-Belanda, di awal abad 20. Maksudnya, mungkin, suatu masyarakat yang doyan mereguk kenikmatan duniawi, tapi abai mengisi jiwa dan pikiran. “Sebuah negeri sekedar… apa kabar atau bagaimana anda. Manusia-manusia yang dalam kenyataannya tidak bernilai entah untuk dijadikan teman atau dijadikan warga-negara…”, tulis Walraven dalam Kritiek en Opbouw, edisi Januari 1942.

Seorang penulis Belanda lainnya, H. Samkalden, menyebut komunitas Belanda/Eropa yang hidup di Hindia-Belanda masa itu sangat terpecah belah. Menurut Samkalden, orang Belanda/Eropa berhati-hati untuk tidak saling berinteraksi. Seandainya mereka pernah berinteraksi, biasanya melalui “fitnah”, “rumor”, dan terutama “rasa ingin tahu” alias kepo.

Kebudayaan kolonial di Hindia-Belanda sejatinya adalah budaya urban. Karena mayoritas komunitas Eropa tinggal di perkotaan, hanya segelintir yang tinggal di wilayah terpencil dan bekerja di perkebunan, industri pertambangan, dan misionaris. Komunitas Eropa dapat dikarakterisasi sebagai sebuah kelompok elit kecil, konservatif, urban, yang tinggal dalam sebuah lingkungan yang ekslusif. Para pria umumnya berpendidikan tinggi dan terlatih, namun aktivitas intelektual dan kebudayaan mereka minimalis.

Jumlah populasi yang terbatas, fokus terhadap pekerjaan, dan kelangkaan pengalihan perhatian menyisakan sedikit ruang bagi kehidupan pribadi, namun menyediakan sumber berlimpah bagi gossip dan rumor. Klub-klub sosial atau societeit merupakan jantung dari kehidupan sosial mereka. Kehidupan di Batavia dan kota-kota Hindia Belanda bagaikan hidup di dalam “rumah kaca” dengan galeri-galeri dan ruangan terbuka yang berangin.

Pada dekade 1920-an sampai 1930-an semakin banyak perempuan Eropa “keluar rumah”, menghadiri resepsi dan pesta-pesta makan malam. Dalam acara pesta itu, “…pendapatan suami merupakan dasar bagi sistem kedudukan. Latar belakang profesional suami menentukan perilaku dan sikap perempuan. Para perempuan Eropa merupakan ‘istri-istri inkorporasi’: identitas mereka terutama ditentukan oleh profesi, status, dan pendapatan suami”.

Para perempuan Eropa di Batavia dan kota-kota Hindia-Belanda menikmati kehidupan yang santai, dengan empat sampai sepuluh pembantu/babu untuk mengerjakan pekerjaan di rumah. Kontak mereka dengan kaum pribumi seringkali terbatas hanya dengan para babu di rumah saja. Bagi para perempuan Eropa ini, citra Barat tentang perempuan ideal (di zaman itu) berlaku dalam teori maupun kenyataan: setia kepada keluarga/orang-orang yang dicintainya tanpa profesi dan ambisi, sembari menjalani kehidupan pesiar, tenis, dan pesta-pesta.

Pada 1920-an, sarung dan kebaya dianggap ketinggalan zaman. Memasuki tahun 1930-an sarung dan kebaya sepenuhnya hilang. Di masa ini para “nyonya besar” itu lebih menyukai gaun-gaun musim panas pendek, yang lagi trend di Eropa—terutama Paris. Dan keringat yang berlebihan karena pengaruh iklim tropis, mau tidak mau mengharuskan berbahan flanel yang sejuk dan longgar.

Untuk mendapatkan semua busana tersebut bisa berbelanja di Gerzon’s Modemagazijnen, toko pakaian dan fashion terkenal dari Amsterdam yang cabangnya di Batavia telah dibuka tahun 1922. Atau bisa juga dipesan kepada para penjahit terkenal di Batavia. Yang penting pola dan rancangan busana semua bergaya Eropa yang lagi trend.

Untuk mengikuti trend mode itu, mereka membaca majalah mode yang didatangkan dari manca-negara, seperti: Vogue, Jardin des Modes, Libelles, Mode et Travaux, dan lain-lain. Pilihan bacaan lain adalah rubrik-rubrik khusus fashion di surat-kabar dan majalah Hindia-Belanda.

Tak hanya pakaian, jenis masakan juga berubah. Sejak dekade 1920-an, rijsttafel (perpaduan masakan Eropa dengan masakan Jawa yang popular di akhir abad 19) sudah jarang disajikan dalam pesta-pesta makan malam, digantikan masakan Eropa. Perubahan ini dengan jelas menandai proses “totokisasi” atau “eropanisasi” masyarakat kolonial Hindia-Belanda.

Kondisi ini terutama menjangkiti kelas menengah-atas, kaum elit Batavia. Rudolf Mrazek menyebut dalam kitab “Engineers of Happy Land”, mereka itu bagaikan “komunitas wagu”–yang masih gamang menghadapi terpaan modernisme. Mereka memang pekerja keras dan ulet, tapi juga penganut hedonisme yang taat. Kalau bisa berpesta setiap saat, sambil memamerkan pernak-pernik mode yang lagi tren.

Batavia di awal abad 20 adalah ikon dari “komunitas wagu” tersebut. Sebagai kota modern berpenduduk heterogen, dinamika demografi, terutama urbanisasi, terbilang pesat. Penduduk Batavia di tahun 1910an-1930an, sekitar setengah juta orang tersebar di kota Batavia dan Omnelanden (termasuk wilayah Tangerang dan Meester Cornelis/Jatinegara-Bekasi). Penduduknya berasal dari berbagai ras/bangsa, yang terbesar adalah orang Eropa/Belanda, Tionghoa, dan kaum pribumi. Ada juga yang berasal dari Arab/Hadramaut, Jepang, dan lain-lain. Mayoritas penduduk adalah dari kaum pribumi, menyusul kaum Tionghoa.

Penduduk Batavia dari kalangan Eropa yang di awal abad 20 yang masih belasan ribu orang, terus meningkat: 24.540 orang (tahun 1920) dan 31.130 orang (tahun 1930).Warga Eropa ini berasal dari berbagai bangsa: Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Austria, Swiss, Skandinivia, serta Amerika Serikat. Tentu saja orang Belanda merupakan mayoritas. Warga Eropa-Amerika ini terutama bekerja sebagai pegawai pemerintah kolonial, sebagian kecil bekerja di dunia swasta (pengusaha, professional, dan lain-lain).

Adapun kaum Indo atau Indis di Batavia diperkirakan jumlahnya sekitar tiga kali lipat kaum Eropa. Mayoritas juga bekerja di pemerintahan Hindia-Belanda, sebagai pegawai menengah dan rendah. Sebagian lagi bekerja di dunia profesional (jurnalis, advertising, artis, dan lain-lain).

Di masa itu, Batavia juga sudah memiliki banyak gedung-gedung megah: perkantoran, pasar/pertokoan, rumah tinggal, gedung pertemuan/pertunjukan, hotel, dan lain-lain. Gedung pertunjukan yang paling terkenal adalah gedung Societeit de Harmonia dan Theater Schouwburg Weltevreden. Sedangkan hotel yang paling mewah adalah Hotel Des Indies.

Batavia di awal abad 20 juga sudah siap menampung berbagai ikon modernitas: teknologi, budaya, hingga gaya hidup. Masa itu Batavia dan Hindia Belanda sudah terhubung dengan dunia internasional via telegraf. Begitu pula jaringan telepon internasional sudah mulai operasional sejak 1929, dengan tujuan Amsterdam yang berjarak 12.000 kilometer. Panggilan luar negeri termasuk langka dan mewah di zaman itu, sebab sentral telepon masih manual dan teknologinya pun masih sangat terbatas.

Warta Batavia juga merespon ikon-ikon budaya modern dengan cepat. Di awal abad 20 itu, puluhan surat-kabar— dengan beragam jenis dan sikap redaksional– terbit di Batavia. Umumnya surat-kabar politik, ada pula yang bersifat hiburan. Masa ini mulai dikenal kantor berita, yang memasok berita bagi surat-kabar melalui telegraf. Mula-mula yang beroperasi di Hindia-belanda adalah perwakilan kantor berita asing, seperti Reuters. Kantor berita yang pertama berdiri adalah Indonesische Persbureau, di tahun 1913. Empat tahun kemudian, seorang Indis, Dominuque Berretty, mendirikan ANETA (Algemeen Nieuwsen Telegraaf-Agentscbaf) yang berkembang pesat dan menjadikan Berretty sebagai raja pers Hindia Belanda yang kaya raya.

Pertunjukan musik klasik malah sudah dimulai di Batavia sejak pertengahan abad 19. Di awal abad 20 makin marak pertunjukan digelar di sejumlah gedung pertunjukan di Batavia, seperti: Theater Schouwburg Weltevreden, Societet de Harmonie, dan Concordia Sociteit. Seni pertunjukan yang juga marak dan berkembang di awal abad 20 adalah Komidie Stamboel dan Tonil. Komedie Stamboel/Tonil adalah adalah suatu bentuk seni pertunjukan teater sandiwara keliling, berupa pentas bergaya istanbul, yang lahir untuk memenuhi hiburan bagi rakyat di Hindia Belanda. Rombongan komidie stamboel yang terkenal masa itu, dan silih berganti mengisi panggung di Batavia dan kota-kota lain di Jawa dan Sumatera, antara lain: Union Dhalia Opera, Miss Riboet Orion, Dardanella. Kelompok tonil terakhir ini, dengan bintangnya Miss Dja, bahkan menggelar pertunjukan hingga ke manca-negara.

Di tahun 1900, bioskop pertama di Hindia-Belanda sudah berdiri di Kebon Jahe (sekitar Tanah Abang), tak jauh dari lapangan Gambir/Monas. Meski bangunan bioskop masa itu masih sangat sederhana, menyerupai bangsal dengan dinding dari gedek dan beratapkan seng. Kemudian bioskop ini pindah ke sebuah gedung di Passer Baroe. Ada lagi bioskop yang bernama Jules Francois de Calonne (nama pengusahanya) yang terdapat di Deca Park. De Calonne ini mula-mula adalah bioskop terbuka di lapangan, yang pada zaman sekarang disebut “misbar’ alias gerimis bubar. De Calonne adalah cikal bakal dari bioskop Capitol yang terdapat di Pintu Air. Beberapa tahun kemudian, sepanjang decade 1920-an sampai 1940-an, muncul belasan bioskop lain di seantero Batavia.

Film-film yang diputar di dalam bioskop zaman itu adalah film bisu atau tanpa suara. Biasanya pemutaran di iringi musik orkes. Pada 1926, diproduksi film pertama yang dibuat di Hindia-Belanda, berjudul Loetoeng Kasaroeng diproduksi G. Kruger dan L. Heuveldorp. Kemudian datang Wong Bersaudara yang hijrah dari industri film Shanghai. Produksi perdana Wong Bersaudara adalah film Lily van Java (1928) bekerjasama dengan South Sea Film Co. Sejak tahun 1931, pembuat film lokal mulai membuat film bicara. Percobaan pertama antara lain dilakukan oleh The Teng Chun dengan film Boenga Roos dari Tjikembang.

Gaya hidup kaum elit di Batavia di awal abad 20 itu juga selalu mengikuti atau update dengan trend internasional. Gaya berpakaian, misalnya, mengikuti tren dari Eropa: bergaya casual, tidak terlalu formal. Kaum pekerja kelas menengah Batavia masa itu terbilang work-alcoholic alias gila kerja. Dari pagi hingga petang, sibuk bekerja di kantor. Malam hari mereka bersantai, menonton film/pertunjukan seni atau pergi ke klub/café.

Untuk kalangan elit, klub favorit tentunya Societeit de Harmonie dan Concorda yang terletak di Waterlopen (Lapangan Banteng). Lobby Hotel des Indies juga kerap menjadi arena nongkrong kaum pekerja kelas menengah. Di klub atau hotel mereka sekedar bergunjing atau bergosip ria, mencari pasangan sesama orang Eropa atau Indo, dan berpesta pora hingga mabuk-mabukan. Bisa juga pergi ke rumah plesiran yang tersedia di sudut-sudut kota.

Kaum pekerja kelas menengah dan elit Batavia ini umumnya tidak terlalu peduli dengan isu atau urusan sosial-politik, termasuk mengenai dinamika kaum pergerakan kebangsaan yang lagi marak. Bagi mereka, yang utama adalah mengejar ambisi hidup: kaya dan terkenal. Persis seperti kaum pekerja menengah dan elit Indonesia saat ini, seperti lalat-lalat diatas susu,

Penulis dan Produser

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *