Gundogan, Semrawut Emas, dan Arketip Indonesia di pojok kota Venesia (bagian 2)
Oleh: Azuzan JG*

Kitab “Plajeran Agoeng” Konsep Aminuddin T.H. Siregar, desain Deden H. Durahman. Foto source: La Biennale 2026
Printing the Unprinted
Wanita Indonesia itu menyambut kedatangan saya. Sambil menyeduh kopi ia perkenalkan namanya: Nadia. Ia mengambil studi teknik di Italia dan sudah 4 tahun tinggal di Venesia. Di sela menyelesaikan studi, ia sisihkan waktu melayani pegunjung pameran di pavilyun Indonesia. Ia memberitahu: “Pak Ucok (panggilan akrab Aminudin T.H.Siregar) dan rombongan seniman Indonesia sudah kembali ke tanah air.” Lalu ia memperkenalkan saya pada Lorenzo, direktur Scuola Internazionale di Grafica. Lelaki separuh baya itu duduk di kursi roda tapi tampak bersemangat dan berpikiran tajam. Sesekali ia bercerita, langsung ke pokok soalnya.
Institusi pendidikan seni cetak itu berdiri tahun 1969. Galeri tempat pameran seni rupa dari Indonesia merupakan bagian dari bangunan sekolah itu. Di bagian belakang bangunan terdapat studio dan laboratorium cetak milik sekolah. Ini alasan kenapa tempat ini dipilih kuratornya sebagai tempat pameran. Selain itu, mungkin, sebab berada di pojok kota harga sewanya tentu lebih murah dibanding sewa galeri di wilayah ramai Arsenal. Hal lain, pameran dari Indonesia tidak sekedar menumpang tempat, melainkan diproduksi langsung di dalam studio dan laboratorium cetak milik sekolah.
Seperti dipaparkan Ucok di IHA Amsterdam, karya grafis yang digarap seniman Indonesia di sekolah grafika itu sebagai respons terhadap arsip sejarah. Fiksi digunakan untuk membalikkan narasi sejarah lama. Di pameran ini, arketip yang terkandung dalam arsip lama tentang keberadaan sejarah peradaban manusia, di dekonstruksi secara fiktif dan radikal. Bukan kaum pedagang dari Barat yang melakukan ekspedisi pelayaran ke Indonesia, tapi sebaliknya.
Arketip, menurut Jung tidak hanya mencakup tentang karakter manusia; tetapi juga citra asal dari suatu gagasan, motif, mitos, hingga cetak biru struktur pemikiran manusia itu sendiri.14
Dalam buku-buku sejarah lama, arketip (archetype) digunakan sebagai alat validasi yang membentuk persepsi pembacanya ke kebenaran mutlak atas peristiwa masa lalu, meski realitas masa lalunya belum tentu seperti digambarkan arketip itu. Gambar peta perjalanan para pelaut abad 16, misalnya, tidak akurat dibanding peta yang dibuat memakai teknologi satelit. Dekonstruksi peta perjalanan pelaut itu dimunculkan apik dalam pameran dari Indonesia ini.

The Route of the Great Voyage. Sumber foto: buku katalog Printing the Unprinted
Printing the Unprinted memaparkan berbagai episode perjalanan tokoh (fiktif) Datu Na Tolu Hamonangan menjelajah dunia. Pelayarannya dikisahkan detail berlangsung 14 tahun, bertolak dari Danau Toba. Peta pelayarannya diberi nama The Route of Great Voyage, mengingatkan akan peta pelaut Eropa abad 16. Sosok Datu itu dideskripsikan bahwa ia seorang seniman, astronom dan pakar hukum kerajaan Harajoan Pusuk Buhit di Sumatra dari masa ratusan tahun lalu. Agus Suwage melalui karya grafisnya Return to the Mountain of Origin memunculkan tokoh ini sebagai sosok berwibawa, tetap tegar berdiri meski diterpa hujan lebat. Ini memperkuat narasi keseluruhan. Keberadaannya dikisahkan bahwa itu bersumber dari arsip kuno berupa kitab “Plajeran Agoeng,” merujuk pada “pustaha” yang ditulis seorang Datu dalam kebudayaan Batak. Isi kitab itulah yang digarap 7 seniman Indonesia: Agus Suwage, R.E. Hartono, Syahrizal Pahlevi, Rusyan Yasin, Theresia Agustina Sitompul, Nurdian Ichsan dan Mariam Sofrina. Masing-masing mereka menginterpretasi episode demi episode perjalanan sejarah yang dibuat itu, divisualkan dalam karya grafis yang mereka pamerkan.

Return to the Mountain of Origin, Agus Suwage. Etching on paper 29,7 x 42 cm. Foto dok. Azuzan JG/Pavilyun Idonesia 18 Juni 2026
Dekonstruksi arketip melalui cerita fiktif sering digunakan untuk kepentingan berbeda dalam membentuk persepsi lain dari kenyataan sebenarnya. Orang Indian dalam The Searchers (1956) digambarkan sebagai pembunuh yang datang tiba-tiba dari atas bukit untuk menyerang tanpa alasan rasional, sedangkan pemukim kulit putih digambarkan sebagai pionir yang damai dan beradab. Di kenyataan, tanah Indian diduduki pemburu emas abad 16 dari Eropa. Orang-orang Indian kemudian dipinggirkan, diberi tempat di konservasi-konservasi di pinggir kota Amerika. Pablo Picasso melalui Guernica (1937) mendekonstruksi tradisi lukisan perang klasik. Jika seni klasik biasanya mengagungkan kemenangan militer, pahlawan berkuda, Picasso membongkarnya menjadi bentuk kubis, abstrak dan penuh penderitaan untuk menunjukkan bahwa perang penuh kekacauan dan pembantaian manusia.

Guernica 1937 Pablo Picasso, Museo Reina Sofia, Madrid. Foto dok. Pribadi/public domain
Arketip di buku-buku sejarah lama itu membeku, membentuk persepsi pembacanya berabad-abad. Kita sering menemukan arketip dalam sejarah lama tidak memberi gambaran pertemuan antar subjek setara dalam perspektif kemanusiaan. Misalnya, gambar pribumi sebagai pihak terjajah, memayungi keluarga kolonial yang menjajah tanah kelahiran mereka. Padahal ada banyak perlawanan pribumi di masa penjajahan itu terjadi. Salah satu arketip yang membeku itu kita lihat di ilustrasi lukisan: De Overwining Voor Makassar 1668-1670, koleksi museum de Lakenhal Leiden. Lukisan adegan pertempuran ini adalah arketip kemenangan dan superioritas militer kolonial. Romeyn de Hooghe melukisnya mungkin di Paris atau Amsterdam, bukan berdasar kesaksian langsung di medan pertempuran.15
Kritik terhadap ketimpangan penggambaran manusia di masa kolonial itu marak dalam dekade terakhir ini. Kita lihat sekilas salah satu kritik terhadap arketip kolonial yang pernah menggegerkan Belanda, yakni tentang lukisan di kereta kencana De Gouden Koets. Di kereta kerajaan itu dilukis: pribumi duduk bersimpuh di lantai menyembah de Nederlandse Maagd yang merupakan personifikasi bangsa Belanda. Anggota parlemen negara itu, Van Bommel dan Peeters, menyerukan penghapusan lukisan tersebut. “Gambar itu mengingatkan kita pada periode mengerikan dalam sejarah kita,” demikian ungkap mereka di NRC next dan dilansir Volkskrant 16 September 2011. Sehubungan gencarnya perdebatan di parlemen dan semakin menguatnya kajian postkolonial serta dekolonisasi,16 kereta kencana itu kemudian dipensiunkan tahun 2022 secara resmi oleh Raja Alexander.
Dalam Printing and Unprinted, dekonstruksi terhadap perspektif kemanusiaan yang timpang itu tampak menonjol dalam garapan Mariam Sofrina. Di karya grafis Port of Malacca dan Winter Market in Venice, ia memosisikan pedagang dari Tano Batak berhadapan sejajar tidak bermusuhan dengan pedagang dari berbagai negara. Karya ini, dan juga keseluruhan episode perjalanan Datu Hamonangan yang dibuat 7 seniman Indonesia di pameran ini, muncul sebagai wujud kreatif dekolonisasi dalam seni, merebut kembali narasi sejarah penjajahan (kolonialisasi) terhadap bangsa Timur yang terpateri dalam arsip lama, mencairkannya, kemudian mencetaknya menjadi narasi baru.
Hal menarik lainnya, dalam pameran Printing the Unprinted ini ada sebuah mesin cetak handpress dihadirkan di pojok ruang. Karya grafis Rusyan Yasin berjudul The Reversal of Time dijuntaikan diatas mesin itu. Bagi saya ini sebenarnya ingin membongkar paradoks sejarah penyebarluasan gagasan renaisans. Ketika kekaisaran Romawi di Byzantium runtuh di abad ke 15, kaum intelektual Romawi menyelamatkan diri ke Venesia dengan membawa serta buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani. Setelah keluarga Medicci di Firenze memulai renaisans, Venesia di abad 15 dan 16 jadi tempat penyebar-luasan gagasannya. Buku-buku pengetahuan dan filsafat Yunani itu dicetak kaum pedagang besar-besaran di Venesia lalu menyebar ke seluruh dunia.17 Renaisans merayakan kebangkitan ilmu pengetahuan, secara bersamaan humanisme Eropa ini membangun identitas superior Barat dengan merendahkan Dunia Timur. Ekspansi bangsa-bangsa Barat ke Dunia Timur dan praktek perbudakan terjadi di masa renaisans.

“The Reversal of Time”, Rusyan Yasin. 30,5 x 179 cm, ink and pen on canvas 2026. Foto dok.: Azuzan JG/Pavilyun Indonesia di Venesia 18 Juni 2026
Sayangnya, kehadiran mesin cetak handpress di pojok ruang itu tidak disertai tata cahaya yang kuat, hingga pesan menohok dan frontal dibalik kehadirannya hampir tidak terasa. Memang, mesin cetak itu adalah milik sekolah grafika itu. Tetapi dengan menaruh karya grafis di mesin cetak tersebut, itu berubah menjadi satu kesatuan utuh instalasi seni rupa. Pengunjung hari itu lebih tertuju ke ruang utama dimana kitab Plajeran Agoeng dan isinya dipamerkan. Padahal pemetaan tahun keberadaan Datu Na Tolu Hamonangan (1433-1520) sejajar dengan masa kebangkitan renaisans. Tampaknya ini sebuah pilihan dari kurator untuk tidak memfokuskan pameran pada kritik terhadap renaisans, menyamarkannya dari fokus perdebatan sejarah internal seni Barat.
Sungguhpun begitu, ada satu poin penting perlu dicatat dalam pameran ini. Di pembukaan pameran dan beberapa minggu setelahnya, pengunjung pameran bisa melihat langsung proses pembuatan karya Printing the Unprited itu di laboratorium Scuola di Grafica. Ini penyiasatan cerdas dari kurator dan seniman-senimannya. Hal “mencap yang tidak tercap” dalam fiksi sejarah itu dilakukan secara terbuka. Strategi membuat pameran ini mendapat kritik positip media internasional. Fineste sull’Arte menyebut: “Indonesia membuat kejutan di Biennale Venesia dengan menawarkan ide baru dalam perjalanan sejarah peradaban manusia.” 18
Gundogan
Sekembalinya dari paviljun Indonesia, saya kembali bertemu lelaki dengan anyaman daun palem di awal perjalanan. Di kesempatan itulah ia memperkenalkan namanya: Gundogan. Seketika saya ingat nama pesepakbola Jerman yang bermain di Manchester City: Ilkay Gundogan. Ia lahir di Jerman tapi orang tuanya imigran Turki. “Anda dari Turki?” “Tidak, saya dari Pakistan,” jawabnya. Kembali saya terkesima. Nama Turki pada pria Pakistan merupakan jejak memori rute migrasi, sebuah cerita sejarah yang amat panjang.

Gundogan, penganyam daun palem dari Pakistan. Fopto dok. Azuzan JG/Salizada S. Fosca Venesia 18 Juni 2026
Keterampilan menganyam daun palem itu mereka namakan Pesh, sudah bergenerasi-generasi ada di distrik Kech Balochistan, Pakistan. Pola-pola anyaman yang rumit itu mereka kerjakan sambil bercerita, mungkin persis seperti saat Gundogan menceritakan hal ini pada saya.
“Nama saya artinya matahari terbit. Saya bahagia biarpun orang tidak membeli pesh ini tapi ia senang melihat anyaman daun palem saya,“ ujarnya bangga.
Sebelum kembali ke Arnhem saya ingat kembali tema In Minor Keys. Ingat kembali pada Kouoh, lalu ke si penganyam daun palem. Gundogan bukan narasi fiktif. Ia nyata terpinggirkan di tengah kemegahan Venesia, dokumen hidup dari tema In Minor Keys. Ia tidak diundang oleh organisasi La Biennale, namun ia “mengurasi” dirinya sendiri untuk hadir di festival bergengsi itu. Mendiang Koyo Kouoh ingin menyuarakan frekuensi minor, dan Gundogan adalah salah satu frekuensi minor sebenarnya.
Arnhem, 18 Agustus 2026
*Azuzan JG adalah Teaterawan yang berdomisili di Gouda, Belanda
_________________________________________________
1Selain di museum Venesia, rangkuman sejarah ini bisa dilihat di: https://www.europeanwaterways.com/blog/history-of-venice/ lihat juga di https://www.contexttravel.com/stories/articles/why-was-venice-built-on-water
2 Deborah Howard: The Architectural History of Venice Yale University press 2004.
3John Julius Norwich A History of Venice Penguin Books ltd. 2012
4 https://www.labiennale.org/en/art/2026/introduction-koyo-kouoh-koyo’s-team
5 http://www.rawmaterialcompany.org/?lang=en
6 https://www.carolinegueye.com/press-1
7 https://exhibitinvenice.com/venues
8 https://www.labiennale.org/en/news/national-participations-and-collateral-events-biennale-arte-2026
10Jean Louis Roy Mansa Musa I: Kanka Moussa: from Niani to Mecca Mosaic Press 2019
11 Review kedua pertunjukan teater Indonesia di Biennale Teatro saya tulis dan terbit di Tempo 27 Juni 2026 di bawah judul Perlawanan di Panggung Teater Venice Biennale.
12 Pertunjukan Aka Jolly Roger berlangsung 16-17 Juni 2026 https://www.labiennale.org/en/theatre/2026/theatre-performances/biennale-college-teatro-bruna-bonanno-aka-jolly-roger Tentang Bruna Bonanno: https://webzine.theatronduepuntozero.it/wp-content/uploads/2026/03/cv-bruna-bonanno-eng.pdf
13 https://www.hollywoodreporter.com/lifestyle/lifestyle-news/willem-dafoe-interview-venice-theater-festival-2026-1236544212/
14 Carl Gustaf Jung Archetypen Lemniscaat b.v. Rotterdam Negende druk 2003
16 Salah satu kajian postkolonial yang menyinggung kereta kencana itu ditulis Geert Oostindie Post Koloniaal Nederland Bert Baker 2009
17 https://dn721808.ca.archive.org/0/items/aldusmanutiuspri00daviuoft/aldusmanutiuspri00daviuoft.pdf




