Sinema Membaca Zaman: Dari One Battle for Another ke Hari Film Nasional 30 Maret

Oleh Purnawan Andra*

Kemenangan film One Battle for Another karya sutradara Paul Thomas Anderson di ajang Oscar yang digelar 15 Maret 2026 lalu perlu dibaca lebih dari sekadar capaian industri atau prestise festival. Ini karena yang ditawarkan film yang dibintangi Leonardo DiCaprio, Sean Penn, Benicio del Toro tersebut bukan hanya kualitas teknis, tapi kemampuan membaca situasi global yang sedang berlangsung dan menerjemahkannya ke dalam bahasa sinema yang jernih, tenang, dan tidak berlebihan. 

Film yang meraih 6 piala diantaranya Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik ini bekerja dengan cara yang relatif sederhana, alur yang tidak banyak berliku, dengan dialog yang tidak padat retorika. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia memberi ruang bagi penonton untuk masuk ke dalam pengalaman karakter tanpa merasa digurui atau diarahkan secara paksa.

Memperlakukan Konflik

Apa yang membuat film ini menonjol adalah cara ia memperlakukan konflik sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan sebagai tontonan dramatis yang dilebih-lebihkan. Karakter-karakternya tampil sebagai manusia biasa yang rapuh, ragu, dan tidak selalu memiliki jawaban atas situasi yang mereka hadapi. 

Pendekatan ini mengingatkan pada gagasan André Bazin tentang pentingnya realisme dalam film, di mana sinema seharusnya tidak memanipulasi realitas secara berlebihan, tetapi justru membuka ruang bagi realitas itu sendiri untuk hadir dengan kompleksitasnya. Dalam kerangka ini, One Battle for Another tidak berusaha menjadi besar melalui efek atau kejutan, melainkan melalui ketepatan dalam menangkap pengalaman manusia.

Jika ditarik ke konteks global, film ini terasa relevan karena ia lahir di tengah dunia yang sedang mengalami berbagai bentuk krisis yang saling bertumpuk, mulai dari konflik geopolitik, ketidakstabilan ekonomi, hingga perubahan sosial yang cepat dan sering kali tidak terprediksi. Banyak orang hari ini hidup dalam kondisi yang tidak pasti, di mana masa depan sulit dirancang secara jelas dan keputusan-keputusan hidup sering diambil dalam situasi serba terbatas. Dalam konteks seperti ini, film yang mampu menghadirkan pengalaman ketidakpastian secara jujur menjadi penting karena ia tidak sekadar merepresentasikan realitas, tetapi juga membantu penonton memahami posisi mereka di dalamnya.

Kondisi ini sejalan dengan pembacaan sosiolog Polandia-Inggris Zygmunt Bauman dalam Liquid Modernity (2000) tentang masyarakat modern sebagai sesuatu yang cair, di mana struktur sosial tidak lagi kokoh dan individu harus terus beradaptasi dengan perubahan yang berlangsung cepat. Ketika kepastian menjadi langka, pengalaman hidup manusia pun dipenuhi ambiguitas, dan ambiguitas inilah yang justru menjadi bahan utama dalam One Battle for Another. Film ini tidak menawarkan penyelesaian yang rapi, tetapi menunjukkan bagaimana manusia bertahan dalam situasi yang tidak sepenuhnya bisa mereka kendalikan.

Jika kita geser pembahasan ini ke Indonesia, kita sebenarnya tidak berada di luar peta persoalan tersebut, karena dalam beberapa tahun terakhir kita juga menghadapi berbagai bentuk tekanan sosial yang tidak sederhana, mulai dari kesenjangan ekonomi, perubahan lanskap kerja, hingga dinamika politik yang mempengaruhi cara masyarakat berinteraksi satu sama lain. Di kota-kota besar, kehidupan berjalan cepat, tetapi tidak selalu diiringi dengan rasa aman atau kepastian, sementara di ruang digital, perdebatan publik sering kali bergerak tanpa arah yang jelas dan cenderung memperkuat polarisasi.

Persoalannya, ketika realitas kita semakin kompleks, tidak semua film Indonesia bergerak ke arah yang sama dalam hal kedalaman pembacaan. Banyak film masih memilih jalur yang relatif aman dengan menyederhanakan konflik dan merapikan realitas menjadi cerita yang mudah dicerna, sehingga ketegangan yang sebenarnya ada dalam kehidupan sehari-hari tidak sepenuhnya muncul di layar. Karakter sering kali dibangun dalam pola yang mudah ditebak, alur cerita bergerak menuju penyelesaian yang jelas, dan ruang untuk ambiguitas menjadi sangat terbatas.

Cara Melihat

Dalam hal ini, kita bisa melihat bahwa yang sering hilang bukan sekadar tema besar, melainkan cara melihat. Teoritikus film Jerman Siegfried Kracauer dalam Theory of Film (1960) pernah menekankan bahwa film memiliki kemampuan untuk mengungkap realitas fisik dan sosial yang sering luput dari perhatian sehari-hari. Tapi kemampuan itu hanya bisa bekerja jika film tidak tergesa-gesa menyimpulkan atau menyederhanakan. Ketika film terlalu cepat memberi jawaban, ia kehilangan kesempatan untuk benar-benar menggali persoalan.

Kemenangan One Battle for Another menunjukkan bahwa film yang memberi ruang pada kompleksitas tetap memiliki tempat, bahkan di tingkat global. Ini penting karena sering ada anggapan bahwa penonton hanya menginginkan cerita yang ringan dan mudah, padahal kenyataannya penonton juga mampu menerima cerita yang lebih dalam selama disampaikan dengan jujur dan terstruktur dengan baik. Artinya, tantangan bagi film Indonesia bukan semata pada tema, tetapi pada keberanian untuk tidak mereduksi realitas.

Jika dikaitkan dengan Hari Film Nasional 30 Maret, momen ini seharusnya tidak berhenti pada perayaan jumlah produksi atau capaian box office, tapi menjadi ruang untuk mengevaluasi arah perkembangan sinema kita. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya berapa banyak film yang diproduksi, tetapi bagaimana film-film tersebut membaca kondisi masyarakat dan sejauh mana ia mampu menjadi medium refleksi.

Indonesia memiliki banyak sekali bahan cerita yang kuat dan relevan, mulai dari kehidupan pekerja urban, perubahan desa, migrasi, ketimpangan akses pendidikan, hingga dinamika generasi muda yang hidup di antara tuntutan ekonomi dan perubahan teknologi. Semua ini adalah realitas yang dekat dan nyata, tetapi tidak selalu diolah menjadi narasi yang memberi kedalaman pengalaman bagi penonton. Sering kali, yang terjadi justru pemilihan sudut pandang yang terlalu aman sehingga cerita kehilangan daya dorongnya.

Dalam konteks ini, pelajaran yang bisa diambil dari One Battle for Another bukan pada bentuk luarnya, tetapi pada sikap dasarnya terhadap realitas, yaitu kesediaan untuk melihat kehidupan apa adanya tanpa tergesa-gesa merapikannya menjadi sesuatu yang nyaman. Film tidak harus menjadi berat atau rumit, tetapi ia perlu jujur terhadap kompleksitas yang ada.

Hari Film Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa film memiliki fungsi lebih dari sekadar hiburan, yaitu sebagai cara untuk memahami diri kita sebagai masyarakat yang sedang berubah. Jika film hanya mengulang pola yang sama, ia akan kehilangan relevansinya, tetapi jika ia berani membuka ruang bagi realitas yang lebih luas, ia bisa menjadi bagian penting dari cara kita membaca zaman.

One Battle for Another memberi satu catatan sederhana tetapi penting, bahwa kekuatan film tidak selalu terletak pada besarnya produksi, melainkan pada ketepatan dalam menangkap kehidupan, dan di situlah tantangan sekaligus peluang bagi sinema Indonesia ke depan.

*Purnawan Andra, ASN Kementerian Kebudayaan, penerima fellowship Humanities & Social Science di Universiti Sains Malaysia.