Guruh di Langit Seni Rupa
Oleh: Agus Dermawan T*
Guruh Sukarno Putra, kelahiran 13 Januari 1953, wafat pada Sabtu subuh, 26 September 2026. Dunia budaya dan seni Indonesia sangat kehilangan. Sebagai komposer, penggubah lirik, koreografer dan penggerak seni pertunjukan besar Swara Maharddhika, Guruh memiliki jejak yang tidak bisa dilupakan. Ia ikon panggung Indonesia yang belum tergantikan.
Namun di balik panggung, ia adalah penggemar seni lukis. Bahkan ia juga melukis. Meski ia berkata bahwa melukis sekadar untuk mengisi waktu senggang. Berikut cerita ihwal hubungan Guruh dengan seni lukis, yang menyelip di sela sejarah hidupnya yang penuh warna dan panjang.
————
PADA tengah September 1994 saya diundang Guruh Sukarno Putra untuk dolan ke kantornya, Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dalam pertemuan itu ia meminta saya untuk melengkapi pameran foto kakaknya, Guntur Soekarno, yang akan diselenggarakan pada tengah November 1994 di Galeri Nasional Indonesia (dulu bernama Gedung Pameran Seni Rupa Departemen P dan K). Saya diminta menulis artikel apresiasi di katalog pameran, untuk menghantar jajaran foto Guntur Soekarno ke keramaian publik.
Satu tugas yang menyenangkan. Apalagi mengingat Guruh dan Guntur adalah anak Sukarno. Sang proklamator, presiden Republik Indonesia pertama, budayawan, cerdik-pandai, musuh neo kolonialisme dan imperialisme paling utama.

Guruh Sukarno Putra (1953-2026). (Foto: Dokumen)

Guruh Sukarno Putra@Swara Maharddhika, ciptaan desainer ternama Hanny Kardinata. (Foto: Agus Dermawan T)
Sejak itu hubungan saya dengan Guruh semakin nyambung. Pada Maret 1995 saya berjumpa lagi dengannya berkait dengan urusan seni yang lain. Sebelum perjumpaan tersebut saya mendengar kabar bahwa Guruh akan terbang ke Singapura untuk menonton pertunjukan Broadway, The Panthom of the Opera karya Andrew Lloyd Webber, seniman pujaannya.
Tahu bahwa ia akan ke Singapura, dalam pertemuan itu saya sengaja membawa katalog lelang Christie’s, yang juga akan diselenggarakan di Singapura dalam waktu yang hampir bersamaan. Maksud saya, setelah atau sebelum menonton opera, Guruh bisa mampir ke pameran lelang Christie’s. Bukankah Guruh pencinta seni lukis dan bahkan pelukis?
Guruh antusias menyimak katalog. Namun sampai pada satu halaman, ia terpana. “Mas Agus. Ini. Ini, Ini nih!” katanya dengan wajah terperenyak. Ia menunjuk satu lukisan di situ, karya Basoeki Abdullah, Gadis Bali Berdoa, pastel di atas kertas, berukuran 38 x 24 cm, dan diestimasi berharga S$ 20.000 – 25.000,-
“Ini lukisan koleksi saya yang hilang pada tahun 1970-an. Bersama lukisan ini satu karya Gus Made (Ida Bagus Made Poleng, adt), serta lukisan saya sendiri, juga hilang,” katanya.
Pada moment itu saya yang terperenyak.

Lukisan Basoeki Abdullah yang hilang, “Gadis Bali Berdoa”. (Foto: Agus Dermawan T).
Lelang menegangkan
Pameran lelang pun dibuka pada 24 Maret, sebelum nantinya akan ditutup dengan acara lelang pada 26 Maret, di Hotel Hyatt Regency, Singapura. Pada tanggal 25 Maret kuasa-hukum Guruh dan seorang asistennya datang ke ruang pameran. Mereka minta lukisan itu tidak dilelang, dan kemudian dikembalikan kepada Guruh.
Acara pameran lelang pun agak menegangkan. Setelah berunding alot, Philip Ng, managing director untuk Christie’s Asia lantas memberikan keputusan: lukisan Basoeki Abdullah Gadis Bali Berdoa dikeluarkan (withdrawn) dari acara lelang.
Namun perkara belum berhenti. Sang kuasa-hukum minta agar lukisan itu dikembalikan kepada Guruh. Tentu pihak Christie’s keberatan, lantaran lukisan itu secara formal adalah milik dari si empunya lukisan terakhir (owner). Kuasa-hukum minta agar ia dipertemukan dengan si empunya lukisan. Christie’s juga tak bisa mengabulkan, karena dalam kode etik lelang, identitas si empunya lukisan harus dirahasiakan.
Persoalan pun berhenti.
Pada akhir Maret 1995 saya secara tak sengaja bertemu dengan Guntur Soekarno di Changi Airport, Singapura. Saya menunjukkan katalog Christie’s itu, dan menceritakan semuanya. Guntur menjawab dengan tertawa
“Jangan-jangan lukisan-lukisan itu bukan hilang, tapi memang dijual oleh orang-orang yang ada di rumah itu. Sehingga seolah mendadak raib. Dan Guruh tidak diberi tahu…”

Lukisan Guruh Sukarno Putra, “Penari Legong Bersedih”, yang dititip-pamerkan di ARMA (Agung Rai Museum of Art), Ubud, Bali. (Foto: Agus Dermawan T.)
Mengapa lukisan raib
Mengapa Guruh tidak melaporkan soal itu ke polisi? Sehingga bisa dibikinkan Surat Laporan Kehilangan, yang akan memudahkan pengurusan pencarian di kemudian hari? Guruh tersenyum pahit. Ia mengatakan bahwa tahun-tahun itu adalah era “kekerasan” Orde Baru. Dengan begitu keluarga Sukarno yang Orde Lama – sebutan politis untuk para penganut politik sebelum terjadinya Gerakan 30 September 1965 – berada dalam posisi sangat terjepit. Jadi, Guruh enggan (bahkan takut) untuk melapor.
Apalagi aparat tahu bahwa Guruh adalah anak Sukarno yang pernah melakukan “pelanggaran berat” protokol Polisi Militer Orde Baru. Guruh memang pernah menyelundupkan kamera saku ke Wisma Yaso, tempat ayahnya yang sakit berat dirawat dalam karantina. Dan secara diam-diam memotret sang ayah, Sukarno, yang pada hari itu – 6 Juni 1970 – sedang berulang tahun. Visual foto itu kemudian bocor keluar, sehingga dipublikasikan oleh kantor berita internasional AP (Associated Press) dan koran Sinar Harapan.

Rachmawati sedang menjenguk ayahandanya, Sukarno, yang sakit keras di Wisma Yaso. Hasil pemotretan Guruh yang dilakukan secara diam-diam. (Foto: Dokumen)
Ia menceritakan sulitnya kala itu untuk bergerak bebas sebagai warga negara. Bahkan ketika Guruh hanya sebagai unsur, seperti ketika bergabung dengan grup musik Gipsy yang beranggotakan Gang Pegangsaan, yang terdiri dari Keenan Nasution, Chrisye, Abadi Soesman, Roni Harahap dan Oding Nasution. Kaset produksinya, Guruh Gipsy (1976), dihindari oleh banyak distributor yang takut dicap sukarnois. Sehingga Guruh, yang memang tak mengerti soal distribusi, terpaksa membuat lapak tenda di Bina Ria, Ancol untuk memasarkannya. Lalu dititipkan di beberapa apotik di Jakarta. “Bayangkan, putera seorang mantan presiden harus bikin lapak untuk jual kasetnya sendiri,” kisahnya.
Sementara untuk pameran tunggal lukisan atau menjual lukisan, Guruh enggan dan traumatik. Namun, apa pun keadaannya, Guruh melukis terus. Dalam satu dua kesempatan kecil, semisal pameran amal, ia menyertakan karyanya. Seperti yang pernah dilakukan bersama pelukis SBY (Susilo Bambang Yudhoyono, mantan presiden RI) dalam acara yang diselenggarakan koran Kompas.
Sikap mutungnya Guruh kepada Orde Baru terus berlanjut. Pada tahun 1996 Yayasan Seni Rupa Indonesia yang dipimpin oleh Titiek Soeharto mengajak Guruh untuk berpartisipasi dalam Pagelaran dan Lelang Karya Para Pelukis Ternama. Guruh menolak dengan halus. “Sebagai pelukis, saya belum terkenal,” katanya. Meski ia menyadari benar bahwa ajakan itu merupakan bagian dari upaya baik, yakni rekonsiliasi politik Sukarno-Soeharto.

Guruh dalam gendongan ayahandanya, Sukarno, yang didampingi ibundanya, Fatmawati. (Foto: Dokumen)
Guruh memilih hidup tenang sebagai kreator. Sebagai seniman ia memilih tidak ribet dengan berbagai urusan. Ia ingin hidup panjang sehingga bisa menjaga kebudayaan, mengembangkan kebudayaan, dan ingin senantiasa berkesenian. Tentu sambil terus menunggu, kapan tiga lukisan koleksinya yang hilang itu kembali ke pangkuan.
Ujung kalam, sampai akhir hayatnya Guruh tidak pernah sekalipun melihat bayangan tiga lukisan koleksinya itu berkelindan. Ah, sudahlah Mas Ruh. Selamat jalan.***
————-
(Catatan: Bersamaan dengan kedatangan kuasa hukum Guruh, datang juga utusan dari keluarga Ida Bagus Made Poleng atau Gus Made. Keluarga ini meyakini bahwa lukisan Gus Made yang ada dalam forum lelang itu adalah satu dari 14 ciptaan Gus Made yang dicuri begundal di Ubud, Bali, pada 1986. Utusan tersebut menuntut agar karya itu dikembalikan ke keluarga Gus Made. Christie’s yang tak tahu menahu soal pencurian itu, dan tak menerima surat bukti kehilangan, tentu menolak permintaan keluarga. Lukisan berjudul “Kehidupan di Bali” tersebut terbuat dari tinta hitam di kanvas 128 x 170 cm, dan diestimasi S$ 20.000 – 30.000,-)
Agus Dermawan T. , Kritikus, penulis buku budaya dan seni. Konsultan satu biro lelang internasional sejak 1993 sampai sekarang.




