Mempertimbangkan Drama wayang
Oleh: Punawan Andra*
Tradisi yang Terus Bergerak
Belakangan ini, dalam dunia seni pertunjukan kita, kerap dibicarakan istilah drayang. Istilah ini merujuk pada drama wayang, sebuah bentuk pertunjukan yang mempertemukan wayang dengan drama, tari, musik, tata visual, dan berbagai perangkat panggung. Swargaloka (Jakarta), adalah kelompok seni yang kerap memunculkan istilah ini dalam karya-karyanya. Oleh mereka, istilah ini juga telah diajukan dan mendapat sertifikat hak cipta intelektual dari Kementerian Hukum RI per 1 September 2026.

Pentas drama wayang (drayang) “Kijang Kencana”. Koleksi foto: @tommykurn/Swargaloka
Fenomena semacam ini barangkali memang bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Seni pertunjukan Indonesia sejak lama bergerak melalui perjumpaan artistik. Tari tradisi masuk ke panggung kontemporer, wayang dipadatkan untuk penonton kota, musik tradisi bertemu elektronik, sementara teater berbaur dengan seni rupa, video dan teknologi digital.
Selama ini kita menyebutnya sebagai kreativitas. Namun ada pertanyaan yang barangkali lebih penting darinya, yaitu ketika tradisi berubah, apa sebenarnya yang berubah?
Peristiwa
Pertanyaan ini perlu diajukan karena tradisi bukan sekadar bentuk yang terlihat. Di dalam tari, misalnya, terdapat pengetahuan tentang tubuh, tenaga, ruang dan waktu. Di dalam wayang terdapat cara membangun tokoh, konflik dan hubungan manusia dengan dunia. Musik tradisi juga tidak hanya terdiri atas bunyi, tetapi juga memiliki cara sendiri dalam mengatur rasa, tempo dan hubungan antarbunyi. Maka, ketika bentuk-bentuk tersebut dipindahkan ke panggung baru, yang berpindah seharusnya bukan hanya kulitnya.
Di sinilah seni pertunjukan menarik untuk dibaca sebagai sebuah peristiwa, bukan semata-mata sebagai karya yang sudah selesai. Yang berlangsung di atas panggung bukan hanya cerita atau koreografi, melainkan pertemuan antara tubuh, ruang, waktu, bunyi dan penonton.
Karena itu, terhadap sebuah pertunjukan seperti drayang, pertanyaan yang menarik bukan hanya, “apa saja yang dicampurkan?”, tapi pertanyaan yang lebih penting adalah “apa yang terjadi setelah semuanya dicampurkan?”
Misalnya pada tubuh pemain. Ketika tubuh yang membawa pengetahuan wayang bertemu dengan tuntutan akting drama, apakah terjadi perubahan pada cara tubuh bergerak, berbicara dan berhubungan dengan ruang? Ataukah tubuh hanya menjadi alat baru untuk menyampaikan cerita lama?
Perbedaannya tampak kecil, tetapi sebenarnya mendasar. Diana Taylor, melalui gagasan archive dan repertoire, mengingatkan bahwa pengetahuan budaya tidak hanya disimpan dalam buku, benda atau arsip. Ia juga diwariskan melalui tubuh, gerak, suara dan tindakan yang terus dilakukan.
Dengan demikian, pertunjukan bukan sekadar tempat untuk menampilkan kebudayaan. Ia juga menjadi salah satu cara kebudayaan mengingat dan mewariskan dirinya. Karena itu, perubahan bentuk dapat sekaligus menjadi perubahan cara pengetahuan diwariskan.

Pentas drama wayang (drayang) “Kijang Kencana”. Koleksi foto: @tommykurn/Swargaloka
Hal yang sama berlaku pada musik. Gamelan dapat dipertemukan dengan musik elektronik atau sistem bunyi lain. Tidak ada alasan artistik untuk menganggap pertemuan itu terlarang. Tapi persoalannya bukan boleh atau tidak boleh. Pertanyaannya adalah apakah pertemuan tersebut menghasilkan hubungan musikal yang baru atau gamelan hanya ditempatkan sebagai tanda bahwa pertunjukan itu berasal dari tradisi?
Begitu pula dengan teknologi panggung. Layar digital, tata cahaya, video dan perangkat multimedia dapat memperluas kemungkinan pertunjukan. Tetapi teknologi baru berarti secara artistik apabila ia mengubah cara cerita, tubuh atau ruang dialami penonton. Jika hanya menjadi latar yang memperindah panggung, perubahan yang terjadi mungkin baru sebatas penampilan.
Pertemuan dan Dialog
Di sinilah kita perlu membedakan pertemuan dan dialog. Pertemuan membuat beberapa unsur hadir bersamaan. Dialog membuat masing-masing unsur saling memengaruhi. Tari tidak sekadar menjadi pengisi adegan, musik tidak hanya menjadi pengiring, wayang tidak sekadar menjadi penanda tradisi, dan teknologi tidak berhenti sebagai hiasan. Ketika semua unsur itu saling mengubah fungsi dan hubungan, barulah kemungkinan bentuk baru mulai terbuka.
Contoh sederhana dapat ditemukan pada Wayang Climen di Yogyakarta. Penelitian yang terbit pada 2024 menunjukkan bagaimana format pertunjukan wayang diubah agar lebih sesuai dengan kondisi penonton urban – durasinya dipadatkan, kebutuhan ruang dikurangi dan fokus ceritanya dipersempit. Yang menarik bukan sekadar bahwa wayang dibuat lebih singkat.
Perubahan durasi berarti mengubah hubungan penonton dengan cerita. Perubahan ruang mengubah jarak antara dalang, wayang dan penonton. Pemadatan cerita juga mengubah cara pengetahuan disampaikan. Artinya, perubahan bentuk diikuti perubahan pada peristiwa pertunjukan. Di sinilah perubahan menjadi lebih berarti daripada sekadar pembaruan tampilan.
Hal serupa dapat dilihat dalam karya-karya karya Papermoon Puppet Theatre Yogyakarta, sebut saja salah satunya adalah Saidja: Once Upon a Time in the East (2015), karya kolaboratif bersama kelompok teater-musik Het Volksoperahuis dari Belanda. Pertunjukan tersebut mempertemukan teater, boneka, cerita, tari dan musik untuk membawa persoalan sejarah serta ingatan masa kolonial. Penelitian tentang karya itu menunjukkan bagaimana tubuh aktor ikut membentuk ruang tempat berbagai peristiwa berlangsung.
Ruang dalam pertunjukan itu bukan sekadar latar. Tubuh menciptakan ruang, dan ruang kemudian membentuk pengalaman penonton. Di sini terlihat bahwa sebuah medium baru menjadi penting ketika ia mengubah cara pertunjukan bekerja.

Pementasan Saidja: Once Upon a Time in the East Papermoon Puppet Theatre Yogyakarta. Sumber foto: papermoonpuppet.com
Dalam perkembangan tari kontemporer Indonesia, persoalan tersebut juga berlangsung cukup panjang. Indonesian Dance Festival, yang dirintis sejak 1992, sejak awal menjadi ruang bagi koreografer untuk menampilkan karya, berdiskusi, bereksperimen dan berhubungan dengan seniman dari berbagai negara.
Yang menarik dari perjalanan itu bukan sekadar pertemuan tari Indonesia dengan tari dunia. Ada perubahan cara memandang tubuh dan koreografi. Tubuh penari tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk menguasai teknik gerak, tetapi juga sebagai tempat pengalaman, ingatan, identitas dan persoalan sosial. Dengan cara pandang semacam itu, tari tradisi tidak harus dipertahankan dalam bentuk yang persis sama untuk tetap membawa pengetahuan tradisinya.

Pementasan Bisik Tiga Bumi di Indonesian Dance Festival 2024. Sumber foto: Indonesian Dance Festival 2024
Di sinilah persoalan “keaslian” menjadi rumit. Kita sering membayangkan hanya ada dua pilihan yaitu mempertahankan tradisi atau memperbaruinya. Padahal, tradisi yang dibekukan dapat kehilangan hubungan dengan kehidupan, sementara tradisi yang terus-menerus diubah juga bisa kehilangan pengetahuan yang membuatnya berarti.
Tidak semua yang lama harus dipertahankan. Tetapi tidak semua yang baru berarti pembaruan. Mungkin karena itu ukuran yang lebih berguna bukan lagi “asli” atau “baru”, tapi apa yang masih bekerja.
Apakah pengetahuan tubuhnya masih bekerja? Apakah cara musiknya membangun rasa masih bekerja? Apakah hubungan antara pemain dan penonton berubah? Apakah cerita lama memperoleh kemungkinan pembacaan baru? Apakah teknologi mengubah pengalaman pertunjukan atau hanya mengubah wajah panggung? Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita kembali kepada drayang dan berbagai bentuk percampuran seni yang kini semakin sering muncul.
Cara Berbicara
Yang penting bukan sekadar berapa banyak unsur yang dapat dikumpulkan dalam satu panggung. Yang lebih penting adalah apakah pertemuan itu mengubah cara pertunjukan berbicara kepada penonton.
Sebab tradisi tidak hidup hanya karena bentuknya masih terlihat. Tradisi hidup ketika pengetahuan yang dikandungnya masih dapat bekerja dalam kehidupan yang berubah.
Maka tradisi tidak perlu diam agar tetap menjadi tradisi. Ia boleh bergerak, berpindah ruang, berubah bentuk, bahkan berjumpa dengan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dikenalnya.
Tetapi setiap perubahan membawa tanggung jawab yaitu memastikan bahwa yang bergerak bukan hanya bentuknya, melainkan juga pengetahuan yang membuat bentuk itu pernah berarti.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah wayang masih menjadi wayang, tari masih menjadi tari, atau tradisi masih tampak seperti masa lalu. Persoalannya adalah apakah semua itu masih mampu membuat kita mengalami sesuatu dengan cara yang berbeda.
Sebab mengubah bentuk relatif mudah. Yang jauh lebih sulit adalah membuat tradisi kembali berbicara kepada tubuh dan kehidupan hari ini.
*Purnawan Andra, alumnus Jurusan Tari ISI Surakarta, pegiat Diskusi Kajian Kebudayaan (Dikbud) “Tangga Kebon” Jakarta, Pamong Budaya pada Kementerian Kebudayaan.




