FX Harsono, Nanik Mirna, dan Gerakan Seni Rupa Baru
Oleh: Benny Ibrahim*
Kunjungan FX Harsono ke Malang
Pada 25 Juli 2026, FX Harsono memberikan workshop bertajuk “Penciptaan Berbasis Riset” dalam rangkaian MTN Asahbakat di Mini Art Malang, yang berlangsung di Malang Creative Center pukul satu siang. Sebelum acara tersebut, pada pagi harinya, ia menyempatkan diri singgah ke rumah Nanik Mirna di Jalan Diponegoro 3, Klojen, Kota Malang — rumah yang kini menjadi Rumah Budaya Ratna (RBR).


Kunjungan dilanjutkan dengan berziarah ke makam Nanik Mirna di pemakaman Samaan, Kota Malang, lalu mampir ke rumah Bambang AW dan Dialectic Gallery di Jalan Sumbing 11, Kota Malang. Sepanjang kunjungan ke Rumah Budaya Ratna, pemakaman Samaan, dan Dialectic Gallery-nya Bambang AW, saya menemani FX Harsono.


Profil FX Harsono
FX Harsono, lahir pada 1948, adalah sosok penting dalam perkembangan seni kontemporer Indonesia, dengan bahasa artistik yang terus berkembang menanggapi konteks sosial dan budaya yang berubah. Perjalanan akademisnya dimulai di STSRI “ASRI” Yogyakarta pada 1969–1974, sebelum melanjutkan studi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada 1987–1991.
Atas kontribusinya dalam dunia seni rupa, Harsono menerima sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Prince Claus Award 2014 dari Prince Claus Fund, Belanda, serta Joseph Balestier Award for the Freedom of Art 2015 dari Kedutaan Besar Amerika Serikat bekerja sama dengan Art Stage Singapore.
Pada 2004, FX Harsono menggelar pameran tunggal bertajuk “Mediamor(e)phosa” di Puri Art Gallery, Malang. Pameran ini dibuka oleh Ratna Indraswari Ibrahim, sastrawan yang juga kakak kandung Nanik Mirna.
Nanik Mirna dan Gerakan Seni Rupa Baru
Nanik Mirna adalah salah satu tokoh perempuan dalam Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRB), gerakan seni rupa yang muncul pada Agustus 1975 sebagai bentuk pemberontakan generasi muda seniman terhadap kemapanan seni rupa modern Indonesia saat itu. Ia berasal dari Malang dan merupakan adik kandung sastrawan Ratna Indraswari Ibrahim (1949–2011).
Nanik menempuh pendidikan seni rupa di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta, tempat ia bergabung dengan sejumlah mahasiswa dan aktivis muda lain — di antaranya FX Harsono, Jim Supangkat, Hardi, Siti Adiyati, dan Bachtiar Zainoel — yang bersama-sama menggagas dan mendukung GSRB. Karyanya turut ditampilkan dalam pameran perdana GSRB pada 2–7 Agustus 1975 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yang dianggap sebagai salah satu titik awal seni rupa kontemporer Indonesia.
Sebelum GSRB resmi terbentuk, Nanik Mirna bersama Siti Adiyati, Bonyong Munni Ardhi, Hardi, dan FX Harsono mendirikan Kelompok Lima Pelukis Muda Yogyakarta (KLPMY) pada 1972. Kelompok ini menjadi cikal bakal penting karena aktif menggelar pameran alternatif — di Solo, Surabaya, Malang, dan Jakarta — yang mulai memicu perdebatan estetika di kalangan akademisi seni rupa.

Jejak Tur Pameran KLPMY dan Rumah di Diponegoro 3
Tur pameran keliling KLPMY dimulai dari Solo (1972), berlanjut ke Surabaya di Lembaga Indonesia Amerika, lalu singgah di Gedung Sarinah Malang (1973), sebelum akhirnya kelompok ini menggelar pameran puncaknya di Balai Budaya Jakarta pada 1974. Jejak pameran di Malang menjadi salah satu momen penting yang mematangkan visi konseptual mereka, sebelum akhirnya mencetuskan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia pada 1975.
Selama persiapan hingga berlangsungnya pameran di Gedung Sarinah Malang pada 1973, Siti Adiyati, Bonyong Munni Ardhi, Hardi, dan FX Harsono menginap di rumah Nanik Mirna di Jalan Diponegoro 3, Malang — rumah yang kini menjadi Rumah Budaya Ratna. Dalam sebuah kesempatan di Malang, saya bertemu dengan salah satu panitia pameran KLPMY di Gedung Sarinah Malang tahun 1973, yakni Anthony Wibowo (Paman Bowo), perupa dan penggagas Komunitas Warta 12 di Malang.

Karier dan Akhir Hayat Nanik Mirna
Setelah lulus dari ASRI Yogyakarta, Nanik Mirna sempat berkarier sebagai wartawan: Redaktur Pelaksana Majalah Femina, Redaktur Pelaksana Majalah Kartini, Pemimpin Redaksi majalah remaja NONA, dan Pemimpin Redaksi Majalah Panasea. Ia juga pernah menjabat Ketua Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Kabupaten Gianyar, Bali. Pada 1977, ia meraih penghargaan internasional Wendy Sorensen Memorial Award di New York.
Nanik Mirna kemudian menikah dengan Anak Agung Gede Agung Bharata, SH bangsawan Bali yang menjabat Bupati Gianyar (2003–2008) dan (2014-2019). Ia tutup usia pada 5 September 2010 dalam usia 58 tahun, setelah terseret ombak saat menyeberangi muara Pantai Sedayu, Klungkung, Bali, bersama suaminya yang selamat. Jenazahnya dimakamkan di Samaan, Kota Malang, kota kelahirannya.
Tentang Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRB)
Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRB) lahir dari keinginan untuk bereksperimen secara lebih bebas, tanpa terikat pakem-pakem baku yang berlaku saat itu. Gerakan ini muncul pada Agustus 1975, delapan bulan setelah peristiwa Desember Hitam — protes sejumlah seniman muda terhadap dominasi seni lukis dekoratif dalam Pameran Besar Seni Lukis Indonesia I tahun 1974.
Hampir seluruh pendukung GSRB adalah mahasiswa dan aktivis muda dari Yogyakarta dan Bandung, di antaranya Jim Supangkat, FX Harsono, Hardi, Siti Adiyati, Nanik Mirna, Bachtiar Zainoel, Anyool Subroto, Pandu Sudewo, B. Munni Ardhi, Ris Purnomo, dan Muryotohartoyo. Mereka menentang monopoli seni rupa oleh generasi seniman senior — sekaligus dosen mereka sendiri — yang dianggap terlalu mengekang kemunculan bentuk-bentuk baru dalam berkesenian.
Gagasan gerakan ini diwujudkan lewat pameran perdana bertajuk “Pasaraya Dunia Fantasi” pada 2–7 Agustus 1975 di ruang pameran Jakarta Biennale, Taman Ismail Marzuki. Pameran ini menghadirkan ragam bentuk karya yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia, mulai dari instalasi hingga karya-karya lintas media. Meski awalnya dicemooh oleh sejumlah kritikus, pengaruhnya terhadap seniman muda dan mahasiswa seni rupa generasi berikutnya terbukti bertahan lama.
GSRB sempat vakum pada 1979, namun idealismenya dihidupkan kembali lewat Manifesto Seni Rupa Baru 1987, dengan bergabungnya pendukung-pendukung baru yang sebagian berlatar belakang pendidikan STSRI “ASRI”, seperti Dadang Christanto dan Wienardi. Secara historis, GSRB dipandang sebagai salah satu tonggak penting lahirnya seni rupa kontemporer Indonesia — menandai pergeseran besar dari seni rupa modern yang mapan menuju eksplorasi konsep dan medium yang jauh lebih terbuka.
Dari penelusuran yang saya lakukan, karya Nanik Mirna saat ini tersimpan di Yat Hidayat Galeri (Bandung), Nasirun Gallery (Jogja) dan Rumah Budaya Ratna.
*Benny Ibrahim adalah putra bungsu dari sepuluh putra-putri Saleh Ibrahim dan Siti Bidahsari Ibrahim. Ia pernah bekerja sebagai fotografer di berbagai media di Jakarta dan merupakan alumnus LPKJ/IKJ jurusan Sinematografi. Kini ia menjabat sebagai Pimpinan Rumah Budaya Ratna di Malang. Akun media sosialnya: @bennyibrahim32.




