Zaini, Manusia, Lukisan, dan Kabut

 Oleh: Agus Dermawan T.*

Tahun 2026 terbilang sebagai 100 tahun Zaini. Seabad seniman besar ini diperingati lewat pameran kecil dan singkat, “Menyibak Kabut, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 20 Juni sampai 11 Juli 2026.

 Pada 1985 saya diminta oleh Jakob Oetama, Pemimpin Umum/Redaksi Kompas, untuk menulis artikel panjang tentang Zaini. Tulisan diterbitkan dalam katalog “Pameran Lukisan Mengenang Zaini”, untuk memperingati hari jadi ke-20 Harian Pagi Kompas. Pameran diselenggarakan di Gramedia Art Gallery, Jalan Paletehan, Jakarta Selatan, 28 Juni sampai 11 Juli 1985.

 Tulisan di bawah ini adalah petikan pendek dari tulisan panjang 41 tahun silam itu – yang belum pernah dipublikasi di majalah dan koran. Tetap dengan hasrat memperingati 100 tahun Zaini.

 ————

“ZAINI meninggal. Negeri ini tak akan berkabung untuk seorang pelukis yang mati. Dulu Cokot di desa terpencil di Bali pun meninggal tanpa orang banyak tahu apakah itu berarti suatu kehilangan…. Di zaman tatkala seniman jadi buah bibir karena menggebrak, Zaini, ada atau tidak ada, orang tak begitu acuh.”

Zaini wafat. Apa yang dituliskan Goenawan Mohamad di Catatan Pinggir majalah TEMPO no.31, tahun VIII, 1 Oktober 1977 tersebut sungguh jauh dari keliru.

Ketika pelukis Zaini meninggal, tak terdengar kabar ada air mata yang deras menetes dari pelupuk bangsa. Tidak seperti misalnya ketika seorang Bing Slamet atau Marlia Hardi atau Tan Tjeng Bok diturunkan pelan-pelan ke liang kubur.

Pelukis Zaini (1926-1977). (Foto: Dokumen)

Tapi benarkah jumlah air mata itu bisa untuk menimbang: apakah kehadiran dan kepergian seorang Zaini mempunyai arti atau tidak? Air mata bisa jadi sesuatu yang ditafsirkan keliru. Karena kenyataannya, dengan kepergian Zaini, dunia seni rupa Indonesia serta merta kehilangan sesuatu yang semula tidak disadari keberadaannya.

Banyak orang tak tahu betapa Zaini telah mempersembahkan sejumlah kontribusi senyap dalam dunia seni lukis di negeri ini. Magnum beneficium tacite, atau “jasa besar yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi”, kata satu frasa. Bukan hanya dalam gaya lukisan samar-berkabutnya yang “tidak ada duanya” di Indonesia, bahkan juga dunia. Namun juga sejumlah aktivitasnya sebagai manusia yang “gemar” menanamkan jasa kepada orang lain. Lewat upaya tak kunjung lelah dalam organisasi kesenian, yang selalu condong kepada pembinaan. Kita pun mencatat. Selain melukis, Zaini adalah seorang organisator ulet dan seorang pengajar yang mempunyai dedikasi tinggi.

Zaini mulai jadi pelatih seni lukis sejak tahun 1956, yakni ketika aktif di BMKN (Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional). Di sini Zaini berkiprah selama empat tahun. Ketika lepas dari BMKN, Zaini tak berhenti memberikan stimulasi penciptaan karya kepada para seniman yang lebih muda lewat berbagai forum di berbagai tempat.

Bersamaan dengan itu ia berusaha hadir eksistensial di tengah seni rupa nasional dan internasional. Seperti pamerannya di Lubiana, Slovenia pada 1963, di Tokyo pada 1964 dan 1966, serta pameran di banyak kesempatan di Indonesia. Pameran-pameran yang ia anggap semata untuk banaangkan sumangaik. Atau untuk memberi contoh soal semangat kepada anak-anak muda. “Sanang hati, bangkik marawa…,” katanya. Pada 1966 ia bersama PK Oyong, Mochtar Lubis dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang menyandang missi mengembangkan kebudayaan dan kesenian Indonesia. Sampai akhirnya pada 1968 ia ditunjuk sebagai pengurus DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), dan pada 1971 dipercaya jadi ketua Dewan Pekerja Harian DKJ.

Pameran 100 Tahun Zaini di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 2026. (Foto : Agus Dermawan T)

Di tengah kegiatan melukis, mengurus organisasi dan lembaga, ia kembali jadi pengajar seni rupa. Tahun 1970 Zaini secara resmi diangkat sebagai dosen di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (sekarang Institut Kesenian Jakarta) pada jurusan seni rupa. Kerja yang dengan bahagia dipilihnya, meski untuk itu Zaini harus banyak meluangkan waktu pribadi dan keluarganya. “Indak tahahan den kalau indak mangaja,” ujarnya. Maknanya, hatinya kusut apabila dirinya tidak mengajarkan sesuatu kepada orang lain.

Hidup yang tak terlihat

Zaini secara diam-diam hidup dan bergerak di tengah-tengah kita. Meski banyak orang tak sadar akan kehidupan dan pergerakannya ini. Maka, sebagaimana yang disuratkan secara persis oleh Catatan Pinggir TEMPO, jejak-jejak kaki Zaini tidak terlihat, sehingga menyebabkan masyarakat tak punya celah untuk mengucapkan proficiat.

Zaini memang bukan sosok yang gemar berhura-hura hingga namanya lantas menempel bagai poster provokasi di tengah keramaian. Ia seperti tak ingin nama serta segala ulah-lakunya diperbincangkan.

Karena itu tak heran apabila ketika pada Festival Seni Lukis Remaja Jakarta tahun 1977, yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, Zaini justru tak dikenal. Ketika ia menyalami salah seorang pemenang dalam pesta kompetitif tersebut, sang juara bengong dan bertanya kepada saya,  siapakah dia. Zaini dikira ayah dari salah seorang pemenang lain. Padahal Zaini adalah penggagas pesta seni lukis remaja itu. Dan Zaini pula yang bekerja serius untuk kesuksesan semua itu.

 Zaini sangat sadar bahwa si remaja tidak mengenalnya sama sekali. Dan ia memang tak terlalu ingin remaja itu lalu mengenali. Seperti halnya ketika ia tak mau tahu apakah orang tahu bahwa sesungguhnya pesta seni lukis remaja itu hadir karena upayanya.

“Zaini itu pandai mengempiskan balon ego,” komentar pelukis Nashar, rekannya. Kehidupannya yang sengaja menyingkir dari riuh-rendah serta ribuan lukisannya yang dingin meditatif, serta merta menjadi kekhasan dirinya. Menjadi tanda-tanda tentang pribadinya.

Itu sebabnya pada momentum ia menerima Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia tahun 1972, tak ada berita yang mengangkat pelukis ini ke posisi yang membuatnya jadi populer. Padahal hadiah yang diberikan oleh Departemen Pendididikan Pengajaran dan Kebudayaan itu adalah pengangkatan yang tak alang-kepalang tingginya. Zaini kala itu dianggap sebagai Pelukis Kontemporer Indonesia yang membuahkan prestasi dan pikiran seni luar biasa.

Lukisan Zaini, “Kambing dan Halimun”. (Foto: Agus Dermawan T)

 

Lukisan Zaini, “Istana dalam Kabut”. (Foto: Agus Dermawan T)

Begitu pula ketika Akademi Jakarta menganugerahkan Hadiah Akademi kepadanya pada Oktober 1977, beberapa waktu setelah Zaini wafat. Tak ada suatu kegemparan yang membuat publik umum tahu. Ini berbeda dengan yang terjadi pada penerimaan hadiah yang sama kepada penyair dan dramawan “burung merak” WS Rendra, beberapa tahun sebelumnya. Penerimaan Hadiah Akademi kepada Zaini dihayati masyarakat sebagai hal yang biasa-biasa saja. Itu pun seandainya masyarakat tahu peristiwanya.

Besar di dalam tanah

Kebesaran Zaini memang tidak terlihat di permukaan bumi. Tetapi tersembunyi di dalam tanah. Di bawah dataran yang ia bor dengan jauh ke dasar secara diam-diam. Di sana sesungguhnya siapa pun yang ingin mendalami pribadi dan kehidupan seni lukisnya akan menemukan ruang yang besar dan penuh isi. Karena di situ akan tertatap ihwal 2.000 seni rupa yang ia ciptakan, sejumlah pameran nasional atau internasional yang ia ikuti, sekarung jasa organisasi yang ia limpahkan, dan sederet gagasan pengembangan seni rupa yang ia tawarkan.

Zaini adalah seniman besar, meski lukisannya umumnya kecil-kecil ukurannya.

Pada 1966 ia menulis di Horison, majalah sastra yang ia olah. Dalam tulisan itu Zaini mengharap berdirinya Museum Seni Rupa Nasional yang sanggup menyimpan dan mengabadikan karya-karya seni rupa Indonesia dari masa ke masa. Petikan tulisan itu begini :

“Jika keadaan keuangan negara kita mengijinkan, selayaknya kita mengarahkan perhatian guna mendirikan sebuah Museum Seni Rupa Nasional, di mana terkumpul karya-karya seni yang terbaik, kekayaan nasional kita. Museum masa kini sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, sebagaimana juga taman bacaan, gedung teater dan lain sebagainya.

Museum dapat pula memberikan kita pengenalan segi-segi hidup yang telah diungkapkan oleh para seniman. Ini akan menambah/memperdalam rasa keindahan/artistik, membuat kaya kerohanian kita”.

Gagasan atau imbauan Zaini itu baru terealisasi pada jauh hari setelahnya. Tahun 1974, Balai Seni Rupa Fatahillah Jakarta berdiri. Sejumlah lukisan penting karya bangsa indonesia tersimpan. Walaupun belum terlampau banyak, dan belum komplit mewakili.

Lukisan Zaini, “Yang Samar dalam Cahaya”. (Foto: Agus Dermawan T)

Beberapa bulan sebelum meninggal, Zaini selintas mengatakan dengan nada menyesali, bahwa museum seni rupa tidak boleh senyap, sebagaimana yang dialami oleh Balai Seni Rupa Fatahillah Jakarta itu. Karenanya, gagasan meramaikan museum musti segera diwujudkan. Atas hal ini ia sudah merancang ide-idenya. Tapi sayang, belum sampai ia melakukan, Tuhan telah memanggil.

Pelukis yang belajar kepada Basoeki Abdullah di Keimin Bunka Sidhoso pada 1943-1945 ini wafat pada 25 September 1977, dalam usia 51 tahun. Seperti biasanya, pada pasca subuh ia joging di kompleknya, di satu wilayah di Jakarta. Pada beberapa belas menit kemudian datang becak ke rumahnya, dengan membawa jenazah Zaini. Pelukis dan budayawan ini terkena serangan jantung di tengah jalan. Tukang becak tahu alamat Zaini dari Kartu Tanda Penduduk yang ada di kantung mendiang.

“Hidup itu misteri. Apa yang kita lihat jelas itu sesungguhnya misteri. Begitu juga soal sampai kapan kita hidup, dan sampai kapan kita mati. Karena itulah saya melukis semua yang terlihat di dunia ini bagai dalam balutan halimun, dalam kesamaran yang menyimpan rahasia,” kata Zaini, menjelaskan jajaran lukisannya. Lukisan-lukisan Zaini memang selalu menggambarkan mata dan rasa manusia yang melihat isi semesta dari balik kabut.

Akhirnya yang tidak boleh dilupa: Zaini lahir di Kampung Simpang Kuraitaji, Kabupaten Pariaman, Sumatera Barat, pada 17 Maret 1926. *

*Agus Dermawan T.Kritikus, penulis buku budaya dan seni. Beberapa kali bercakap dengan Zaini.