Seni Mengganggu Jakarta: Catatan Jakarta International Performing Arts (JIPAF) 2026[1]

Oleh: Hikmat Darmawan*

 

Bagian Pertama dari Dua Tulisan

Pengalaman penting dalam festival ini buat saya adalah merasakan langsung bagaimana sebuah festival seni pertunjukan kontemporer bisa menjadi praksis kongkret membangun pengetahuan bersama warga.

Saya menikmati ketika anak-anak SMP 1 Cikini dan ibu-ibu kampung Kalipasir juga para guru dan pejabat Dinas tertawa-tawa menonton Flying Balloons Puppet Theatre menampilkan karya berjudul Fragments: Arsip yang Berjalan. Atau ketika sekilas mendengar seorang ibu warga Kramat V berkomentar, “secara teknologi sih, jago itu!” seusai penampilan Renick Bell nge-DJ. Tersenyum sendiri melihat para warga kaget dan kuatir melihat eksplorasi tubuh Tony Broer dan Wail di malam terakhir.

Sekadar membuat warga kebanyakan yang tinggal di kampung kota menonton karya-karya seni kontemporer saja sudah sebuah percobaan menarik. Dan, JIPAF berhasil membuat para penonton warga lokal itu terlibat. Lebih berhasil dari beberapa percobaan serupa dalam beberapa peristiwa seni kontemporer di Jakarta selama setidaknya lima tahun terakhir yang saya baca dan saya saksikan. In this economy, bisa meluaskan ragam pilihan hiburan warga kebanyakan adalah sebuah capaian kebudayaan dan sosial yang patut diupayakan terus.

Lebih dari itu, JIPAF adalah sebuah laboratorium yang berhasil mengolah Jakarta sebagai sebuah medan budaya yang dinamis, hidup, dan menggairahkan. “Gairah” adalah keadaan terbukanya semua potensi indrawi (sensual), sebuah aspirasi ketubuhan yang jelas amat penting dalam seni pertunjukan. Pilihan kurasi untuk “menjebloskan” para seniman agar merespon lokasi-lokasi heritage dan jalanan di kawasan Cikini-Kalipasir-Kramat memunculkan rangsang-rangsangkreatif dan pengalaman artistik. Keduanya menjadi produksi pengetahuan bersama di setiap lokasi yang dipilih.

Sebetulnya, tak ada dakuan ini festival seni pertunjukan kontemporer. Tapi sejak awal menggagas festival ini di awal 2025, Yola Yulfianti (direktur festival & kurator) mengungkap pendekatan seni kontemporer yang bersilang dengan gagasan (seni) urban bagi festival ini. Kurator festival adalah Yola dan Akbar Yumni. Saya beruntung mengikuti sedikit proses berpikir Yola, sejak festival ini masih sebuah gagasan mentah pada awal 2025.

Gagasan festival ini adalah kelanjutan dari pemikiran dan praktik Yola tentang seni pertunjukan kontemporer dan ekosistemnya, termasuk soal relasi seni dengan persoalan urban Jakarta masa kini. Yola pernah jadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dua periode di Komite Tari, Akbar sekarang memasuki periode kedua di (DKJ). Keduanya memiliki jejaring kerja dan jejaring gagasan seni kontemporer internasional. Secara khusus, Yola, antara lain, terlatih sebagai seniman (penari dan koreografer) yang mengakar sekaligus selalu membongkar ke-Jakarta-an: apa yang membuat Jakarta adalah Jakarta, dan apa yang membuat orang Jakarta adalah orang Jakarta?

Sebagai seniman, seperti dalam karya-karyanya berjudul Payau, I Think Tonk, Tuti in the City, Ibu Ibu Ibu Kota, dan banyak lagi, Yola terlatih mengolah ruang, gerak tubuh-tubuh, dan benda-benda yang khas dalam kampung-kota, pinggir-pinggir jalan raya padat, pasar tradisional di Jakarta, dan menjadikan itu semua sebagai material (bahan-bahan) penciptaan. Sikap dan metode artistik itu tentu mewarnai gagasan kurasinya di festival ini.

Perhatian Tak Beraturan: Jakarta Banget!

JIPAF mengeksplorasi dan mengeksploitasi perkembangan lanjut dari karya seni yang mengandalkan fokus majemuk, tersebar, dan terserak. Meminjam istilah Claire Bishop (2024)[2], ini watak “relaxed distribution of focus” yang telah mewarnai seni rupa, pertunjukan, dan tari sejak 1960-an. Watak ini dicapai lewat metode penciptaan yang mementingkan durasi dan struktur yang mengalir bebas melalui pengolahan unsur site-specific –metode yang memungkinkan perangkulan kegaduhan, kekacauan, dan keberantakan, sebuah watak “dehirarkisasi komposisional”.

Menurut Bishop, “perkembangan lanjut” itu adalah hadirnya teknologi kamera digital yang kemudian melekat pada ponsel, yang seakan “memaksa” kita untuk selalu menatap/menonton sekaligus mendokumentasikan. Di zaman medsos, hasrat untuk mendokumentasikan itu berarti pula mengunggah dan menayangkan, umumnya dengan segera, seketika, ke segala arah (dalam dunia maya). Bishop mengungkapnya dengan presisi: “Kita secara jasmaniah hadir dalam suatu pertunjukan, sekaligus terjejaring (networked) pada berbagai tempat lain.” (Bishop, 2024).

Dengan demikian, “(M)emandang adalah suatu hibrida, menempati ruang-ruang dan waktu-waktu majemuk secara simultan.” (Bishop, 2024). Saya menautkan kata “memandang”, dalam konteks pengalaman ber-JIPAF, tentu saja dengan “menonton”. Dan situasi menonton secara kacau dan tumpang tindih ini menjadi praktik artistik berbasis situasi “Perhatian Tak Beraturan” atau Disordered Attention (Bishop, 2024).

Situasi Perhatian Tak Beraturan ini sebuah oposisi terhadap Normative Attention (Perhatian Normatif) yang di Eropa tumbuh pada 1870-an, ketika bermunculan arsitektur kota baru yang dirancang-ulang untuk memunculkan metode perhatian yang lebih lurus dan rapi, dan lebih terorganisasi. Berbagai museum dan teater di Eropa saat itu mulai “memperbaiki” kepenontonan dengan menekankan “keterarahan fokus beserta penyesuaian diri pada perilaku kolektif”. Menurut Bishop, Perhatian Normatif bisa disifatkan, dengan mengembangkan teori William James tentang Perhatian, sebagai cara kita memandang karya seni secara terfokus, hadir penuh, punya keterarahan/kelangsungan (directionality).

Sebelum 1870-an di Eropa Barat, panggung pertunjukan dan galeri di salon-salon, adalah ruang kebertumpukan, gaduh, seperti arena dan dinding yang dipenuhi lukisan hingga beratap. Setelah 1870-an, teater jadi prosenium seiring berkembangnya berbagai ritus menonton yang memusat, hening, sebagaimana dinding untuk menampilkan lukisan pun diubah jadi hanya memajang dalam satu dua baris saja. Dan kini, kebertumpukan serta kegaduhan itu kembali merembes dalam penikmatan seni kontemporer.

Pilihan untuk menjadi platform yang mewadahi berbagai karya multifokus dan multipolar, karya-karya site-specific, durasional, interaktif dan merangkul kerumunan serta kegaduhan, berbasis intervensi gerak sehari-hari di ruang kota, dalam JIPAF, tidak terasa dipaksakan atau pretensius. Saya melihat pilihan ini sebagai perpanjangan dari memori tubuh kota para penggagasnya, terutama Yola, sehingga terasa alamiah. Terasa Jakarta Banget!

Jakarta yang gaduh, keras, penuh puing, penuh paradoks, penuh pertukaran dinamis antara gerak dan henti, gaduh dan sunyi, yang datang dan yang hilang, yang acak —random banget!— dan yang teratur, yang kerumun dan yang terpojok, yang terkotak-kotak dan yang terserak tak terpermanai. Jakarta, dengan demikian adalah sebuah metropolis yang siap sangat untuk nyeni kontemporer setiap saat. Atau bahkan, Jakarta adalah sebuah kota raksasa yang sudah nyeni, hanya tinggal ada yang menyadarinya, lalu mengolahnya, atau menikmatinya, sebagai sebuah wahana seni raksasa.

Dalam sambutan pembukaan JIPAF 2026 di SMP 1 Cikini, Yola mengungkap,”Banyak yang bertanya, ‘Yol, kenapa Cikini’? Sekitar dua puluh tahun lalu saya kuliah di IKJ, dan tinggal di kos-kosan di kampung belakang IKJ…” Sampai sekarang, Yola mengajar di Pascasarjana IKJ dan S-1. Yola juga telah bertahun-tahun terlibat dalam riset partisipatif serta riset artistik yang antara lain meneliti Kalipasir dan kawasan Cikini. Dia adalah tipikal “pendatang” sekaligus “akamsi” di Cikini. Latar ini saya angkat, sebagai gambaran bahwa kurasi JIPAF 2026 ini telah melalui proses memori tubuh dan sejarah personal yang tersusun dari sirkulasi dan nongkrong yang panjang.

Dalam beberapa percakapan pribadi yang sporadik setahun kemarin semasa inkubasi gagasan JIPAF, Yola mengungkap beberapa amatannya tentang relasi penciptaan seni alumni IKJ dengan kampung kota tempat mereka tinggal selama kuliah di kampung belakang IKJ. Betapa penari kontemporer lulusan IKJ sesungguhnya bisa dibaca mengandung elemen memori tubuh tinggal di kos dalam gang sempit di Kalipasir. Relasi tubuh dengan ruang-ruang kota yang beragam dan seringkali keras, sangat menonjol dalam buku kumpulan esai/memoar kreatif Yola yang baru terbit awal tahun ini, Disrupsi Tubuh: Distorsi Ruang, Membaca Ulang Jakarta Lewat Tubuh (DKJ, 2026).

Segala memori tubuh sebagai alat penting untuk membaca-ulang kota (Jakarta) itulah salah satu sebab, kehadiran JIPAF 2026 terasa otentik. Pendekatan durasional, site-specific, intervensi ruang, multimedia, partisipatoris, politis, berbasis kearsipan, dalam karya-karya pertunjukan di JIPAF jelas bukan hal baru dalam lanskap seni pertunjukan maupun seni kontemporer secara umum di Jakarta. Tapi JIPAF buat saya terasa segar, dan penting. Barangkali karena saya bukan hanya mengamati karya-karya yang dipentaskan dalam JIPAF. Saya, mau tak mau (tapi jelas dengan gembira), mengamati para penontonnya juga.

Tubuh: Antara Kemutlakan dan Kemungkinan

Beberapa pertunjukan di JIPAF memberi saya yang awam soal seni pertunjukan ini keasikan mendapati peluang-peluang baru ketubuhan. Pikiran saya terpantik beberapa hal tentang peluang ketubuhan saya sendiri. Kehadiran saya menonton dan kadang terpaksa partisipatif tipis dalam pertunjukan-pertunjukan adalah salah satu pantik itu.

Saya merasakan, betapa saya sering merasa tak berdaya terhadap banyak aspek ketubuhan: ada tegangan antara beberapa hal yang absolut pada tubuh saya (misalnya: tulang bisa patah, tubuh bisa sakit, badan tak bisa berada di dua tempat yang sama, dan tubuh akan mati) dan potensi ketubuhan yang berbagai-bagai untuk kenikmatan, olah raga, atau berkesenian. “Tak berdaya” dalam arti (merasa) kadung tak punya disiplin, kebiasaan (habit), dan metode untuk mengolah raga agar sehat atau nyeni (atau keduanya).

Maka, saya cukup tersentak melihat bagaimana Pat Toh dari Singapura meregang tubuhnya secara gymnastik di Tugu Kuntskring Palais pada hari ke-2, 1 Agustus 2026. Pertunjukannya berjudul: Hydraulic State. Tubuh Toh nyaris genderless karena sangat padat, solid, dan bugar pol. Hal itu sungguh mengagumkan buat saya. Betapa dia meregang, merentang, menekuk, melekuk amat intens, dan kemudian mengangkat beban dumbel berisi air. Dalam kuratorial dan pernyataan artistik karya ini, disebut bahwa Toh memang “menjadikan tubuh sebagai medium untuk menelusuri bagaimana manusia dibentuk oleh sistem yang melingkupinya.”

Pilihan bahasa kebugaran tubuh oleh Toh sembari mewahanakan sebuah kritik sosial tentang air dalam pertunjukannya ini cukup berisiko: ketidak-nyambung-an, keterlepasan dan kesan asal tempel antara bagian koreografi tubuh yang intens dengan bagian pidatonya tentang masalah air dunia. Toh berhasil mengelola risiko itu. Walau di tengah pertunjukan Toh mendisrupsi dengan sebuah bagian yang partisipatif dengan penonton sembari berpidato tentang isu air dan manusia, pertunjukan ini masih terasa sebuah “tari” utuh. Struktur koreografiknya dan didaktiknya jelas, dan padu.

Yang menarik perhatian saya pada pertunjukan Toh adalah pada satu bagian, Toh menyertakan elemen gerak dan pose erotik yang intens, tapi efek erotiknya tidak terjadi. Intensitas ketika Toh merobek baju luarnya, lalu melekuk-lekuk tubuhnya, menggoyang-goyang pinggul dalam pose yang lama-lama menyerupai ritme senggama, dan menjulur-julur lidahnya, lebih terasa sebagai intensitas gymnastik. Hal ini berbeda dengan pertunjukan durasional yang diragakan oleh Rifa Annida di hari pertama JIPAF 2026, berjudul Cici Celine.

Rifa menjadi karakter yang ia cipta bersama Patrick Hartono dalam proses sebulan. Saya menjumpai Rifa di sebuah kafe bilangan dekat Pasar Kembang Cikini, menanti jam mulai pertunjukan berjalannya, yakni pk. 19.30 WIB, bersamaan dengan mulainya pertunjukan Teater Pungo berjudul Interstice di teater kolam Tuti Indra Malaon di TIM. Awalnya, pertunjukan ini adalah ide Yola dan Patrick –komposer musik kontemporer digital yang kini mengajar di Vietnam. Yola dan Patrick mitra kreatif lama, keduanya banyak bereksperimentasi karya hibridasi yang memadukan teknologi dan ketubuhan dengan tema-tema urban. Tapi Yola memutuskan dia harus menyerahkan ide itu pada Rifa.

Rifa bilang, karakter Cici Celine mengambil sosok Cici Cici PIK. Aduh, pertama Rifa ngomong begitu, Saya tak mudheng. Saya hidup di gelembung yang beda, dan ini meyakinkan Saya bahwa memang bagus juga Rifa mengambil alih kolaborasi itu dari Yola. Apalagi ketika Rifa mengungkap proses penciptaan lagu pengiring di situs interaktif rancangan Patrick. Judulnya, CCC = Cici Celine Chayank hasil komposisi Rocky Irvano dan di-DJ Mix oleh DJ Gopar. Genre: Hip Dut. Walau saya penggemar dangdut, Saya belum bisa menelan Hip Dut.

Rifa bercerita lebih lanjut, ada proses singkat merekam data tubuh dan gerak Rifa untuk diolah secara digital. Data itu lantas diprogram Patrick untuk menjadi stimulus sensorik yang menjadi animasi hidup mengikuti gerakan Rifa. Kombinasi model Cici Cici PIK dan Hip Dut secara alamiah menghasilkan karakter gerak erotik jalanan Pantura. Pk. 18.45, Saya bertanya: Kamu nggak mau siap-siap dulu, RifaSepanjang rute, Cici Celine bergoyang panas dan merespon apa pun yang ia temui. “Saya, waktu ujicoba kemarin, 40 menit, Mas, baru sampai Tuti,” kata Rifa. Kalau jalan biasa, jarak itu bisa ditempuh 15 menitan. “Sekarang bisa lebih lama?” Rifa membenarkan. Saya pamit, mengejar pertunjukan Intercine. Rifa lebih dulu mengajari saya mengaktivasi situs interaktif pengiring gerak pertunjukannya.

Jika Toh memang berfokus pada pemadatan intensitas di tubuhnya, gerak tubuhnya ditata dengan ketat dalam bahasa latihan kebugaran. Sementara dalam kebanyakan karya lain di festival ini, struktur sering berai dan tubuh dikoreografi dengan penuh pertanyaan: apakah tubuh masih jadi bahan utama dalam koreografi? Bahkan dalam pertunjukan Rifa di atas, yang menonjol bagi para penikmat pertunjukan yang termediasi gawai bukanlah terutama geal geol Rifa/Cici Celine, tapi teknologi digital rancangan Patrick. Walau begitu, perjalanan tubuh Cici Celine menjamah, menggoda, mengganggu hal-hal acak yang ditemui di jalanan dan berujung dengan tarian penuh liuk lekuk para penonton di Teater Kolam TIM adalah sebuah durasional yang sekaligus ganjil dan karib bagi keseharian malam Cikini Raya.

Tentu, dalam sekian waktu perkembangan seni tari, tubuh adalah bahan utama. Kecenderungan para seniman tari, khususnya para koreografer, sekilas, terasa benar pra-anggapan bahwa tubuh adalah segala dalam semesta. Sering, pra-anggapan ini bukan hanya berhenti dalam pertunjukan, tapi dibawa juga ke hidup di luar panggung. Dalam teater, tubuh juga bahan dasar dan musti diolah penuh disiplin. Tapi, terutama teater modern, kata dan karakter sering terasa lebih utama dari tubuh –tubuh adalah substansial dan fungsional, tapi tidak esensial: berfungsi sebagai wahana kata.

Pendekatan Poor Theatre dari Jerzy Grotowsky melintasi demarkasi teater dan tari dalam hal memperlakukan tubuh sebagai bahan utama, esensial, dalam sebuah pertunjukan. Pun kata, bukanlah semata kata, dalam Poor Theatre, tapi sebagai wahana bagi vokal menampilkan diri. Dalam sejarah teater modern/kontemporer yang saya pahami (sekali lagi, saya relatif awam soal ini –dan ini bukan dakuan apologetik bin minder, tapi pemerian posisi epistemologis saya dalam tulisan/amatan ini), Poor Theatre adalah salah satu pencairan paling efektif batasan tari dan teater yang membuat keduanya baur dalam estetika tubuh pada seni pertunjukan kontemporer.

Pencairan batas-batas teater dan tari itu yang saya rasakan dalam menonton pertunjukan berjalan +  durasional + site specific dari Tony Brur & Wail: Body Cartography Practice (Praktik Pemetaan Tubuh). Imaji saya akan pemetaan tubuh lebih bersifat domestik dan intim –mirip adegan sesudah persenggamaan haram antara Al-Másy (Ralph Fiennes) dan Katherine (Kristin Scott Thomas) dalam film The English Patient, ketika mereka mencoba mengklaim bagian-bagian tubuh telanjang itu; atau klinis seperti dalam ilmu kedokteran.

Tony dan Wail mendasarkan pemetaan tubuh pada pertanyaan: tubuh bisa melakukan apa, dan di mana batas kebisaan tubuh itu? Dalam JIPAF 2026, mereka menambah lelaku pemetaan itu dengan intervensi ruang terbuka, sebelum pemanggungan terstruktur di Mess Puskomlekad di Jalan Kramat V pada malam kedua festival. Pertunjukan mereka telah dimulai sebelum memasuki “panggung” gedung tua bercat hijau dan protol, rontok dan banyak puing di sekujur halaman serta bagian belakang. Bukan hanya dimulai saat mereka berjalan ke lima titik di kawasan Cikini.

Tapi juga saat mereka tiba di lokasi, membawa kasur bekas, saat In Flux: No Land for Mothers, kolaborasi Opera Aperta (dari Kyiv, Ukraina) dan Studio Klampisan (Banyuwangi). Ini adalah persoalan bentuk yang menarik, nanti saya ulas lebih lanjut. Yang saya hendak catat di sini, bentuk yang mempermainkan lokasi serta benda-benda temuan di jalanan adalah metode pemetaan tubuh yang bersifat eksternal: merespon yang di luar tubuh, melihat bagaimana tubuh bisa dibentuk(-paksa) dalam respon-respon tersebut.

Unsur teatrikal yang sudah maksimalis itu ditambahi lagi dengan kostum Tony dan Wail, yakni three pieces lengkap dengan topeng (mirip tokoh “Sahabat” dalam komik 20th Century Boys), yang jelas meregulasi postur dan gestur mereka. Dalam dekapan urban heat ganas di seantero Jakarta hari itu, laku memakai three pieces dan topeng demikian hingga pertunjukan berakhir di malam hari adalah sebuah pembebanan tubuh yang mengagumkan.

Saya hanya melihat video medsos mereka saat pertunjukan berjalan kaki di siang hari –pertunjukan bergerak dengan penonton (kebanyakan tak sengaja) yang bergerak juga. Saya menonton pertunjukan mereka di Mess dengan penonton yang menatap mereka “manggung” bersama warga. Respon tubuh kedua aktor terhadap bangunan tiga lantai yang tampak rapuh dan menanti runtuh memancing keterlibatan emosional para penonton, khususnya deretan ibu-ibu yang duduk di bangku plastik. Ketika salah satu penampil berakrobat di jendela berteralis besi di lantai 3, beberapa buibu girang berkomentar, Wah, Spiderman!

Sore hari ke-3, pengalaman menonton lain lagi: performance durasional Irwan Ahmett yang merentang dari salah satu pulau tenggelam Kepulauan Seribu, Kampung Akuarium, menyusuri jalan di samping Sungai Ciliwung, lalu masuk ke Taman Ismail Marzuki dan bermuara di Teater Wahyu Sihombing memanjangkan rentang intervensi (gangguan) artistik festival ini terhadap Jakarta. Walau hanya seharian, dan sebagian besar Jakarta tak menyadari gangguan artistik tersebut itu ada, hadir, di hari itu, di rute sepanjang 14 Kilometer itu.

Saya membayangkan mobil dan motor lalu lalang, orang-orang menjalani hidup sehari-hari Jakarta, yang kebetulan berpapasan di lintasan pertunjukan berjalan itu akan sejenak merasa aneh dengan rombongan pejalan berbaju hijau itu. Ada yang ingin tahu, lalu angkat bahu. Ada yang ngedumel. Ada yang lewat-lewat saja. Tapi, bahwa pertunjukan jalan kaki itu ada, untuk sejenak, bagi penonton-penonton spontan di sepanjang rute, adalah sebuah disrupsi lunak yang menarik.

Karya ini adalah bagian dari proyek artistiknya, Intertidal, bersama Tita Salina dan melibatkan banyak orang, tak melulu seniman, yang telah berproses beberapa bulan. Untuk JIPAF 2026, Intertidal menampilkan pertunjukan berjalan-kaki (Walking Performance) dari Pulau Tenggelam sebagai titik awal di subuh hari, hingga titik akhir di Teater Wahyu Sihombing, TIM (Taman Ismail Marzuki). Pertunjukan berjalan itu bertajuk: Serpihan Tubuh Pulau yang Tenggelam.  Rombongan menjalani pertunjukan ini selayak ritus kehilangan. Mereka mengambil pasir dan artefak berupa benda-benda acak, sebetulnya sampah-sampah, dari sebuah pulau yang sedang tenggelam. Siapa yang memikirkan pulau tenggelam itu? Kita diajak Ahmett untuk turut memikirkan kehilangan yang sedang berjalan perlahan dan terasa absolut itu.

Suasana ritus kehilangan itu terasa murung. Setidaknya, itu kesan saya saat menunggu di pinggir Kali Ciliwung belakang IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dan pintu belakang ke TIM. Sudah hampir pk. 18.00 WIB, baju hijau telah lusuh berpasir, wajah kuyu, dan mereka berjalan perlahan, membawa artefak (kerang, botol plastik, sedotan, beling, air, dan sebagainya) dalam barisan seperti arak-arakan upacara ruwat atau kematian. Ada dua anak kecil sebagai peserta, dan ada rombongan penonton yang turut berjalan kaki sejak dari Kampung Akuarium, Jakarta Utara.

Saya ikut saja lah pada situasi Perhatian Tak Beraturan kiwari, yakni merekam kedatangan mereka dari arah Kwitang dengan kamera di HP saya. Tiba-tiba Irwan merogoh saku jaketnya, dan mengulurkan pasir ke tangan saya. Perekaman saya jadi agak kikuk, terdisrupsi. Irwan melakukan itu tanpa kata-kata, wajah lelah dengan ekspresi datar. Sejak dulu, Saya tertarik pada sosok fisik Irwan yang datar, dingin, tapi kalau melihat karyanya, tampak ia menyimpan hal-hal tak terduga.

Sebelum masuk ke halaman belakang IKJ, rombongan berhenti sejenak, menegun di pagar pinggir kali, menghadap sungai dalam senja yang merayap. Setelah sejenak, mereka menebar pasir dari pulau yang tenggelam itu. Lalu, masuk ke area IKJ. Mengarah ke gerbang pagar IKJ yang lama, yang dulu semasa Irwan kuliah di situ, menyambung IKJ dengan TIM. Rombongan duduk bersila menghadap pintu pagar. Seperti menekuri perubahan ruang seni setelah Revitalisasi TIM yang ricuh pada 2020 lalu. Yang dulu tersambung, kini terpisah oleh pagar besi. Yang dulu bisa nyelonong, kini tak leluasa dan harus memutar.

Tiba-tiba, Irwan memanjat pagar. Ia akan memasuki area TIM bersama dengan rombongan. Salah seorang jurukamera agak panik, tak ada yang bersiap dengan kamera di sebelah seberang. Berarti itu sebuah lelaku spontan dari Irwan. Saya pun tergesa mengejar juga. Di depan pagar sisi TIM, sebagian besar rombongan sudah masuk ke TIM. Lalu mereka berjalan lagi ke arah Teater Wahyu Sihombing, tapi sedikit memutar. Di area depan kubah Planetarium, melintasi banyak orang yang sedang luntang-lantung menikmati senja.

Dua anak Reboo Anur Guluda, pimpinan kelompok tari Hip Hop Lasteam 689, yang sedang nongkrong di area itu, mungkin menunggu waktu untuk berlatih tari, dengan lincah dan girang menyongsong dan mengikuti, bertanya-tanya pada para penampil, dan tidak dijawab. Salah seorang penampil memberi pasir pulau hilang pada kedua anak lelaki berambut ikal yang girang itu. Saya jelaskan pada keduanya, ini pasir dari pulau yang hilang. Kedua bocah itu girang berlari ke ayah mereka. Saya agak ragu, apakah penjelasan saya telah atau membanalkan ritus Irwan itu atau mengganggu aura mitis yang tampak sedang diupayakan dalam pertunjukan tersebut.

Pertunjukan berjalan kaki itu berakhir di Teater Wahyu Sihombing yang dingin pada pk. 18.00 WIB. Cahaya telah merah berpendar di tengah kegelapan. Di pusat, sebuah lingkaran. Rombongan berbaring. Lalu senyap. Mereka tidur(an). Setelah beberapa menit, Irwan membangunkan rombongan. Lalu menyapa penonton yang turut berjalan, menyapa satu satu, ada yang ikut berjalan dari Kampung Akuarium (ada lima titik henti sepanjang perjalanan). Pertunjukan di Teater akan dimulai pk. 19.30, kata Irwan, kami akan mandi-mandi dulu, makan, istirahat. Itu berbarengan dengan pertunjukan di Kramat V. Kurasi JIPAF dengan sengaja memaksa penonton memilih.

Saya memilih pertunjukan di tengah warga, dibanding pertunjukan di ruang tertutup TIM. Bukan karena romantik, sok “merakyat”, tapi karena saya merasa lebih langka perjumpaan warga biasa dengan seni kontemporer ketimbang perjumpaan seni kontemporer dalam ruang khusus dan khalayak “jemaah seni” yang tipikal selama ini. Saat keluar dari Teater Wahyu Sihombing, saya berpapasan dengan Sardono W. Kusumo yang hendak melihat pertunjukan Irwan.

Saya menyukai paksaan memilih ini, dan ini kan bukan hal baru di festival-festival popular. Misalnya, tahun lalu di festival musik Pesta Pora, saya harus memilih datang ke panggung Ebiet G. Ade atau Sheila on 7. Paksaan memilih ini saya apresiasi: ada semacam kondisi yang membuat para penonton tidak menjadi konsumen-pasif, tapi lebih memberdayakan penalaran dan penakaran sederhana. Mana yang lebih saya inginkan? Mana yang lebih menyenangkan? Adakah alasan lain untuk pilihan saya?

Dalam JIPAF 2026, tidak mudah (tapi juga tidak sukar amat) menuju ruang pertunjukan malam terakhir itu dari Teater Wahyu Sihombing ke Mess. Harus ke pintu belakang TIM/IKJ, menuju seberang Sungai Ciliwung. Tak seperti festival multi-panggung macam Pesta Pora yang terkonsentrasi pada satu lokasi khusus –semacam ruang(-ruang) terbuka yang tertutup.

Ruang Seni majemuk lintas-kawasan bagi sebuah festival adalah sebuah model yang semakin menarik dan relevan buat Jakarta. Sebuah upaya mencipta “festival kota”. Ini penting, misalnya, jadi paradigma perayaan Jakarta Lima Abad: jangan sekadar nanti hanya perayaan berkualitas pesta kembang api yang diprogram dari atas. Model top down dan sekadar rame-rame sesaat tidak akan membekas lama, dan hanya berdampak sesaat. Sayang amat. Model festival kota yang mengaktivasi ruang-ruang warga secara bottom up akan menjadi metode lebih demokratis untuk merayakan 500 tahun Jakarta.

(BERSAMBUNG)

*Hikmat Darmawan, Direktur Kreatif Pabrikultur

[1] Saya membatasi amatan saya pada waktu festivalnya saja, tidak mengikuti Pra-Festival, 27-30 Juli 2026. Pra-festival berupa workshop dan penjajakan rute durasional Body Cartography dan Cici Celine di kawasan Cikini. Penulisan amatan sengaja saya tulis dengan alur maju mundur, tidak kronologis, dengan alasan mungkin jelas: meniru pengalaman multifokus, Perhatian Tak Beraturan (Disordered Attention), yang menonjol dalam festival.

[2] Claire Bishop, Disordered Attention, How We Look at Art and Performance Today, Verso (London, New York), 2024.