Poslangitan
Oleh: Hudan Hidayat*
Tentang aku yang membelah diri, bersatu lagi – aku yang aktif, aku yang pasif, sebagai konsekwensi. Penguasaan, bahwa aku menguasai dirimu. Tidak kita sadari ada aku di dalam aku, yang berhubungan. Aku yang sadar, aktif dengan kesadarannya. Apakah aku yang pasif itu adalah lawannya?
Pada saat aku menunjukkan identitasnya, muncul identitas lain, aku yang lain, mengada dalam dominasi aku. Akhirnya ia dihegemoni aku, sebelum yang lain ini memberontak, mencari-cari jalannya. Ia menjauh dari aku, bahkan meninggalkannya, melawannya.
Abrogasi dan apropriasi adalah dua kata yang menjadi tempat kembali bagi subjek yang ditukar – ia, “Kuasa Bahasa, Teori dan Praktik Sastra Kolonial”. Tapi kini bukan lagi sebuah negeri yang meninggalkan jejaknya adalah kolonial yang berujung kepada poskolonial, melainkan ke langit tempat Ia bersemayam. Poskolonial kini menjadi Poslangitan.
Langit dengan segala aturan, menjadi belenggu bagi negeri jajahan yang berkepak-kepak dalam sastra mengusung poskolonial dalam karya. Kita harus menerimaNya bukan menerimanya. Harus melawanNya bukan melawannya.
Keadaannya bukan seperti aku perasaan yang berbeda dengan aku pikiran. Aku yang membelah diri menjadi puisi, bahasa yang hinggap di lengan Pablo Neruda sebelum, hinggap lagi, di lengan Leon Agusta. Aku perasaan itu tidak pandai berpikir kecuali merasakan, ia menjadi “Ode Buat Pakaianku”.
Ia tidak bisa memikirkan Ode ini kecuali merasakannya. Aku pikiran yang pandai memikirkannya. Apa yang dipikirkan aku pikiran akan “tubuhnya” ini? Puisi menjawabnya melalui bentuk, sebagai bentuk, mewadahi isi.
Kalau kita berkata Pablo Neruda “bukan” Leon Agusta, Leon Agusta “bukanlah” Pablo Neruda, sehingga “Ode Buat Pakaianku” adalah “Ode Buat Pakaianku”, bukan “Ode To Clothing”, atau “Ode to Clothes”, yang bergerak berbeda. Ia itu bahasa khusus yang diperuntukkan bagi pemakainya.
“Each morning you’re waiting
My clothing”, bukankah bukan
“Every morning you wait,
clothes”? Ia memang bukan
“Setiap pagi kau menungguku
pakaianku”, baris-baris awal puisi Neruda.
Ada dinamik dari bahasa awalnya oleh kekayaan bahasa – “bahasaku” bukan “bahasamu”. Ia diuntukkan olehNya untuk kita – untukku dan untukmu. Kekayaan bahasa menjadi ciri umat manusia. Padanya ada keindahan serta kebahagiaan.
Morfemnya berbeda, juga fonemnya. Bunyinya lain dengan lukisannya. Dalam bahasa apa Neruda menulis? Saat Neruda lain hadir dalam bahasa Neruda, ia tentu tidak sama. Ia lain. Neruda hanyalah milik Neruda. Agusta miliknya sendiri. Itulah ada: ada untuk dirinya, bukan untuk yang lain. Ia sidik jarinya. Bukan sidik jari yang lain.
Pusat-pusat kecil dari sebuah pusat besar, itulah kenyataan dalam pikiran, dinamik sejarah yang tiada hentinya. Buah yang dirindui tapi sekaligus diratapi. Bahkan dikutuki.
Pusat besar narasi besar. Pusat kecil narasi besar karena turunanNya. Ia keluar dari puisi – menjadi negeri, sebelum masuk ke puisi lagi. Kuasa Bahasa adalah wajahnya. Isinya poskolonial yang kita geser menjadi poslangitan. Kemarahan kita bukan lagi kepadanya tapi kepadaNya. Titik manusia bertemu denganNya adalah sama-sama membuat aturan – aturan manusia dengan aturanNya, sebelum berpisah karena manusia ingin meninggi.
Ilmu, Semiotik Benny H. Hoed misalnya, tak menampik kehadiranNya. Kalimat awal Tubuh Dan Busana Ditinjau Dari Kacamata Semiotik, milik Benny H. Hoed ini, adalah: “Salah satu hal yang membedakan manusia dengan hewan – sesama makhluk Tuhan – adalah fungsi sosial tubuh manusia yang tidak terdapat pada hewan.”
Tuhan tersebut dan diakui, bahkan menjadi acuan, sebelum acuan ini direnggut manusia. Ia ingin menciptakan acuannya sendiri, bukan mendasarkan kepada acuanNya misalnya dalam hal busana. Bila ada itu diciptakan berpasangan, seperti apa pasangan kata di dalam sastra?
Bila prinsip makanan adalah kombinasi antara panas dan dingin, seperti yang diceramahkan dalam agama tentang cara makan Nabi, manakah sifat kata yang panas di dalam sastra serta sifat kata yang dingin di dalam sastra. Aduhai andai persamaan ini kita naikkan: manakah asmaNya yang panas dan dingin sehingga kita bisa mengombinasikannya ke dalam ciptaan. Tahukah dirimu Yiyi? Mengapa hari jadi dingin lagi Yiyi.
Kita menggeser antara busana dengan makanan. Merasakan di antara perbedaan ada persamaan lewat sifat dan hakikat, ada. Ada puisi seperti ada fisika, ada kimia, ada bahasa dan dunia benda-benda. Apakah hakikat bahasa? Apakah hakikat puisi? Apakah hakikat benda-benda. Panas itu, atau dingin ini, katakah atau bendanya?
Sepotong daging ayam itu panas, tetapi apakah saat ia berbaju adalah “sepotong daging ayam”, busana ini panas juga? Terowongan untuk memasuki benda dan baju benda, bahasa, mengasyikkan karena kesadaran kita tiba-tiba diresami hal-hal yang baru.
Kita mulai memikirkan benda dan kata, bahwa batu bisa didekati lewat pertanyaan: ia benda, batu, di sana? Atau ia kata, batu, di sini? – di puisi ini. Neruda membawakan “batu” yang lain. Adalah tubuhnya, dengan cara mengaktifkan bagian-bagiannya. Tangannya, kakinya – tubuhnya.
Membawakan “kulit”nya sebagai wacana baru bagi – tubuhnya, kulit luar jiwanya. Lapisan-lapisan tubuh mulai membawa kita ke persamaan – adalah lapisan-lapisan bumi, yang hadir bagai lapisan-lapisan jiwa kesadaran seperti struktur “kulit-dalam” yang diapungkan Freud – misalnya. Atau dialektika Hegel – di antaranya.
Aku Descartes itu, ujar sebuah buku, memiliki tiga komponen sebagai sebuah konsep, yang menderas ke dalam Ode Buat Pakaianku Pablo Neruda. Seperti ia menderas di puisi-puisi Acep Zamzam Noor, atau Kemala – dari Malaysia. Aku menjadi konsep dengan kombinasi meragukan serta memikirkan, being ada – aku ini.
Pada saat yang sama pakaian, sebagai being-ada, adalah aku yang dipuisikan Neruda. Aktifitasnya hanyalah dalam dirinya – ia menunggu, aku. Tidakkah menunggu itu bukan pasif tapi aktif? “Setiap pagi kau menungguku
pakaianku”, ujar aku-lirik Pablo seperti, aku-lirik Noor yang dijadikan contoh puisi yang berhasil oleh Sapardi.
Noor:
“Di lengkung alis matamu sawah-sawah menguning”.
Mereka yang senang menjadikan bahasa sebagai aku-lirik atau objek, perlu belajar dengan Cipasung ini. Bagaimana kata itu diolah, sebagai puisi. Bukan: diri jungkir-balik bak kera membuat bahasa pusing karena melihat perangai kata – kepanjangan perangai penyairnya. Ia tak menghargai bentuk, sehingga isi, puisi itu, diperkosanya. Semau-mau saja dibahasakannya – membuat kita mual membacanya.
Kita kembali, menyadari status peran (aktif-pasif) hanyalah soal sudut – sudut aku, sudut kamu. Saat ia adalah “kamu” – misalnya “kau menungguku”, kekayaan yang diberikannya adalah imajinasi – kita membayangkan “pakaian” itu menunggu kita.
Apa yang dilakukannya selama menunggu? Apa yang dipikirkannya? Apa yang ia rasakan? Dua “kata” yang saling berhubungan juga membawa “kamu”, bukan aku yang kita anggap satu-satunya yang menyadari. Sebagai kata, imajinasi ini kita kembalikan dulu ke kata yang lain, yang begitu imajinatif karena keadaan, tiba-tiba menemui wajahnya yang baru.
Sebab “di lengkung alis matamu”, “sawah-sawah itu menguning”. Imajinasi yang terus naik dengan cara mengaktifkan anggota-anggota badan. Ia kini: “Seperti rambutku padi-padi semakin merundukkan diri”.
Doubting, meragukan, thinking, memikirkan, seandainya kita ambil dari Deleuze dan Guattari (What Is Philosophy), lalu kita letakkan pada being, ada, adalah ada puisi, dengan cara menghujaninya pertanyaan, apakah buahnya adalah kepastian? Mengapa kenyataan yang terberi itu harus dibentukkan kembali – sebagai puisi. Mengapa tidak dibiarkan apa adanya? Biarkan saja pakaian itu di sana sebagai galibnya ia kita kenali.
Jadi, tanpa kemungkinan bahwa pakaian itu pandai berpikir, memikirkan, hal yang kita imajinasikan. Baris awal itu tidak mengatakan isi pikiran perasaan kecuali sebuah ruang kosong terbawa, yang mesti kita isi, sebagai jejaknya.
Sebenarnya apakah yang terjadi dengan Cipasung sebagai sebuah tempat, jadi, alam, sampai penyair mengolahnya, dengan terus merapatkan tubuhnya ke alam, Cipasung itu. “Dengan ketam kupanen terus kesabaran hatimu”, katanya. Dan: “Cangkulku iman dan sajadahku lumpur yang kental”. Kritik puisi Sapardi tidak punya jawaban kecuali sekadar berbicara tentang alat-alat puisi yang harus dikuasai oleh penyair.
Adalah tentang alat – citraan, katanya. Tetapi alat ini bisa kita pandangi dari segenap sudutnya, misalnya pakaian itu, kini tak semata busana yang dibayangkan oleh Neruda karena sesuatu yang diakrabi Acep menghendaki bajunya. Ia jadi pakaian bagi benda, yang terbalut melalui kata.
Kata ini pakaian bagi sesuatu, benda, yang tidak kita ketahui karena tak bernama. Ia baru kita ketahui setelah nama, kata itu, datang. Dalam keadaannya yang murni bagaimana kita akan merasakan “kesombongan”?
Apakah, kesombongan, itu? Pablo yang tadinya biasa tiba-tiba membelok, mengejutkan saat membawakan pakaian ini, katanya, “buat kesombonganku”. Yang sebenarnya bukan Neruda tapi Agusta yang membawakannya, sesuatu yang dibawakan Pablo dalam bahasa, khusus untuknya – diberikanNya.
Lewat komponen Descartes itu kita bisa memikirkan (thinking) being-puisi ini – apakah kita meragukannya? Bahwa kesombongan hanyalah kesan, bukan hakikat sejati bagi aku yang sedang berpakaian.
Jadi kita itu doubting bagi kesan yang muncul karena mengerti, kesombongan itu tidak berlaku bagi si aku yang tak lain hanyalah debu – di semenjana semesta ini. Sebuah kata melambai-lambai, manakala sebuah bahasa berkepak-kepak memperlihatkan dirinya. Adalah indah. Kata ini yang selalu menyergap bahasa. Indahkah, dirimu.
Bagaimana saya bisa menjelaskan keindahanmu. Indah yang utuh bukan indah bagian – keindahan dari keseluruhan, hadirnya sebuah bentuk, puisi. Puisi yang dipenuhi keindahan bukan puisi hanya, sebagiannya saja, yang indah. Bahkan dari namanya ia sudah indah.
Seraya menulis kita selalu memikirkan, apa indah ini. Keindahan kita rasakan saat penyair mendekatkan perbedaan menjadi persamaan. Seolah-olah. Seakan padi yang runduk itu adalah lengkung alismu. Atau bukan?
Apa: “Di lengkung alis matamu sawah-sawah menguning”? Kita tidak Ingin seperti Sapardi yang hanya berkata segarnya citraan yang dipakai Zamzam. Kita inginkan lebih karena tarikan kata indah itu. Indahkah Noor ini?
Cipasung, adalah sebuah kata yang mungkin tak membawakan isi bagi mereka yang tak mengenalnya – pernah diam di Cipasung. Bahkan mungkin ia tak tahu itu adalah nama tempat, sehingga Cipasung itu terpental dari isinya saat pembaca mencoba menghubungkannya. Tak satu pun dalam isi itu memuat dirinya.
Andai ia kita bandingkan dengan “aku”, atau “pakaian”, “cipasung” tak memuat apapun karena kita kosong dari kenangan terhadap sebuah kata. Jerman. Indonesia. Apa Jerman? Apa Indonesia?
Ia bukan “manusia” yang langsung membawa kita kepada wajahnya. Kita mengenal wajahnya. Kita tak mengenal wajahnya. Tapi manusia menyatukan pengertian kita. Imajinasi menghidupkan wajah yang mungkin tak pernah kita jumpai. Kita mengenal kesombongan itu, juga saat ia dipindahkan – pakaian.
Sebagian karena ia menjadi hidup kita, melekat sebagai dunia yang kita kenali. Apakah kesombongan itu bahagia dijadikan alat bagi aku, saat aku mengubahnya menjadi pakaian. Atau: ia ingin menolak, bahkan memberontak. Tak sudi dirinya dijadikan pakaian – kesombongan si aku. Tapi apa daya karena ia adalah makhluk yang pasif.
Penyair memaksanya, membuat kain itu pasrah saat dibentukkan oleh tukang jahit, demi memenuhi kesombongan aku. Apakah dirinya kini berumbai-rumbai? Kelihatannya keadaannya berlebih untuk memenuhi kriteria kesombongan.
Pakaian dengan bentuk sederhana tidak bisa dipakai untuk menyatakan kesombongan. Musti ada bentuk, yang bukan bentuk biasa, agar kesombongan kini menjadi wataknya. Seperti kepatuhan, watak bagi Cipasung.
Keduanya mengabarkan satu hal ialah: telah terjadi penyimpangan di alam benda-benda, membuat bahasa itu ikut menyimpang, agar serasi. Keadaan harus: dua tangan saling menepuk. Bertepuk dua tangan bukan bertepuk satu tangan – alasnya adalah udara. Puisi bagai tangan – bertepuk dua tangan. Ia terdorong oleh laku benda di luar saat di bahasa – niscaya ikut menyimpang.
Kita meneorikan penyimpangan ini seperti kita meneorikan pakaian itu. Benda-benda mula-mula menyimpang karena kemurnian dirinya tak bisa dikomunikasikan tanpa pakaian benda ialah kata. Kita menyimpang dari Saussure yang meneorikan kata terlepas dari benda.
Ia bukan sebuah teori: “Sebutkan nama-nama benda ini”. Sebaliknya, pemikir linguistik ini meyakini keadaan bahasa yang telah jadi, sinkronik. Ia di sini, padahal bahasa pernah di sana. Kata itu adalah, ujarNya, nama.
Jadi gagasan yang sudah jadi yang ditolak Saussure. Aspek sosial dari teori ini sangat jelas – kehadiran bahasa untuk mengolah alam ini. Tanpa nama, tak suatu yang bisa dikelola manusia. Seperti keadaan hutan dan isinya bagi kera: keadaan yang sedemikian murni.
Kata tak bisa memangkas dahan-dahan di hutan karena kera tak mengenalnya, kata memangkas. Tapi manusia mengenalnya. Dengan cara begitulah ia mengelola kehidupan karena ada kata yang bercahaya di tangannya.
Penyair mengolah kehidupan melalui puisi, seperti ilmuwan mencari rahasia-rahasia alam melalui prinsip yang melingkupi benda-benda. Penyimpangan itu yang menarik hati, karena ia abadi. Dalam sastra usianya jauh sebelum orang-orang Rusia ditengarai meneorikan penyimpangan.
Penyimpangan bahkan bisa disebutkan: laku awal yang azali. Dengannya kita mulai memasuki lagi keadaan: susun-ber-susunnya kenyataan dalam hidup ini. Ia susun-ber-susunnya keindahan. Susun-ber-susunnya kemaknaan. Misteri menggayuti seluruh tubuhnya.
Meninggalkan Sapardi yang hanya mengapung di citraan, karena mata pandak; kita masuki keadaan beyond citraan: apa yang ada di balik majas ini. Mengapa majas ini. Apa yang ada di balik penyimpangan ini. Mengapa penyimpangan ini – kesanggupan nalar yang jauh di luar kemampuan tangan Sapardi.
Alam Cipasung bukankah bisa saja dibiarkan dalam kemurniannya? Bahwa ada padi menguning dan para petani mencangkuli sawahnya, tanpa harus disimpangkan ke dalam ritual sholat – gerak ibadah itu.
Alam tak lagi murni karena ia telah dibentukkan penyair melalui bahasa. Seperti ia dibentukkan ilmuwan melalui relasi benda-benda. Penyair membuat relasi kata-kata. Kita menanyakan beda dan samanya. Samakah dinginnya sebuah batu saat di luar bahasa, dengan saat ia telah menjadi bahasa. Samakah diamnya.
Tubuhnya diliputi misteri – alam raya ini. Kehidupan penuh tanda-tanya. Air di mata tawa di mulut adalah cerminnya. Bahasa adalah wajah dunia, yang lain.
Saat manusia penyair mengembangkan tangannya, tak ia sadari bahwa dirinya tengah menjadi alat diriNya. Bukan tanganmu yang melempar tapi tangan Kami. Bukan tanganmu yang menulis, Acep Zamzam Noor dan Pablo Neruda, tapi tangan Kami yang menulis. Bukan tangan dan kakimu yang bersilat tapi tangan dan kakiNya Yiyi, yang bersilat.
Perkembangan benda-benda dan kata-kata ditunjukkan oleh puisi dengan cara mengembangkan kalimat awal yang sangat menentukan. Saat kertas masih kosong itulah saat penciptaan dimulai. Keindahan itu ada di sini, di awal yang akan membawa kemana makna sebuah puisi.
Neruda tidak bisa memainkan bentuk keluar-masuk antara pakaian dan tubuhnya andai ia tidak membuka awalnya sebagai aktifnya pakaian itu menunggunya. Ia bersandar kepada kata menunggu itu.
Seolah-olah pasif, menunggu ini. Kita hanya menunggunya di sini. Andai ia datang. Ruang kosong dari kejadian yang belum ditempuh adalah celah yang bisa dimasuki andai itu tidak terjadi. Andai ia tidak datang kita akan. Tapi ia datang sehingga pakaian itu menjadi aktif mengikuti kemauan si aku, tuannya.
“Tubuhku untuk mengisimu”, katanya, dan kita bisa membayangkan apa jadinya andai pakaian ini menolak diisi olehnya – oleh si aku dengan cara menyempitkan dirinya, membuat aku tidak bisa memasuki tubuhnya.
Gagallah “Tubuhku untuk mengisimu” karena “dirimu bukanlah pasanganku”. Kamu kekecilan buat kesombonganku. Seandainya kesombongan itu membesar pakaian itu juga ikut membesar – menyelaraskan.
Demi agar: kamu bisa mengisiku. Jadi pakaian mengembang mengikuti tubuh yang mengembang. Mereka mengembang karena ditarik oleh kesombongan.
Begitulah puisi: awalnya sedemikian menentukan karena saat tema terbuka kata akan berjalan di badannya. Seperti di luar – kita berjalan di atas dunia, laku kata yang berjalan di bahasa – sastra-puisi ini. Ia memang sebuah kombinasi bagi keluar masuknya seni fiksi ke seni fakta, seni fakta ke seni puisi.
Antara fakta nyata dan fiksi imajinasi tipis batasnya – bahkan membaur, menyatu sebagai sastra. Sebagai puisi. Misalnya In Memoriam Amir Hamzah. Ia buah dari FB sebagai medium. Tadi kita membaca berita Abdul Hadi WM telah berpulang.
FB siapa tadi?
Lalu FB Sutardji Calzoum Bachri menegaskan berita kepergian itu. “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”, Pak Abdul Hadi. Istirja yang tak lain adalah: kita ini milik Allah, dan kepada Allah kita kembali. Dirimu kembali kepadaNya. Seperti kelak diri segenap manusia, kembali kepadaNya.
Termenung di depan Sapi Betina nomor 156 itu, mengenang Amir Hamzah di dalam puisi, di luar puisi seperti kini, kita mengenang Abdul Hadi, di dalam puisi, di luar puisi. Lagi-lagi benda-benda itu aktif bukan pasif, seperti yang kita ketahui dari awal puisi Abdul Hadi ini – In Memoriam Amir Hamzah, yang berpulang di tahun 1946. Sementara puisi ini tahun 1976.
Ada jeda waktu yang cukup panjang bagi penyair untuk mengenang rekannya sesama penyair – Amir Hamzah itu, yang ia In Memoriam-kan seperti kelak seseorang juga akan meng-In Memoriam-kan Abdul Hadi atau kita sendiri bila waktunya telah tiba. Ia galib dalam dunia bahasa – seseorang mengenang. Dengan begitu ia berpikir – memikirkan hidup ini.
Seperti kita memikirkan buahnya adalah puisi, melihat bagaimana keranjang yang tergolek sunyi itu sebenarnya aktif menggerakkan dirinya. Kata Abdul Hadi: “Keranjang itu masih menatap”. Sebabnya? “Tahun mau berbunga”. Terasa bau harapan sebelum harapan ini direnggutkan:
“Tapi langit berangkat kemarau di jendela”.
Bunga tak tumbuh seperti hidup tak mengembang, tanpa airmata. Pasangan duka bukanlah sunyi tapi tawa. Seperti pasangan abadi adalah fana.
Tubuhku seperti tubuhmu – kelak ia abadi di sisiNya. Di kiri atau di kananNya. Begitulah menurut bahasaNya. Abdul Hadi mencatat, membangkitkan anggota badan (Amir Hamzah?).
Tanganmu, katanya membuat persamaan, adalah “Mulut yang mengucapkan kebenaran ombak”. “Tapi pendayung-pendayung datang terlambat”.
Hidup berbaju mati, mati berbaju hidup – abadi. Abdul Hadi telah pergi tetapi bahasanya terbungkus sebagai puisi, yang mencatat kepergian Amir Hamzah lewat puisi. Tiga bahasa yang tak sampai, empat.
Tiga kesimpulan tentang hidup berbau maut – larik yang mewartakan ketaksampaian. Empat keadaan yang berhubungan. Kita memikirkannya, digoda oleh bahasa.
Tahun untuk sesuatu yang tumbuh, semacam manusia untuk segenap nama. Ialah “Tahun mau berbunga”. Apabila kelak menghasilkan keranjang itulah yang memuatnya. Isi tahun itu di keranjang itu bukan tahun walau tahun ini, mau berbunga.
Keranjang yang aktif, memiliki matanya – “Keranjang itu masih menatap”, seperti kita, melihat bagaimana tubuh dibawa, ditandu menuju liangnya.
Keranjang ini mengingatkan kita kepada kotak yang berubah jadi kardus, tapi tertarik oleh sifat matanya – masih menatap. Ia mirip manusia, keranjang itu, menatap kepada waktu, tahun ini, yang mau tumbuh, di sela matamu.
Begitulah dari keranjang yang menampung, oleh matanya, bergerak ke tubuh yang melihat – hidup, tubuhnya, sebelum disimpulkan:
“Tapi langit berangkat kemarau di jendela”, membawa “Tahun mau berbunga”, tak jadi, berbuah. Sepenggal bahasa dengan dua isinya – langit mau berangkat; kemarau di jendela. Ia dihujamkan melalui “tapi”. Pergilah. Baiklah. Tapi apa Yiyi.
Tapi kemarau di jendela itu Huhi, tanda halangan andai tahun mau berbunga. Andai hidup mau berlanjut. Kita masih menatapnya, mereka yang telah tiada.
Mula-mula Amir Hamzah, lalu, kemarau itu menghentikan bahasa itu – kini Abdul Hadi, tercegat oleh “tapi”. Langit berangkat membawa tubuhnya, meninggalkan “kemarau di jendela”. Kapan tubuhmu berangkat juga Yiyi – meninggalkan langit sebagai isyarat, di bumi.
Entahlah Huhi, kapan keranjang ini dibawa oleh “tahun mau berbunga” – kematian. “Saat ini alam semesta sedang berkembang atau meluas”, kata Ayat-Ayat Semesta.
Ia mengikuti aliran waktu yang surut ke belakang, waktu yang kelak ditabelkan bersama ruang, yang dimunculkan oleh Gamou (bukan Gemoy).
Angka-angka yang kita dapati membuat rasa absurd terhadap waktu makin menghebat. Untuk keperluan bahasa dan sastra kita hanya mengambil kebajikan ilmu melalui kata berkembang dan meluas, saja. Betapa dua kata dari sains ini mengena betul kepada sastra. Bahasa itu berkembang dan meluas – bagai alam tiada tepinya.
Meluas ke hidup menyempit ke mati – pasangan lagi. Menuju keabadian pasangan di ruang dan waktu bernama arah? – kiri dan kanan yang tak kunjung kita mengerti misterinya. Berpikir biografi orang lain bukanlah biografi kita. Meluas ke prosa untuk menyempit lagi ke puisi, tidakkah adalah dua biografi dalam seni? Tapi kelak terbuka lagi saat sastra memanggilnya.
Penyair memanggil kematian itu, seperti sastrawan memanggil kehidupan – wajah yang berpasangan. Selalu berpasangan kecuali Dia: tunggal pada diriNya – Sendiri. Kehidupan meredup di tangan penyair – di tangan sastrawan juga.
Atau kita simpulkan: Surah Penyair itu gerak meluas menangkap serta mengikat segenap ekspresi manusia melalui tali yang berpasangan, prinsip yang dianutnya – adalah oposisi biner baik-buruk.
Ia ada, wajahNya walau dikau acap menolaknya, melawannya. Kini kematian lagi di sela kehidupan. Wajah Acep Zamzam. Kilau-kilau cahaya melalui kata, kita hayati, sebagai dia yang mati demi mengabarkan kebalikannya – dia yang hidup.
Kita bertanya melalui tangan Rubayyat – mengapa Ia buat begitu? Akhirnya tak bertanya lagi, mulai menghayati dari setiap anggota tubuh yang melangkah, memasuki fase kelengkapan setelah mengepak-ngepak dari jurusan kanan.
Bukanlah sastra mulai miring ke kiri karena saat di kanan pun kehadiran kiri menguatkannya sebagai eksistensi. Hanya tekanan saja, pengingat. Sebab nyata: kiri itu pasangan kanan. Kanan itu pasangan kiri.
Pasangan hidup pasangan mati, membuat “Kematian yang kaukirimkan padaku”, tak menakutkan lagi karena kelembutannya – atau karena pasangan itu adalah keniscayaan yang mencegah andai kita ingin takut. Untuk apa takut kalau ia “lembut”? Lembut apa?
Kita mulai memikirkan secara apa kematian itu dikirimkan. “betapa” dan “lembut” adalah gabungan kata yang menyambut kematian yang dikirimkan kepadanya. Betapa adalah sesuatu yang berlebih, luapan ingin. Betapa ingin daku mendekap dirimu. Artinya betapa ingin kematian itu mencabut nyawa kita. Ia dalam tafsiran, tentang kata betapa.
Seperti kita menafsirkan lembut, sedemikian lembut sampai muncul kata lain yakni tak terasa. Karena walaupun tangan dipakai dengan keras – membongkar, “membongkar dada”, wajah kematian itu tetap lembut. Sebab setelah dada dibongkar yang muncul adalah bunga.
“Sekuntum bunga tumbuh di sana”, katanya. Dua kata yang saling bertolak bukan menguatkan. Betapa mati disambut betapa lembut. Bunga adalah jejaknya. Mengharumkan.
Terasa wangi merenungi kematian diri sendiri, melalui puisi. Ia melekat di sepanjang hidup kita. Langit di mana-mana kata Abdul Hadi mengikat segenap puisinya. Bahasa mengikuti langit itu – meluas dan mengembang. Mengikat “Bahkan Batu pun Ingin Berbunga”, atas itu, langit ini. Kuncup, salah satunya, terikat di bawah langit di mana-mana ini.
Mulai kita hayati dua bunyi. Bunyi yang memanjang, membentuk gelombang. Tapi lalu diambil oleh Kuncup itu, untuk disederhanakan dalam entakan tiba-tiba. Seperti mati itu, entakan, tiba-tiba merenggut nyawa kita. Dalam langit di mana-mana bunyinya memanjang, mmembentuk gema hidup lewat kata buyung yang disapa berulang-ulang.
Ayolah Buyung ke laut, ke hidup. Langit menunggu kita di situ. Memang tidak ada mati di sini. Ia adalah pasangannya – hidup. Kalau inginkan kematian, celah-celahnya yang indah kita isi dengan imajinasi mati, sendiri.
Seperti Kuncup itu. Kini kita tengah menikmati sebelahnya mati, adalah hidup, dalam Langit Di mana-mana. Di hatimu juga. Hidup itu yang bisa membuat kita berjalan, masalahnya hidup ini adalah langit. “Langit berjalan atas pohon-pohon”, baris awal Langit Di Mana-mana. Langit berjalan membangkitkan imajinasi kita melalui “tangan” Tuhan atau wajahNya.
Apakah Tuhan memang punya tangan? – atau wajah. Seperti apa wajah Tuhan? Apakah langit punya kaki sehingga ia seperti kita – pandai berjalan-jalan. Pengertian langit itu sedemikian bermasalah karena subjeknya tidak tunggal, dan ia melibatkan pengamat dengan arahnya.
Andai kita di langit maka bukan langit yang berjalan tapi bagian-bagian langit misalnya bulan. Atau matahari. Mana yang langit dari kedua benda ini menurut mata kita yang melihat mereka dari bumi? Matahari? Bulan juga langit karena di atas. Di atas itu arah seperti di bawah, bumi, arah. Tetapi bagaimana langit bisa berjalan tanpa arah andai diberi keterangan pohonan? “Langit berjalan atas pohon-pohon”, bukan: “Langit berjalan di atas pohon-pohon”.
Di mana kaki surealistik ini sebenarnya melangkah? Abdul Hadi telah pergi, kita tidak bisa bertanya kepadanya lagi. (Sekali lagi selamat jalan kawan. Semoga dikau dalam lindunganNya di langit.) Di langit? Di sana ada matahari. Di matahari? Surga tiba-tiba menjadi tanda-tanya saat langit diuraikan. Kita tak perlu menanyakannya kepada Abdul Hadi, atau kepada siapa pun.
Cukup bertanya kepada Langit Di Mana-Mana. Kata biarlah dijawab oleh kata. Bahasa akan menyelesaikan setiap interaksi warganya – antarkata itu. Lewat sebaris, awal puisinya, penyair telah mengajak kita berimajinasi.
Berbeda dengan Teeuw yang melihat Chairil mengolah bahasa di Kawanku dan Aku, olahan yang gagal, karena puisinya kaku, sebaliknya Langit Di Mana-Mana ini sedemikian lentur. Kita membayangkan benda yang diseret kata, dengan cara menghilangkan tempat – “di”, tanda-tanya segera melingkupi.
Apa betul langit itu berjalan di atas pohon-pohon, seperti yang kita sangka, sebelum mengamati ketidakhadiran “di”, sebagai kaidah dalam bahasa.
Lisensi puisi itu ada batasnya. Batasnya adalah aturan bahasa. Lewat aturan bahasa itu membawakan pengertian. “Di” yang dicabut ini membuat langit kehilangan kakinya, sehingga “atas pohon-pohon” bukanlah tempat langit berjalan.
Langit berjalan sendiri, atas pohon-pohon sendiri, walau sebagai bentuk penyair menghadirkannya bersama, numpuk tanpa tanda-baca yang membuat mereka terpisah.
Dengan demikian ada dua langit yang dipandangi Abdul Hadi, langit konvensional yang butuh penjelasan itu, lalu langit yang ia turunkan – adalah pucuk pohon-pohon.
Pelipatan perhatian kita kepadanya tidak dibuat penyair dengan cara
membuat bahasa itu fantastik – kegemaran kaum avant-garde. Cukup dengan mengambil kakinya, “di” itu.
“Langit berjalan atas pohon-pohon” adalah bentukan ganjil, andai kita bandingkan dengan “bayangan mereka di atas air”, atau: “di atas pasir”, baris lanjutan puisi Abdul Hadi. Tempat, yang dihilangkan dalam “langit berjalan atas pohon-pohon”.
Di bukunya, Tuhan, Kita Begitu Dekat, rasaku ada juga kata yang salah ketik. Apakah baris awal ini lupa menaruh “di” sehingga ia mengundang tanda-tanya – apa arti “langit berjalan atas pohon-pohon”. Salah ketik lain dengan tidak memasukkan, “di” itu.
Kalau demikian Abdul Hadi sengaja memasangnya begitu? Untuk apa? Iakah baris-baris kurang rapi dalam kepuisian kita seperti yang dinyatakan oleh Titik Tengah – esai Nirwan, Tribute untuk Sapardi. Kita belum percaya, bahkan percaya bahwa “di” itu memang tak diinginkan penyair.
Penyair tak menginginkan tempat agar ia mengambang, bermain retakan-retakan makna dengan cara menggabungkan agar keadaannya saling menolak bila hendak disatukan sehingga kita memperlakukannya sebagai dua keadaan yang disatukan, dikumpulkan, membentuk imajinasi bahwa langit itu bagai pucuk-pucuk pohon yang bisa kita lihat.
Andai hutan maka pohon adalah penghuninya, salah satunya. Imaji isi langit kini menjadi pucuk pohon dan ia adalah adalah bintang-bintang yang disamakan Abdul Hadi dengan lampu-lampu.
Jarak yang jauh itu selalu didekatkan seperti Isbedy Stiawan ZS mendekatkannya, membentuk daya hidup daya mati sebelum, manusia kehilangan jejaknya. Masa depan itu tak berpeta walau aku-lirik Isbedy telah menjejakinya. Kecemasan akan waktu kini ditarik ke bumi, hidup di bumi sebagai puisi.Membaca “waktu” Isbedy ini kita bisa merujuk bagaimana “di” itu dicabut karena “melompat” bukanlah “lompat”, kata yang dipakai isbedy.
“apakah kau bisa biarkan waktu
lompat jauh, kalau ia mau beku
oleh salju atau surut karena
gelombang.”
Memperhatikan antara “me” dan “di” itu. Apa bisa kita tentang waktu yang beranjak dengan cara, ungkapan yang mengingatkan kita pada masa remaja yaitu “lompat jauh”, sebagaimana “lompat tinggi”, kerap dilombakan.
Membayangkan bagaimana waktu melakukan lompatan – lompat jauh, adalah imaginary yang mengasyikkan – sambil memikirkan bagian-bagian kata yang mengawalinya. Waktu bagai manusia: berhenti untuk ancang-ancang sebelum melakukan lompatan.
Waktu apa yang bisa seperti itu? Bagai tubuh kita, berlari kencang dalam waktu yang pendek demi lompatan jauhnya. Apakah karena waktu mengikuti ruang sehingga ia bisa dilakukan? Tubuh adalah ruang yang berlekuk – seperti kita jongkok, waktu ikut melekuk, mengiringi sela-sela tubuh.
Di sana waktu itu, dalam ungkapan puisi Isbedy – “apakah kau bisa biarkan waktu”, yang kita pikirkan. Bisa itu dapat, mampu. Ia bukan racun, dari waktu. Apakah kita bisa menahan waktu? Dengan pembalikan seperti itu kita mulai merasakan arti kata bisa dalam kaitan dengan waktu.
Kita memikirkan baris itu, oleh cara penyair memakainya, menyusunnya. Puisi mulai menjadi alternatif kenyataan sehari-hari, karena ia bahasa, karena sifat bahasa yang ada awalnya ialah benda. Benda ruang, benda waktu – mereka yang abstrak, tak nyata, tapi menjadi pengalaman konkret tubuh.
Badan beriwayat di sini, di ruang, di waktu. Tapi kini mereka telah menjadi bahasa. Bahasa beriwayat di sini – di kata sebagai penunjuk ruang, penunjuk waktu. Isbedy diasuh oleh benda dan kata. Kita juga, diasuh oleh hal yang sama. Waktu ditangkap ruang, menjalar mengikuti lekuknya.
Jadi pandai berhenti, tak bergerak maju. Waktu mengikuti ruang tubuh, tetapi tubuh mengikuti bumi sebagai ruang yang dibawa waktu. Dengan cara begini kita mendapati susun-ber-susunnya ruang dan susun-ber-susunnya waktu. Seperti susun-bersusunnya pikiran dan perasaan di dalam tubuh.
Waktu pada ruang tubuh ini yang bertemu atau ditanyakan penyair. Waktu yang tertahan seakan memberi inspirasi kita kuasa menahannya secara permanen. Padahal waktu berlalu melampaui ruang tubuh saat tubuh ikut menempel di bumi yang dibawa waktu.
Hasrat untuk menahan waktu, misalnya untuk tidak mati saat ini, adalah wajah angst yang melompat ke baris awal “Waktu”. Nada kecemasan serta cara kecemasan ini dialirkan, saat waktu ini beranjak, tak tertahankan walau usaha menahannya masih juga kita lakukan.
Waktu yang mengalir, “lompat jauh”, menjadi pengelihatan menarik bukan saja ia mengingatkan pada sepasang kaki yang melompat tapi wajahnya saat waktu itu ditahan – ia menjadi beku, “oleh salju”, atau hinggap sebagai “gelombang yang surut”.
Menangkap waktu serta membekukannya adalah permainan bentuk dalam puisi. Benda abstrak bernama waktu kini terjerat oleh salju serta gelombang yang surut. Besar sekali sumbangan penyair, yang memindahkan dirinya dari dunia benda-benda ke bahasa. Usahanya adalah imajinasi yang mengubah wajah kenyataan.
Isbedy mengajak untuk melihat kenyataan, lalu kenyataan berubah – waktu bukan lagi semata fungsi ruang, tapi ruang adalah fungsi waktu: salju itu memperlihatkan kepada kita, bahwa dirinya bukan lagi waktu tapi ruang. Waktu imanen di sini. Waktu meleleh saat salju mencair. Seperti diri: sirna saat waktu di sana memanggil.
Ruang dan waktu bernama langit, yang dikatakan berjalan, adalah kata – kata langit. Ia puisi – Langit Di Mana-Mana. Apakah ia langit? – ia di sana dan tangan kita memetiknya, menaruhnya ke dalam bahasa, langit itu. Nyatanya langit tak bisa memuat langit. Ia hanya bisa memuat huruf, atau suku kata, kata itu. Sedemikian kuat kesan “langit yang bukan langit ini”, sehingga saat ia datang:
“Langit berjalan atas pohon-pohon. Di mana-mana
Bayangan mereka di atas air, di atas pasir
dan gelap. Bintang-bintang seperti lampu-lampu
yang ditaruh para nelayan
dan bunyi-bunyian. Ditabuh senja pada batu karang
lapar semesta itu, haus waktu! Dan awan cair
menembus dinding hatimu”,
kita mengira langit itu dengan isinya, yang berakhir sebagai puisi. Padahal ia hanyalah bahasa. Bahasa yang indah karena dengannya kita bisa membayangkan langit beserta isinya itu, membelok dari aslinya. Sesuatu yang disebut langit tak bisa membelok. Akurasinya bersifat pasti.
Dalam hubungan itu kita memperhatikan simile yang indah ini.
“Bintang-bintang seperti lampu-lampu
yang ditaruh para nelayan
dan bunyi-bunyian.”
Kita melihat bintang-bintang dan lampu-lampu melalui mata, dan apa bila mata kita tak mampu melihatnya kecuali kerlip karena bintang-bintang itu jaraknya begitu jauh, kita melihatnya melalui mata batin yakni membayangkan, mengimajinasikan bintang-bintang itu seakan lampu-lampu, kata Abdul Hadi, “yang ditaruh para nelayan.”
Jadi kita memperhatikan tangan para nelayan itu seraya melihat kembali bintang-bintang dalam artian: saat sekolah anak-anak diajarkan untuk meraih cita-cita bagai meraih bintang.
Apabila tangan hanya mampu meraih lampu dan menaruhnya – apa yang kita bayangkan? Sebuah sampan atau sebuah gubuk dengan kamar berpenerangan lampu? Jadi tangan itu kini, seperti mata dan kelak, telinga – ia yang mendengar bunyi-bunyian, itulah keadaannya.
Keadaan yang disampaikan oleh “selarik puisi”, yang kini menjadi pertanyaan dalam hal ikatan keutuhan maknanya, bahwa sebaris, atau selarik, separuh baris, atau separuh larik, semuanya kini adalah tanda-tanya: benarkah mereka itu utuh? Utuh ke mana terutama apabila imajinasi menariknya ke arah lain, oleh sugesti biografi para pembaca puisi. ( Mengenang kepergian salah seorang #TokohPersuratanNusantaraMelayuRayaNumera. #AbdulHadiWM )
—
*Hudan Hidayat, Sastrawan penerima Anugerah Tokoh Persuratan Numera tahun 2017 ini pernah menjadi Redaktur Budaya Jurnal Perempuan. Buku cerpennya Orang Sakit, Keluarga Gila, dan Lelaki Ikan. Orang Sakit dan Keluarga Gila diterbitkan kembali menjadi Orang Sakit Keluarga Gila, oleh penerbit Velodrome. Novelnya terbit di internet: Kayu Api. Buku esainya Nabi Tanpa Wahyu dan Sastra Melayu Islam, mengambil contoh puisi-puisi Ahmad Khamal Abdullah. Hudan pembicara utama Seminar Sastra Melayu Islam di Kuala Lumpur Malaysia, 2017. Ia pernah berpolemik keras tentang Sastra Pornografi dengan Penyair Taufiq Ismail. Kini sudah 17-an tahun ia hanya aktif di Facebook Hudan Hidayat.




