SIMFONI EKSTRAKTIF DI TANAH SURGA: Mengapa Kesejahteraan Indonesia Masih Menjadi Ilusi?
Oleh: Sultonsah*
“Kemiskinan sebuah bangsa bukanlah takdir geografis atau kutukan dari langit, melainkan hasil rancangan tangan-tangan serakah yang menguras darah dan keringat rakyatnya untuk membangun istana bagi segelintir elite.”
Prologia: Pernahkah kita merenung dalam keheningan malam, menatap realitas negara kita yang dianugerahi tanah subur dan lautan kaya, namun rakyatnya masih harus berdarah-darah hanya untuk bertahan hidup? Mengapa cita-cita bernegara untuk mewujudkan keadilan sosial dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia seolah terus menjauh bagai fatamorgana? Kemiskinan di tanah surga bukanlah kutukan dari letak geografis, melainkan mahakarya kelam dari institusi yang merampas hak manusia; karena nyatanya, hanya butuh selembar garis perbatasan institusi untuk membelah satu daratan yang sama menjadi surga kemakmuran dan neraka keputusasaan.
Buku Why Nations Fail karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson memberikan jawaban yang mind-blowing sekaligus menggedor kesadaran kita. Kegagalan sebuah negara bukanlah karena letak geografis yang salah, budaya yang malas, atau ketidaktahuan para pemimpinnya. Akar dari segala kegelapan dan kemiskinan itu bernama: Institusi Ekstraktif. Inovasi adalah badai yang paling ditakuti oleh penguasa ekstraktif; mereka lebih rela membiarkan negaranya membusuk dalam kemiskinan yang abadi, daripada membiarkan nyala ‘penghancuran kreatif’ membakar habis singgasana dan hak istimewa mereka.
Buku ini menelanjangi ilusi yang selama ini kita percaya. Mari kita lihat kota Nogales yang terbelah oleh pagar perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko. Mereka memiliki iklim yang sama, geografis yang sama, dan leluhur budaya yang sama. Namun, Nogales di sisi Amerika makmur, sementara di sisi Meksiko terjerat kemiskinan dan ketakutan. Perbedaannya murni terletak pada institusinya. Teori bahwa negara beriklim tropis dikutuk untuk miskin telah dipatahkan secara telak.
Kegelapan yang sesungguhnya bertumpu pada desain institusi ekonomi dan politik. Institusi ekstraktif dirancang dengan satu tujuan gelap: mengekstraksi atau merampas pendapatan dan kekayaan dari mayoritas masyarakat untuk memperkaya dan menguntungkan segelintir elite yang berkuasa. Sebaliknya, negara yang makmur dibangun di atas “institusi inklusif” yang membagikan kekuasaan secara plural, mengamankan hak milik, dan memberikan pijakan yang setara bagi semua orang untuk berinovasi. Ketika sebuah tirani tumbang tanpa disertai runtuhnya sistem, sejarah hanya akan memutar ulang tragedinya yang paling gelap: sang penguasa baru datang bukan untuk menghancurkan mesin penindas, melainkan hanya untuk mengambil alih kemudinya.
Mengaitkan kerangka pemikiran buku ini dengan eksistensi permasalahan spesifik di Indonesia saat ini merupakan analisis di luar teks sumber yang diberikan, namun sangat relevan untuk membedah realitas kita. Jika kita menempatkan lensa Why Nations Fail pada lanskap Indonesia saat ini, kita akan menemukan jawaban mengapa rakyat belum bisa makmur. Permasalahan terbesar kita adalah masih bercokolnya bayang-bayang institusi ekstraktif warisan masa lalu yang terus berevolusi. Politik dan ekonomi sering kali dimonopoli oleh segelintir elite oligarki. Sama seperti fenomena Carlos Slim di Meksiko yang diulas dalam buku ini, di mana kekayaan sang miliarder bukan murni lahir dari inovasi mutakhir seperti di Amerika Serikat, melainkan dari koneksi politik dan penguasaan monopoli yang dibiarkan oleh sistem.
Mengapa elite ini tidak mau menciptakan sistem yang adil? Jawabannya puitis namun menyakitkan: Ketakutan akan Penghancuran Kreatif (Creative Destruction). Pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh institusi inklusif akan memicu “penghancuran kreatif”, di mana inovasi baru akan menggantikan teknologi lama, dan orang-orang baru akan menggantikan penguasa lama. Para elite ekstraktif sangat menentang hal ini karena pertumbuhan ekonomi dan inovasi akan mendestabilisasi kekuasaan politik serta hak istimewa yang mereka nikmati. Bagi mereka, lebih baik negara jalan di tempat asalkan tahta dan pundi-pundi kekayaan mereka tetap aman. Inilah mengapa inovasi sering dibungkam, birokrasi dipersulit, dan hukum bisa dibeli.
Lebih mengerikan lagi, negara-negara yang gagal sering kali terperangkap dalam “lingkaran setan” (vicious circle). Mereka yang memiliki kekuasaan politik akan merancang institusi ekonomi untuk memperkaya diri mereka sendiri, dan kekayaan tersebut kemudian digunakan untuk memperkuat cengkeraman politik mereka agar tidak bisa digulingkan. Ini adalah “hukum besi oligarki” (iron law of oligarchy), di mana bahkan ketika rezim berganti, penguasa baru sering kali hanya mengambil alih mesin ekstraktif yang sama untuk kepentingan kelompoknya sendiri.
Maka, selama sistem politik masih menyandera hak-hak ekonomi rakyat, di mana keadilan hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, tujuan bernegara Indonesia untuk merengkuh kemakmuran hanya akan menjadi naskah usang. Kemiskinan di tanah surga ini bukanlah takdir Tuhan, melainkan desain dari keserakahan manusia yang dilembagakan.”Sejarah bukanlah takdir yang tak bisa diubah, namun lingkaran setan ekstraktif hanya bisa dihancurkan ketika rakyat yang dibungkam menyadari bahwa kekuatan sejati ada pada keberanian mereka menuntut institusi yang inklusif.”
Epilogia: Selama kita belum berani mematahkan simfoni ekstraktif ini, kemakmuran rakyat akan terus tertahan di balik pagar kokoh bernama oligarki. Sebuah negara tidak gagal karena rakyatnya malas atau tak tahu cara bekerja keras; negara itu hancur karena para elite tahu persis bagaimana mendesain aturan yang memastikan kerja keras rakyatnya selalu berujung sia-sia. Garis batas kemakmuran tidak pernah digambar oleh tangan alam, melainkan oleh keberanian suatu bangsa untuk mematahkan belenggu ekstraktif, dan membangun institusi inklusif di mana keadilan dibagikan secara merata kepada setiap jiwa yang bernapas. Miris.
Jayapura, 5 Juli 2026
*Sultonsah, pengumpul fakta terserak




