Mati Hidup Topeng Kranggan
Oleh: Muhammad Nasai*
Topeng Malang dan perkembangan, serta sejarahnya tidak bisa lepas dari satu daerah yang bernama Kranggan. Desa Kranggan, kecamatan Ngajum Kab, Malang yang letaknya berada di lereng Gunung Kawi. Kranggan sendiri adalah daerah kuno, yang mana telah ada sejak era kerajaan, hal ini terlihat dari adanya peninggalan situs kerajaan era Singhasari. Situs peninggalan Raja Muda Kertanegara, saat ini situs ini dikenal sebagai situs Jenar (kemuning) yang mana terdapat prasasti, lingga yoni dan arca Lembu Andini. Prasasti desa Kranggan itu bertarik tahun 1178 saka (1256 m).
Daerah ini di masa pendudukan Belanda masuk dalam wilayah Karisidenan Pasuruan, yang mana Karisidenan ini berdasar surat Staatblad Gubernur Jendral tanggal 1 Maret 1874 yang berlaku mulai tanggal 1 april 1874 bahwa Karisedianan Pasuruan memiliki 3 bagian wilayah (afdeling), yaitu afdeling Pasuruan, afdeling Bangil, afdeling Malang. Desa Kranggan masuk dalam distrik kawedanan kepanjen Afdeling Malang.
Kranggan adalah desa yang telah mengalami sejarah Panjang, dan Kranggan di era 1950-an menjadi satu desa sebaran seni tradisi wayang topeng Malang yang berada di wilayah lereng gunung kawi. Meski terbilang masih muda keberadaan Topeng Kranggan, yang baru berdiri ditahun 1950-an. Namun, bisa jadi di masa sebelumnya bibit kesenian wayang topeng sudah ada di desa ini, karena di beberapa desa tetangga dari Kranggan, kesenian Wayang Topeng sudah berkembang semenjak era 1930-an. Semenjak berdirinya di tahun 1950-an seni wayang topeng didesa ini mengalami perkemkembangan yang pesat, hingga mempunyai 2 (dua) grup Topeng. “di daerah lain hanya punya satu grup topeng, di kranggan saat itu sudah mempunyai 2 grup” kenang salah satu sesepuh topeng Kranggan
Hadirnya kesenian wayang topeng di Kranggan pada masa itu, bermula dari krentek niat dari sesepuh Kranggan yang ingin ada kesenian wayang topeng, dan 9 tokoh kesenian ini langsung belajar topeng ke Pakisaji. Para sesepuh Kranggan diantaranya Mbah Kabul, dan delapan orang lainnya belajar seni wayang Topeng langsung ke Mbah Karimun di Pakisaji.
Selama kurun waktu 1 tahun Mbah Kabul dengan 9 penari belajar ke Mbah Karimun, dalam kurun belajar ke Mbah Karimun ini, mbah Kabul dan teman-temannya juga mulai “menyicil” topeng dan kelengkapan seni topeng dari mbah Karimun, hingga akhirnya bisa membuat grup Topeng Kranggan. Grup Topeng pertama di Kranggan era 1950-an ini di ketuai oleh Mbah Kabul. Keberadaan grup topeng ini langsung mendapat tempat di hati masyarakat, dengan dikenal dan sering mendapat undangan gebyakan.

bah Kasiman, menunjukan topeng Bapang milik Grup Kranggan buatan dari Mbah Karimun maestro Topeng Pakisaji.
lalu berselang 2-3 tahun kakak dari Pak Kabul yaitu Pak Matali membangun grup Topeng Kranggan dengan nama Rukun Tentrem yang langsung di latih Pak Kentar dari Pakisaji. Sejak saat itulah Kranggan mempunyai dua grup seni wayang Topeng Kranggan yaitu Grup Topeng Etan dan Grup Topeng Kulon (Rukun Tentrem).
Seni Topeng Kranggan mengalami pasang surut sejak berdirinya diawal tahun 1950-an, namun begitu Topeng Kranggan pernah mengalami kejayaannnya di tahun 1960 hingga 1980-an. Banyak sebab pasang surut hingga fakumnya kesenian ini, diantaranya banyak seniman sepuh yang meninggal, dan terjualnya perlengkapan Topeng yang akhirnya grup topeng fakum. Kisah pasang surutnya kesenian Topeng Kranggan ini disampaikan langsung oleh Mbah Kasiman, yang berhasil penulis wawancara di tahun 2016.
Mbah Kasiman adalah sesepuh topeng anggota grup topeng etan, grup topeng ke dua (2) yang berdiri di desa Kranggan di masa keemas an Topeng Kranggan tahun 1950-an. Beliau menceritakan bahwa factor surut dan fakum seni wayang Topeng Kranggan karena saat itu sudah banyak seniman yang meninggal dunia hingga tidak ada yang meneruskan, generasi Kranggan banyak yang tidak mau meneruskan Topeng, kesenian ini masih bisa dinikmati ditahun 1980-an setelah itu sudah tidak ada lagi.
Walaupun kesenian topeng desa kranggan sekarang sudah tidak ada lagi (tahun 2016), namun sejarah dan ceritanya tetaplah patut dipelajari bukan hanya dikenang, bagaimanapun juga Kranggan pernah membesarkan kesenian wayang topeng ini.
Kasiman, adalah ketua terakhir (Ke 3) topeng Kranggan, yaitu Grup Topeng Saylendra Kranggan. Dirinya mulai menceritakan sejarah kesenian topeng Kranggan saat penulis mengunjunginya di rumahnya di desa Kranggan yang beralamat JL. Saylendra no.12 RT 01 RW 06 desa Kranggan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Rumah miliknya sedikit berbeda dengan tetangga lainnya, hal ini karena Mbah Kasiman masih mempertahankan bentuk asli rumah peninggalan leluhurnya.
Tempat tinggalnya bergaya klasik dengan empat pilar soko guru dan pernik-pernik kuno ini, penulis melihat ini adalah bentuk kesederhanaan dan keteguhan Kasiman dalam menjaga peninggalan leluhurnya. Dengan balutan kaos sederhana dirinya menceritakan bila era tahun 1960-an, kesenian topeng kranggan sudah berkembang. Bila daerah lain hanya mempunyai satu grup kesenian topeng, di Kranggan saat itu berdiri dua grup topeng, yaitu Topeng Kulon pimpinan Pak Kabul, dan Topeng Etan pimpinan Mbah Matali (Carik desa Kranggan), aku Kasiman mengisahkan kebanggannya saat itu.
Ditemani sang Istri Mak Rumiyati (lahir 1962) yang sembari sibuk mengupas jagung hasil ladang mereka, Pak Kasiman kelahiran 1951 ini, menceritakan riwayat kesenian di desanya. Dirinya mulai dengan bercerita Grup pimpinan Mbah Kabul (Topeng Etan) ditahun 1970-an grup ini fakum dengan di jualnya semua topeng dari grup Topeng Kulon ini. Tidak terlontar alasan kenapa tiba-tiba semua piranti kesenian Topeng grup ini dijual, akan tetapi Penulis meyakini, hal inikarena banyak pemain serta teman seperjuangan Mbah Kabul yang telah berpulang.
“Topeng dan segala peralatan seni wayang topeng Kranggan pimpinan Pak Kabul di jual ke Lemah Duwur kepada pak Ali” penuturan Mbah Suparman (80) Pengendang Topeng Kulon, yang tak lain putra dari alm Mbah Matali.
Tahun 1960-hingga 1970-an, banyak grup kesenian yang mengalami pasang surut hingga fakum. Di masa itu keadaan sangat sulit, hingga berdampak pada kehidupan kesenian di Malang Raya. Tragedy 1965 begitu besar dampaknya pada kehidupan seni tradisi Topeng Malang, banyak perangkat kesenian tradisi yang di musnahkan saat itu. Hal ini lantaran ketakutan di tuduh bagian dari Lekra. Banyak tokoh yang selamat dari prahara ini, tapi juga banyak yang hilang atau di bunuh saat kejadian waktu itu. Dan kejadian keji ini juga menimpa pada pelatih Topeng Kranggan, yaitu Pak Kentar, Pak Takim dan Pak Ratno.
”Seng nglatih-nglatih iku yo Kentar, Ratno, Takim barang iku wes ganok kabeh iku, kenek G30 iko arek telu iku, gagah-gagah, jan di jukuk urip wong telu iku, getun kene” (Yang melatih saat itu ya Kentar, Ratno, juga Takim tapi sudah meninggal semua, terkena G30S orang tiga itu, gagah semua orangnya di ambil hidup-hidup, dan kita jadi kehilangan” tutur Mbah Suparman dengan logat jawa malangan.
Mbah Suparman, melanjutkan kisahnya, Topeng Kranggan Rukun Tentrem (Topeng Kranggan Kulon) pimpinan Pak Matali yang tak lain adalah orang tuanya mempunyai perbedaan dari Topeng pimpinan Pak Kabul, Topeng Kranggan generasi awal (Topeng Etan). Perbedaannya yaitu, sejak awal berdiri dam berkembang, grup Topeng ini didampingi dan dilatih oleh Pak Kentar, Ratno dan Pak Takim. Sedangkan topeng kulon mendapat pelatihan langsung oleh Mbah Karimun, maestro Topeng Pakisaji.
“Hampir setiap hari Pak Kentar, Takim dan Ratno berjalan kaki dari Pakisaji ke desa Kranggan untuk mengajar Topeng. Mereka bertiga adalah seniman topeng dari Kedung Monggo era Mbah Karimun” ujar suami dari Mbok Jamini ini.
Meski tidak mendapatkan “ilmu” tari topeng dari Mbah Karimun, namun semua topeng dan perlengkapan Topeng (Rapek dll) grup Pak Matali ini membeli ke Mbah Karimun. Saat itu, perajin topeng yang ada di wilayah gunung kawi, masih Mbah Karimun. Di era dua grup Topeng Kulon dan Etan Kranggan ini, kesenian Topeng sangat digemari, bisa dipastikan hampir sebulan penuh, grup Pak Kabul dan Pak Matali ini ramai tanggapan, hingga keluar daerah.
“Podo mlakune, grup etan tanggapan dewe, grup kulon yo oleh tanggapan, dadi podo ramene, biyen yo mlaku ambek mikul bekakas topeng ngono, wong durung onok angkutan” (Sama-sama aktifnya, grup topeng Etan (timur) gebyak tanggapan, Grup Topeng Kulon (Barat) juga tanggapan. Dulu saat ke tanggapan berjalan kaki sambil membawa perlengkapan Topeng, belum ada kendaraan saat itu) Mbah Parman mengisahkan geliat 2 grup Topeng Kranggan.
Kasiman menghela nafas panjang, lalu menceritakan saat awal dirinya bersama teman-temannya ingin menghidupkan kembali kesenian Topeng di desa-nya, setelah lama fakum imbas dari tragedy Gestok 1965, “Awalnya rundingan teman sebaya, Kasiman, Kasimun, Warji, Sarno, Suyit dan banyak lainya, tapi mereka kini banyak yang telah meninggal” ujar Kasiman mengisahkan perjuangannya bersama teman-teman didesa mendirikan grup Topeng Saylendra Kranggan di tahun 1975.
Grup Topeng baru ini tak lain kelanjutan dari topeng Etan dan Topeng Kulon yang telah fakum sebelumnya. Dengan jalan patungan bersama mengumpulkan uang, dari hasil menjual lampu Petromak dan hasil panen teman-teman Kasiman akhirnya berhasil memesan topeng-topeng di Kedung Monggo, Pakisaji, topeng buatan Mbah Karimun dan Pak Taslan. Generasi baru Topeng Sailendra ini kerap mendapat pengajaran dari generasi pertama topeng Kranggan seperti Pak Kabul dan Matali.
“Saat itu semua anggota urunan, ada yang hasil menjual Petromak, hasil panen Gandum (Jagung), atau hasil bumi lain untuk beli Topeng ke Mbah Karimun” kenang Pak Dasiyo (generasi ke 3 Topeng Syalendra Kranggan) menceritakan leluhurnya mendapatkan topeng.
Dengan niat berkesenian yang begitu besar dan rasa guyup gotong royong yang tinggi, pelan-pelan kesenian topeng Kranggan mulai bangkit. Kasiman dengan teman seperjuangan bergiat belajar Topeng pada generasi sebelumnya. Generasi muda yang di promotori oleh Kasiman akhirnya memulai latihan kesenian topeng di rumah Parman, sebelah selatan dari Balai Desa Kranggan. “saat itu latihannya tidak memakai gamelan, masih menggunakan mulut” kenang Mbah Kasiman menceritakan awal dirinya dan remaja Kranggan mulai latihan Topeng. Setelah paham dengan gerak dan tarian para penari nyang seumuran Kasiman itupun mulai di iringi kendang dan Saron.
Secara rutin mereka berkumpul setiap sore selepas magrip di rumah Parman, dengan penerangan dari ublik dan sumber cahaya teplok Pak Matali dan Pak Kabul mulai melatih Kasiman, Dasiyo, Warno, Kasimun, Suyit dan teman lainyaberlatih menari. Dengan menggunakan “kendang cangkem” tiap gerak solah diajarkan oleh Mbah Karimun, yang selalu di temani Taslan, putra wayangnya.
Grup Topeng Sailendra desa Kranggan tidak memiliki Gamelan seperangkat, namun tekat dan semangat Kasiman serta teman untuk menghidupkan kesenian Topeng sangat besar. Karena keterbatasan alat inilah, tiap latihan menari Pak Kabul dan Pak Matali melatih hanya menggunakan kendangan mulut saja. Kasiman bersama grup Sailendra baru menggunakan gamelan lengkap ketika gebyak tanggapan saja, dan itupun dengan jalan menyewa gamelan, setelah itu kembali grup ini berlatih hanya dengan kendangan mulut. “pakai gamelan bila tanggapan saja, atau terkadang disediakan tuan rumah yang menanggap grup ini” pungkasnya.
Kasiman merasakan saat itu kesenian banyak diapresiasi masyarakat, sering sekali tanggapan di terima oleh Grup Sailendra yang baru ini. Kasiman melihat hal ini karena masyarakat “kangen” dengan hiburan Topeng yang lama tidak mereka saksikan sejak peristiwa 1965. Topeng Kranggan sering mendapat tanggapan hingga luar daerah, setiap gebyak Topeng Kranggan, Pak Kasenam Kedung Monggo lah yang menjadi dalang ceritanya, mengambil epos cerita wayang purwo grup Topeng Kranggan menghibur penontonnya. Kasiman menuturkan sebelum dalang Kasenam, Kranggan mempunyai dalang sendiri yang bernama Pak Samut, tapi setalah meninggal diganti oleh Kasenam yang juga sering menjadi dalang di grup topeng Kedung Monggo.
“cerita wayang Purwo yang dimainkan, dalangnya Pak Kasenam yang sekarang tinggal di Talun Kecopokan, Gunung Sari, Kelono, Bapang sudah banyak yang meninggal wayangnya” kenang Kasiman.
Ditahun 1980-an, Grup pimpinan Kasiman ini masih bisa disaksikan di tanggapan sekitaran desa, Kromengan, Jambuer, Kedung Monggo adalah salah satu dari banyaknya daerah yang pernah menyaksikan gebyak Topeng Kranggan. Pengrawit dan panjak telah mulai banyak yang meninggal dan kesenian Topeng Kranggan pelan-pelan surut. Kasiman hanya bisa menyesali ketika banyak topeng, pakaian tari yang rusak sebab lama tersimpan tanpa di pakai, hal ini juga karena telah lama Topeng Kranggan tidak aktif lagi. “terakhir gebyakan mungkin sekitar tahun 1985-an, setelah itu tidak lagi, wayang dan panjaknya banyak yang meninggal” tegas Kasiman.

Rapek grup Topeng Kranggan, berbeda dari kebanyakan Rapek Topeng Malang, Rapek ini mempunyai keunikan motif dan corak tersendiri.
Seiring banyaknya tokoh topeng dan teman seperjuangan yang meninggal, para sepuh topeng Kranggan akhirnya beralih ke kesenian terbang jidor demi terus menghidupi jiwa seni dalam dirinya. Salah satunya Mbah Kasiman sendiri, yang juga di percaya menjadi ketua di kesenian terbang jidor di desanya. Mbah Kasiman, menjelaskan kenapa beralih ke terbang jidor, lantaran banyak teman seperjuangnya yang telah meninggal dunia, dan yang lainnya yang masih sehat, sudah tidak kuat untuk menari. Semakin hilangnya kesenian ini juga karena tidak ada generasi muda yang mau belajar, serta perhatian dari pemerintah dan desa.
Suwardji seorang wayang topeng Kranggan juga menuturkan bila generasi sekarang di Kranggan sudah tidak didapati yang mau melanjutkan kesenian ini, hal ini juga yang menjadikan kranggan kian hilang dari catur kesenian Topeng di Malang. “penyebabe niku kanak-kanak ten mriki niku lek di wulang mbeso niku mboten purun mboten saget, soale tiang mbeso topeng niku mboten sukur tiang saget mbeso” tutur Suardji yang berdarah Madura ini berkisah keadaan saat ini (2016).
Ketidak mampuan fisik para sesepuh dan keengganan generasi Kranggan berlatih Topeng karena dirasa sulit dan sangat berfareasinya gerakan tarinya, menjadikan nama Topeng Kranggan kian redup. Suwardji mengakui itu, dirinya juga menambahkan bahwa gerak ragam tari topeng Kranggan sangat banyak. “Dari satu tokoh topeng saja bisa puluhan tari yang harus dikuasai, hal inilah yang menjadikan generasi Kranggan tidak mampu untuk melanjutkan kesenian ini” tuturnya dengan bahasa jawa logat Madura.
Selain itu menurut Suwardji tarian topeng kranggan, mempunyai perbedaan dengan daerah lainnya yang masih di wilayah Gunung Kawi. Dirinya menjelaskan topeng Kranggan terlihat berkarakter kasar berbeda dengan daerah lainnya. “Kocape besan (tari) sabrangan ten mriki niku kasar sumonggoo wayang niku Ngastino, lah lek pendowo kan besananane kan alus-alus, kados Janoko niku kan alus” suwardji menjelaskan bila gerak topeng gaya desanya berbeda dengan daerah lain, seperti halnya kedungmonggo yang dia bilang gaya alusan.
Karakter kasar topeng Kranggan menurut Suwardji adalah hasil dari latih sesepuh-sesepuh dahulunya, seperti Pak Kabul,Pak Kadir, Pak Suyitno, pak Poniman,Pak Parman adalah semua pelatih Kranggan yang telah meninggal semua.
Semenjak itu lama tidak terdengar kabar Topeng Saylendra Kranggan, hingga Mbah Kasiman meninggal pada tanggal 6-9- 2018 yang lalu. Topeng kranggan masih fakum. Baru ditahun 2020, sebuah kabar gembira datang dari topeng kranggan. Sebuah Gerakan dalam menghidupkan Kembali kesenian Topeng di desa Kranggan diinisiasi Arif Dwi Cahyono putra pertama dari alm Mbah Kasiman beserta beberapa generasi topeng kranggan, di antaranya Pak Dasiyo, Pak Kasimun dan lainya. Dikarenakan pandemic Covid 19, dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) saat itu, kabar kemunculan kembali Topeng Kranggan tidak terdengar keluar.
Semenjak Mbah Kasiman sering sakit, Arif Dwi Cahyono yang sejak bulan agustus 1999 menetap dan tinggal bersama istrinya di Ponorogo, mulai sering pulang pergi menyempatkan tinggal di Kranggan. Salah satu upaya Arif dalam menjaga dan merawat Mbah Kasiman selama sakit. Sepeninggal Mbah Kasiman di tahun 2018, kegelisahan seorang anak kepada bakti kepada orang tua semakin menebal, terlebih sang Ibunda Rumiyati (1962) tinggal sendiri di rumah Kranggan, dan berselang 2 tahun, tepatnya di tahun 2021, dirinya memboyong anak istrinya pindah dan Kembali menetap di rumah punden warisan leluhur Mbah Kasiman. Dengan kembalinya arif ke rumah ini, niat untuk latihan dan menghidupkan kembali seni topeng mulai tumbuh. Pak Dasiyo, Mbah Kasimun, Mbah Suparman dan sesepuh topeng kranggan yang masih sehat mencoba mengumpulkan generasi muda kranggan. Dengan energi dan spirit kejayaan Topeng Kranggan yang masih membara di hati para sesepuh, Pak Dasiyo, Mbah Kasimun, Mbah Suparman dengan sesepuh yang lain tanpa lelah menularkan kebisaan topeng pada generasi muda Kranggan. Setiap malam minggu, selepas waktu Isya mereka berkumpul dan berlatih tari di rumah punden Mbah Kasiman. Dimana dahulu rumah ini adalah sentral kegiatan topeng dan juga tempat kumpul para pejuang Indonesia di masa revolusi senjata melawan belanda.
Alam mendukung, gayung bersambut niatan kembali merintis kesenian Topeng Kranggan yang telah lama fakum mendapat dukungan warga sekitar, terutama dari lingkungan RT 01 RW 06 desa Kranggan, masyarakat berinisiatif gotong royong (patungan) mengumpulkan uang untuk mendukung tumbuhnya kesenian Topeng Kranggan dengan membelisejumlah perlengkapan kesenian wayang Topeng Malang ini. Dengan pelan -pelan sejumlah demung, saron, kendang, dapat dibeli dari uang hasil patungan warga.
Momen dan spirit gotong royong ini seakan menjadi tradisi berdirinya seni Topeng di Kranggan. Semua diawali dari urunan dan gotong royong. Sebuah kearifan local yang kini jarang kita temui dalam kehidupan social di masyarakat kita. Gotong royong, urunan, sayan untuk berdirinya kesenian topeng desa Kranggan.
Di bantu sesepuh seni topeng kranggan dan warga di wilayahnya Arif Dwi Cahyono mencoba menata kembali kesenian yang pernah berjaya dan membawa nama besar desa Kranggan di wilayah Kabupaten Malang ini. Semua perlengkapan Topeng yang lama tersimpan di kotak kayu berukuran 60 x100 cm di keluarkan. Banyak topeng yang rusak karena semenjak tahun 1985, tak pernah di keluarkan dan tersimpan rapat dalam kotak. “30 topeng Kranggan rusak didalam kotak kayu itu. Tinggal separohnya” ujar Arif mengisahkan awal pertama mengeluarkan topeng. “dulu tidak kepikiran menyimpan yang rusak, saya kubur di belakang rumah mas” Ujar Arif mengisahkan nasip topeng yang rusak.
Dengan modal ketrampilan tangan, Arif dengan sebisanya mencoba menduplikat dan mengganti topeng-topeng yang rusak, supaya topeng Kembali utuh. Satu persatu, topeng-topeng di buat dengan pengawasan dan pertimbangan dari Pak Dasiyo ataupun tetua topeng kranggan lainnya. “usahakno kudu persis ambek topeng seng kuno, cek pancet pakem e kranggan” ujar salah satu tetua topeng kranggan saat itu. Topeng-topeng kuno yang rusak diantaranya adalah topeng Kelono, Sekartaji, Potro Joyo, Demang, Buto Bekal (kembar merah dan putih), Mahesasura, Bapang, Laler Ijo, Ontoseno, Abiyoso dan beberapa topeng purwo lainnya.
Bermodal tekat dan keahlian seadanya, Arif berusaha mengukir dan membuat topeng untuk menggantikan topeng-topeng Kranggan yang telah rusak. Menggunakan alat seadanya, hanya dengan Cutter dirinya mulai mutrani topeng-topeng kranggan yang telah rusak, tidak selayaknya pengukir topeng yang selalu menggunakan Pangot dalam mengukir, topeng-topeng kranggan yang baru di buat hanya menggunakan cutter. Arif mengaku lebih terbiasa menggunakan cutter dalam membuat topeng dibandingkan menggunakan Pangot. “tidak bisa mas, mungkin belum terbiasa dengan pangot” aku Arif menceritakaan ketidak bisaan menggunakan pangot.
Meski hanya menggunakan cutter, dirinya bisa melengkapi dan mengganti Kembali topeng-topeng yang telah rusak hingga jumlah topeng kranggan mendekati utuh Kembali. “masih ada beberapa yang belum sempat saya buat mas” jawab Arif terkait melengkapi topeng kranggan.
Dua tahun terakhir ini, kesenian Topeng desa Kranggan telah berkembang dan mewarnai dunia tradisi wayang Topeng Malang di Malang Raya, dengan kerap tampil di berbagai acara kebudayaan di Malang. Serta rutin menggelar Gebyak di Sanggar Sailendra desa Kranggan juga sering diundang tampil di Sanaya Hotel Malang.

Sanggar Topeng Sailendra Kranggan menggelar gebyak Topeng di pendopo rumah Alm Pak Kasiman tetua grup Topeng Kranggan beberapa bulan yang lalu.
*Muhammad Nasai, pegiat seni, fotografer budaya, dan pelestari Topeng Malangan asal Cemorokandang, Kota Malang.




