Puisi-puisi Tania Rahayu
TEMUKANLAH TERANG
Hitam adalah hitam
Putih adalah putih
Jika Putih mencerminkan bayang hitam
Maka temukanlah
Terang lubuk hati
untuk melihat mereka lebih dalam
Hitamkah kau?
Putihkah aku?
Sejatinya kau aku adalah rahasia
yang hanya tampak
lewat Cahaya
Maka Temukanlah
Terang kasih dan doa
Untuk merasakan cinta
dan rahmat yang menyelimuti segala
Temukanlah terang
Pada diam
Pada terang
Pada pengampunan
dan keikhlasan
SECANGKIR KOPI PANAS
Yang gula adalah kamu
dan pahit adalah cinta
Meroboh hibernasi yang memeluk sekian lama
Kupikir kau aku akan terjaga jika segera
kita menyesapnya
Pahitnya kau mengulur waktu
Gulanya aku terus menunggu
Malam larut berpuisi
Secangkir kopi itu sudah tidak panas lagi
Sumampir, 28 Februari 2024
ADA PESTA KEMBANG API
Di pagelaran hati yang lama
Sepi
Meletup-letup di ujung mata
yang malu membuka
kemeriahan cinta
Menjadikan diam menjelma
pesan rindu
Menghapus kemelut mendung ragu
Kau aku terkesima
Pesta ini hanya kita yang punya
Kau aku tak bisa apa-apa
Pada rahasia rencana-rencanaNya
Sumampir, 18 Maret 2024
TENTANG HAL-HAL YANG TIDAK KAU KETAHUI
Bahwa malam Minggu kala itu
adalah malam yang indah dan sepi
Cahaya bulan menyeringai
Menyorot senyummu yang teduh dan rahasia
namun entah terlukis untuk apa dan siapa
Lalu ramai-ramai aku menyusun puisi
Yang riuhnya menggemparkan hati
Tentang hal-hal yang tidak kamu ketahui
Bahwa semesta yang kau ceritakan
di sepanjang jalan yang kita lewati
adalah pintu gerbang rumah hatimu
yang kukira akan kutinggali
Kusimpan rapat puisi ini dalam mimpi
yang kan kubawa dan kubaca setiap hari
Di balik pohon persembahyangan
Di balik bunga ketulusan
Tentang hal-hal yang tidak kamu ketahui
Semoga suatu hari
Kau aku akan mengerti
Sumampir, 5 Mei 2024
PERBINCANGAN INTI
Apa yang kau bicarakan tadi
sejujurnya tak begitu aku mengerti
Karena tidak ada suara
yang seksama kudengar
Selain suara ramai hatiku
melihat wajah hatimu bersinar
Bagiku bagian paling menyenangkan
dari berbincang denganmu
Bukan apa-apa yang sedang kau bicarakan
Tetapi justru dirimu
Semesta
yang indah tak berkesudahan
Sumampir, 17 September 2024
KEPADA NYAI RUBIAH SEKAR
Di manakah cahaya wali luhur
Yang dahulu menimang jagat ini
aku mengadu
engkau yang telah bersemayam
tetapi justru aku yang hidup di bumi kematian
aku melihat anak-anak kecil bertasbih
bertumpuk-tumpuk di atas piring
di meja makan manusia
yang hanya gemar tertawa
Kepada Nyai Rubiah Sekar
Rumah persemayamanmu begitu sejuk
Oleh batu-batu berlumut
yang melumatkan zikir
oleh pepohonan agung
yang akarnya menjalar ke langit ‘Arasy
sedang pepohonan di pelatar rumah kami
telah habis tak tersisa lagi
Kepada Nyai Rubiah Sekar
Bisakah kau kembali memeluk kami
Mengajari tabuh salawat para wali
Mengajari bertani dan menjaga tanah bumi
Dalam keheningan
hutan belantara Dusun Gunungwuled
Nyai Rubiah Sekar berbisik melalui dedaunan
“Kau berkelindan tanya
Sedang kedalaman hatimu
Sering kau lupa
Bukan aku atau wali-wali
Yang semestinya kembali di bangkitkan
Kau berdiri di akhir zaman
Hanya Islam dan Iman
Sebagai rukun yang harus selalu kau nyalakan”
Bantarbarang, 12 Februari 2026
BUNGA LOTUS
Bunga lotus mengadu pada Tuhan
mengapa ia dilahirkan
Jika lumpur yang melumuri kelahiranku
Jika lumut yang menyelimuti tidurku
Jika rawa dan semak belukar yang menjadi rumahku
bolehkah Tuhan, aku tetap berada di surgamu
Siapa yang akan mendatangiku
jika lumpur basah yang akan menodai kaki mereka
Siapa yang akan mengisi perutku
Jika lumut terus merebut makanan yang kupunya
Siapa yang bersorak menyambutku mekar
Jika rawa, semak belukar lebih tampak seperti rumah keramat yang menakutkan
Bunga lotus mengadu pada Tuhan
mengapa ia dilahirkan
Kau pindahkan aku dari rawa
menuju tempat hiasan ruang tamu
tapi aku sekarat
karena itu bukan rumah sejatiku
Kau pindahkan aku dari ruang tamu
menuju tempat kebun rumah kaca
yang di sana berkumpul ragam bunga-bunga
tapi aku tak bisa berkata-kata
bunga-bunga di sana lebih cantik
dan lebih kaya akan aroma
Tolong kembalikan aku ke rawa saja
Bunga lotus mengadu pada Tuhan
mengapa ia dilahirkan
Aku telah kembali
ke rumah yang semula aku tinggali
tapi rumah itu telah hilang
menjadi tanah kering yang kosong dan gersang
kemana aku harus pergi
kemana aku harus datang
kemana aku bisa pulang
Bunga lotus mendapat jawaban Tuhan
mengapa ia dilahirkan
Tidak lain dan tidak bukan
untuk mensyukuri apa yang kau miliki
dan untuk terus meyakini
kuncup, mekar, hidup, membelukar
atau mati, sekarat, hidup sendiri
ada Aku di sini
yang takkan pernah beranjak pergi
Purwokerto, 2025
*Tania Rahayu dalah seorang penyair, cerpenis, dan peneliti pada Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.




