Jika Dua Sastrawan Austria dan Swiss Jatuh Cinta

Oleh: Sigit Susanto*

Pada 21 Juni 2026 stasiun TV SRF Swiss menayangkan film berjudul Perjalanan di Gurun (Reise in die Wüste). Film berdurasi 110 menit ini menceritakan tentang cinta dua sastrawan beken, Ingeborg Bachmann dari Austria dan Max Frisch dari Swiss.

Seperti publik sastra tahu, bahwa kedua sastrawan tersebut memang dalam realitas kariernya menjalin tali percintaan.
Adegan film dimulai di Paris pada musim panas 1958. Frisch mengundang Bachmann menonton pentas teater perdana dari novelnya berjudul Tuan Biedermann dan Penyulut Api (Herr Biedermann und die Branstifter).

Kedua sastrawan yang masing-masing sudah menggendong nama bertemu dan semakin akrab. Kedua insan ini jatuh cinta dan diputuskan untuk tinggal di kota Zürich, Swiss, tempat Frisch berasal.

Saat di apartemen di Zürich ini, terlihat beberapa kali kedua sejoli yang mabuk cinta berjalan di tepi sungai Limmat. Jika dua sastrawan hidup dalam satu rumah, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi? Ternyata, bukan saling mendukung karier, sebaliknya, justru saling merasa terganggu dan bersaing.

Frisch mengetik dengan mesin ketik kuno di atas meja dan suara ketikan yang keras sampai menerabas ke ruangan-ruangan lain, termasuk di ruangan Bachmman.

Kalau sudah seperti ini terjadi, maka Bachmann mulai dengan fantasi liarnya. Setting cerita beralih di gurun. Ia sedang berjalan di gurun ditemani pemuda lokal.

Bachmann minta dirinya dikubur di pasir putih layaknya mumi zaman purba. Tentu pemuda itu agak kaget, tetapi ia ikuti permintaannya. Bachmann dikubur seluruh tubuhnya, hanya tersisakan kepala menengadah ke atas untuk bernapas.
Pemuda lokal itu sangat sopan dan bercakap-cakap sampai di kamar hotel, tempat Bachmann menginap. Terjadi adegan mesra dan saling berciuman.

Di manakah Frisch sekarang berada? Ini pertanyaan saya, mungkin juga mewakili penonton lain. Dugaan saya, mungkin Frisch juga ikut dalam perjalanan itu, tetapi sedang pergi, entah ke mana. Bukankah, judulnya Perjalanan di Gurun? Tentu dilakukan bersama.

Ternyata dugaan saya ini salah besar. Frisch masih tetap di ruangan di Zürich mengetik manuskripnya. Sedang nuansa gurun ini merupakan fantasi pelarian Bachmann sendiri. Guna mengalihkan ketertekanan di rumah.
Perubahan setting tempat berganti-ganti, sekali berada di Zürich dan kali berikutnya berada di tengah gurun, dan ini agak membingungkan.

Kembali di apartemen di Zürich, mereka berdua sedang mengobrol santai atau minum wine di ruangan. Tak lama lagi, terjadi ketegangan kecil. Bachmann sudah berada di pasar di gurun. Suasana pasar khas negeri Arab, ada asesoris pakaian jubah dan aneka bumbu masakan orientalis. Bachmann ditawari membeli jilbab, tapi ia menolak.
Di pasar Bachmann tampak murah senyum, termasuk ketika ada tiga bocah mendekatinya. Satu bocah memegang rambut blonde Bachmann. Anak adalah simbol kejujuran, rambut Bachmann dibiarkan dipegang-pegang. Ia sadari mungkin rambut blonde termasuk langka di situ.

Bachmann di sebuah kafe di gurun pasir. Lalu ada tiga cowok yang duduk di meja seberang membicarakan sosok bule berambut pirang itu, dengan wajah melankolis. Dua dari tiga lelaki lokal memakai jubah dan berjamban lebat mendatangi mejanya. Ia senyum manja dan tak lama, datang lelaki sebelumnya yang sering jalan bersama. Melihat pemuda itu langsung mendekat ke Bachmann dan berbicara akrab, kedua lelaki yang datang tadi undur diri.

Selama mereka tinggal di Zürich tampak kurang harmonis. Satu atap dengan dua pengarang dunia, punya arah imajinasi berbeda. Mereka seperti saling bersaing mempertahankan cara hidup sendiri.
Bachmann kembali rebahan di sofa ruangannya, sementara Frisch rajin mengetik dengan bunyi sama, selalu keras.
Sampai di sini, saya teringat film keluarga Thomas Mann. Betapa anak-anaknya tertekan, karena ketika Mann sedang menulis, tak boleh ada suara berisik dari anak-anaknya di rumah.

Fantasi Bachmann semakin tak terbendung. Raut wajahnya kadang launisch atau tak ada mood, murung, cemberut.
Ia berada di kamar hotel di gurun lagi dan meminta kenalan anak muda itu untuk mengajak dua lelaki lain yang tempo hari bertemu di kafe. Tiga pemuda seluruhnya masuk kamar Bachmann dan mereka melakukan adegan seks. Terlihat keempat orang telanjang bulat sedang melampiaskan nafsunya di ranjang.

Sampai di sini saya teringat igauan monolog interior Molly Bloom pada bab 18, novel Ulysses. Tokoh protagonis Leopold Bloom, sang suami, sedang rebahan di ranjang dengan Molly Bloom, sang istri. Namun sang istri juga mengigau membangun fantasinya dengan Boylan, manager di konser musik yang menjadi pacarnya. Bloom berasumsi Yes, dengan Boylan atau dengan suami sendiri yang sedang berbaring di sebelahnya. Namun Bloom berakhir memfantasikan, bahwa dia hanya mencintai suaminya sendiri dengan kalimat terakhir Yes.

Esok hari Bachmann berjalan di gurun ditemani pemuda yang sudah akrab dengannya. Ia lari-lari kecil dan berjingkat-jingkat, seperti merayakan kebahagiannya malam kemarin. Ia berteriak sejadi-jadinya.

Pada sebuah tebing gurun, keduanya saling bercakap-cakap. Bachmann heran, pemuda lokal ini hafal puisi-puisi yang ditulis Bachmann dalam bahasa Jerman. Percakapan literasi terus membuncah. Pemuda itu utarakan akan bertandang ke Praha pada sebuah acara literasi.

Film kembali ke dunia riil lagi, bahwa dua sastrawan ini juga perokok dan tampak di setiap adegan. Frisch memakai rokok cangklong, sedang Bachmann rokok biasa. Puncak kemarahan Bachmann sudah tidak terbendungkan. Ia mengatakan, bahwa tinggal di Zürich tidak nyaman, selain warganya kurang ramah, juga tak bisa menulis lagi.

Frisch yang berpostur agak gemuk memakai kaca mata dengan frame hitam tebal mengalah dan lebih bijak. Apakah Bachmann bersedia dipindah ke apartemen temannya, masih di Zürich, sehingga mereka tak saling terganggu dalam menulis.
Tetapi Bachmann keras kepala. Asbak di meja penuh puntung rokok. Ia merokok tiada henti. Dan ada kejadian yang membuat Frisch marah, karena ketika ia pulang, Bachmann menyelipkan bunga jambon di atas telinganya sendiri. Sementara mata Frisch cepat menangkap ada sebundel bunga mawar di atas meja ruangan. Frisch bertanya, “Dari mana bunga itu?” Alih-alih mendapat jawaban yang tepat, ia mengancam akan pergi.

Perselisihan demi perselisihan, curiga, cemburu, bertaburan. Pada akhirnya Bachmann mengambil keputusan terakhirnya, ia akan tinggal di Roma.

Setting cerita berpindah ke Roma. Frisch tinggal di Zürich seorang diri. Tampak Bachmann cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Bahkan ia bisa berbahasa Italia dengan lancar.
Perlahan Bachmann dikenal di Roma dan ia menghadiri beberapa kali diskusi buku yang membahas karyanya.
Frisch dari apartemennya di Zürich mencoba menelepon ke tempat tinggal Bachmann di Roma, namun tak berhasil tersambung.

Keputusasaan ini membuat Frisch harus datang langsung ke Roma. Ia menekan tombol bel apartemen Bachmann, tampak ada jurnalis menaruh mikrofon di atas meja, dan Bachmann minta pamit, hendak membuka pintu. Ternyata Frisch sudah di depan pintu dengan koper besarnya.
Wajah Frisch masam, di rumahnya ada seorang jurnalis dan ia diabaikan duduk sendiri di ruang seberang, sembari Bachmann menyelesaikan wawancara.

“Kenapa kau tak menelepon saya dulu?” tanyanya. Frisch menjawab, ia sudah berkali-kali menelepon namun tak berhasil tersambung.

Ketegangan awal itu mencair, setelah keduanya minum wine. Canda dan gembira berhamburan. Bahkan kedua pengarang itu bermain catur. Tampak Frisch berbaju formal dengan jas hitam memegang rokok cangklong dan Bachmann bergaun lengan pendek dengan rambut potong pendek.  Frisch mulai sadari, Bachmann punya beberapa acara jumpa pembacanya. Tapi Frisch tetap ikut menemani pada setiap acara pacarnya ini. Kadang Frisch terlihat di atas ruangan, sementara Bachmann membacakan karyanya di podium yang letaknya agak ke bawah. Tampak Frisch menulis sesuatu.

Publik Roma juga lekas mengenal Frisch, seorang sastrawan ternama dari Swiss. Tetapi Frisch punya kelemahan, ia tak lancar berbahasa Italia.
Pada sebuah kafe, tampak Bachmann bertemu lelaki Italia yang membicarakan terjemahan. Ia merupakan penerjemah karya Bachmann. Lelaki tua itu mengaku, bahasa Jermannya kurang mendalam. Dan menanyakan, kenapa Bachmann berhenti menulis puisi?

Frisch menyusul dengan memandangi keakraban pacarnya dengan penerjemah tua itu. Memang Bachmann dengan orang-orang cukup ramah dan mudah mengumbar senyum, tetapi tidak di rumah dengan Frisch.
Pertentangan kedua sastrawan itu mewarnai hubungan mereka. Bachmann ingin mendekatkan Frisch pada lingkungan literasi barunya di Roma, sayang Frisch kesulitan. Ia sering merasa kesepian, di tengah kesibukan Bachmann yang semakin terkenal di masyarakat Italia.

Sampai di sini saya ingat, ketika kami berada di Roma, pada Buku Perjalanan tentang Roma (Roma Handbuch) yang saya bawa dari Swiss disebutkan, bahwa Frisch dan Bachmann pernah tinggal di Roma.
Hubungan Frisch dan Bachmann semakin dingin, disulut kenalan barunya Bachmann dengan seorang komponis gay bernama Hans Werner Henze.

Di jalanan Roma nama Bachmann dikenal luas, bagai super star. Bachmann meskipun tenar, namun hatinya rapuh. Cintanya kandas dan Perjalanan di Gurun merupakan exit point mengatasi kegagalan cintanya.
Film ditutup dengan Frisch kembali ke Zürich setelah empat tahun bercinta dan Bachmann tetap tinggal di Roma. Bachmann meninggal tragis, karena kamarnya terbakar. Sad ending ini persis dengan biografinya, bahwa Bachmann meninggal pada 26 September 1973. Ia tertidur sementara rokoknya masih menyala, hingga membakar tempat tidur, dirinya dan kamarnya.
Film dengan judul internasional Journey into the Desert ini dibuat oleh Margarethe von Trotta tahun 2023. Saat dalam proses pembuatan film diberi tajuk Bachmann & Frisch. Yang mengangkat sosok utama Ingeborg Bachmann (1926-1973), diperankan oleh Vicky Krieps. Sedang Max Frisch diperankan oleh Ronald Zehrfeld.

 

Film ini pertama diputar pada 19 Februari 2023 di Berlin dan mendapatkan penghargaan dalam lomba Internationalen Filmfestspiele Berlin. Tahun ini 2026 merupakan 100 tahun kelahiran Bachmann.

*Sigit Susanto, Sastrawan Indonesia yang tinggal di Swiss