Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

PUISI-PUISI CINTA ‘ISYQ

SURAT YANG TAK PERNAH
SAMPAI PADAMU

Aku menulis surat ini
dari tempat yang tak kau datangi,
dari ruang kosong
di antara dua langkah
yang pernah kita hindari.

Tak ada pos
yang mengerti arah rinduku.

Tak ada kata
yang cukup berani
menggantikan tatapan
yang tertinggal
di tepi matamu.

Aku menulisnya pelan,
karena malam terlalu lelah
memahami bunyi hati
yang tak sempat berbincang
dengan dirinya sendiri.

Surat ini bukan sekadar pesan.
Ia menjadi ziarah
ke makam-makam sunyi
yang kusebut: kenangan.

Dan engkau,
adalah musim yang datang
tanpa pemberitahuan,
lalu tinggal di dalam udara
yang tak sanggup kuhirup
tanpa gemetar.

Jika suatu pagi
surat ini sampai ke tanganmu,
barangkali kau akan mengerti.

Aku tak menunggumu lagi.
Aku sedang menunggu
diriku sendiri
yang pergi bersamamu,
menjadi halaman
yang belum kubuka.

2025, 2026

KAU YANG BERJALAN
DALAM MIMPIKU️

Kau berjalan
melewati kebunku yang layu
membawa cahaya dari matahari kecil
di tanganmu.

Aku terjaga
tapi tak ingin bangun
sebab langkahmu
menyusun kembali dedaunan
yang sempat gugur dari langit dadaku.

Di antara pagi
dan sisa-sisa malam,
namamu mengembun di jendela
seperti doa
yang tak sempat kulafalkan semalam.

Aku mengikuti jejakmu
hingga perempatan sunyi
di mana mimpiku
berhenti mencarimu
dan mulai menyebutmu
sebagai cahaya
yang tak bisa ditiup oleh waktu.

2025, 2026

RINDU YANG
TAK MENEMUKAN PINTU️

Aku mencium jejak langkahmu
di ubun-ubun angin yang melintas
subuh,
tapi tak kutemukan engkau,
hanya harum rambutmu
yang tertinggal di sela-sela sunyi.

Aku mengetuk jendela langit
dengan nama yang kutulis dari nafasmu,
tapi malam membisu
seperti dadaku
yang ditinggalkan doa
tanpa jawab.

Rinduku
bukan padamu semata,
tapi pada ruang
di mana namamu tak terhalang
oleh jarak dan waktu.

Aku ingin menyentuhmu
bukan dengan tangan,
tapi dengan ayat
yang tumbuh
dari air mataku sendiri.

Jika cintaku ini dosa,
biarkan ia mengalir
dalam sajadah yang tak pernah kulipat,
dan dalam detak yang terus mengucap,

“engkau, engkau, engkau.”

2025, 2026

SEPASANG MATA
DAN JALAN YANG KULUPAKAN️

Sepasang mata itu,
bukan sekadar pandangan,
mereka adalah pertanyaan
yang tak bisa kujawab
dengan doa atau puisi.

Kau berjalan melewati aku
seperti lagu
yang tak sempat kudengarkan
hingga akhir.

Aku mencintaimu
tanpa tahu bagaimana caranya
mengucapkan selamat tinggal.

Jalan itu …
ah, jalan itu,
ia menjadi kabur
sejak kau menutup pintu
dengan tatapan yang tak ingin kembali.

Namamu masih tertinggal
di saku bajuku,
di antara aroma hujan
dan debu yang tak pernah ingin hilang.

Sepasang matamu,
adalah kompas
yang justru menyesatkanku
ke dalam diriku sendiri.

Dan aku,
masih menyimpanmu
seperti kota tua
yang tak ingin kuhuni lagi,
tapi tak bisa kulupakan.

2025, 2026

TANGANKU PERNAH MENYENTUH
NAMAMU️

Tanganku pernah menyentuh namamu
di udara yang berlalu
seperti burung asing
di atas kota yang kehilangan musim.

Aku menyebut namamu
tanpa lidah,
tanpa bahasa,
seperti reruntuhan
yang menyebut nama matahari
setelah perang terakhir.

Namamu tumbuh
di antara serpih debu
dan sisa-sisa doa
yang belum sempat dikabulkan
oleh langit yang kelelahan.

Aku berjalan di jalan
yang pernah kau lintasi
tanpa bayanganmu,
tanpa suara sandalmu,
hanya bau hujan
yang pernah mampir
di lipatan surat
yang tak sempat kukirim.

Tanganku masih hafal
getar namamu
seperti pohon randu
mengenang tangan
yang memetik kapasnya
lalu pergi.

Sejak itu
menyentuh namamu
adalah menyentuh diriku sendiri
dalam sejarah
yang tak selesai.

2025, 2026

DI BAWAH BULAN
KITA SALING MENCARI️

Di bawah bulan
aku belajar menyebut namamu
seperti seorang belajar membaca peta
yang tak lagi menunjukkan jalan pulang.

Malam tidak lagi sunyi.
Ia penuh jejak
orang-orang yang pernah lewat
tanpa sempat
kembali menjadi nama.

Aku berdiri di antara
angin dan reruntuhan suara.
Setiap arah
menyerupai kehilangan
yang berbeda.

Kau tidak datang
sebagai kabar.

Kau datang
sebagai ingatan
yang tidak selesai
ditulis oleh sejarah.

Aku mendengar langkahmu
di tubuh kota
masih menyimpan
debu perjalanan kita
belum sempat
berubah menjadi masa lalu.

Aku mengira
bulan akan mengingatmu.

Ternyata
bulan pun
kehilangan catatan
siapa yang pernah
berjalan di bawahnya.

Di bawah bulan
kita saling mencari.

Bukan sebagai dua nama
yang ingin bertemu.
Tetapi sebagai dua jejak
yang sama-sama menolak
dihapus oleh waktu.

Dan aku menemukan
kehilangan
tidak selalu berarti perpisahan.

Kadang ia hanya cara lain
untuk tetap tinggal
di dalam bahasa.

Dan cinta
tidak bertanya
siapa memiliki siapa.

Ia bertahan
seperti kota
yang terus dihidupkan
oleh mereka yang telah pergi.

2025, 2026

NAMAMU ADALAH
DOA YANG KULEPASKAN ️

Pagi belum selesai.
Embun masih menggantung di ujung daun,
seakan cahaya belum rela berpisah dari air.

Aku menuliskan namamu di atas kaca jendela.
Bukan agar engkau membacanya.

Aku hanya ingin tahu
berapa lama sebuah nama
mampu tinggal
di antara napas
dan matahari.

Ketika cahaya menyentuh kaca,
huruf-huruf itu perlahan lenyap.

Tidak hilang.
Mereka berpindah ke dalam bening.

Aku tetap berdiri.
Jendelaku tak lagi memisahkan dalam dan luar.

Pepohonan masuk ke mataku.
Langit pelan-pelan belajar bernapas di dadaku.

Tak ada lagi yang perlu kupanggil.

Seekor burung melintas.
Bayangannya sebentar hinggap di kaca.
lalu terbang,
tanpa meninggalkan bekas.

Aku tersenyum.

Barangkali begitulah setiap nama
menemukan keabadiannya.

Bukan saat diingat.
Bukan ketika diucapkan.
Tetapi kala ia telah menjadi cahaya,
yang sanggup melewati segala bening,
tanpa lagi mencari pemiliknya.

2025, 2026

AKU MENYIMPANMU DALAM SUNYI

Aku tak lagi menyimpan fotomu.
Kertas terlalu mudah menjadi tua.

Aku tak lagi menghafal suaramu.
Angin pandai mengubah setiap gema.

Aku hanya menyimpan
cara engkau membuat dunia
menjadi lebih hening.

Kadang
aku menuang air ke dalam gelas.
Permukaannya bergetar
sebelum kusentuh.

Setiap getar
mengenal namamu.

Aku tak pernah memanggilmu.
Nama
adalah pintu.

Sedang cinta
lebih senang
menjadi
rumah.

Maka
biarlah engkau tinggal
di dalam diam
yang tak meminta untuk dimiliki.

Bukankah
bunga
tak pernah memanggil lebah?
Dan fajar
tak pernah mengundang
pagi?
Mereka cukup hadir.

Begitu pula
aku.

Aku menyimpanmu
bukan agar dekat.
Bukan pula agar jauh.

Aku menyimpanmu
sebagaimana sebutir benih
menyimpan hutannya.
Tak tampak.
Namun seluruh kehidupan
telah bermula
di sana.

2025, 2026

DALAM CINTA YANG TAK DIJANJIKAN️

Aku tak pernah memintamu tinggal.
Burung-burung pun tak tinggal di langit.
Setiap senja
mereka hanya menemukan arah pulang.

Setiap kali kita duduk berhadapan,
aku lebih suka mendengar sendok kecil
menyentuh dinding cangkir,
sebab ada bunyi
yang tak pernah pandai diterjemahkan kata-kata.

Pernah kita lebih banyak diam.

Di luar, angin
memindahkan beberapa daun.
Tak ada yang merasa hari itu sedang
belajar mencintai.

Aku pun tak pernah menghitung
berapa kali engkau datang,
atau berapa lama engkau pergi.

Jam tetap berputar.
Tetapi yang tinggal di dalam dada
bukan angka.
Hanya kebiasaan-kebiasaan kecil,

engkau mendorong cangkir ke arahku,
aku membiarkan bagian terakhir kue
tetap di piring,

lalu kita tertawa
seolah keabadian
sedang duduk
di antara dua orang biasa.

Kelak,
bila rambut kita pelan-pelan memutih,
aku tak berharap engkau mengingat
setiap kata
yang pernah kuucapkan.

Cukuplah
bila suatu pagi,
tanpa sebab,
engkau tersenyum
ketika mendengar
sendok kecil
menyentuh
dinding cangkir.

Dan dunia,
sekali lagi,
menjadi
tempat
yang layak
disyukuri.

2025, 2026

YANG TETAP TINGGAL️

Aku tak mau memintamu mencintaiku.

Cinta yang diminta
sering kehilangan cara bertumbuh.

Setiap kali bertemu,
aku lebih senang menanyakan harimu,
daripada mengabarkan rinduku.

Aku ingin
engkau tetap menjadi dirimu.
Seperti taman tak pernah meminta
setiap bunga
mekar pada musim yang sama.

Kadang
aku sengaja
berjalan
setengah langkah
di belakangmu.

Aku ingin melihat
bagaimana dunia
diam-diam
menjadi lebih indah
ketika engkau melaluinya.

Jika suatu hari
engkau tersenyum,
aku merasa
dunia sedang menambahkan
satu warna yang sebelumnya tak ada.

Itu sudah cukup.

Aku tak ingin namaku
tinggal di ingatanmu.
Ingatan mudah berubah
menjadi masa lalu.

Cukuplah
bila kehadiranku
pernah membuat hatimu
lebih lapang menerima kehidupan.

Dan bila waktunya tiba,
kau akan melepasku
atau aku yang melepasmu
sebagaimana pohon
melepas daunnya.

Bukan berhenti mencintai.

Cinta telah menjadi cara
mengembalikan segala yang indah
kepada
Pemiliknya.

2025, 2026

WAKTU YANG KITA HABISKAN
UNTUK MENUNGGU

Setiap sore
perempuan tua itu
menyapu beranda.

Daun-daun jatuh
seperti biasa.

Debu kembali
ke tempat semula.

Tetapi sapunya
tetap bergerak,
seolah setiap helai
masih pantas disambut.

Aku sering berpikir,
setiap sapuan
membangunkan waktu
yang semalaman tertidur
di lantai.

Aku tak mengenangmu
sebagai seseorang.

Engkau lebih menyerupai
cara
sebuah pagi
membuka jendela.

Atau
cara air
menerima langit
tanpa berusaha memilikinya.

Aku selalu terlambat
menyadari

bahwa rumah ini
menjadi lebih tenang

setiap kali
engkau selesai
melipat ujung sajadah.

Sejak saat itu
aku percaya,

kerapian tak hanya tinggal
di dalam kain.

Ia diam-diam berpindah
ke hati orang yang melihatnya.

Aku juga sering
membiarkan tehku
terlalu panas.

Sebab aku tahu,
engkau akan meniupnya
lebih dahulu.

Dan entah bagaimana,

setiap kali uap itu
naik perlahan,

aku merasa
kehidupan sedang belajar
berbicara
dengan suara yang lebih lembut.

Hari-hari berjalan.
Pintu dibuka.
Pintu ditutup.
Bayangan berpindah.

Rumah
tak pernah bertanya
siapa yang datang.

Rumah juga
tak pernah bertanya
siapa yang pergi.

Ia hanya perlahan
belajar
bahwa kehadiran
tak selalu memerlukan bunyi.

Bila suatu hari,

langkahku
tak lagi terdengar,

beranda itu
tetap akan kausapu.

Teh tetap akan kauseduh
dua cangkir.

Sajadah tetap akan kaulipat
perlahan.

Aku hanya ingin,
bila rahmat Tuhan
melewati rumah ini,

ia masih menemukan
cara-cara kecil
yang dahulu kita lakukan
dengan cinta.

2025, 2026


*Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2023), Sekumpulan Esai Sastra Hikmah (2024), Buku Puisi Balada Kisah untuk Anak Cucu (2025).

Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***