Tubuh yang Cair dalam Persimpangan Budaya

Oleh: Brusheila Devi Proboyasti*

Kritik atas “Bedhaya Hagoromo” dalam Indonesian Dance Festival 2024

Pada 2 November 2024, rangkaian Indonesian Dance Festival (IDF) 2024 resmi dibuka di Jakarta. Festival dua tahunan yang telah lama menjelma menjadi ruang penting bagi perkembangan tari kontemporer, baik di kancah nasional maupun internasional, pada festival tersebut mengusung tema “Liquid Ranah”. Tema yang menyoroti gagasan tentang fluiditas, yaitu sebuah pandangan bahwa tubuh, identitas, dan budaya tidak lagi bersifat tetap, kaku, atau terikat pada batasan-batasan tradisional. Ketiganya dipahami sebagai entitas yang terus bergerak, berubah, dan bertransformasi mengikuti arus zaman serta persinggungan antarbudaya.

Salah satu karya yang paling mencerminkan semangat tersebut adalah  tari “Bedhaya Hagoromo”. Ini merupakan kolaborasi lintas budaya antara maestro tari Indonesia Didik Nini Thowok dan seniman Noh asal Jepang, Akira Matsui . Karya ini bukan sekadar eksperimen artistik. Pertunjukan yang menjadi medan negosiasi antara dua sistem dengan makna yang berbeda. Tulisan ini akan mengkritisi bagaimana tubuh menjadi ruang cair dalam persimpangan budaya, serta mengevaluasi apakah kolaborasi ini berhasil menciptakan bahasa tari baru atau justru hanya sekadar menjadi tontonan eksotisme semata.

Didik Nini Thowok (kiri) bersama Akira Matsui, master Noh dari aliran Kita School, dalam kolaborasi Bedhaya Hagoromo. (Sumber: Dokumentasi IDF)

Negosiasi Identitas di Era Fluiditas

Secara historis, tari Bedhaya merupakan bentuk tari klasik Jawa yang sarat dengan nilai spiritual dan simbolik. Tari ini berfungsi sebagai bagian dari ritual keraton yang berkaitan dengan kekuasaan dan kosmologi Jawa. Teater Noh Jepang dikenal dengan pendekatannya yang minimalis, simbolik, dan sangat terstruktur, di mana setiap gerak memiliki makna yang mendalam.

Dalam konteks kajian budaya kontemporer, gagasan tentang “ruang ketiga” (third space) menjadi relevan untuk membaca karya ini. Sebagaimana dijelaskan Butterworth, Jo, and Vicky Hunter, eds. dalam Contemporary Choreography: A Critical Reader (2025), praktik tari menciptakan “ruang ketiga” di mana subjek diaspora menegosiasikan identitas hibrida dan menantang gagasan esensialis tentang keaslian budaya . Bedhaya Hagoromo secara jelas berupaya menjadi ruang ketiga tersebut. Tubuh penari menjadi medium di mana identitas budaya dinegosiasikan, sehingga tidak ada lagi batas yang tegas antara “tradisi” dan “modern”, atau antara “Indonesia” dan “Jepang”.

Konsep fluiditas yang diusung festival ini, meskipun menawarkan kebebasan berekspresi yang luas, juga membawa risiko yang tidak dapat diabaikan. Ketika segala sesuatu menjadi cair dan batas-batas tradisional mulai luntur, ada kemungkinan besar bahwa identitas asli dari masing-masing tradisi justru menjadi kabur dan kehilangan ruhnya.

Dalam karya Bedhaya Hagoromo, meskipun kedua tradisi Jawa dan Jepang masih dapat dikenali secara visual melalui gerak dan kostum, kedalaman makna yang biasanya melekat erat pada konteks aslinya tidak sepenuhnya hadir di atas panggung. Akibatnya, Bedhaya yang semula sarat dengan dimensi spiritual dan kosmologis cenderung berubah menjadi tontonan yang lebih estetis semata. Sementara itu, Noh yang penuh dengan simbolisme kompleks dan makna tersirat menjadi sekadar dekoratif, kehilangan intensitas meditatif yang menjadi ciri utamanya. Dengan kata lain, fluiditas berpotensi mengorbankan substansi demi bentuk.

Ketegangan Estetis tanpa Peleburan

Salah satu kekuatan utama karya ini terletak pada kualitas gerak yang sangat terkontrol dan disiplin tinggi. Gerak-gerik Bedhaya yang halus, lambat, penuh lenggak-lenggok, dan repetitif berhasil menciptakan suasana meditatif yang kuat, seolah mengajak penonton masuk ke dalam ruang kontemplasi yang hening. Di sisi lain, elemen Noh menghadirkan kualitas gerak yang lebih tegas, kaku, dan sarat dengan simbolisme visual, di mana setiap anggukan kepala dan kibasan kipas memiliki makna tersendiri. Pertemuan dua kualitas gerak yang kontras ini pada awalnya menciptakan ketegangan estetis yang menarik dan memicu rasa penasaran penonton.

Ketegangan ini tidak selalu berkembang menjadi dialog yang utuh dan dinamis. Dalam beberapa bagian pertunjukan, kedua tradisi tampak berjalan sendiri-sendiri tanpa upaya sinkronisasi yang berarti. Gerak Bedhaya tetap bertahan dalam pola yang sudah mapan dan tidak banyak berubah, sementara elemen Noh hadir sebagai lapisan tambahan yang terasa dipaksakan dan tidak sepenuhnya terintegrasi secara organik. Alih-alih melebur menjadi bentuk hibrida yang baru, keduanya lebih terlihat sekadar berdampingan secara fisik di atas panggung, seperti dua bahasa yang berbeda diucapkan dalam waktu bersamaan namun tidak saling memahami.

Gambar: Perpaduan kostum Bedhaya dengan topeng dan kipas khas Noh Jepang menciptakan visual yang menarik namun belum sepenuhnya terintegrasi. (Sumber: Dokumentasi IDF)

Fenomena ini mencerminkan apa yang dijelaskan oleh Jan Nederveen Pieterse tentang “hibriditas budaya” . Pieterse berargumen bahwa globalisasi seringkali melahirkan bentuk-bentuk hibrida, tetapi tidak semua hibriditas otomatis menghasilkan inovasi radikal; banyak yang hanya sekadar “salinan eklektik” tanpa transformasi substansial . Demikian pula dengan Bedhaya Hagoromo, memunculkan pertanyaan kritis: apakah kolaborasi ini benar-benar menghasilkan bentuk baru, atau hanya menempatkan dua tradisi dalam satu ruang tanpa transformasi yang signifikan?

Dramaturgi yang Menantang Penonton

Dari segi dramaturgi, karya ini dengan sengaja tidak menawarkan narasi linear yang jelas dan mudah diikuti. Penonton tidak disuguhi alur cerita konvensional dengan awalan, konflik, dan penyelesaian yang lazim ditemukan dalam teater modern. Mereka dihadapkan pada rangkaian adegan yang lebih bersifat atmosferik, fragmental, dan terbuka terhadap berbagai interpretasi. Pendekatan dramaturgi ini sejalan dengan karakter kedua tradisi sumbernya, di mana baik Bedhaya maupun Noh memang tidak berorientasi pada cerita dalam pengertian Barat yang realistis; keduanya lebih mengutamakan suasana, simbol, dan pengalaman batin.

Dalam konteks pertunjukan kontemporer yang plural dan beragam penonton, ketiadaan narasi ini dapat menjadi tantangan serius. Tantangan tersebut terutama dirasakan oleh penonton awam yang tidak memiliki latar belakang pengetahuan khusus tentang kosmologi Bedhaya atau kode-kode simbolik dalam teater Noh. Musik dan tata suara yang cenderung minimalis lebih mengandalkan keheningan dan suara-suara halus yang muncul sporadic memang memperkuat fokus pada tubuh penari. Tetapi, dalam beberapa momen krusial, keheningan yang terlalu panjang dapat melemahkan intensitas pertunjukan, membuat penonton kehilangan pegangan emosional

Gambar: Suasana meditatif di atas panggung: iringan musik gamelan berpadu dengan lantunan Noh, menciptakan pengalaman kontemplatif yang mendalam. (Sumber: Dokumentasi IDF)

Antara Inovasi dan Komodifikasi Budaya

Dari sudut pandang kritik budaya, karya ini dapat dibaca sebagai refleksi dari fenomena globalisasi dalam seni. Didik Nini Thowok sendiri mengawali kolaborasi ini setelah menerima hibah  travel grant  dari Japan Foundation pada tahun 2000, di mana ia menemukan kesamaan antara legenda Jaka Tarub dan Hagoromo . Kolaborasi lintas budaya seperti ini menjadi semakin umum di festival internasional.

Di sini sangat penting untuk mewaspadai potensi komodifikasi budaya. Dalam beberapa kasus, kolaborasi telah berpotensi menjadi bentuk komodifikasi di mana elemen-elemen tradisi digunakan sebagai bahan estetis tanpa mempertimbangkan konteksnya secara mendalam. Penelitian tentang komodifikasi seni pertunjukan menunjukkan bahwa ketika seni tradisional ditarik dari fungsi ritualnya menjadi sekadar tontonan, seringkali terjadi pergeseran nilai di mana kedalaman makna spiritual dan sosialnya tergerus oleh logika pasar dan hiburan .

Bedhaya Hagoromo bukannya hadir tanpa risiko ini. Ketika ditampilkan di panggung festival internasional, konteks sakral Keraton dan intensitas meditatif Noh berisiko direduksi menjadi sekadar “estetika eksotis” yang dikonsumsi oleh penonton global.

Tubuh sebagai Medan yang Selalu dalam Proses

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, penting untuk tidak melihat karya ini secara sepihak sebagai kegagalan. Bedhaya Hagoromo dapat dipahami sebagai proses sebuah upaya untuk menjembatani perbedaan dan mencari kemungkinan baru dalam bahasa tari. Ketidaksempurnaan yang ada justru menjadi bagian dari dinamika kreatif.

Gambar: Panggung yang relatif kosong dengan pencahayaan lembut. Pilihan ini menegaskan bahwa tubuh penari menjadi pusat utama pertunjukan. (Sumber: Dokumentasi Kementerian Kebudayaan)

Sebagaimana ditegaskan dalam studi tentang globalisasi budaya di Kamerun, seniman tari kontemporer seringkali menggunakan globalisasi sebagai “counter-flow” , sebuah arus balik untuk menantang hegemoni budaya Barat . Bedhaya Hagoromo melakukan hal serupa dengan mempertemukan dua tradisi non-Barat (Jawa dan Jepang) di panggung global, menunjukkan bahwa dialektika budaya tidak harus selalu melibatkan Barat sebagai titik rujukan.

Bedhaya Hagoromo mengingatkan kita bahwa tubuh adalah ruang yang selalu berada dalam proses. Ia menyimpan ingatan, tradisi, dan identitas, Dalam dunia yang semakin terhubung, tubuh menjadi medan di mana berbagai nilai bertemu, bertabrakan, dan bernegosiasi.

Karya ini mungkin belum sepenuhnya berhasil menyatukan dua tradisi besar menjadi satu bentuk yang utuh. Karya membuka kemungkinan, memicu pertanyaan, dan mendorong kita untuk terus memikirkan ulang hubungan antara tradisi dan modernitas, antara lokal dan global, serta antara tubuh dan makna. Sebagai pertunjukan pembuka IDF 2024, Bedhaya Hagoromo sukses meninggalkan jejak visual dan perasaan yang langgeng di benak pencinta seni tari kontemporer.

*Brusheila Devi Proboyasti – Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.