Jalan yang Membumi: Membaca Pepali Pitu sebagai Kesadaran Sosial dalam Tasawuf Jawa

Oleh Abdul Wachid B.S.*

 

1. Kegelisahan dan Retaknya Kebersamaan

Hidup bergerak dalam kecepatan yang nyaris tak memberi jeda. Waktu menyusut menjadi deretan notifikasi. Percakapan hadir sebagai fragmen. Pertemuan berlangsung, tetapi tidak selalu menghadirkan perjumpaan.

Orang saling terhubung, namun tidak selalu saling menjangkau.

Kesibukan memberi kesan penuh. Hari-hari terisi. Agenda tersusun rapi. Namun di sela keteraturan itu, ada ruang yang tetap kosong; bukan ruang waktu, melainkan ruang relasi. Seseorang dapat berada di tengah keramaian, tetapi tidak sungguh-sungguh hadir di dalamnya. Tubuhnya ada, tetapi batinnya seperti tertinggal di tempat lain.

Perlahan, cara memandang sesama ikut berubah. Hubungan menjadi ringan. Mudah terjalin, mudah pula dilepas. Kedekatan tidak lagi menuntut kedalaman. Cukup tersambung, tanpa harus saling mengenali secara utuh. Dalam keadaan seperti ini, relasi kehilangan daya tinggalnya. Ia tidak lagi menjadi ruang bertumbuh, melainkan sekadar lintasan.

Kecenderungan ini pernah terbaca dalam cara kehidupan modern menjadi cair. Zygmunt Bauman, dalam Liquid Love: On the Frailty of Human Bonds, melihat bagaimana hubungan antarmanusia kehilangan kekokohan karena tidak lagi ditopang oleh komitmen yang mendalam (Bauman, 2003). Kedekatan hadir sebagai kemungkinan, bukan sebagai kebutuhan.

Di sisi lain, manusia tetap mencari sesuatu yang lebih dalam dari sekadar bergerak. Ia bekerja, berinteraksi, dan menjalani rutinitas. Namun di balik itu, ada kelelahan yang tidak selalu dapat dijelaskan. Seolah ada yang kurang, meski kehidupan tampak berjalan baik.

Viktor Frankl, dalam Man’s Search for Meaning, menunjukkan bahwa manusia tidak cukup hidup dari kesenangan atau pencapaian. Ia membutuhkan makna (Frankl, 2006). Ketika makna itu tidak ditemukan, kekosongan muncul; bukan selalu sebagai kesedihan, melainkan sebagai kehidupan yang berjalan tanpa keterlibatan batin.

Dari sini, kegelisahan mulai mengambil bentuknya.

Ia tidak selalu keras. Ia hadir pelan, hampir tak terdengar. Dalam rutinitas yang berulang, seseorang mulai merasakan jarak; bukan hanya dari orang lain, tetapi dari kemungkinan untuk benar-benar menjumpai mereka. Ia tidak merasa kehilangan, karena sejak awal tidak merasa terhubung secara utuh.

Kegelisahan ini kemudian menggeser arah pertanyaan. Bukan lagi tentang apa yang dimiliki atau dicapai, melainkan tentang bagaimana seseorang hadir di tengah orang lain. Apakah ia sungguh menjumpai, atau hanya melintas.

Dalam ruang itu, sesuatu menjadi terasa lebih sunyi.

Bukan sekadar kehilangan diri, tetapi hilangnya kemampuan untuk hadir bagi sesama.

Ketika kehadiran memudar, kebersamaan retak tanpa suara. Tidak runtuh sekaligus, tetapi pecah perlahan, hampir tak disadari.

Dan justru dari retakan itulah, kesadaran mulai bergerak.

Ia belum menemukan jalan. Tetapi ia telah meninggalkan stabilitas semu: menuju kegelisahan yang membuka kemungkinan.

 

2. Sunan Drajat dan Suluk yang Membumi

Dari kegelisahan yang belum menemukan bentuk, jalan tidak selalu datang sebagai jawaban yang besar. Ia sering muncul dalam sesuatu yang dekat, yang sebelumnya luput dari perhatian.

Di pesisir utara Jawa, dalam kehidupan yang bersentuhan langsung dengan laut dan keseharian masyarakat, dikenal sosok Sunan Drajat. Ia adalah Raden Qasim, bagian dari Wali Songo, yang menempuh jalan dakwah dengan cara yang tidak menjauh dari kehidupan.

Ia tidak memulai dari ajaran yang tinggi, tetapi dari kebutuhan yang paling nyata. Orang yang lapar diberi makan. Yang lemah dijaga. Yang kehilangan arah didekati tanpa jarak.

Dari sini, ajaran tidak berdiri sebagai wacana. Ia hadir sebagai tindakan. Apa yang diyakini tidak berhenti pada kata, tetapi bergerak menjadi perbuatan yang menyentuh kehidupan orang lain. Relasi sosial bukan sekadar latar, melainkan ruang di mana makna dihidupkan.

Dalam laku seperti ini, spiritualitas tidak ditempatkan di luar kehidupan. Ia tidak naik menjauh, tetapi turun mendekat. Ia hadir dalam keseharian yang berulang: dalam perhatian, dalam kepedulian, dalam cara manusia memperlakukan sesamanya.

Cara memahami agama yang demikian pernah dibaca oleh Clifford Geertz. Dalam The Interpretation of Cultures, ia melihat agama sebagai sistem makna yang hidup dalam praktik budaya, bukan semata dalam ajaran formal (Geertz, 1973). Pandangan ini membantu melihat bahwa jalan yang ditempuh Sunan Drajat bukan penyederhanaan, melainkan justru perwujudan yang paling nyata.

Suluk tidak lagi tampak sebagai perjalanan yang jauh dari dunia. Ia menjadi cara berada di dalam dunia dengan kesadaran yang berbeda.

Yang berubah bukan tempatnya, tetapi cara menjalaninya.

Dari sini, kegelisahan yang sebelumnya terasa tanpa arah mulai menemukan bentuknya. Ada kemungkinan untuk hidup tanpa harus menjauh. Ada jalan yang tidak memisahkan batin dari kehidupan, tetapi menyatukannya dalam tindakan yang sederhana.

Perjalanan tidak lagi dimulai dari pencarian yang jauh. Ia dimulai dari yang dekat: dari bagaimana seseorang hadir bagi orang lain.

Dan di situlah, jalan yang membumi mulai dikenali; bukan sebagai konsep, tetapi sebagai laku yang dapat dijalani.

 

3. Etika Empati sebagai Dasar Kesadaran

Ketika jalan mulai dikenali sebagai sesuatu yang dekat, kesadaran pun bergerak lebih dalam. Ia tidak lagi berhenti pada melihat, tetapi mulai merasakan.

Ada saat ketika seseorang berhadapan dengan orang lain, lalu sesuatu di dalam dirinya tersentuh: tanpa perintah, tanpa alasan yang disusun. Ia tidak berpikir untuk peduli. Ia lebih dulu merasakannya.

Dalam pengalaman seperti itu, empati tidak lahir dari konsep. Ia hadir sebagai perjumpaan.

Emmanuel Levinas, dalam Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, melihat bahwa wajah orang lain selalu datang sebagai panggilan etis yang mendahului pikiran (Levinas, 1969: 199). Wajah itu tidak sekadar tampak, tetapi menghadirkan tuntutan untuk merespons, bahkan sebelum seseorang sempat menimbang.

Di sanalah kesadaran sosial mulai terbuka. Bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai keterpanggilan.

Kesadaran ini menemukan bentuknya dalam laku yang diwariskan sebagai Pepali Pitu. Pepali Pitu secara harfiah berarti tujuh ajaran atau tujuh pedoman etika kehidupan. Dalam tradisi Sunan Drajat, ia dipahami sebagai himpunan laku moral-spiritual yang membimbing manusia untuk membangun kesadaran sosial, pengendalian diri, dan kehadiran etis dalam kehidupan bersama. Dalam sejumlah kajian kontemporer, Pepali Pitu juga dibaca sebagai sistem kesadaran sosial-spiritual yang berkelindan dengan tasawuf Jawa dan etika profetik Islam di Nusantara (Saifullah & Sukarman, 2023; Angkara dkk., 2025).

Kesadaran ini tidak berhenti pada penjelasan konseptual. Ia bergeser ke wilayah pengalaman yang lebih senyap, di mana makna tidak lagi dijelaskan, tetapi dijalani.

Dalam tradisi Sunan Drajat, kesadaran sosial itu hidup dalam Pepali Pitu:

(1) Memangun resep tyasing sasama (membangun kehalusan dan kejernihan hati dalam relasi antarsesama manusia);

(2) Jroning suka kudu eling lan waspada (dalam keadaan bahagia tetap menjaga kesadaran batin dan kewaspadaan diri);

(3) Laksitaning subrata tan nyipta marang pringga bayaning lampah (menjalani laku pengendalian diri tanpa terikat pada pamrih atau kepentingan perjalanan hidup);

(4) Meper hardaning pancadriya (mengendalikan dorongan pancaindra dan keinginan yang berlebihan);

(5) Heneng–hening–henung (diam yang menenangkan, hening yang menjernihkan, dan kesadaran yang mencapai kedalaman makna);

(6) Mulya guna panca waktu (memuliakan dan memanfaatkan setiap waktu dalam kehidupan dengan kesadaran yang baik);

(7) Menehono teken marang wong kang wuto, wenehono pangan marang wong kang luwe, wenehono sandang marang wong kang wudo, wenehono payung marang wong kang kawudanan (berilah penopang kepada yang lemah, berilah makan kepada yang lapar, berilah pakaian kepada yang tidak berpakaian, dan berilah perlindungan kepada yang kehujanan).

Dalam pembacaan modern, teks ini tidak hanya dipahami sebagai etika normatif, tetapi juga sebagai struktur relasional yang menghubungkan spiritualitas dan tanggung jawab sosial. Ia bekerja sebagai bentuk “etika yang hidup”, yang tidak berhenti pada pengajaran, tetapi bergerak dalam praksis keseharian manusia (Angkara dkk., 2025).

Teks ini tidak meminta untuk dijelaskan satu per satu. Ia bekerja dengan cara yang lebih tenang. Ia meresap.

Di dalamnya, hidup dipahami sebagai perjumpaan yang terus berlangsung. Setiap laku tidak berdiri sendiri. Ia saling terkait, membentuk satu kesadaran yang utuh: bahwa manusia selalu berada di dalam hubungan.

Empati, dalam laku ini, tidak menunggu jarak untuk memahami. Ia bergerak langsung. Ketika seseorang memberi kepada yang membutuhkan, ia tidak sedang menjalankan konsep moral. Ia menjawab sesuatu yang telah lebih dahulu hadir dalam batinnya.

Eling lan waspada” tidak menjadi nasihat yang kaku. Ia hidup sebagai kesadaran yang menjaga kejernihan. Seseorang tidak tergesa menilai. Ia memberi ruang bagi rasa untuk bekerja sebelum tindakan lahir.

Dalam ruang yang hening itu, kepedulian tumbuh tanpa paksaan. Memberi tidak lagi dipertimbangkan sebagai kewajiban. Ia menjadi bagian dari cara hidup. Seseorang tidak bertanya apakah ia harus peduli, karena kepedulian itu telah menjadi bagian dari dirinya.

Dari sini, manusia mulai keluar dari dirinya sendiri, tanpa kehilangan dirinya. Ia tetap menjadi pribadi, tetapi kehadirannya terhubung. Hidup tidak lagi terasa sebagai perjalanan yang terpisah, melainkan sebagai rangkaian perjumpaan yang saling memanggil.

Dan, yang tersisa bukanlah penjelasan, melainkan pertanyaan yang pelan namun dalam: Apakah manusia masih mampu merasakan luka orang lain sebelum ia sempat menjauh darinya?

Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban cepat. Ia menuntut kehadiran.

Dan dari kehadiran itulah, rasa sosial perlahan tumbuh; bukan sebagai konsep, tetapi sebagai pengalaman yang hidup.

 

4. Etos Kerja, Kesabaran, dan Keteguhan

Kesadaran yang telah terbuka tidak tinggal sebagai rasa. Ia mencari bentuk agar tidak menguap. Dari perjumpaan dengan sesama, manusia didorong untuk berjalan; bukan sekadar merasakan, tetapi meneguhkan arah.

Di sana, kerja menemukan maknanya. Bukan sebagai beban, melainkan sebagai cara hidup dijalani dengan sungguh-sungguh. Apa yang dilakukan setiap hari perlahan berubah makna. Ia tidak lagi sekadar rutinitas, tetapi ruang di mana kesadaran dilatih dan dijaga.

Kerja menghadirkan kedisiplinan yang tenang. Ia menuntut kehadiran yang utuh, bahkan dalam hal-hal yang tampak sederhana. Seseorang belajar setia pada proses, bukan hanya pada hasil.

Dalam pengertian ini, kerja tidak terpisah dari pencarian makna. Max Weber, dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, melihat bahwa kerja dapat dipahami sebagai panggilan: sebuah cara manusia memberi arti pada hidupnya melalui kesungguhan dan tanggung jawab (Weber, 2002).

Namun dalam laku suluk, kerja bergerak lebih dalam dari sekadar makna individual. Ia menjadi latihan batin. Setiap langkah yang diulang, setiap tugas yang diselesaikan, membentuk ketahanan dari dalam. Tidak selalu terlihat, tetapi perlahan menguatkan.

Di sinilah kesabaran mengambil tempatnya. Kesabaran bukan menunggu tanpa arah. Ia adalah kemampuan untuk tetap berjalan ketika hasil belum tampak. Ia menjaga agar langkah tidak dikendalikan oleh keinginan yang tergesa. Dalam kesabaran, waktu tidak lagi menjadi tekanan, tetapi ruang untuk mematangkan diri.

Dari kesabaran, lahir keteguhan. Keteguhan tidak keras, tetapi pasti. Ia tidak memaksa, tetapi tidak mudah berubah. Seseorang tetap melangkah, bukan karena jalannya ringan, melainkan karena ia telah memahami arah yang ia pilih.

Dalam perjalanan ini, hambatan tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang harus dihindari. Ia menjadi bagian dari proses. Kesulitan tidak menghentikan langkah, tetapi justru menguji kedalaman kesadaran yang sedang dibangun.

Ada saat langkah terasa berat. Ada waktu ketika kelelahan datang tanpa alasan yang jelas. Namun keteguhan menjaga agar seseorang tidak berhenti pada perasaan itu. Ia tetap berjalan; pelan, tetapi terus.

Jalan ini tidak menjanjikan kemudahan. Ia menuntut kesetiaan. Bukan kesetiaan pada hasil, melainkan pada proses yang dijalani dari hari ke hari.

Dalam kesetiaan itu, manusia mulai memahami bahwa hidup tidak diukur dari seberapa cepat ia sampai, tetapi dari seberapa utuh ia menjalani setiap langkahnya.

Kerja memberi arah. Kesabaran menjaga ritme. Keteguhan memastikan perjalanan tidak terputus.

Dan dari sana, kesadaran yang semula hanya terasa kini menjelma menjadi sikap hidup, yang tidak mudah goyah, karena tumbuh dari dalam.

 

5. Kedermawanan dan Solidaritas

Keteguhan yang terjaga tidak berhenti pada kekuatan untuk bertahan. Ia perlahan membuka diri. Dari langkah yang setia, muncul kesiapan untuk berbagi ruang dengan kehidupan yang lain.

Perlahan, perjalanan tidak lagi berpusat pada diri. Ia bergerak keluar. Keterbukaan itu menemukan bentuknya dalam tindakan memberi.

Memberi tidak selalu lahir dari kelimpahan. Ia justru sering muncul dari kesadaran yang sederhana: bahwa hidup tidak pernah berdiri sendiri. Setiap orang berada dalam jalinan yang saling bersinggungan. Dari kesadaran itu, memberi menjadi cara untuk mengakui keberadaan sesama.

Tindakan ini tidak perlu besar. Ia dapat hadir dalam bentuk yang nyaris tak terlihat. Namun di sanalah letak kekuatannya. Ia tidak menunggu waktu yang tepat. Ia tidak bergantung pada perhitungan. Ia terjadi karena hati telah terbuka.

Marcel Mauss, dalam The Gift: The Form and Reason for Exchange in Archaic Societies, menunjukkan bahwa pemberian tidak pernah sepenuhnya lepas dari relasi. Di dalamnya selalu ada ikatan yang menghubungkan manusia dalam satu jaringan sosial (Mauss, 2002). Memberi bukan sekadar tindakan, melainkan cara membangun hubungan.

Dalam laku yang membumi, pemberian tidak bergerak sebagai kewajiban yang kaku. Ia hadir sebagai respons yang hidup. Seseorang melihat kebutuhan, lalu batinnya menjawab. Tidak ada jarak yang tegas antara diri dan yang lain.

Dari sini, batas-batas yang semula terasa kokoh mulai melunak.

Yang memberi dan yang menerima tidak lagi berdiri dalam posisi yang tetap. Kehidupan bergerak. Hari ini seseorang memberi, di waktu lain ia mungkin menerima. Tidak ada yang benar-benar memiliki secara mutlak.

Kesadaran ini melahirkan solidaritas. Bukan solidaritas yang dibangun oleh kesepakatan, tetapi yang tumbuh dari pengalaman bersama sebagai manusia. Dalam solidaritas, orang tidak lagi melihat sesama sebagai pihak lain yang jauh. Ia melihatnya sebagai bagian dari kehidupan yang juga menentukan dirinya.

Keterbukaan ini mengubah cara seseorang berada di dunia. Ia tidak lagi berjalan sendiri, meskipun langkahnya tetap personal. Setiap tindakan yang ia lakukan bersentuhan dengan kehidupan orang lain. Dan ia menyadari itu.

Dalam keadaan seperti ini, memberi tidak terasa sebagai kehilangan. Ia justru menjadi cara untuk menegaskan keberadaan. Seseorang hadir melalui apa yang ia bagikan, bukan hanya melalui apa yang ia miliki.

Dari pemberian itu, hidup tidak berkurang. Ia meluas. 

Ruang sosial pun terbuka; bukan oleh aturan, tetapi oleh hubungan yang hidup. Orang saling menjumpai dalam tindakan yang nyata, dalam kepedulian yang tidak dibuat-buat. Dan dari situ, perjalanan kembali bergerak.

Keteguhan yang sebelumnya menjaga langkah kini berubah menjadi keterbukaan yang menghubungkan. Hidup tidak lagi sekadar dijalani, tetapi dibagikan: dalam bentuk-bentuk sederhana yang terus mengalir.

 

6. Tasawuf yang Menjadi Masyarakat

Keterbukaan yang lahir dari tindakan memberi perlahan mengubah cara manusia memahami hidupnya. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai pusat yang berdiri sendiri. Ia mulai menyadari bahwa hidup selalu berlangsung di dalam jalinan yang lebih luas, yang menghubungkan batin dengan dunia, diri dengan sesama.

Di sana, spiritualitas tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang terpisah. Ia tidak berada di luar kehidupan, tidak pula menunggu ruang khusus untuk dijalani. Ia hadir di dalam relasi, di dalam keputusan-keputusan kecil, di dalam cara seseorang menyikapi orang lain dan keadaan yang dihadapinya.

Keterpisahan antara batin dan kehidupan sosial mulai melebur. Apa yang dirasakan di dalam diri menemukan jalannya ke luar, menjadi tindakan. Sebaliknya, apa yang dilakukan di luar kembali membentuk kedalaman batin. Keduanya saling mengisi, bergerak dalam satu arah yang sama.

Kegelisahan terhadap keterputusan ini pernah diungkapkan oleh Seyyed Hossein Nasr dalam Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. Ia melihat bahwa manusia modern kehilangan kesatuan, karena memisahkan kehidupan lahir dari dimensi spiritualnya (Nasr, 1968). Akibatnya, hidup berjalan, tetapi tidak selalu terasa utuh.

Dalam laku yang membumi, kesatuan itu tidak dicari dengan menjauh dari kehidupan. Ia justru ditemukan dengan masuk ke dalamnya secara lebih sadar. Kehidupan sosial bukan penghalang bagi perjalanan batin, melainkan ruang di mana kesadaran itu diuji dan diperdalam.

Pandangan ini sejalan dengan apa yang dirumuskan oleh Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din. Ia menegaskan bahwa batin dan amal tidak dapat dipisahkan. Pengetahuan yang tidak menjelma dalam tindakan akan kehilangan maknanya, sementara tindakan tanpa kesadaran batin akan kehilangan arah (Al-Ghazali, 2005).

Dari sini, kehidupan bersama berubah makna. Ia tidak lagi sekadar ruang interaksi, tetapi menjadi ruang pengabdian. Setiap perjumpaan membuka kemungkinan untuk menghadirkan nilai yang hidup. Setiap tindakan menjadi bagian dari perjalanan yang lebih dalam dari sekadar aktivitas.

Seseorang tidak perlu meninggalkan dunia untuk menjaga batinnya. Ia justru menjaga batinnya di dalam dunia itu sendiri. Dalam cara ia bekerja, dalam cara ia memberi, dalam cara ia bertahan, kesadaran terus dilatih tanpa harus dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Kesatuan antara diri dan masyarakat perlahan terasa nyata. Bukan sebagai gagasan, tetapi sebagai pengalaman. Seseorang memahami bahwa dirinya tidak pernah benar-benar terpisah. Ia dibentuk oleh relasi, sekaligus memberi bentuk pada relasi itu melalui tindakannya.

Di sana, tasawuf tidak lagi tampak sebagai jalan yang tersembunyi. Ia hadir sebagai cara hidup yang dapat dirasakan. Tidak mencolok, tetapi terus bekerja. Tidak jauh, tetapi dekat dengan setiap langkah yang dijalani.

Perjalanan yang semula berangkat dari kegelisahan kini sampai pada kesadaran yang lebih utuh. Apa yang dahulu terasa terpisah mulai menyatu. Batin tidak ditinggalkan, dunia tidak dihindari. Keduanya hadir dalam satu gerak yang sama.

Dan dalam gerak itu, manusia mulai memahami bahwa kehidupan sosial bukan sesuatu yang harus dilampaui, melainkan sesuatu yang harus dihidupi: dengan kesadaran yang menjaga agar setiap tindakan tetap memiliki makna.

 

7. Krisis Kepedulian Modern

Kesatuan yang sempat dirasakan dalam kehidupan bersama tidak selalu bertahan. Ia dapat memudar secara perlahan, hampir tanpa disadari. Perubahan cara hidup sering bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk merawat makna yang telah ditemukannya.

Relasi tetap ada. Bahkan tampak semakin banyak. Namun di balik itu, sesuatu yang halus mulai berkurang: kedalaman. Orang saling berjumpa, saling berbicara, saling merespons, tetapi tidak selalu benar-benar hadir satu sama lain. Hubungan berjalan, namun tidak selalu menghidupkan.

Dalam keadaan seperti ini, kehidupan sosial bergerak di permukaan. Kedekatan dapat terbentuk dengan cepat, tetapi juga mudah menghilang. Tidak ada yang benar-benar menetap cukup lama untuk tumbuh. Segalanya terasa sementara, seolah hubungan hanya menjadi bagian dari arus yang terus bergerak.

Byung-Chul Han, dalam The Burnout Society, melihat bahwa manusia modern hidup dalam dorongan untuk terus melampaui dirinya sendiri. Ia bekerja, berusaha, dan berprestasi tanpa henti, seakan-akan tidak ada ruang untuk berhenti (Han, 2015). Dorongan ini membuat manusia semakin terfokus pada dirinya, hingga perlahan kehilangan ruang untuk orang lain.

Kelelahan yang muncul dari keadaan ini tidak selalu tampak. Ia tidak selalu berupa kejatuhan yang jelas. Ia bisa hadir sebagai kejenuhan yang halus, sebagai jarak yang tidak disadari, sebagai ketidakmampuan untuk benar-benar peduli. Seseorang tetap menjalani relasi, tetapi tanpa keterlibatan yang utuh.

Dalam situasi seperti itu, hubungan mudah berubah menjadi sarana. Orang mendekat karena ada tujuan, dan menjauh ketika tujuan itu selesai. Tidak selalu ada niat untuk memanfaatkan, tetapi pola seperti itu perlahan terbentuk tanpa disadari. Relasi kehilangan kedalaman, karena tidak lagi ditopang oleh kesediaan untuk bertahan.

Kecenderungan ini pernah dibaca oleh Zygmunt Bauman dalam Liquid Love. Ia melihat bahwa hubungan modern menjadi rapuh karena kehilangan komitmen yang memberi daya tahan (Bauman, 2003). Orang ingin dekat, tetapi juga ingin tetap bebas. Akibatnya, hubungan dijaga agar tidak terlalu dalam, supaya mudah dilepaskan.

Dari sini, kebersamaan berubah bentuk. Ia tidak sepenuhnya hilang, tetapi tidak lagi memberi rasa aman yang sama. Orang dapat berada dalam satu ruang, berbagi waktu yang sama, namun tetap merasa terpisah dalam pengalaman batinnya.

Keretakan ini tidak selalu disadari sejak awal. Ia muncul perlahan, sering kali melalui pengalaman yang tidak lengkap. Seseorang mulai merasakan bahwa hubungan yang dijalani tidak cukup memberi ruang untuk menjadi manusia secara utuh. Ada sesuatu yang kurang, tetapi sulit dijelaskan.

Kesadaran terhadap keretakan ini menjadi penting. Bukan untuk menolak kehidupan yang ada, tetapi untuk melihatnya dengan lebih jernih. Ada yang perlu dipulihkan. Ada yang perlu dihidupkan kembali. Tanpa kesadaran itu, manusia dapat terus bergerak dalam banyak relasi, namun tetap merasa asing di dalamnya.

Dari sini, pertanyaan kembali muncul, tetapi dengan nada yang berbeda. Bukan lagi sekadar bagaimana membangun hubungan, melainkan bagaimana menghidupkannya. Bagaimana menjaga agar kehadiran tidak hilang di tengah banyaknya perjumpaan.

Kesadaran ini tidak memberi jawaban yang cepat. Ia membuka ruang untuk melihat kembali cara hidup yang dijalani. Dari sana, jalan perlahan tampak, bukan jalan yang baru, tetapi jalan yang mengajak manusia kembali pada sesuatu yang pernah ia miliki: kemampuan untuk peduli secara utuh.

 

8. Manusia yang Hadir di Dunia

Perjalanan yang bergerak dari kegelisahan, melewati keterbukaan, keteguhan, hingga kesadaran akan retaknya relasi, pada akhirnya kembali pada satu hal yang sederhana: kehadiran.

Bukan kehadiran yang sekadar tampak, tetapi kehadiran yang benar-benar menyentuh kehidupan orang lain.

Manusia tidak pernah hidup sendirian. Bahkan ketika ia merasa sendiri, ia tetap berada di dalam dunia yang dihuni oleh yang lain. Setiap langkahnya bersinggungan, setiap pilihannya membawa dampak, setiap diamnya pun tidak sepenuhnya terlepas dari kehidupan bersama.

Di sanalah kehadiran menjadi sesuatu yang mendasar. Ia tidak diukur dari seberapa sering seseorang berbicara atau terlihat, tetapi dari sejauh mana ia benar-benar ada bagi orang lain. Ada yang hadir dengan banyak kata, tetapi tidak menyentuh. Ada yang hadir dengan diam, tetapi terasa utuh.

Kehadiran semacam ini menemukan pantulannya dalam pemikiran Martin Buber. Dalam I and Thou, ia menggambarkan relasi yang hidup sebagai perjumpaan antara “Aku” dan “Engkau”, di mana manusia tidak lagi melihat yang lain sebagai objek, melainkan sebagai sesama yang dihadapi secara utuh (Buber, 1923). Dalam perjumpaan itu, hubungan menjadi hidup karena ada pengakuan yang saling terbuka.

Ketika seseorang hadir sebagai “Aku” yang berjumpa dengan “Engkau”, relasi tidak lagi digerakkan oleh kepentingan. Ia tidak dibangun untuk mencapai sesuatu di luar dirinya. Ia menjadi ruang di mana manusia saling menghidupkan, tanpa perlu saling menguasai.

Namun, kehadiran seperti ini tidak datang dengan sendirinya. Ia perlu dijaga. Ia menuntut kesadaran yang terus diperbarui. Seseorang perlu belajar keluar dari kebiasaan melihat orang lain sebagai latar, sebagai alat, atau sebagai bagian dari kepentingannya sendiri.

Dari sana, hidup perlahan berubah arah. Ia tidak lagi berpusat pada diri, tetapi bergerak menuju keterlibatan. Setiap perjumpaan menjadi kesempatan. Setiap relasi menjadi ruang untuk menghadirkan makna.

Kehadiran tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Ia tumbuh dalam hal-hal yang sederhana: mendengarkan tanpa tergesa, memahami tanpa menghakimi, membantu tanpa menunggu alasan yang rumit. Dalam kesederhanaan itu, manusia justru menemukan kedalaman.

Hidup pun perlahan dipahami sebagai bentuk pengabdian. Bukan pengabdian yang mencolok, melainkan yang tenang, yang mengalir bersama keseharian. Seseorang tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia hanya menjalani hidup dengan kesadaran bahwa keberadaannya selalu bersentuhan dengan kehidupan orang lain.

Kesadaran ini mengembalikan manusia pada hakikatnya. Ia bukan hanya makhluk yang mencari makna, tetapi makhluk yang menghadirkan makna melalui keberadaannya. Ia tidak sekadar hidup, tetapi menghidupkan.

Barangkali menjadi manusia bukan soal mencari diri, tetapi tentang bagaimana tidak meninggalkan manusia lain.

Kalimat ini tidak menutup perjalanan. Ia justru membukanya kembali. Setiap orang dapat kembali bertanya dalam dirinya: sejauh mana ia telah hadir, sejauh mana ia telah memberi ruang bagi orang lain untuk hidup di dalam kehadirannya.

Suluk sosial tidak berakhir pada satu titik. Ia berjalan bersama kehidupan yang terus berubah. Namun arah yang ditinggalkannya tetap sama: menuju kehadiran yang utuh, menuju relasi yang hidup, menuju kemanusiaan yang tidak terpisah.

Dan selama manusia masih mampu hadir bagi sesamanya, jalan itu tidak pernah benar-benar hilang. ***

—-

Daftar Pustaka

Angkara, Barda., Khasbullah., & Kusno, Moh. 2025. “Falsafah Pepali Pitu Sunan Drajat dalam Perspektif Tasawuf: Studi Komparatif dengan Konsep Bidayah al-Hidayah Imam al-Ghazali”. QOMARUNA: Journal of Multidisciplinary Studies, 2(2), 79–87.

Bauman, Zygmunt. 2003. Liquid Love: On the Frailty of Human Bonds. Cambridge: Polity Press.

Buber, Martin. 1923. I and Thou. Edinburgh: T&T Clark.

Frankl, Viktor E. 2006. Man’s Search for Meaning. Boston: Beacon Press. (Edisi asli 1946).

Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.

Ghazali, Abu Hamid al-. 2005. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Han, Byung-Chul. 2015. The Burnout Society. Stanford: Stanford University Press.

Levinas, Emmanuel. 1969. Totality and Infinity: An Essay on Exteriority. Pittsburgh: Duquesne University Press.

Mauss, Marcel. 2002. The Gift: The Form and Reason for Exchange in Archaic Societies. London: Routledge. (Edisi asli 1925).

Nasr, Seyyed Hossein. 1968. Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. London: Allen & Unwin.

Saifullah, A., & Sukarman, S. 2023. “Nilai-Nilai Pendidikan Humanistik Dalam Dakwah Sunan Drajat”. Jurnal Progress.

Weber, Max. 2002. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. New York: Routledge. (Edisi asli 1905).

*Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto.