Galeri Seni pada Ruang Kuliner: Ketika Koleksi Pribadi Tak Lagi dinikmati Sendiri
Oleh Medya Prasari Khairunnisa*
Restoran pada era modern ini bukan hanya berperan sebagai tempat makan dan minum saja, tuntutan keunikan konsep sebuah restoran menjadi tugas tambahan bagi para pemilik agar menarik minat pengunjungnya. Mungkin di beberapa restoran memiliki ruangan khusus seperti galeri untuk diadakannya sebuah acara atau memamerkan karya-karya seni, cukup banyak yang menggunakan konsep tersebut. Namun, setelah datang dan mengamati ke beberapa restoran masa kini di Yogyakarta, ada satu hal unik yang ditemukan, alih-alih menggunakan konsep yang sama, restoran ini memilih untuk memajang koleksi-koleksi karya seni pribadi secara permanen ke dalam restoran yang mereka kelola sendiri yaitu restoran Makmur Chicken n Soda, untuk dijadikan dekorasi pada dinding-dinding bangunan mereka.
Sampai beberapa waktu lalu, masih menganggap bahwa karya seni yang sudah di koleksi oleh para kolektor atau pecinta seni akan disimpan selamanya dalam suatu ruang di rumah pribadinya. Munculnya kolektor muda yang melihat seni sebagai bagian dari gaya hidup, memilih dengan cara memamerkan dan menciptakan dinamika baru dalam dunia seni. Hal ini mendobrak tradisi yang biasanya koleksi-koleksi karya seni hanya berakhir di gudang penyimpanan yang tertutup. Di satu sisi, langkah ini tampak sebagai upaya untuk memperindah artistik bangunan, namun disisi lain dari sudut pandang interior, fenomena ini dapat menciptakan disharmoni terhadap fungsi utama suatu ruang dan kenyamanan pengguna.
Karya yang dipajang pada restoran Makmur Chicken n Soda sebanyak 60 karya atau lebih. Beberapa diantaranya karya yang dipajang pada dinding-dinding restoran ada karya lukis dan ada beberapa karya art print yang sudah diberi pigura. Beberapa ada karya poster, kain dan ada juga di beberapa sudut diberi meja atau rak sebagai tempat koleksi action figure dan buku-buku atau komik. Koleksi-koleksi pribadi yang dipamerkan pada restoran tidak dikurasi secara profesional, namun beberapa diantaranya untuk tema dan konsepnya masih sejenis yaitu pop-surealisme.

Koleksi Karya Restoran Makmur Chicken n Soda, Yogyakarta (Dokumentasi Pribadi, 2026)
Krisis Identitas Ruang
Idealnya pada galeri-galeri konvensional, karya seni dirancang dengan alur dan estetika yang terencana, memiliki protokol dan pencahayaan khusus. Karya seni diposisikan secara steril agar para audiens dapat melakukan kontemplasi tanpa gangguan visual, sehingga karya-karya tersebut tetap menjadi visual utama pada sebuah galeri, dan karya dapat dinikmati secara eksklusif. Namun, di tangan kolektor muda ini, mereka memilih untuk mengintegrasikan koleksi pribadinya ke dalam ruang publik yang mereka kelola. Karya-karya seni tidak lagi berdiri sendiri dan tidak lagi berfungsi sebagai aksen yang memperkuat atmosfer ruang, dengan dipadukan pada elemen-elemen desain interior seperti dinding, lantai, plafon, pencahayaan dan alur aktivitas pelanggan, karya seni terkadang menjadi ‘gangguan’ yang menuntut perhatian berlebih.

Koleksi Karya Restoran Makmur Chicken n Soda, Yogyakarta (Dokumentasi Pribadi, 2026)
Dilema Pencahayaan
Pencahayaan atau lighting adalah nyawa dari sebuah desain interior. Biasanya pada restoran, pencahayaan dirancang untuk menciptakan suasana, seperti suasana hangat, intim dan membuat makanan terlihat lebih hidup dan menggiurkan. Namun, ketika sebuah ruang dipenuhi koleksi seni yang berharga, kebutuhan pencahayaan harus diubah menjadi lebih teknis. Secara teknis, karya seni memerlukan pencahayaan dengan indeks warna tinggi dan perlindungan dari sinar UV untuk mencegah degradasi warna. Pada restoran yang menggunakan spotlight dan diarahkan ke lukisan akan menciptakan bayangan yang tajam atau menimbulkan pantulan silau yang akan mengganggu kenyamanan visual para pengunjung. Sehingga terjadilah pertarungan tugas pencahayaan pada ruang, yaitu apakah harus fokus menyoroti makanan atau pada karya seni.
Ergonomi dan Sirkulasi yang Terhambat
Desain interior adalah tentang bagaimana manusia dapat bergerak dan mempengaruhi perilaku manusia didalamnya. Dalam sebuah restoran, sirkulasi adalah hal prioritas utama untuk efisiensi pelayanan. Namun, keberadaan koleksi seni pribadi terkadang menimbulkan hambatan. Lingkungan yang dipenuhi karya seni cenderung memicu pengunjung untuk mengapresiasi seni dengan secara organik di sela-sela aktivitas mereka dalam restoran. Layaknya sebuah galeri, karya-karya seni menjadi penentu ritme pengunjung saat memasuki ruang-ruang pada restoran, bisa memperlambat tempo untuk pengunjung yang ingin melihat detail visualnya. Pada kasus ini juga sering ditemukan penempatan meja makan dan furniture-furniture sebagai penunjang interior dan karya-karya yang dipajang menjadi tidak memiliki jarak, sehingga jarak pandang tidak sesuai dengan standar ergonomi yang seharusnya. Disinilah nilai fungsional interior menimbulkan salah satu aspek krusial, pada hal ini adalah terjadinya dialog ruang yang baru antara karya seni dan standar ergonomi ruang.

Koleksi Karya Restoran Makmur Chicken n Soda, Yogyakarta (Dokumentasi Pribadi, 2026)
Materialitas yang Terabaikan
Seni pada ruang-ruang interior biasanya lebih menonjolkan material-material elemen interior sebagai point of interest yang akan dinikmati oleh pengunjung. Seringkali interior menonjolkan materialitas seperti bahan-bahan kayu alami, batu bata dan beton ekspos atau baja-baja industrial, yang diaplikasikan pada dinding atau lantai, namun pada restoran Makmur Chicken n Soda koleksi-koleksi karya seni ini mengambil alih perhatian pengunjung. Elemen-elemen interior, furniture, dan pencahayaan pada restoran kini harus berbagi dengan koleksi-koleksi karya seni yang ditempatkan pada dinding restoran sehingga material dan finishing pada interior sedikit terabaikan.

Koleksi Karya Restoran Makmur Chicken n Soda, Yogyakarta (Dokumentasi Pribadi, 2026)
Pemeliharaan Karya Seni
Dari sisi teknis interior dan pemeliharaan, karya-karya seni yang dipajang pada sebuah restoran menjadi sebuah ironi. Restoran adalah lingkungan yang tidak ramah bagi karya seni. Partikel-partikel dari area dapur, kelembaban uap makanan, mudahnya jangkaun karya seni oleh tangan-tangan pengunjung, hingga resiko terciprat oleh makanan atau minuman, menjadi sebuah ancaman yang nyata. Seringkali demi estetika batasan-batasan ini dilanggar. Secara jangka panjang, karya seni tersebut akan mengalami kerusakan akibat akumulasi bau dan partikel yang menempel pada bingkai atau tekstur pada karya seni. Ini menunjukkan kurangnya pertimbangan terhadap keberlanjutan fungsi ruang.

Koleksi Karya Restoran Makmur Chicken n Soda, Yogyakarta (Dokumentasi Pribadi, 2026)
Antara Apresiasi atau Distraksi
Seperti pada poin pendahuluan sebelumnya, bahwa restoran era modern ini bukan hanya berperan sebagai tempat makan dan minum saja, tuntutan keunikan konsep sebuah restoran menjadi tugas tambahan bagi para pemilik agar menarik minat pengunjung nya, dan kita tidak bisa mengabaikan faktor media sosial. Saat ini tidak hanya manusia yang butuh makan, media sosial juga perlu ‘diberi makan’ dengan konten-konten menarik. Tidak jarang pengunjung yang datang ingin mengabadikan beberapa karya yang terpajang dalam restoran dalam bentuk foto atau video untuk mengisi konten media sosial pribadinya. Namun, fenomena ini memunculkan pertanyaan, apakah kehadiran karya-karya seni tersebut yang menjadi elemen interior lain di sebuah restoran akan menimbulkan apresiasi seni di ruang publik yang selama ini dianggap eksklusif ataukah justru karya seni tersebut hanya menjadi distraksi yang sekedar menjadi latar belakang dekoratif demi kebutuhan visual semata?
Menjadikan restoran sebagai ruang pajang karya seni pribadi bukanlah ide yang sepenuhnya buruk, bahkan karya seni memiliki kekuatan yang besar untuk memperkaya pengalaman ruang. Hal ini adalah bukti bahwa interior adalah entitas yang dinamis, namun ia menyimpan resiko, asalkan dilakukan dengan pertimbangan kurasi desain, bukan hanya sekedar pemindahan koleksi dari yang hanya tersimpan pada ruangan pribadi menjadi di ruang publik. Dibutuhkan kolaborasi dan pertimbangan antara desainer interior, kurator seni dan sang pemilik untuk memastikan bahwa keberadaan karya-karya seni tersebut tidak mengabaikan fungsi dasar sebuah tempat makan. Interior tidak boleh hanya sekedar memajang karya seni sebagai dekorasi, melainkan perlu memberikan ruang bernafas bagi karya seni tersebut. Hakikatnya galeri seni membutuhkan ketenangan dan waktu yang lambat, sementara restoran dirancang untuk terus hidup dari perputaran pelanggan yang cepat, sehingga akan muncul pertanyaan baru, kapan apresiasi seni bisa benar-benar terjadi jika interior restoran dirancang untuk mendorong orang segera pergi setelah makan?
—–
*Medya Prasari Khairunnisa, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.





