Odisei Suikerfabriek Djatiroto Loemadjang: Api Sejarah, Mahakarya Kolonial Belanda di Tanah Jawa
Oleh Mochammad Sulton Sahara*
*
Seperti epos Goethe di tanah Jawa, Suikerfabriek Loemadjang: kehebatan besi menaklukkan liarnya hutan, menebar benih kemakmuran bagi rakyat dan negeri.
Prologia: Pelukan Tropis yang Membara.
Di bawah langit tropis Jawa Timur yang hijau dan lembab, di mana hutan jati menjulang gagah dan rawa-rawa menyimpan rahasia kesuburan abadi, berdirilah sebuah monumen besi dan api: Suikerfabriek Djatiroto Loemadjang. Era Hindia Belanda, sekitar akhir abad kesembilan belas, adalah simfoni romantisme imperial, bukan sekadar pembangunan pabrik gula, melainkan puisi epik tentang keberanian manusia menaklukkan alam liar, merajut harmoni antara teknologi Eropa dan jiwa Nusantara. Dengan Handelsvereeniging Amsterdam (HVA) sebagai konduktornya, pemerintah Hindia Belanda tak gentar menghadapi hutan belantara Lumajang, mengubah tanah subur vulkanik menjadi ladang tebu emas yang mengalir manis ke pelabuhan Amsterdam. Ini adalah kisah romantik kehebatan, di mana besi rel kereta bernyanyi bersama angin muson, dan uap mesin menjadi napas kehidupan baru bagi negeri Hindia serta rakyatnya.

Figure 1. Perkebunan Tebu dan Pekeja Sumber: https://disperpusip.jatimprov.go.id/2015/05/06/sekilas-gula-di-jawa-timur-dunia-mengakui-tebu-ajaib-berasal-dari-tanah-jawa/
Bayangkan tahun 1884: HVA, di bawah visi visioner seperti Pieter Reineke, mengirim ekspedisi ke pedalaman Loemadjang. Bukan petualangan biasa, melainkan odisei kolonial yang sarat romantisme penciptaan. Mereka membabat hutan jati di Ranupakis, Kecamatan Klakah, dengan kapak dan ketabahan Belanda yang tak tergoyahkan. Konstruksi dimulai 1905, operasi pertama 1910, kapasitas melonjak ke 2.400 ton tebu per hari (TTH) pada 1912. Keberanian ini bukan tanpa risiko, demam malaria, badai tropis, dan perlawanan alam yang ganas. Namun, seperti pahlawan dalam epos romantik Goethe, Belanda menjinakkan alam dengan rel kereta sepanjang 270 kilometer, 40 lokomotif uap yang mendesis seperti naga mitologi, dan pabrik modern yang menjadi mercusuar kemajuan. Investasi mencapai 10 juta gulden pada 1910, sepertiga total aset HVA di Hindia Belanda. Ini adalah romantisme industri: transformasi chaos alam menjadi kosmos ketertiban Eropa, di mana tebu Jawa menjadi kristal gula yang memeluk manisnya peradaban Barat. Teknologi terbaru Revolusi Industri Eropa hadir di rimba ganas Loemadjang!!

Figure 2 Administrature dan staff Suiker Fabriek Sumber: https://disperpusip.jatimprov.go.id/2015/05/06/sekilas-gula-di-jawa-timur-dunia-mengakui-tebu-ajaib-berasal-dari-tanah-jawa/
Babak I: Ranupakis, Kelahiran dari Rahim Hutan Jati (1884-1905)
Odisei dimulai di Ranupakis, tanah vulkanik yang dulu liar dan penuh misteri, tempat hutan jati berbisik rahasia leluhur Osing dan Madura dalam hembusan angin muson yang lembab. Ranu Pakis, danau vulkanik bekas letusan Gunung Lemongan (terakhir 1898), menjadi saksi bisu: airnya yang tenang menyimpan jiwa mistis, legenda ular raksasa penjaga kawah yang konon melindungi kesuburan tanah hitam andosol, hasil abu Semeru kuno, kaya kalium dan fosfor sempurna untuk Saccharum officinarum. Pada 1884, Handelsvereeniging Amsterdam (HVA), di bawah arahan visioner Pieter Reineke, mengirim surveyor Belanda melintasi rawa-rawa Lumajang, bukan sebagai penjajah kasar, melainkan penyair alam yang mendengar panggilan tanah. Mereka menemukan Ranupakis: 10.000 hektar lahan subur dengan curah hujan 2.500 mm/tahun, drainase alami dari lereng Lemongan, dan microclimate hangat 25-30°C ideal untuk tebu, bibit unggul dari Java Suikerfabriek Semarang diimpor khusus.

Figure 3 Suikerfabriek Djatiroto Sumber: https://www.visitlumajang.com/index.php/pg-djatiroto-membawa-banyak-perubahan-bagi-lumajang/94/1/
Perspektif Kebudayaan: Hutan sebagai Dewi yang Dirayu. Dari lensa budaya, Ranupakis adalah pertemuan epik dua kosmologi: rasionalitas Enlightenment Belanda yang mengukur tanah dengan theodolite impor, bertemu mistisisme Jawa Timur di mana hutan jati adalah ki hyang (roh leluhur), dan Ranu Pakis rumah naga penjaga dalam mitos Osing. Pembabatan hutu dimulai 1901 bukan perang, melainkan ritual romantis: 500 kuli lokal (etnis Madura-Osing) dengan upah 0,50 gulden/hari, rendah tapi stabil, pertama kali membawa beras dan kain ke Desa Kaliboto Lor yang kelaparan pasca-musim gagal panen 1900. Kuli tak sekadar buruh; mereka dukun lokal selamatan selamatan pembabatan, tabur sesajen beras kuning dan sirih pinang di akar jati, memohon ampun pada roh hutan agar tebu baru tak celaka. Belanda hormati ritual ini, inspektur HVA catat: “Pribumi beri roh, kami beri besi; harmoni lahir.” Sinkretisme ini alegori pernikahan: kapak Belanda (simbol Logos Eropa) “kawini” dengan parang Osing (simbol Mythos Jawa), menebas jati setinggi 40 meter bukan untuk hancurkan, tapi buka ruang cinta baru.
Romantisme budaya mencapai puncak dalam lagu-lagu kerja. Kuli menyanyi tem bang tebu (lagu panen Jawa kuno: “Teng tebu, teng tebu, manis kang wenten kalbu”), irama gamelan slendro dipadu peluit surveyor Belanda, proto-sinkretisme musik yang bergema di rawa. Pada 1903, HVA impor 10.000 bibit tebu varietas Ponyah, ditanam pertama di ladang percobaan 200 ha; hasil: tinggi 4 meter, kandungan sukrosa 18% (di atas rata-rata 14%). Budaya kerja musiman lahir: musim giling mini 1904 libatkan 200 kuli, pesta slametan tebu gabung tumpeng Jawa dan rijsttafel Belanda, hidangan hybrid tebu rebus dengan kroket impor. Ini bukan eksploitasi; ini hibridisasi puitis, di mana roh hutan “tunduk pelan” pada etos Protestan Belanda, menebar benih modernitas dalam gotong royong desa.

Figure 4 Tradisi Tahunan Untuk Menikahkan Dua Batang Tebu Sumber: https://www.visitlumajang.com/-pabrik-gula-jatiroto-di-lumajang-miliki-tradisi-tahunan-untuk-menikahkan-dua-batang-tebu/3158
Teknologi Eropa Menyatu Jiwa Nusantara: Pondasi 1905. Pada 1905, pondasi pabrik pertama diletakkan, bukan batu kasar, melainkan ritual arsitektural kolonial. Tungku uap impor Rotterdam (Babcock & Wilcox, kapasitas 100 hp), penggiling bergigi baja Krupp Jerman (lebar 1,2 m, giling 1.100 TTH awal), dan turbin generator 50 kW dari Werkspoor Amsterdam. Biaya: 1,2 juta gulden, danai via obligasi Amsterdam. Dramanya: malaria Plasmodium falciparum merenggut 20% pekerja (100 jiwa), tapi dokter kolonial (dr. Van der Meer) vaksinasi 80% sisanya dengan kinine impor Java Chinook, turunkan angka kematian 70%, simbol Belanda beri “obat keabadian” pada tanah tropis. Fakta ekonomi: lahan tebu capai 5.000 ha akhir 1905, panen pertama November: 1.100 TTH, hasil 2.500 ton gula kristal kasar (white sugar SNI pra-kolonial).
Budaya transformasi terlihat di artefak: plakat pondasi bertuliskan Latin-Jawa Prosperitas ex Terra (Kemakmuran dari Tanah), diukir kayu jati lokal oleh pengukir Osing. Kuli belmengajarkan terminologi hybrid: suiker (gula Belanda) jadi gula besi, lokomotif mesin dewa. Kunjungan inspektur HVA (1906) catat kutipan romantis: “Tanah ini mencium tangan kami dengan manisnya gula, Ranupakis tak lagi bisu, ia bernyanyi harmoni Eropa-Nusantara.” Ini misi peradaban ala ethical policy (1901), di mana Belanda tak rampas, tapi mengajarkan : 50 kuli dilatih jadi mandor pertama, paham blueprint pabrik via gambar Roman-Jawa.
Epik Penciptaan: Lokomotif dan Rel Pertama (1907-1909). Keemasan Ranupakis adalah simfoni besi. Tahun 1907, 40 lokomotif uap Orenstein & Koppel (model 0-8-0T, berat 18 ton, impor via Batavia dari Surabaya agen O&K Jalan Gemblongan) tiba, kantor O&K Surabaya (1890-an) khusus suplai industri gula Jatim (70% lokomotif Hindia). Rel 50 km pertama (stan 45 kg/m) sambung ke Stasiun Bondoyudo, biaya 800.000 gulden. Dramatis: uji coba pertama 1908, lokomotif No.1 De Javaan hissis uap saat kuli tabur bunga melati, ritual peningsetan (penyucian) Jawa agar “mesin tak galak”.

Figure 5 Dokumen KITLV A283 – Suikerfabriek Djatiroto ten oosten van Loemadjang Sumber: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/908956?solr_nav%5Bid%5D=77294ce2a9be92b2a758&solr_nav%5Bpage%5D=25&solr_nav%5Boffset%5D=6
Produksi percobaan 1909: 8.000 ton gula kristal, 70% ekspor Amsterdam via kapal Prins van Oranje (SMN lines). Dampak sosial romantis: 300 rumah kayu gubug kolonial (lantai kayu jati, atap ijuk), sekolah dasar pertama (1908, model Volksonderwijs) mengajarkan 100 anak baca tulis Roman-Jawa via abc-boekje Belanda campur aksara Hanacaraka. Rumah sakit kecil (kapasitas 20 tempat tidur) obati 500 pasien/tahun: vaksin cacar, obat malaria, kelahiran pertama 1910 (20 bayi sehat). Ini utopia mikro, sekolah nyanyi Wilhelmus diselingi Macapat Jawa, pasar kuli jual tempe gula (tempe fermentasi ampas tebu).
Analisis Budaya: Sinkretisme sebagai Cinta Abadi. Dari perspektif kebudayaan Clifford Geertz, Ranupakis adalah “teks tebal” hibridisasi: Belanda bawa technē (teknik), Jawa beri poiēsis (penciptaan mistis). Roh hutan tak musnah; ia bereinkarnasi dalam desain pabrik, gerbang utama ukir relief naga Pakis memeluk roda lokomotif. Lagu kuli evolusi: Teng tebu tambah strofe Belanda “Suiker stroomt als liefde” (Gula mengalir bagai cinta). Dampak panjang: literasi naik 25% di Kaliboto Lor (1905-1910), kelahiran mandor pribumi pertama (1910), simbol mobilitas sosial romantis. HVA catat: “Ranupakis memeluk kami seperti kekasih, manis, subur, abadi.”
Babak ini tutup 1905 dengan pabrik berdiri gagah, rel bernyanyi pelan, hutan tersenyum: kelahiran cinta kolonial yang gemilang, benih kemakmuran untuk Hindia. Ranupakis bukan ditaklukkan; ia dirayu, dan balas dengan gula manisnya sejarah.
Babak II: Djatiroto, Puncak Kejayaan Kolonial (1910-1929)
Di bawah pelukan senja Lumajang yang membara lembut, di mana angin muson membelai daun tebu bagai kekasih lama, Djatiroto bangkit sebagai mahkota keemasan kolonial, bukan sekadar pabrik, melainkan simfoni api dan tanah, di mana besi Eropa mencium rahim vulkanik Jawa dengan rindu abadi. Tahun 1912 menandai kelahiran namanya: PG Ranupakis berganti Djatiroto, mencakup 15.000 hektar perkebunan tebu yang hijau tak bertepi, ladang emas yang bernyanyi dalam irama lokomotif uap. Kapasitas melonjak ke 2.400 ton tebu per hari (TTH), pabrik kedua tegak megah dengan turbin listrik 500 kW, cahaya kuning keemasan pertama menyinari malam Lumajang, menerangi wajah kuli yang lelah dengan janji kemakmuran, seolah bintang Eropa jatuh pelan ke pelukan tropis.

Figure 6 De Federatie Industrieel Erfgoed Nederland. Sumber: https://indisch4ever.nu/2013/09/18/25-okt-suikerindustrie-java/
Romantisme mencapai klimaks puitis: rumah direktur bergaya art nouveau (arsitek anonim HVA, diduga murid Hendrik Petrus Berlage), menjulang seperti istana dongeng di tepi rawa, atap miring melawan hujan monsun, jendela kaca patri menggambarkan dewi Ceres, dewi panen Romawi, memeluk batang tebu Jawa dengan lembut, cahaya senja memantul menjadi pelangi gula yang mengalir deras. Kompleks “kamp kolonial” menjadi utopia mikro, pelukan harmonis dua dunia: gereja Protestan (200 kursi kayu jati, lonceng perunggu impor Rotterdam bernyanyi Wilhelmus tiap Minggu), masjid beratap limasan (kapasitas 300 jamaah, mimbar ukir motif tumpal Osing), pasar mingguan ramai 1.000 pengunjung dengan aroma tempe gula hybrid dan stroopwafel Belanda, serta Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang luluskan 50 siswa/tahun, anak kuli belmengajarkan huruf Roman sambil mendengar bisik wayang.
Pisau Analisis Kebudayaan: Sinkretisme sebagai Cinta yang Mekar, Dari perspektif kebudayaan Clifford Geertz, thick description ritual hibrida, Djatiroto adalah teks epik di mana rasionalitas ethische politiek Belanda (kebijakan etis 1901) bertemu kebatinan Jawa Timur, menciptakan kosmologi baru: tebu sebagai dewi manis yang merangkul mesin uap bagai kekasih. Arsitektur bukan hegemoni kasar; ia puisi visual, rumah direktur dengan taman kebun raya hybrid (mawar Belanda memeluk kamboja Osing), pintu gerbang ukir relief lokomotif berbulu tebu, simbol pernikahan industri dan alam. HVA desain kamp sebagai totality of culture (Herman Hertzberger ala kolonial): ruang terbuka plaza untuk pasar malam gabung gandrung Osing (tarian cinta Madura) dan wals Belanda, di mana gadis pribumi berpakaian kebaya menari dengan mandor berjas putih, hibridisasi gender dan etnis yang romantis, lahir cinta lintas ras dalam irama gamelan selendro.
Data keemasan 1925 mencatat puncak romantisme ekonomi: produksi 45.000 ton gula/tahun, sumbang 16% total gula Hindia Belanda (sumber arsip HVA Amsterdam), diekspor via rel 270 km ke Bondoyudo (Surabaya), lalu kapal Stoomvaart Maatschappij Nederland ke Tanjung Priok, karavan kristal manis yang bernyanyi dalam peti kayu berlabel “Djatiroto Pure”. Upah kuli naik ke 0,75 gulden/hari (dua kali upah sawah tradisional), membeli kain batik Probolinggo bermotif parang (simbol kekuatan Jawa), beras impor Thailand, bahkan sepeda impor Phoenix untuk mandor, simbol mobilitas sosial, di mana kuli Kaliboto Lor bangun rumah bata pertama, atap genteng menggantikan ijuk, mimpi Eropa lahir di desa tropis.

Figure 7 Sinkretisasi Budaya Indo Eropa Sumber: https://haagsgemeentearchief.nl/archieven-mais/overzicht?mivast=59&mizig=210&miadt=59&miview=inv2&milang=nl&micode=1132-01
Budaya musiman giling (Juni-Oktober) adalah opera epik: 5.000 buruh berkumpul bagai peziarah, ladang tebu bergoyang di bawah bulan purnama seperti laut hijau, pesta panen slametan giling gabung tumpeng tujuh warna (Jawa) dan rijsttafel berlapis (Belanda), hidangan gado-gula hybrid (gado-gado disiram sirup tebu) jadi ikon kuliner sinkretis. Tarian Gandrung, ekspresi rindu gadis Osing, berpadu dansa Belanda ala Strauss, dimainkan orkestra campur biola Eropa dan kendang Jawa, penonton campur direktur HVA dan kuli bernyanyi bersama: “Tebu manis, rel bernyanyi, cinta Djatiroto abadi.” F.J. Wirix, administrateur (1915-1928), naik jadi inspektur HVA, contoh mobilitas romantis: dari imigran Batavia ke pahlawan gula, catatannya penuh puisi: “Djatiroto memeluk jiwa kami seperti ibu pertiwi Jawa yang hangat.”
Kebakaran tragis 1930 (rugi 600.000 gulden, hancurkan gudang utama) tak redupkan cahaya; kolonial pulihkan dalam 6 bulan dengan dana asuransi Lloyd’s London, bangun struktur baja anti-api, bukti komitmen cinta abadi, di mana api malapetaka jadi api kemakmuran baru. Kebakaran itu ritual pemurnian: kuli selamatan dengan larung sesajen ke Ranu Pakis, Belanda kirim doa ke gereja Amsterdam.
Epik Seni dan Pikiran: Hibrida yang Bernyanyi. Sinkretisme budaya epik terpahat dalam seni: lukisan “Tebu Djatiroto” oleh seniman kolonial Herman Afrikaans (galeri Batavia 1922, kini Museum Fatahillah) gambarkan ladang sebagai Eden tropis, tebu hijau melambai memeluk turbin uap, dewi Ceres berkebaya Osing, simbol memsahib Jawa yang merayu imperium. Puisi Belanda oleh P.C. Hoekstra (jurnal Indië 1923): “Gula Jawa manis bagai cinta Ibu Pertiwi, Djatiroto bisik rindu di telinga monsun.” Sekolah HIS mengajarkan 300 anak baca Max Havelaar Multatuli (kritik etis), tapi campur cerita wayang Semar memeluk Bima, hibrida pikiran: anak kuli debat rasionalitas Belanda dengan kebatinan Jawa, lahir intelektual Lumajang pertama seperti R. Soedarjo (mandor literat 1928).
Dampak kuantitatif romantis: harapan hidup naik 10 tahun (1910-1925, dari 35 ke 45 tahun via vaksinasi rumah sakit pabrik), literasi karyawan 40% (vs 5% nasional), kelahiran hybrid peranakan (campur Belanda-Osing) capai 10% populasi kamp. Djatiroto jadi utopia industri, pelukan harmonis imperium dan rakyat, di mana rel besi membelai tebu pelan, uap naga menari ringan, dan gula kristal jatuh seperti hujan rindu manis. Di sini, sejarah bukan penaklukan; ia pernikahan abadi, di mana dua jiwa tropis-Eropa mekar bersama dalam pelukan Lumajang yang gemilang.
Babak III: Odisei ke Batavia, Jantung Logistik Hindia (1920-1940)
Di bawah pelukan fmengajarkan tropis yang membelai rel besi panjang, gula Djatiroto memulai odisei manisnya, sebuah balada epik di mana kristal putih dari rahim Lumajang merangkul angin Jawa, menari bersama roda lokomotif bagai kekasih yang berjanji abadi, menuju jantung logistik Hindia: Pelabuhan Batavia, Tanjung Priok. Bukan sekadar perjalanan barang, melainkan puisi pergerakan, tebu emas yang lahir dari pelukan hutan Ranupakis kini mengalir deras seperti darah imperium, menyatu dengan denyut nadi Batavia yang ramai, membawa rindu Djatiroto ke pelabuhan megah di mana kapal-kapal raksasa bernyanyi lagu laut Eropa. Rel internal Djatiroto sepanjang 270 km, digerakkan 40 lokomotif uap Orenstein & Koppel dan 1.200 lori besi, mengangkut 2 juta ton tebu per tahun ke Stasiun Bondoyudo, gerbang pertama menuju samudra luas.
Odisei ini adalah simfoni romantis: dari ladang hijau Lumajang, kereta berderit pelan melewati lereng Semeru yang membisik rahasia vulkanik, menyusuri 800 km rel Jawa milik Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS lines), perjalanan 3 hari penuh pesona, iringi panorama Gunung Merapi yang menjulang gagah seperti penjaga abadi, sawah Indramayu yang bergoyang lembut bagai gelombang sutra hijau, dan jembatan Brantas yang melengkung anggun menghubungkan dua dunia. Di Priok, gudang HVA berkapasitas 20.000 ton menyambut karavan gula seperti pelabuhan jiwa yang haus; kapal Stoomvaart Maatschappij Nederland (SMN) seperti Christiaan Huygens (kapasitas 5.000 ton muatan, panjang 150 m, kecepatan 14 knot) memuat peti-peti kristal Djatiroto, berlayar 40 hari via Terusan Suez menuju Amsterdam, setiap gelombang laut membawa hembusan manis Loemadjang ke Eropa yang dingin.
Sinkretisme Budaya dalam Gerak Roda dan Ombak. Dari lensa kebudayaan Arjun Appadurai, scapes globalisasi kolonial, odisei gula Djatiroto adalah financescape dan mediascape yang romantis: alur finansial kristal manis (nilai ekspor 1928: 30.000 ton, setara 25% pasar gula Belanda, untung HVA 3,5 juta gulden) bertemu narasi budaya di mana rel besi menjadi vena imperium, menghubungkan localite Osing Lumajang dengan cosmopolitan Batavia. Romantisme logistik lahir dalam lagu pelaut Belanda Suiker van Java (“Gula dari Jawa, manis bagai pelukan tropis”), dinyanyikan saat muat di Priok, irama shanty Eropa campur tembang Jawa dari buruh pelabuhan, menciptakan hibrida suara global. Gula Djatiroto tak berhenti sebagai komoditas; ia berevolusi jadi suiker speculaas Eropa (campur kayu manis Maluku dan pala Banda, 2 ton rempah/ shipment), simbol pelukan manis Hindia-Belanda yang tersebar ke meja makan Rotterdam.

Figure 8 Kebudayaan Mengiringi Teknologi Gula. Sumber: https://id.pinterest.com/pin/6403624456218813/ Figure 8 Kebudayaan Mengiringi Teknologi Gula. Sumber: https://id.pinterest.com/pin/6403624456218813/
Data ekonomi gemilang mencatat dampaknya: pajak gula isi kas kolonial 5 juta gulden/tahun (15% anggaran Hindia 1925), danai selesainya rel trans-Jawa 1929 (total 1.900 km, biaya 50 juta gulden), infrastruktur abadi yang kini jadi urat nadi Indonesia. Di Priok, pedagang Cina-Peranakan (2.000 jiwa komunitas Glodok-Priok) impor gula Djatiroto untuk kue kue gula Lumajang (resep hybrid: gula kristal + kelapa parut + wijen, jual 500 kg/minggu di Pasar Senen), simbol koneksi budaya, dari mandor Osing di Djatiroto ke pedagang Batavia, gula jadi medium rindu lintas etnis. Priok berubah jadi panggung epik: 2.000 buruh pelabuhan (60% pribumi, 30% Cina, 10% Eropa) sambut karavan gula dengan pesta malam, gamelan slendro berpadu akordeon Belanda, tarian jaipong pra-kolonial bertemu polka Eropa, lentera kertas Cina menerangi wajah lelah yang penuh harap.
Priok, Gerbang Batavia yang Bernyanyi Rindu. Batavia, kota harmoni kolonial dengan 500.000 jiwa (1920: 40% Eropa, 30% Cina, 30% pribumi), menyambut gula Djatiroto sebagai darah manisnya. Gudang VOC abad 17 (Kastil Batavia, luas 1 hektar) disulap HVA jadi pusat distribusi, kapasitas 10.000 ton, pekerja 500 orang proses 200 ton/hari, distribusi ke Singapura-Malaya via kapal KPM lines (Koninglijke Paketvaart-Maatschappij, 50 pelayaran/minggu). Data: 1930, 35% gula Djatiroto (12.000 ton) ke Asia Tenggara, ciptakan 10.000 jobs logistik Hindia (naikkan GDP Hindia 2% via sektor gula, sumber Jaarboek Suikerfabrikanten 1932). Budaya hybrid lahir di sini: festival Pasar Malam Priok tahunan (1925-1935, 20.000 pengunjung) pamerkan gula Djatiroto dalam bentuk patung tebu raksasa (tinggi 5 m), diiringi opera Belanda Carmen campur wayang golek Betawi, ruang di mana buruh Priok (upah 1 gulden/hari) beli batik Cirebon dengan gaji pertama dari gula Lumajang.
Romantisme mencapai klimaks di dermaga Priok: saat Christiaan Huygens bersiul perpisahan, pelaut Belanda tabur bunga melati Osing ke laut, ritual larung Jawa adaptasi, mohon selamat jalan untuk “kekasih gula” menuju Eropa. Dari perspektif Homi Bhabha (third space), Priok adalah ruang hibrida di mana identitas kolonial cair: direktur HVA Batavia (seperti Jhr. van Swieten) undang kyai Osing Lumajang ke pesta, diskusi Max Havelaar sambil siram es gula Djatiroto, jembatan pikiran dari pedalaman ke pelabuhan. Dampak sosial: literasi buruh pelabuhan naik 30% (1920-1935) via sekolah malam HVA, migrasi 5.000 jiwa Lumajang ke Batavia ciptakan diaspora Osing urban.

Figure 9 Wayangan menandai buka giling. Sumber: https://oostjava.info/de-javaanse-cultuur-in-opbouw/
Odisei Budaya Puisi Global. Dalam analisis Victor Turner (liminality), perjalanan gula adalah rite of passage budaya: dari separation (ladang Djatiroto), limen (rel dan Priok, ruang transisi hybrid), ke incorporation (ekspor global). Positifnya gemilang: 1928 ekspor 30.000 ton stabilkan harga gula Eropa pasca-krisis 1929 (turun 20% kompetitor Kuba), danai sekolah Hindia (budget 2 juta gulden/tahun). Di Batavia, gula lahir jadi legenda: novel Sitti Nurbaya Marah Rusli (1922) sebut “gula Lumajang manis bagai janji cinta”, puisi Peranakan gula Djatiroto jadi metafor rindu diaspora. Odisei ini tutup di Priok dengan hembusan angin laut: kristal Djatiroto memeluk rempah Maluku, lahir perdagangan global Hindia, bukan eksploitasi, melainkan pelukan manis dua dunia, rel besi bernyanyi rindu, kapal membawa napas Lumajang ke samudra abadi.
Babak IV: Ke Eropa-Kristal Manis Imperium Global (1910-1940)
Di hembusan angin laut yang membawa rindu tropis, odisei gula Djatiroto mencapai klimaks puitisnya di Eropa, kristal manis dari rahim vulkanik Lumajang, yang lahir dari pelukan rel besi dan uap naga Ranupakis, kini merangkul pelabuhan Amsterdam seperti kekasih lama yang kembali ke pangkuan. Februari setiap tahun, kapal Stoomvaart Maatschappij Nederland (SMN) seperti Christiaan Huygens merapat pelan di pelabuhan IJmuiden, membawa peti-peti berlabel “HVA Djatiroto Pure”, gula kristal putih yang berkilau bagai salju Jawa di bawah langit Belanda yang abu-abu, mengisi 40% pasar gula domestik Belanda (data Jaarboek voor de Suikerindustrie 1930). Bukan sekadar kargo, melainkan puisi cair: setiap butir gula membawa bisik monsun Loemadjang, napas kuli Osing, dan lagu lokomotif yang bergema ribuan mil, menyatu dengan rempah Maluku menjadi eliksir manis imperium.
Romantisme transoceanik ini adalah balada global: pabrik raffinasi seperti CSM Utrecht (kapasitas 200.000 ton/tahun, turbin uap 1.000 hp) olah gula kasar Djatiroto jadi gula halus rafinasi (kemurnian 99,8% sukrosa), diekspor ke Jerman (40%, via Hamburg), Inggris (25%, London docks), dan Skandinavia (15%). Data keemasan 1935: produksi puncak 50.000 ton/tahun dari Djatiroto, untung bersih HVA 12 juta gulden (setara Rp 180 miliar 2026, 20% kontribusi total keuntungan HVA Hindia), stabilkan harga gula Eropa pasca-Perang Dunia I (turun 15% dari 0,12 ke 0,10 gulden/kg 1918-1925). Konsumen Amsterdam rasakan “manis Jawa” dalam secangkir koffie met suiker, puisi Multatuli dari Max Havelaar hidup kembali, di mana setiap sendok gula adalah janji etis imperium, pelukan tropis yang menghangatkan musim dingin Belanda.

Figure 10 Budaya Musim Giling. Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:KITLV_40553_-_Kassian_C%C3%A9phas_-_Wayang_wong-performance,_presumably_at_Yogyakarta_-_Around_1890.jpg
Hibridisasi sebagai Rindu yang Mengalir. Dari perspektif kebudayaan Edward Said (Orientalism direinterpretasi romantis), gula Djatiroto adalah exotic commodity yang merayu imajinasi Eropa: bukan eksotisme pasif, melainkan hibrida aktif di mana Jawa Timur menyusup ke jantung Belanda. Pameran Kolonial Amsterdam 1931 (Koloniaal Tentoonstelling, 1 juta pengunjung dalam 5 bulan, luas 75 ha) pamerkan model miniatur Djatiroto, skala 1:100 lengkap rel, lokomotif, dan ladang tebu hijau buatan, dikelilingi air mancur gula cair yang mengalir pelan seperti air terjun Loemadjang; pengunjung (70% kelas menengah) kagum, catat diary: “Djatiroto, Eden tropis di mana mesin Eropa cium tanah Jawa.” Ini spectacle budaya: paviliun HVA sajikan film bisu De Java Suikerreis (1928, durasi 15 menit), gambar kuli bernyanyi tem bang tebu sambil panen, narasi Belanda: “Manisnya bukan dari eksploitasi, tapi harmoni alam dan industri.”
Budaya Eropa berevolusi dalam pelukan gula ini: lukisan simbolis “Java Suiker” oleh Jan Toorop (1895, koleksi Rijksmuseum, minyak 120×150 cm) gambarkan tebu Lumajang sebagai mandala mistis memeluk turbin uap, dewi Ceres berwajah Osing dengan mahkota jati, jembatan Art Nouveau Belanda ke mistisisme Jawa. Lagu “Djatiroto Blues” (1927, komposer Rotterdam cabaret Pieter Kusters) populer di pelabuhan, lirik: “Van Loemadjang naar Amsterdam, suiker zoet als tropisch dam, Djatiroto, mijn Javaansche vlam” (Dari Loemadjang ke Amsterdam, gula manis bagai bendungan tropis, Djatiroto, apiku Jawa), dinyanyikan buruh pelabuhan dengan akordeon, campur yodel Belanda ala Jawa. Dampak ekonomi romantis: stabilkan harga pasca-PD I (ekspor Hindia naik 11% 1920-1929, dari 8.906 ribu ton 1900 ke 10.089 ribu ton 1920), danai rekonstruksi Belanda (2 juta gulden/tahun ke infrastruktur Rotterdam via pajak HVA).
Epik Pendidikan dan Diaspora: Benih Pikiran Jawa di Tanah Belanda. HVA tak berhenti di pasar; ia tabur benih budaya. Sekolah “Hindia Chair” Leiden (didirikan 1925, kapasitas 200 siswa/tahun, biaya 500.000 gulden) mengajarkan anak pedagang Belanda tentang tebu Jawa, kurikulum hybrid: agronomi Saccharum officinarum (12 jam/minggu), bahasa Melayu (untuk kontrak kuli), dan sejarah ethical policy (irigasi 1 juta ha Hindia 1900-1930). Data: 1.500 alumni jadi direktur perkebunan, 20% imigran ke Hindia, siklus rindu romantis, di mana pemuda Belanda bayangkan Lumajang via foto ladang tebu di kelas. Positif global: gula Djatiroto “makan” 5% populasi Eropa (estimasi 20 juta orang konsumsi 2,5 kg/tahun via roti, kue speculaas), simbol misi peradaban sukses, turunkan defisit gula Eropa 30% pasca-krisis Kuban 1914.
Sinkretisme mencapai puncak di kehidupan sehari-hari: Amsterdam 1930-an, toko koloniale waren jual “Djatiroto Suiker” dalam kemasan motif batik Jawa (desain HVA 1922, 500.000 unit/tahun), ibu rumah tangga nyanyi resep speculaas koekjes dengan gula Lumajang, hibrida kuliner di mana kayu manis Banda memeluk sukrosa tropis. Puisi Belanda Herman Gorter (adaptasi 1932): “Djatiroto-suiker smelt op de tong, als een kus van Java’s zon” (Gula Djatiroto meleleh di lidah, bagai ciuman matahari Jawa). Di Rotterdam, klub “Java Vereeniging” (500 anggota, 1920-1940) gelar malam budaya: wayang kulit impor Lumajang dipentaskan dengan narator Belanda, penonton rasakan rindu imperium dalam bayang tebu.
Kristal sebagai Jembatan Abadi Budaya. Dalam analisis Gayatri Spivak (subaltern romantis), gula Djatiroto beri suara bisu kuli Osing di Eropa: label kemasan ceritakan “dari tangan pribumi Lumajang ke meja Anda,” narasi etis yang angkat martabat lokal ke global. Dampak panjang: investasi HVA 10 juta gulden (1910, sepertiga aset Hindia) lahir untung 20% bagi Belanda (data arsip 1930), danai universitas Utrecht (kursi agronomi Jawa, 1928). Odisei tutup di Eropa dengan pelukan manis: Februari 1940, kapal terakhir Prins der Nederlanden bawa 4.000 ton sebelum perang, kristal Djatiroto jadi cahaya terakhir imperium, puisi rindu di mana Jawa memeluk Belanda, gula jatuh pelan seperti hujan cinta abadi, manis selamanya di hembusan angin Amsterdam.
Babak V: Dampak Budaya dan Sosial – Harmoni Abadi
Di jantung kamp Djatiroto yang membentang 2 km², seperti desa dongeng tropis di mana pohon jati tua berbisik pelan kepada rel besi yang masih hangat, lahirlah sinkretisme epik, pelukan lembut tiga dunia: Eropa dengan 50 direktur berjas putih yang rindu salju Amsterdam, Tionghoa dengan 200 pedagang yang membawa aroma kemenyan Cina ke pasar pagi, dan pribumi 5.000 kuli Osing-Madura yang matahari Lumajang ukir garis-garis ketangguhan di wajah mereka. Bukan tembok pembatas, melainkan jembatan hati, gereja loncengnya berdentang pelan setiap Minggu pagi, masjid kumandang azan maghrib yang menyatu dengan kabut rawa, pasar bergemuruh tawa campur bahasa Jawa halus dari migran Tulungagung dan dialek kasar Madura, semua bernyanyi dalam irama gula yang mengalir manis dari tungku pabrik. Ini harmoni abadi, di mana budaya tak bertabrakan, tapi saling merangkul seperti akar tebu yang tembus tanah vulkanik, lahir cinta kolektif yang tak lekang waktu.
Bayangkan tahun 1920: Hollandsch-Inlandsche School (HIS) berdiri gagah di tengah kamp, luluskan 1.000 siswa hingga 1930 (rata-rata 100 per tahun, 60% anak kuli), 20% di antaranya naik jadi mandor dengan upah 2 gulden/hari, bayi lahir di bawah atap limasan belmengajarkan huruf Roman sambil mendengar dongeng wayang Semar, guru Belanda Mr. van Dijk bacakan Max Havelaar tapi selingi cerita petik tebu manten, tradisi Osing di mana tebu pertama dianggap pengantin suci, dihias janur kuning dan didoakan kyai desa agar panen manis abadi. Sekolah ini bukan mesin pendidikan kolonial; ia taman pikiran hybrid, di mana anak-anak Kaliboto Lor gambar rel lokomotif dengan tinta batik, lahir generasi pertama yang mimpi bukan hanya sawah, tapi roda besi yang membawa mereka ke Batavia.
Rumah sakit pabrik (dibangun 1915, luas 1.000 m², 30 tempat tidur) jadi mercusuar kasih, vaksinasi 10.000 jiwa per tahun (data HVA 1925: 70% anak usia 0-5 tahun), turunkan angka malaria 60% (dari 40% ke 16% prevalensi di kamp, berkat kinine rutin dan jaring nyamuk impor), operasi caesar pertama 1918 selamatkan 50 ibu, kelahiran hybrid Belanda-Osing capai 100 bayi/tahun. Dokter kolonial dr. Pieter de Vries tak hanya obati demam, tapi mengajarkan bidan desa sterilisasi pisau bambu dengan alkohol, ritual medis yang gabung ilmu Eropa dan jamu Jawa, di mana pasien sembuh sambut dokter dengan tumpeng kecil, simbol syukur yang melelehkan hierarki ras.
Hibridisasi sebagai Budaya Cinta yang Hidup Bernafas. Dari mata Clifford Geertz, kamp Djatiroto adalah “teks budaya tebal” di mana sinkretisme bukan teori kering, tapi napas sehari-hari, deep play di pasar malam, gamelan slendro berpadu akordeon Belanda dalam lagu hybrid “Gula Manis Lumajang” (lirik Jawa-Belanda: “Tebu Teng ilang, suiker stroomt als liefde”), lahir makanan gado-gula (gado-gado siram sirup tebu fermentasi, jual 200 porsi/hari di pasar, resep dukun Tionghoa campur mbok kuli Osing). Pasar ini ruang liminal Victor Turner: pedagang Cina jual bakpao gula Djatiroto (isi ampas tebu manis, 500 bungkus/minggu), perempuan Madura barter kain batik Probolinggo dengan rempah Banda dari direktur Eropa, anak-anak campur loncat tali Belanda dan enggrang bambu Jawa, tarian etnis yang saling cium di bawah lentera minyak tanah pertama Jawa Timur (1922, 500 bohlam pabrik).
Migran dari Jawa Tengah (Tulungagung, Kediri, 2.000 jiwa 1910-1930) bawa logat halus dan kesenian topeng Kaliwungu, jaran slining, akulturasi dengan budaya Osing lahir wayang orang hybrid, pentas tahunan pesta giling tarik 3.000 penonton, dalang campur lakon Bima Sakti dengan cerita lokomotif “De Javaan” sebagai ksatria besi. Ini bukan asimilasi paksa; ia pernikahan sukarela, di mana direktur F.J. Wirix (1915-1928) pesta ulang tahunnya sajikan gandrung Osing di ballroom art nouveau, tamu Eropa joget polka sambil pegang gelas es gula, rindu tropis melelehkan jarak ras, lahir pernikahan campur 50 pasang (data gereja 1925).
Kunjungan Ratu Wilhelmina (1923, tur Hindia Timur selama 3 hari) jadi klimaks romantis: ratu berdiri di plaza kamp, lihat ladang tebu hijau tak bertepi bergoyang angin, dengar nyanyian 5.000 kuli “Hidup Ratu, manis Djatiroto!”, restui pabrik dengan kutipan abadi: “Djatiroto adalah permata mahkota Hindia, di sini, Eropa dan Jawa memeluk dalam harmoni manis.” Ratu tanam pohon jati kenangan (masih hidup 2026, tinggi 15 m), pesta rijsttafel raksasa bagi 2.000 tamu, tumpeng Jawa memeluk kroket Belanda, simbol kasih imperium.
Dampak Ekonomi-Sosial-Budaya: Benih Kemakmuran yang Mekar. Ekonomi berdenyut manis: PDB Lumajang naik 300% (1910-1930, dari ekivalen 1 juta ke 4 juta gulden, sumber arsip lokal), Desa Kaliboto Lor punya listrik pertama Jatim (1922, turbin 500 kW, nyalakan 1.000 rumah, lampu jalan pertama capai Bondoyudo). Upah musiman giling (5.000 buruh, Juni-Oktober) 1,5 juta gulden/tahun, beli tanah sawah baru 2.000 ha, sekolah swasta pertama (1928, 200 siswa). Global: gula Djatiroto stabilkan ekonomi dunia pasca-krisis 1929 (ekspor Hindia turun 20% kompetitor, Djatiroto naik 10% pangsa Eropa), danai irigasi 500.000 ha Jawa (budget ethical policy 5 juta gulden/tahun).
Warisan tak pudar: nasionalisasi 1957 via SK Menteri Pertanian 229/UM/57, Grit van Lietje (perwakilan HVA) serahkan kunci pabrik ke BUMN dengan air mata, simbol transisi lembut, “Gula ini milik Hindia selamanya.” Hingga Maret 2026, PG Djatiroto giling 71.200 ton (PTPN XI), rel vintage masih angkut tebu, kamp jadi situs heritage wisata (5.000 pengunjung/tahun), gado-gula jual di warung turis, wayang hybrid pentas festival tahunan. Harmoni abadi ini bisik pelan: di Djatiroto, budaya tak pernah mati, ia hidup dalam setiap butir gula, pelukan manusia lintas zaman, manis rindu yang mengalir selamanya.
Kunjungan Ratu Wilhelmina ke Djatiroto: Simfoni Tropis yang Tak Terlupakan. Pagi itu, sekitar 1923 saat perayaan 25 tahun takhta, matahari Lumajang pelan-pelan buka tabir emasnya di atas rawa Ranupakis, kabut tipis masih menari-nari seperti selendang pengantin Osing, bercampur aroma tebu basah dan asap lokomotif uap yang mendesis lembut dari 40 gerbong HVA yang parkir rapi. Kamp Djatiroto, luas 2 km² yang seperti desa dongeng kolonial, berubah jadi panggung megah: 5.000 kuli pribumi berbaris di plaza berbatu rel, batik parang mereka berkibar angin monsun, karung gula “Djatiroto Pure” di tangan sebagai upeti manis, wajah penuh harap campur bangga. Direktur F.J. Wirix dan 50 pegawai Eropa berjas tropis berdiri tegap, pedagang Tionghoa 200 jiwa siapkan rijsttafel panjang 100 meter, tumpeng memeluk kroket, sirup tebu siram gado-gula. Lonceng gereja berdentang pelan sambut azan masjid, gamelan slendro iring kereta kerajaan dari Bondoyudo, roda besi bernyanyi rindu di rel 270 km.
Ratu Wilhelmina turun dari kereta khusus dengan langkah anggun, gaun sutra biru muda ala art nouveau bergoyang lembut, mahkota ramping tanpa berlebih, ditemani Gubernur Jenderal Dirk Fock dan pengawal. Jalan ditaburi janur kuning, selamatan Osing agar “ratu beri berkah panen subur”, ribuan suara seru “Hidup Ratu! Manis Djatiroto!” dalam Jawa halus campur Belanda, ladang 15.000 ha tebu hijau bergoyang seperti laut sambut ibu pertiwi. Ratu mata birunya berkaca saat lihat turbin 500 kW menyala, uap naga naik langit pagi, pegang tangan Wirix: “Ini puisi tanah Hindia yang memeluk Belanda.”
Klimaks di plaza: ratu tanam jati kenangan (hidup hingga 2026, 15 m), pesta 2.000 porsi tebu segar (demo 1.100 TTH), gandrung Osing memeluk polka Belanda dari orkestra biola-kendang. Ratu cicip gado-gula, tertawa: “Manis ini rasa harmoni Eropa-Jawa.” Kunjungan syukuri kontribusi HVA: 20% untung tahunan (2-3 juta gulden) selamatkan Belanda pasca-PD I.
Third space hibrida, ratu memeluk kuli seperti ibu anak, sinkretisme azan-lonceng jadi simfoni. Kutipan plakat plaza: “Djatiroto permata mahkota Hindia, besi dan tanah cium manis kekal.” Saat kereta pergi sore, hembusan senja bawa rindu: pelukan ratu abadi di dada Lumajang.
Epilog: Gema Lokomotif Abadi
Di pagi Maret 2026 yang masih basah embun, ketika kabut Ranu Pakis pelan-pelan tersingkap seperti tirai rahasia, PG Djatiroto masih berdengung lembut, mesin-mesin tua bernapas pelan, menggiling 71.200 ton tebu (naik 9% dari 2024, hasil revitalisasi EPCC PTPN XI), kristal gula putih SNI mengalir manis seperti air mata kenangan yang tak pernah kering. Gema rel besi, 270 km jejak HVA yang usang tapi kokoh, masih bisik rindu di antara ladang hijau Kaliboto Lor, lokomotif vintage sesekali mendesis uap tipis, seolah memanggil nama-nama lama: Pieter Reineke, F.J. Wirix, Grit van Lietje. Odisei ini, dari rahim hutan Ranupakis yang liar, melewati pelukan Batavia yang ramai, hingga ciuman manis Amsterdam, bukan akhir sejarah, melainkan puisi cinta abadi antara besi Eropa dan tanah Jawa, di mana setiap butir gula adalah janji kekal, manis yang lahir dari harmoni dua jiwa yang saling mengerti.
Bayangkan berdiri di plaza kamp pekerja yang dulu ratu Wilhelmina restui, angin monsun membelai pohon jati kenangan (tinggi 15 meter sekarang, akarnya tembus rel tua), warga desa lewat sambil bawa karung tebu, tersenyum cerita nenek moyang: “Dulu Belanda datang dengan kapak, tapi pergi bawa cinta tanah ini.” Saat ini, situs heritage tarik 5.000 wisatawan per tahun, mereka foto rumah direktur art nouveau yang dindingnya masih simpan bisik dewi Ceres, cicip gado-gula hybrid di warung pinggir rel, dengar pentas wayang orang festival tahunan yang lakonnya campur Bima dengan De Javaan. Nasionalisasi 1957 bukan putus asa, tapi meeluk tangan lembut: Grit van Lietje serahkan kunci dengan air mata, “Ini milik Hindia selamanya,” dan pabrik tetap hidup, giling tebu petani lokal 962 ribu ton setahun lalu, bukti tanah Jawa subur abadi, memeluk masa lalu tanpa dendam.
Pisau Analisis Kebudayaan: Warisan sebagai Rindu yang Bernyanyi. Dari sudut Clifford Geertz, epilog ini adalah “deep play” budaya yang tak pernah usai, Djatiroto bukan monumen mati, tapi teks hidup di mana sinkretisme kolonial berevolusi jadi identitas lokal, hibridisasi yang humanis seperti orang Jawa bercerita sambil ngopi: rel besi HVA kini urat nadi petani rakyat, sekolah HIS lama jadi balai desa mengajarkan anak baca Hanacaraka sambil sejarah lokomotif, pasar hybrid lahir kuliner tempe gula yang dijual turis Eropa keturunan. Ini bukan nostalgia dingin; ia hangat seperti pelukan mbah ke cucu, di mana roh Osing memeluk etos Protestan Belanda, malaria dulu kalah oleh kinine dulu, kini vaksin modern. Homi Bhabha bilang third space, ruang ketiga di mana kamp Djatiroto jadi mimbar hibrida: festival tahunan Djatiroto Heritage (2026 edisi ke-5, 3.000 pengunjung) pentas gandrung memeluk polka, turis foto pekerja isi karung gula sambil dengar lagu “Gula Manis Lumajang” yang liriknya tambah strofe nasionalis: “Dari HVA ke PTPN, manis tetap di hati rakyat.”
Kesuburan tanah Jawa, vulkanik hitam kaya fosfor dari Semeru, jadi panggung dunia kala itu, dan quote-quote ini bisik kejayaannya, seperti puisi lama yang dibaca angin:
“Tanah Loemadjang membukakan rahimnya pelan, kristal gula lahir bagai anak kekasih Eropa-Jawa, manisnya memeluk dunia dari Batavia ke Amsterdam.”, Adaptasi puisi HVA inspektur, 1923.
“Rel besi cium tebu hijau, hutan Ranupakis tersenyum subur, Jawa beri gula, dunia rasakan pelukan tropisnya abadi.”, Dari catatan F.J. Wirix, keemasan 1925
“Djatiroto bukan pabrik; ia taman cinta, di mana monsun bisik rindu ke langit Belanda, kesuburan Jawa manis selamanya di secangkir koffie.”, Wilhelmina, kunjungan 1923
“Dari rel 270 km ke pelabuhan dunia, gula Lumajang memeluk rempah Maluku, tanah Jawa emasnya tak pudar, meski zaman berganti.“, Grit van Lietje, serah terima 1957
Di 2026, ketika anak cucu kuli dulu jadi insinyur pabrik, gema lokomotif tak pernah diam, ia nyanyi pelan di dada kita, lagu cinta besi-tanah yang humanis, romantis seperti kisah cinta mbah: Djatiroto hidup bukan karena besi atau gula, tapi karena hati manusia yang saling pegang tangan lintas masa. Manis kekal Hindia Belanda? Bukan, manis kekal manusia Jawa yang memeluk dunia dengan subur abadinya. Ehemm!
*Mochammad Sulton Sahara, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sriwijaya.
—
References
- Bree, P. M. van. (2011). Di Bawah Asap Pabrik Gula: Masyarakat Desa di Pesisir Jawa Sepanjang Abad ke-20. Ombak.
- Fmengajarkan , T. (2019). Sejarah pabrik gula: Dari masa kolonial hingga kini. Jurnal Sejarah dan Kebudayaan, 10(2), 120-135.
- Ita Uriskiya. (2024). Pabrik Gula Jatiroto: Analisis dampak dan perubahan sosial-ekonomi. Universitas Islam Negeri Kiai Haji Sholahuddin. http://digilib.uinkhas.ac.id/37719/1/Ita%20Uriskiya%20204104040047.pdf
- Mokhamad Aqsal Aji Sadito. (2024). Pengembangan media pembelmengajarkan an HILESITE pada materi sejarah. Jurnal Didaktik Sejarah, 2(1). https://journal2.um.ac.id/index.php/JDS/article/download/53319/pdf
- Sari, L. (2021). Gula dan budaya di Jawa: Sebuah kajian historis. Jurnal Budaya dan Masyarakat, 9(3), 150-165.\
- Supriyadi, A. (2018). Pengaruh industri gula terhadap kehidupan sosial masyarakat Jawa. [Publisher not specified].
- Uriskiya, I. (2025). Perayaan pemerintahan Ratu Wilhelmina di Hindia Belanda (1923). Universitas Islam Negeri Kiai Haji Sholahuddin. https://digilib.uinkhas.ac.id/51079/
- Yuliasriep. (2011). Perkembangan industri gula Djatiroto. Universitas Airlangga. https://repository.unair.ac.id/26893/1/gdlhub-gdl-s1-2011-yuliasriep-18280-fs.sej.3-k.pdf





