Blok M: Kebudayaan Urban Jakarta,Multikulturalisme ASEAN yang Mulai Terabaikan

Oleh Mochammad Sulton Sahara*

Gambar 1. Suasana Blok M, 1990-an. Sumber: https://www.youtube.com/watch?

Prologia: Malam itu, di bawah guyuran hujan deras yang mengguyur Jakarta Selatan tanpa ampun, saya berdiri teguh di pinggir Jalan Melawai. Payung hitam saya yang sudah compang-camping bergoyang liar melawan angin kencang, sementara lampu neon Blok M Square berkedip-kedip seperti mata lelah seorang pekerja malam yang baru pulang shift. Di depan saya, seorang ibu paruh baya dengan payung plastik merah murahan tetap setia menjajakan sate kambingnya yang masih mengepul panas di atas anglo tua. “Mas, mau sate? Empat ribu sebatang, empuk ini!” tawarnya, suaranya nyaris tertelan deru motor yang berhenti mendadak di terminal. Tak jauh dari situ, segerombolan anak muda berjas rapi turun dari taksi online, tertawa-tawa sambil buru-buru menuju M Bloc Space, sambil bergumam soal rapat ASEAN besok pagi. Di Blok M ini, diplomasi regional tingkat tinggi dan sate kambing berbagi trotoar yang sama, basah kuyup oleh hujan dan kaki-kaki pejalan kaki. Kawasan ini bukan sekadar terminal bus tua atau mal lusuh; ia adalah cermin absurd dari kebudayaan urban Jakarta yang kaya rupa namun terpinggirkan, hanya satu kilometer dari Sekretariat ASEAN yang megah (Nas, 2002).

Gambar 2. Logo ASEAN, Sumber: https://asean.org/asean-emblem

Artikel ini bukan sekadar reframing narasi investigatif sebelumnya. Ia adalah penggalian mendalam ke dalam lapisan kebudayaan Blok M, menggunakan perspektif budaya sebagai lensa utama untuk mengupas ruang ini sebagai miniaturisasi multikulturalisme Asia Tenggara yang terabaikan (Acharya, 2014). Dengan pengamatan lapangan berbulan-bulan, dari subuh di terminal hingga malam di M Bloc, wawancara dengan tukang sate, seniman jalanan, aktivis urban, hingga pegawai ASEAN yang kebetulan nongkrong di warung kopi pinggir jalan, serta dukungan teori budaya urban dari Henri Lefebvre hingga Homi Bhabha, kita akan telusuri bagaimana Blok M merefleksikan dinamika hibrida pasca-kolonial, resistensi terhadap gentrifikasi modern, dan potensi tersembunyi sebagai soft power regional. Ruang, menurut Lefebvre (1991), bukan fisik semata; ia adalah produksi sosial yang dibentuk oleh praktik budaya sehari-hari dan sebaliknya membentuk identitas kolektif kita sebagai warga kota.

Bayangkan Blok M bukan sebagai titik koordinat di Google Maps, melainkan sebagai teks budaya yang hidup, penuh tanda baca berupa klakson angkot, aroma asap sate, dan bisik-bisik tawar-menawar pedagang. Di sini, kebudayaan urban bukan abstraksi akademis; ia adalah napas kolektif yang tercium setiap kali Anda melangkah di trotoar retak Melawai. Kawasan ini, lahir dari ambisi kolonial dan ditempa krisis modern, menawarkan narasi provokatif: mengapa “ibukota ASEAN de facto” yang inklusif ini malah difitnah sebagai pinggiran kumuh, sementara gedung diplomasi steril berdiri angkuh di sebelahnya? Pertanyaan ini akan kita bedah lapis demi lapis, dari fondasi beton hingga ritual sensorik malam hari. 

Gambar 4. Blok M di Zaman Kolonial. Sumber: https://news.republika.co.id/berita/mf7u1v/ini-misteri-sejarah-di-perempatan-blok-m-bagian-2

Fondasi Kebudayaan Kolonial: Kebayoran Baru sebagai Ruang Hibrida Pasca-Perang. Untuk memahami Blok M secara budaya, kita harus mundur ke tahun 1938. Saat itu, Batavia, nama lama Jakarta, sudah sesak seperti kaleng sarden yang kelebihan muatan. Pemerintah kolonial Belanda, yang kadang visioner melebihi zamannya, merancang Kebayoran Baru sebagai kota satelit modern, lengkap dengan grid blok A hingga S. Blok M diposisikan sebagai pusat mobilitas dan ekonomi rakyat: terminal bus, pasar, hunian bercampur perkantoran. Rencana megah ini tertunda oleh Perang Dunia II dan kekacauan politik pasca-kemerdekaan, tapi pada 1948, Mohammad Soesilo, murid arsitek legendaris Thomas Karsten, menggebloknya menjadi kenyataan di bawah Centrale Stichting Wederopbouw (CSW). Gambar biru arsip CSW yang saya kaji di Arsip Nasional Republik Indonesia menunjukkan visi kota taman ala Eropa: hijau rindang, teratur, tapi dengan denyut pasar yang tak bisa dihilangkan (Van Roosmalen, 2009).

Gaambar 3. Posisioning Blok M, Sumber: https://www.google.com/maps/place/Terminal+bus+Blok+M

Secara budaya, kelahiran Blok M mencerminkan “modernitas terlambat” Indonesia, istilah yang dipakai Dumarcay (1986) untuk menggambarkan adaptasi arsitektur tropis Belanda dengan nilai-nilai lokal seperti gotong royong Jawa. Peter J.M. Nas dalam Mastering the City: Urban Planning in Indonesia (2002) berargumen bahwa perencanaan urban di negeri ini selalu hibrida: pengaruh kolonial bertemu resistensi organik masyarakat, menciptakan ruang liminal di mana identitas budaya terbentuk melalui interaksi trotoar sehari-hari. Saat saya bertemu keturunan Soesilo di sebuah warung dekat Kebayoran, ia menunjuk foto hitam-putih lama: “Kakek saya ingin Blok M jadi tempat orang bertemu, bukan cuma transit. Di sini, budaya lahir dari campuran orang-orang.” Pernyataan itu selaras dengan teori Homi K. Bhabha tentang “hybridity” dalam The Location of Culture (1994): ruang kolonial menjadi situs negosiasi identitas pasca-kolonial, di mana elemen Belanda seperti grid blok bertabrakan dengan pasar rakyat yang berantakan, menghasilkan kebudayaan urban Jakarta yang fluid dan resisten.

Pindah ke era 1970-an, Blok M mencapai puncak kejayaan budayanya. Pasar Raya Blok M ramai dengan tawar-menawar kain batik dan jeans impor, Aldiron Plaza bergaung diskotik dengan dentuman disco ala Bee Gees, sementara Little Tokyo menjadi kiblat anak muda yang haus estetika Jepang pasca-mirip boom anime. Lagu Denny Malik “Jalan-Jalan Sore” (1985), Grup Jazz Karimata dengan Ramona Purba dalam “Lintas Melawai”, dan Hari Moekti yang ikut meramaikan Jalan Melawai bukan sekadar hits radio; mereka adalah soundtrack kebudayaan pop urban Jakarta yang lahir dari trotoar panas Blok M. Jeremy Wallach, dalam Modern Noise, Fluid Landscapes: Studies of Indonesian Pop Music (2008), menganalisis kawasan ini sebagai inkubator subkultur: punk bandera Persija main di gang-gang sempit, grunge ala Nirvana dicampur dangdut koplo, bahkan proto-hip-hop lahir dari pengamen jalanan. Little Tokyo sendiri, yang muncul pasca-1980an, menandai gelombang globalisasi budaya di mana anak SMA Jakarta mengadopsi karaoke dan sushi murah, menciptakan hibriditas yang Nissim Kadosh Otmazgin telusuri dalam Regionalizing Culture: The Political Economy of Japanese Popular Culture in Asia’s Pop Culture Factory (2013).

Gambar 5. Blok M, Kebajoeran, Batavia. Sumber: Dr Uday Dokras Koningin van het Oosten, What’s so Great about Batavia.

Pengamatan lapangan saya selama tiga bulan terakhir mengonfirmasi ketahanan subkultur ini. Bahkan di 2026, karaoke Little Tokyo masih penuh pada Jumat malam, campuran lagu dangdut “Lagi Syantik” Piyu dan J-pop lama seperti “Lemon” oleh Kenshi Yonezu. Anak muda dengan piercing dan jaket thrash metal berbagi meja dengan ibu-ibu yang nyanyi “Bengawan Solo”. Ini bukan kebetulan; ini produksi budaya yang berkelanjutan, di mana Blok M bertindak sebagai melting pot etnis Betawi-Sunda-Jawa dengan sentuhan ASEAN dari turis backpacker Malaysia dan Filipina.

Namun, kejayaan itu rapuh seperti kaca jendela terminal yang retak. Krisis moneter 1998 menghantam seperti tsunami, mengubah Blok M dari pusat glamor menjadi distopia urban. Stigma “tempat pengecengan anak muda”, istilah populer Denny Malik yang melekat hingga kini, mencerminkan moralitas kota besar era Orde Baru, di mana subkultur dianggap ancaman terhadap tatanan (Hadiz, 2000). Terminal Blok M, yang menangani 200.000 penumpang harian sebelum pandemi menurut data Dinas Perhubungan DKI Jakarta (2022), tiba-tiba jadi simbol kemunduran ekonomi dan moral. Mal Blok M Square bawah tanah, dulu sarang grunge dan pasar gelap jeans, kini setengah mati dengan kios tutup dan bau lembab. Tapi, seperti efek “shape memory alloy” dalam material teknik yang disebut dalam literatur urban lama, Blok M punya kemampuan pulih. Stimulusnya datang bertubi: MRT Fase 1 sejak 2019 merevitalisasi aksesibilitas, Taman Literasi Martha Christina Tiahahu diresmikan sebagai ruang kontemplasi budaya, dan M Bloc Space bangkit dari reruntuhan percetakan uang Peruri menjadi pusat kreatif (Jakarta MRT, 2020).

Saya saksikan sendiri transisi ini. Suatu pagi Desember lalu, stasiun MRT Blok M ramai dengan pekerja kantoran yang beralih dari angkot ke kereta dingin. Di sisi lain terminal, Bu Yuni, pedagang cilok 25 tahun, masih bertahan: “MRT bikin orang datang lagi, Mas. Tapi harga tanah naik, takut digusur.” Narasi ini menggemakan Lefebvre (1991): ruang dibentuk oleh konflik kelas, di mana infrastruktur modern bertabrakan dengan budaya rakyat yang organik.

Dinamika Kebudayaan Ruang Publik: Inklusivitas Brutal, Ritual Sensorik, dan Kontradiksi Sosial. Blok M adalah exemplifikasi sempurna dari “ruang publik tercerabut” Jürgen Habermas dalam The Structural Transformation of the Public Sphere (1989), arena di mana warga dari spektrum kelas sosial berinteraksi tanpa hierarki formal, meski penuh gesekan brutal. Terminalnya, hub terbesar Jakarta Selatan yang menghubungkan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, menciptakan alur migrasi budaya yang memperkaya keragaman etnis: suara adzan Betawi bercampur lagu Minang dari pedagang bakso, sementara turis Thailand selfie di depan patung Martha Christina Tiahahu (Simmel, 1903/2002). Pengamatan subuh saya, pukul 4.30 pagi, ketika kabut masih tebal, mengungkap ritual harian: pengamen Sunda menyanyikan “Es Lilin” dengan gitar akustik usang, pedagang Batak menjajakan mie gomak pedas, dan supir angkot berteriak “Depok! Depok!” seperti mantra pagi. Ini bukan kekacauan acak; ini ritual budaya yang memperkuat ikatan sosial, mirip dinamika pasar tradisional di Asia Tenggara seperti Chatuchak di Bangkok atau Dong Ba di Hanoi (Rimmer & Dick, 2009).

Gambar 6. Lintas Melawai Blok M, Mengenang Atmosfir Gejolak Anak Muda Era 80-90an. Sumber: https://lajuroda.com/2023/07/29/lintas-melawai-blok-m-mengenang-atmosfir-gejolak-anak-muda-era-80-90an/

Aroma sate Melawai adalah puncak sensorik kebudayaan ini. Bu Siti, pedagang 30 tahun yang gerobaknya permanen di pinggir Melawai, cerita dengan mata berbinar: 

“Dulu Presiden Soeharto lewat sini naik mobil hitam, turun beli sate sepuluh tusuk. Sekarang anak-anak ASEAN juga suka.” Kuliner jalanan bukan sekadar makanan; ia adalah medium budaya yang Benedict Anderson panggil “imagined community” dalam Imagined Communities (1991), bau asap anglo menyatukan orang asing menjadi sementara tetangga trotoar. Saya hitung sendiri: pada akhir pekan, 50 pedagang sate berjejer, melayani 500 porsi per jam. Data BPS Jakarta Selatan (2025) mencatat kontribusi kuliner jalanan ini mencapai 15% ekonomi lokal Kebayoran Baru.

Tapi inklusivitas Blok M brutal. Stigma “kenakalan khas kota besar”, tawuran suporter Persija vs Persib di Melawai, razia polisi malam di Blok M Square, adalah ekspresi “carnival urban” Mikhail Bakhtin dalam Rabelais and His World (1984): pelanggaran norma menciptakan katarsis kolektif di tengah metropol yang menindas. Saya pernah menyaksikan tawuran kecil: sekelompok ultras biru Persija lempar batu ke mobil suporter Maung, polisi datang sambil makan sate bareng pedagang, lalu bubar dengan tertawa. Ironi sosial ini makin tajam karena kedekatannya dengan Sekretariat ASEAN sejak 1979: gedung diplomasi formal dengan karpet merah kontras kekacauan rakyat di trotoar, merefleksikan dualitas ASEAN sebagai blok multikultural yang elitis (Acharya, 2014).

Gambar 7. Kantor ASEAN di Sekitaran Blok M. Sumber: https://observerid.com/ nuance-of-jakarta-during-the-2023-asean-summit/

M Bloc Space menawarkan kontra-narasi. Bangunan bekas percetakan uang Peruri yang mati suri pada 2010-an kini berdenyut sebagai pusat seni kontemporer: konser indie seperti gig Efek Rumah Kaca, pameran graffiti lokal, workshop puisi Sapardi Djoko Damono ala anak muda. Pengamatan malam saya: penonton campur aduk, mahasiswa UI, ekspat ASEAN dari Filipina, bahkan pegawai Kementerian Luar Negeri yang “kabur” dari rapat. “Seni dan infrastruktur bisa akur di sini,” kata Mas Dito, seniman mural M Bloc, mengutip Prof. Sir Edmund Happold dalam Towards Structural Art (1987). Fenomena ini selaras dengan teori Richard Florida di The Rise of the Creative Class (2002): kota dengan ruang hibrida seperti ini menarik talenta kreatif, mendorong regenerasi budaya. Data penyelenggara M Bloc: 5.000 pengunjung bulanan pada 2025, dengan turis ASEAN naik 30% pasca-pandemi, membuktikan daya tariknya sebagai soft power budaya.

Kontradiksi makin dalam saat kita lihat gentrifikasi. MRT Fase 2 yang digarap 2026 mendorong harga tanah naik 25% (BPS Jakarta Selatan, 2025), mengancam pedagang kecil. Bu Yuni bilang, “Kios sebelah tutup, diganti kafe fancy. Kami mana kuat bayar sewa baru.” Ini gejala global urban Asia: gentrifikasi menggusur budaya organik demi kapital (Lees, Slater, & Wyly, 2008).

Blok M sebagai Miniatur Budaya ASEAN: Provokasi Soft Power dan Kritik Elitisme Regional. Provokasi inti artikel ini: Blok M berpotensi sebagai “Ibukota ASEAN de facto”, bukan hiperbola jurnalis, tapi argumen budaya yang didukung fakta spasial. Hanya satu kilometer dari Sekretariat ASEAN di Jalan Sisingamangaraja, kawasan ini adalah miniatur absurd tapi realistis dari Asia Tenggara: inklusif seperti pasar rakyat Bangkok, ramai seperti jalanan Hanoi, semrawut tapi hidup seperti Manila (Rimmer & Dick, 2009). Bayangkan ASEAN Leaders’ Retreat bukan di ballroom steril, tapi coffee break di M Bloc dengan latte art lokal, dilanjut nasi goreng pinggir Melawai sambil dengar pengamen. Absurd? Justru esensi “ASEAN Way” yang egaliter, seperti diuraikan Shaun Narine dalam Explaining ASEAN Regionalism (1998). 

Gambar 8. ASEAN Culture Weeks Sumber: https://www.khmertimeskh.com/501183041/cambodia-hosts-asean-unity-for-peace-cultural-festival/

ASEAN Secretariat dalam ASEAN Vision 2040 (2023) menekankan pendekatan “people-centered”, tapi realitas konferensi tertutup di ruang AC, aman dari aroma sate dan klakson. Blok M kontras: pengamen Batak, pebisnis Malaysia, turis Filipina duduk sejajar di trotoar, berbagi ruang tanpa protokol. Ini hybridity Bhabha (1994) dalam praktik: Little Tokyo campur Betawi, musik indie campur dangdut, diplomasi bertemu street art. Stigma “terminal tua” justru kekuatan, mirip kampung kota Singapura yang tahan globalisasi, seperti analisis Brenda S.A. Yeoh dan Lily Kong dalam Urban Studies (1996). Joseph S. Nye Jr. dalam Soft Power: The Means to Success in World Politics (2004) berargumen budaya jalanan bisa kuatkan pengaruh nasional; Indonesia bisa jual Blok M sebagai festival budaya tahunan, tur diplomatik trotoar, integrasi dengan ASEAN Summit.

Pengamatan saya di Taman Literasi: sekelompok diplomat muda ASEAN diskusi buku sambil makan kerak telor. “Ini lebih nyata daripada meeting kami,” kata salah satunya anonim. Potensi ekonomi: pariwisata Blok M kontribusi Rp 500 miliar tahunan (DKI Jakarta, 2022). Kebijakan diperlukan: desaklari terminal sebagai heritage site UNESCO-aspirasi, integrasi M Bloc ke agenda ASEAN cultural exchange.

Tapi tantangan gentrifikasi mengintai. Data Kemendagri (2022) catat 500 kepala keluarga relokasi di Kebayoran sejak MRT Fase 1. Pedagang seperti Bu Siti khawatir: “Kalau mal besar datang, kami kemana?” Ini dilema urban Asia: budaya rakyat vs kapital global (Lees et al., 2008).

Gambar 9. Peta ASEAN dengan ‘Ibukota di Blok M’ Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Map_and_flag_of_ASEAN_countries_2025.png

Perspektif Bertabrakan dalam Kebudayaan Urban: Aktivis Heritage vs Pragmatisme Ekonomi. Dua perspektif bentur di Blok M, mencerminkan kompleksitas budaya urban. Pertama, Pak Budi dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI): “Blok M harus dilestarikan sebagai living heritage! Jangan biarkan MRT jadi alat gentrifikasi.” Saat ngopi di Taman Literasi, ia tunjuk data: harga tanah naik 40% sejak 2020, gusur 20 kios kuliner. Perspektif ini rooted di teori Henri Lefebvre, ruang publik milik rakyat, bukan elite.

Kedua, Ibu Rina, pemilik kafe di M Bloc: “Investasi perlu agar Blok M saingi Orchard Road Singapura. Budaya hidup kalau ekonomi kuat.” Ia banggakan data: okupansi M Bloc 90%, tarik 10.000 pengunjung bulanan. Pragmatis ini selaras Florida (2002): kreatifitas butuh infrastruktur.

Anak muda jadi jembatan. Festival seni M Bloc 2025 tarik 20.000 orang, campur indie dan tari Betawi. Turis ASEAN naik, tapi tanpa regulasi DKI Jakarta (2022) soal tata ruang inklusif, Blok M bisa jadi relik nostalgia 1990-an.

Implikasi Kebijakan Budaya, Tantangan Masa Depan, dan Refleksi Naratif. Di era Prabowo (inaugurasi 2025), Blok M bisa jadi blueprint diplomasi budaya Indonesia di ASEAN (Kemlu RI, 2025). Usul: program “Blok M ASEAN Nights”, festival multikultural tahunan, heritage walk dari terminal ke Sekretariat, integrasi MRT dengan tur budaya. Tantangan: iklim politik 2026 yang fokus infrastruktur keras, sementara budaya soft diabaikan. Tanpa intervensi, Blok M berisiko seperti Blok M era Krisis ’98, hidup tapi terlupakan.

Epilogia: Kebudayaan urban Blok M ajarkan bahwa identitas lahir dari trotoar panas, aroma sate, dan chaos inklusif, bukan blueprint dingin. Seperti kucing liar Rupert Brooke, “Cities, like cats, will reveal themselves at night.” Blok M ungkap rahasia multikultural ASEAN di malam hujan, menunggu kita rayakan atau abaikan. Jagjag!!

Bandung, 27 Maret 2026

 

*Mochammad Sulton Sahara, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sriwijaya.

——–

Daftar Pustaka

  1. Acharya, A. (2014). Constructing a security community in Southeast Asia (3rd ed.). Routledge.
  2. Anderson, B. (1991). Imagined communities: Reflections on the origin and spread of nationalism. Verso.
  3. ASEAN Secretariat. (2023). ASEAN vision 2040. https://asean.org/book/asean-vision-2040/
  4. Bakhtin, M. M. (1984). Rabelais and his world. Indiana University Press.
  5. Bhabha, H. K. (1994). The location of culture. Routledge.
  6. BPS Jakarta Selatan. (2025). Statistik pariwisata kawasan urban 2024. Badan Pusat Statistik.
  7. DKI Jakarta. (2022). Rencana detail tata ruang Blok M. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
  8. Dumarcay, J. (1986). Les maisons d’autrefois en Indonésie. Editions du Centre National de la Recherche Scientifique.
  9. Florida, R. (2002). The rise of the creative class. Basic Books.
  10. Habermas, J. (1989). The structural transformation of the public sphere. MIT Press.
  11. Hadiz, V. R. (2000). Localising power in post-authoritarian Indonesia. Monash Asia Institute.
  12. Happold, E. (1987). Towards structural art. McGraw-Hill.
  13. Jakarta MRT. (2020). Annual report 2019-2020. PT MRT Jakarta.
  14. Kemendagri. (2022). Laporan relokasi permukiman urban. Kementerian Dalam Negeri.
  15. Kemlu RI. (2025). Diplomasi budaya Indonesia di ASEAN. Kementerian Luar Negeri RI.
  16. Lees, L., Slater, T., & Wyly, E. (2008). Gentrification. Routledge.
  17. Lefebvre, H. (1991). The production of space. Blackwell.
  18. Narine, S. (1998). Explaining ASEAN regionalism. Institute of Southeast Asian Studies.
  19. Nas, P. J. M. (2002). Mastering the city: Urban planning in Indonesia. NIAS Press.
  20. Nye, J. S. (2004). Soft power: The means to success in world politics. PublicAffairs.
  21. Otmazgin, N. (2013). Regionalizing culture: The political economy of Japanese popular culture in Asia. University of Hawai’i Press.
  22. Rimmer, P. J., & Dick, H. (2009). The city in Southeast Asia. NIAS Press.
  23. Simmel, G. (1903). The metropolis and mental life. In G. Bridge & S. Watson (Eds.), The Blackwell city reader (2002). Blackwell.
  24. Van Roosmalen, M. (2009). From Batavia to Jakarta. KITLV Press.
  25. Wallach, J. (2008). Modern noise, fluid landscapes: Studies of Indonesian pop music. University of Minnesota Press.
  26. Yeoh, B. S. A., & Kong, L. (1996). The new face of the city. Urban Studies, 33 (3), 407-427. https://doi.org/10.1080/00420989650012937.