Kisah Akadjok Meruntuhkan Stigma Keroncong

Oleh Titus Gesang Lokeswara*

Penampilan O.K Miraswara di Jamming Keroncong 2026. Sumber: dokumentasi pribadi Gesang, 2026.

Di sudut Kota Yogyakarta yang katanya istimewa, ada sebuah kafe sederhana di tepian Gondomanan. Terdengar petikan kencrung kalau kata orang awam. Petikan cello terasa menggelitik telinga dan membangunkan jiwa. Berbaur samar dengan riuh obrolan anak muda. Sekelompok anak muda yang ternyata masih senang bermain musik keroncong, warisan budaya asli orang Indonesia. Bagi sebagian orang, mbulet yang berasal dari bahasa Jawa yang berarti keras kepala atau kompleks mungkin merupakan kata yang paling cocok untuk menggambarkan perjalanan musik keroncong di Indonesia. Jika menarik waktu ke belakang sedikit, tentu kita sebagai generasi muda tak jarang ketika mendengar kata ‘keroncong’, bayangan kita langsung tertuju pada suasana bangunan bekas Belanda. Duduk di teras balai rumah dengan kursi goyangnya serta ditemani secangkir teh panas di meja bundar samping sebelah kanan. Piringan hitam yang terpasang pada sebuah gramafon tua mengalun pelan memutar ‘Langgam Bengawan Solo’ ciptaan Maestro Gesang itu  terasa selalu erat menemani langkah dan sendi kehidupan masyarakat Jawa. Keroncong telah melewati masa-masa yang begitu kompleks. Banyaknya akulturasi kebudayaan yang masuk ke Indonesia ‘hampir’ menenggelamkan keroncong dengan idealisme musiknya yang begitu kokoh mempertahankan ‘pakem’ yang oleh para pelestarinya terus dijaga. Dulu tak sedikit yang menganggap bahwa keroncong terlalu menolak ruang negosiasi budaya baru dalam musik. Keroncong yo kudune ngene, ra iso digawe-gawe sak penakke dhewe. Salah satu stigma yang dirasa terlalu kaku apalagi sifat dan karakteristik generasi muda yang selalu memiliki hasrat kreatifitas yang tak terbatas. 

DARI MBULET MENUJU RUANG EKSPRESI KEBEBASAN

Penampilan O.K. Puspa Jelita pimpinan Liliek ShaggyDog di Jamming Keroncong. Sumber: official account instagram of Akadjok, 2026

Asosiasi Keroncong Jogja yang diprakarsai Liliek Sugiyarto, musisi kenamaan asal Jogja yang besar dengan grup musiknya yang tentu tidak asing bagi telinga masyarakat Jogja, yaitu Shaggy Dog. Om Liliek begitu sapaan akrab kami, sempat bercerita soal ketertarikannya untuk melestarikan keroncong menjadi wadah yang asyik untuk kami para generasi muda. Pada awal bulan Januari 2026 kemarin, dari perbincangan ringan soal ‘masa depan’ musik keroncong di Jogja, akhirnya tercetuslah “Jamming Keroncong 2026” yang diadakan di Kafe Milli Prawirotaman. AKADJOK (Asosiasi Keroncong Djogja) menggandeng seniman-seniman keroncong dari berbagai lintas generasi. Hal ini ternyata mendapat animo yang luar biasa dan sambutan yang positif bagi para penggeraknya maupun audiens yang menikmati sajian malam itu. Menelisik dari hal baik ini, ‘Jamming Keroncong 2026’ diadakan lagi pada 15 Februari 2026 yang berlokasi di sebuah kafe di daerah Kota Gede. Pada kesempatan ini, AKADJOK memberikan tempat yang istimewa bagi O.K Miraswara. Sebuah grup musik keroncong yang beranggotakan anak-anak muda asal Kota Gede. Bayangkan saja, Miraswara diberikan ‘jatah manggung’ pada awal pembukaan acara. Membawakan lagu-lagu yang sangat modern dan kekinian, ternyata mampu menarik minat dan bahkan mendapat tepuk tangan yang sangat luar biasa. Ketika turun panggung, Wawan Cello sempat menghampiri Gesang (Cellist dari O.K Miraswara) dan mengatakan: “Wah mainmu kok iso apik ngunu yo? Cellone digeplak-geplak” ucap Mas Wawan sembari menimbulkan gelak tawa. Suasana yang hangat ini membuat kami generasi muda yang turut melestarikan keroncong merasa bahwa ternyata keroncong tidak se’kolot’ itu. Bahkan ketika semua penampil menyelesaikan penampilannya, diadakanlah ‘tabuhan’ , yaitu semacam bermain bersama musik keroncong dengan pemain yang digilir secara bergantian. 

DAYA MAGIS KERONCONG SEBAGAI RUANG KREASI ANAK MUDA

Personel O.K. Miraswara pimpinan Mas Yogiek. Sumber: dokumen pribadi, 2026.

Seperti yang dikatakan oleh Pakde Kochil selaku ketua dari AKADJOK, komunitas ini hadir bukan hanya semata-mata ingin menunjukan eksistensi namun menciptakan ekosistem musik keroncong. Program rutin bulanan yang diselenggarakan setiap tanggal 15 seperti Jamming Keroncong 2026 bertujuan sebagai ruang edukasi dan kreasi bagi anak muda untuk mengenal serta mengembangkan musik keroncong yang dirasa mampu meresap ke segala sendi kehidupan masyarakat. Wadah ini menjadi bukti bahwa stigma kuno dan kaku mampu diruntuhkan dengan sendirinya. Kolaborasi dengan berbagai grup musik lintas genre seperti jazz dan ska rocksteady menjadi salah satu contoh rangsangan nyata AKADJOK untuk menggandeng musik lainnya. Bahkan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Mas Wawan Harmawan mengapresiasi langkah ini dan mendorong agar keroncong semakin membumi di kalangan generasi muda.

HARAPAN MASA DEPAN YANG CERAH

Lantas, pertanyaan berikutnya yang tercetus ialah, bagaimana masa depan keroncong? Jawabannya terletak pada antusiasme anak-anak muda terhadap musik ini sendiri. Kita tahu sosialisasi terhadap kesenian di era sekarang sudah tidak menjadikan ‘barang’ konvensional sebagai ‘jalan’ satu-satunya. Kemampuan anak muda dalam mengikuti perkembangan zaman di era digital menjadi sebuah modal besar yang sangat membantu dalam pengembangan musik keroncong. Media sosial yang sekarang ini menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi generasi muda memberikan wadah dan sarana yang sangat membantu. Instagram, TikTok, Youtube, FacebookPro merupakan salah satunya. Media ini memberikan layanan unggah konten secara gratis, di mana semua sumber berita yang dianggap viral terdapat di dalamnya juga. Keroncong bisa masuk ke ranah ini tentunya. Media promosi yang begitu mudah kita akses seharusnya bisa menjadi ujung tombak ‘masa depan’ itu sendiri. Dengan semangat kolektif, prinsip bersama membangun kemajuan musik keroncong merupakan hal dasar yang dipegang teguh oleh AKADJOK sebagai komitmen agar keroncong terus berkembang tidak hanya di Yogyakarta, melainkan Indonesia dan bahkan seluruh dunia. Jika Yogyakarta berhasil, bukan hal yang mustahil bahwa keroncong akan terus berkembang juga di tempat-tempat lain. Musik keroncong dengan entitas magisnya, siap menyambut masa depan!

—–

*Titus Gesang Lokeswara, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.