Jejak Bibir di Venesia
Oleh: Eduardo Marques*
Baru saya sadari bahwa ada hal penting terkait dunia seni kontemporer di Timor Leste. Hal penting itu terkait dengan seorang perupa yang kukenal tahun 2005 silam, saat bertemu di debut pameran tunggalnya A Dream Come True yang dibuka oleh First Lady, Kristy Sword Gusmão di Hotel Timor Dili. Sangat signifikan keberadaannya. Sekian lama jarang ketemu secara langsung. Kami justru dihubungkan melalui facebook dan email untuk menggali berbagai hal penting mengenai perupa yang satu ini. Selama setahunan ini, jalinan komunikasi saya denganya terpupuk dengan indah.
Untuk menulis kisah ini, riset dilakukan melalui kombinasi studi literatur, analisis visual atas dokumentasi karya, serta wawancara jarak jauh dengan sumber-sumber terpercaya. Namun, sumber paling berharga datang langsung dari Dili: sebuah katalog pameran setebal 200 halaman yang dikirimkan oleh tim komisioner Maria Madeira, memuat esai-esai kritis, foto-foto proses kreatif, serta pernyataan panjang sang seniman tentang pengalaman traumatisnya tidur di kamar yang penuh bekas lipstik itu. Berikut kisah menarik tentang salah satu karyanya yang menusuk nurani.
Di tengah gemerlap La Biennale ke-60 saat itu, hiruk-pikuk pesta seni terbesar dunia, ada sebuah ruangan sunyi di Spazio Rava, sebuah palazzo tepi Grand Canal, yang berbisik sangat keras. Di sanalah Maria Madeira, perempuan kelahiran desa Gleno Ermera, menjadi perupa pertama yang mewakili Timor-Leste. Ia memutus rantai diam yang membelenggu puluhan tahun. Proyek seninya yang berjudul Kiss and Don’t Tell bukan sekadar instalasi lukisan. Ia adalah eksorsisme atas trauma, monumen bagi yang tak bersuara, dan sebuah mahakarya yang lahir dari mimpi buruk sejarah.
Memasuki paviliun Timor-Leste, pengunjung tidak disambut oleh lukisan-lukisan agung dalam bingkai emas khas Venesia. Sebaliknya, kita dihadapkan pada 25 kanvas besar yang disatukan dan digantung, membentuk sebuah ruangan utuh. Lantai galeri ditutupi tanah merah kering yang seolah baru dibawa langsung dari desa Gleno, kampung halaman sang seniman di Ermera yang namanya berarti “air merah”.
Namun, yang paling menarik perhatian adalah dinding-dinding kanvas itu sendiri. Ratusan, mungkin ribuan, jejak bibir berwarna merah membentang di sekeliling ruangan. Tingginya sekitar selutut orang dewasa. Beberapa bekas bibir tercetak jelas, sebagian lainnya luntur bercampur lumut dan noda merah kecokelatan dari buah pinang yang dimamah. Ada serat-benang tais yang disobek dan dibakar pinggirannya, ditempel menyerupai luka atau bentuk bibir yang merekah getir. Di dinding kaca patri tua yang menghadap ke kanal, sang seniman meninggalkan intervensi baru: ratusan kecupan langsung dari bibirnya, seolah ingin merasuki sejarah bangunan abad ke-16 itu dengan jiwa para perempuan Timor.
Madeira bukanlah seniman yang dimanjakan oleh toko perlengkapan seni. Di Dili, fasilitas itu nyaris tak ada. Namun, dari keterbatasan, ia menemukan bahasa rupa yang paling otentik. Ia tidak menggunakan cat akrilik impor. Pigmennya dirajut dari tanah liat merah yang dilarutkan dengan air tanah yang sama tempat ia mengubur tali pusatnya. Tanah yang selalu melekat di wajahnya saat angin berhembus kencang di Ermera.
Warna-warnanya berbicara dalam dialek lokal. Merah darah, biru pekat, dan kuning yang ketika bercampur melahirkan ungu, warna yang ia sebut sebagai “kesedihan” mengingatkannya pada kain para imam di masa Paskah, masa sengsara sebelum kebangkitan. Lalu ada oranye tanah yang ia sebut “keajaiban”. Warna simbol tentang harapan bahwa meski telah mati tersiksa, bangsa Timor bangkit kembali.
Teksturnya kasar, tidak mulus. Benang tais yang ia sobek dan bakar pada bagian tepi bukan sekadar hiasan. “Itu seperti rasa sakit yang lembut,” ujarnya kepada Harper’s Bazaar. Api pada tepian kain adalah memori visual pertamanya saat kembali ke Dili tahun 2000. Bau bakaran di mana-mana, akan tetapi dari abu itulah ia menyaksikan kota tumbuh kembali.
Tahun 2000, sekembalinya ke Timor-Leste setelah 25 tahun di pengasingan, Madeira tidur di sebuah kamar kontrakan kakaknya. Setiap malam, ia menatap bintik-bintik aneh di dinding, setinggi lutut, seperti noda bibir mainan anak-anak. Berbulan-bulan teka-teki itu mengganggunya. Hingga seorang tetangga akhirnya memecahkan bisu dan kekosongan dugaan. Kamar itu adalah ruang penyiksaan. Para pelaku memaksa perempuan-perempuan Timor berdandan, memulas bibir, lalu mencium tembok sembari diperkosa.
Dari situlah instalasi ini lahir. Karya bertajuk Kiss and Don’t Tell (Cium dan Jangan Bilang) adalah ironi pahit dari perintah yang dipaksakan. Para pejuang pria melawan dengan senjata di hutan. Sementara para perempuan yang tinggal di desa melawan dengan raga mereka, menjadi sasaran empuk kekejaman.
Namun, karya ini tidak hanya berhenti sebagai dokumentasi horror. Dalam sebuah pertunjukan pembuka di Venesia, Madeira berdiri di hadapan para undangan. Ia berteriak, “Ya, saya perempuan, dan saya bangga!” Ia bernyanyi, menangis, meludah, dan memukul dinding. Ia mengakhiri ritualnya dengan menghapus jejak bibir itu sambil berkata, “Tidak ada lagi lipstik. Saya Merdeka.”
Di sinilah letak kejeniusan interpretasi Madeira. Trauma itu tidak hanya sekadar dinyatakan, ditampilkan. Namun luka itu juga dieksekusi dan di-eksorsis. Ruang penyiksaan itu tidak hanya dihadirkan ulang, tetapi juga “dikuasai kembali” oleh korban yang selamat.
Lantas, seberapa berhasilkah karya ini sebagai sebuah pencapaian seni? Kritikus seni Leonor Veiga, dalam analisisnya untuk jurnal Third Text, menyebut bahwa karya ini membawa isu lokal yang ekstrem kekerasan terhadap perempuan dalam konflik menjadi problem global yang bisa dirasakan siapa pun. The New York Times menobatkan bahwa “seniman pribumi adalah jantung dari Biennale Venesia tahun ini”. Sementara Apollo Magazine memasukkan paviliun Timor-Leste sebagai “paviliun yang wajib dilihat”.
Ada satu pertanyaan etis yang juga menggelitik. Apakah estetika tidak mengkhianati realitas kekejaman? Ketika bekas lipstik yang tragis itu dibuat indah dalam komposisi warna-warni, apakah kita tidak sedang “menghaluskan” kekerasan? Madeira seolah menjawabnya dengan tegas melalui bahan-bahannya. Ketidakhalusan tanah, sobekan tais yang terbakar, dan ludah pinang adalah tamparan bahwa keindahan di sini hadir bukan untuk menyenangkan mata, melainkan untuk membuat penonton merasa tidak nyaman. Eduard Behrens dari Apollo sempat ragu apakah karya ini bisa “memenuhi” standar cerita horor di baliknya, namun ia mengakui: mengungkap tabir yang selama ini tertutup adalah fungsi utama seni di panggung internasional seperti Biennale.
Karya ini juga menjadi tonggak historis. Tahun 2024 adalah 25 tahun jajak pendapat kemerdekaan Timor-Leste. Setelah sekian lama, para perempuan korban kekerasan seksual akhirnya tidak lagi menjadi catatan kaki dalam buku sejarah resmi yang didominasi narasi kepahlawanan laki-laki. Madeira melalui karya seninya membangun “makam” yang tak pernah mereka miliki. “Saya mencoba melokalisir kuburan perempuan Timor, yang anehnya sepertinya tidak ada,” katanya. Kesenjangan inilah yang ia bedah melalui praktik artistik dan akademisnya.
Di akhir pertunjukannya di Venesia, saat Madeira menyanyikan lagu tradisional Ina Lou (Bunda Pertiwi) dan para hadirin menari di pinggir kanal, ada atmosfer sukacita yang paradoks. Ini bukan sukacita karena lupa, tetapi sukacita karena akhirnya diakui. Kurator Natalie King, yang membawa Madeira ke Venesia, menyebut pengalaman ini penuh dengan “kegembiraan dan perayaan”.
Kiss and Don’t Tell adalah bukti bahwa seni bisa menjadi alat diplomasi budaya paling ampuh bagi negara semuda Timor-Leste. Tanpa museum nasional, tanpa sekolah seni yang mapan hingga saat ini, Madeira tetap berdiri sejajar dengan paviliun-paviliun raksasa dunia. Ia membawa pulang ke tanah leluhurnya bukan piala, melainkan pengakuan bahwa air mata para ibunya telah mengalir menjadi sungai yang menyuburkan generasi baru.
“Meski sakit, kami tidak kalah,” bisik Madeira melalui jutaan jejak bibir di dinding itu. Dan Venesia, untuk pertama kalinya, mendengar bisik itu dengan sangat jelas.

Maria Madeira

Katalog pameran
Aksi-aksi Maria Madeira, di La Bienale de Venecia 2004. Durasi: 13-17 menit. Foto Juventino Madeira:






—–
*Eduardo Marques, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.





