Persahabatan Di Balik Tekstur Kelam

Oleh Bambang Supriadi*

“Roulin dan Van Gogh” diolah dari lukisan Van Gogh. Bambang Supriadi

Vincent van Gogh, pelukis Belanda dari abad ke-19, dikenal sebagai perintis ekspresionisme. Dalam hidupnya yang singkat, ia melahirkan lebih dari dua ribu karya, sekitar 860 di antaranya berupa lukisan cat minyak, seolah setiap kanvas menjadi ruang tempat ia menumpahkan gelora batinnya.

Ia menjalani hari-harinya dalam kemiskinan dan hampir tak dikenal oleh zamannya sendiri. Namun dari kesunyian itu lahir sapuan kuas yang tebal serta warna-warna yang berdenyut emosional, yang kemudian membuka jalan bagi lahirnya seni modern. Ironisnya, dunia justru benar-benar menoleh kepadanya setelah ia pergi, meninggalkan kehidupan pada usia 37 tahun, seakan pengakuan datang terlambat ketika pelukisnya telah menjelma menjadi legenda

Di balik kuning yang menyala dan biru yang bergetar dalam tekstur tebal lukisannya, tersimpan sebuah kisah persahabatan yang jarang disentuh sejarah populer. Bukan dengan bangsawan atau pelukis ternama, melainkan dengan Joseph Roulin, seorang tukang pos berkumis lebat dan berjenggot tebal, berseragam biru dengan kancing-kancing emas yang berkilau sederhana.

Dalam sosok Roulin yang bersahaja itu, Vincent van Gogh menemukan sesuatu yang jarang ia temukan di dunia sekelilingnya: kehangatan manusiawi dan ketulusan yang diam-diam menenangkan jiwanya. Seakan di antara sapuan warna dan sunyi hidupnya, persahabatan itu menjadi cahaya kecil yang tetap menyala

Ketika Vincent van Gogh pindah ke Arles di Prancis Selatan pada Februari 1888, ia membawa harapan yang besar, seperti seseorang yang datang mencari cahaya baru bagi hidupnya. Di sudut kota kecil itu berdiri sebuah rumah bercat kuning terang, yang kelak ia impikan menjadi ruang kehidupan bagi para seniman.

Rumah itu, yang kemudian dikenal sebagai Yellow House (Van Gogh’s House in Arles), ia bayangkan sebagai Studio of the South,” tempat di mana para pelukis berkumpul dan bekerja berdampingan, saling menyalakan api inspirasi. Di dalam angannya, rumah itu dipenuhi cahaya matahari yang hangat, lukisan-lukisan ladang gandum yang bergetar oleh angin, serta percakapan panjang tentang warna, cahaya, dan kehidupan.

Bagi Van Gogh, rumah kuning itu bukan sekadar tempat tinggal. Rumah itu menjadi ruang harapan, sebuah tempat di mana kesendirian dapat berubah menjadi kebersamaan, dan di mana kebahagiaan ditemukan dalam proses mencipta. 

“Rumah Kuning (Yellow House)Arles”. Bambang Supriadi

Namun kenyataan tidak secerah lukisan-lukisan ladang gandumnya yang berkilau di bawah matahari. Sejak awal kedatangannya di Arles, Vincent van Gogh harus berhadapan dengan tatapan curiga dan jarak sosial dari warga kota itu. Bagi mereka, Van Gogh tampak ganjil, eksentrik, bahkan mengkhawatirkan.

Ia kerap melukis tanpa mengenal waktu, berjalan dengan pakaian yang tampak kumal oleh cat dan debu jalanan, dengan sorot mata yang tajam sekaligus gelisah. Di beberapa kesempatan, ia berbicara sendiri saat melintasi jalan-jalan kota yang sunyi. Bagi Van Gogh, mungkin itu adalah percakapan batin dengan warna, cahaya, dan dunia yang ia lihat dengan cara yang berbeda.

Namun bagi sebagian warga, perilaku itu menimbulkan kegelisahan. Mereka tidak memahami gejolak yang ada di dalam dirinya. Di antara dinding-dinding rumah dan jalanan Arles yang tenang, Van Gogh perlahan menjadi sosok yang terasa asing, seorang pelukis yang hidup terlalu dekat dengan sunyi dan terlalu dalam menyelami dunianya sendiri

Gangguan mentalnya semakin berat. Van Gogh diduga menderita berbagai masalah kesehatan mental, mulai dari depresi berat, bipolar, hingga kemungkinan epilepsi temporal lobe yang menimbulkan halusinasi visual dan suara.1  Serangan-serangan itu memperburuk isolasinya. Ia sering merasa dirinya gagal sebagai seniman karena lukisan-lukisannya tidak laku. Dalam suratnya kepada sang adik, Theo, ia menulis, “Aku merasa seperti beban bagimu. Aku tak mampu menjual lukisanku, dan hidupku hanya menambah kesulitanmu.” Di Museum Van Gogh di Amsterdam, koleksi surat-menyurat Van Gogh kepada sang adik, Theo, tersimpan dan dipamerkan di ruang khusus di lantai tiga.

Selain itu, keuangannya menipis. Hampir seluruh biaya hidup dan bahan lukisannya ditanggung oleh Theo, yang bekerja sebagai pedagang seni di Paris.  Ironis, meski Theo adalah pedagang seni terkemuka di Paris, ia hampir tak pernah berhasil menjual lukisan kakaknya sendiri—karena gaya Van Gogh dianggap terlalu aneh bagi para pecinta seni saat itu. Ketergantungan ekonomi ini menambah rasa rendah diri Van Gogh. Ia merasa tak berguna dan gagal mandiri. Di tengah keinginannya mendirikan komunitas seni di Arles, tak ada pelukis yang mau tinggal bersamanya, kecuali Paul Gauguin. 

Van Gogh sangat menantikan kedatangan Gauguin dan berharap mereka dapat mendirikan Studio of the South impiannya. Namun, perbedaan karakter dan pandangan artistik membuat hubungan mereka tegang. Van Gogh yang spontan dan emosional sering berbenturan dengan Gauguin yang rasional dan simbolis. Bagi Gauguin, Van Gogh terlalu kacau dan impulsif, sementara bagi Van Gogh, Gauguin terasa arogan dan dingin.

Pada malam Desember 1888, pertengkaran hebat membuat Gauguin memutuskan pergi. Diliputi keputusasaan dan gejolak jiwa, Van Gogh memotong sebagian daun telinganya sendiri—tragedi yang menandai keterpurukan dan retaknya persahabatan mereka. Dengan luka masih berdarah, ia membungkus potongan telinga itu, berjalan ke rumah bordil, dan memberikannya kepada pelacur bernama Rachel sambil berbisik, “Jagalah ini baik-baik.”2

Van Gogh dan Roulin di Tengah Sepinya Arles

Kesepian perlahan menelannya. Di Yellow House (Van Gogh’s House in Arles) itu, Vincent van Gogh hidup seorang diri, dikelilingi kanvas-kanvas yang dipenuhi matahari, kebun zaitun yang bergoyang dalam sapuan warna, dan kursi-kursi kosong yang tak pernah benar-benar diduduki oleh seorang sahabat.

Kota Arles yang dahulu ia bayangkan sebagai tempat yang sarat cahaya justru perlahan berubah menjadi ruang sunyi yang menutup dirinya. Cahaya tetap ada di langit dan ladang, tetapi tidak selalu sampai ke dalam hati manusia yang menatapnya.

Dalam salah satu suratnya kepada Theo van Gogh, ia menuliskan kerinduan yang sederhana namun begitu dalam: “Aku sangat membutuhkan seorang sahabat di sini, aku tidak tahan terus-menerus sendirian.”

Kalimat itu seperti gema dari ruang yang sepi, sebuah pengakuan sunyi dari seorang pelukis yang dikelilingi warna-warna terang, namun tetap berjalan bersama kesepian yang panjang

“Van Gogh Kesepian Ditinggal Gauguin” Bambang Supriadi

Di tengah gejolak mental, tekanan ekonomi, penolakan sosial, dan konflik personal, Van Gogh tetap melukis. Namun, setiap sapuan kuasnya menyimpan kesedihan yang menekan dadanya. Ia melukis untuk bertahan hidup, berupaya untuk menjaga kewarasannya. Sejarawan seni mencatat, meski karya-karyanya dari Arles penuh warna-warna cerah, di baliknya tersembunyi keputusasaan mendalam yang tak terucap. 

Dalam kesunyian itu, Roulin hadir sebagai sahabat sejati. Tukang pos yang sederhana ini bukan hanya menjadi model lukisan Van Gogh, tetapi juga pendukung moral dan spiritualnya. Roulin memahami pergulatan jiwa Van Gogh lebih dari siapa pun di Arles.3

Ketika Vincent van Gogh mengalami krisis mental terberatnya pada Desember 1888, setelah pertengkaran hebat dengan Paul Gauguin, ia memotong sebagian telinganya sendiri. Dalam keadaan bingung dan terluka, potongan telinga itu kemudian ia bungkus dan ia berikan kepada seorang perempuan pekerja seks di rumah bordil tempat yang biasa ia kunjungi di Arles, seorang perempuan yang dalam beberapa catatan disebut bernama Rachel.

Peristiwa itu mengguncang kota kecil tersebut. Banyak orang semakin yakin bahwa Van Gogh adalah sosok yang berbahaya dan tidak waras. Namun di tengah kegemparan dan ketakutan warga, ada satu orang yang tidak berpaling darinya: Joseph Roulin.

Roulin tetap memperlakukannya sebagai seorang sahabat. Di saat orang lain menjaga jarak, ia justru menunjukkan kepedulian dan kemanusiaan yang sederhana namun berarti. Dalam dunia Van Gogh yang sering dipenuhi kesunyian dan kecurigaan orang-orang, kehadiran Roulin menjadi semacam jangkar kecil yang menahan dirinya agar tidak sepenuhnya tenggelam dalam gelapnya batin.

Sebaliknya, ia menemaninya di rumah sakit jiwa, mengirimkan surat kepada saudaranya, Theo, dan bahkan membantu membayar biaya perawatannya.

Roulin bukan sekadar objek visual. Dalam enam lukisan potret Roulin yang dibuat Van Gogh, tampak jelas bagaimana Van Gogh menangkap keteguhan, kebijaksanaan, dan kehangatan sahabatnya itu. Ia melukis Roulin dengan gaya khas pasca-impresionis: sapuan kuas tebal dan warna-warna yang menyala. Namun, di balik itu, ada emosi personal yang mendalam. Van Gogh menulis kepada Theo bahwa Roulin baginya adalah “seorang republik sejati dan seorang revolusioner,” menggambarkan kekagumannya pada karakter Roulin yang membela nilai-nilai kesetaraan dan kebebasan.  Hal ini diungkap Van Gogh dalam suratnya kepada adiknya Theo, 1888.4

Bagi Van Gogh, seni bukan sekadar estetika. Potret Roulin adalah wujud syukurnya atas persahabatan mereka. Dalam lukisan Portrait of Joseph Roulin (1889), Roulin digambarkan dengan latar bunga hijau kekuningan yang menegaskan vitalitas hidup. Sementara di The Postman Joseph Roulin (1888), garis tegas pada janggut dan seragam biru Roulin menonjolkan wibawa dan kehangatannya.

Ilustrasi: Lukisan Potrait of Joseph Roulin. Sumber Wikipedia.

Sejarawan seni Steven Naifeh dan Gregory White Smith (2011) mencatat bahwa Roulin menjadi salah satu sedikit orang yang benar-benar peduli pada Van Gogh sebagai manusia, bukan hanya sebagai pelukis aneh yang sering dibicarakan warga Arles dengan nada cemas. Kehadiran Roulin membuktikan bagaimana dukungan sosial dan persahabatan tulus memiliki peran besar dalam kesehatan mental seseorang, terutama bagi mereka yang mengalami keterasingan dan stigma penyakit jiwa.

Roulin dan Van Gogh juga merepresentasikan persahabatan lintas kelas sosial di abad ke-19. Van Gogh, meski miskin dan dianggap gila, tetap memiliki latar pendidikan dan jaringan intelektual sebagai seniman Belanda yang pernah tinggal di Paris. Roulin, sebaliknya, adalah pegawai pos kelas menengah tanpa koneksi seni. Namun, hubungan mereka melampaui sekat itu. Mereka berbicara dalam bahasa yang sama, yaitu kejujuran dan kemanusiaan.

Pada Juli 1890, Van Gogh berjalan ke ladang gandum di Auvers-sur-Oise  tempat ia sering melukis. Menurut Van Gogh Museum, pada 27 Juli ia menembak dadanya dengan revolver. Meski terluka parah, ia masih sempat pulang ke penginapannya dan meninggal dua hari kemudian di sisi Theo, adiknya.

Van Gogh tidak pernah memiliki pistol, narasi tradisional menyebut ia meminjamnya dari pemilik penginapan untuk menakuti burung gagak. Namun, sejarawan seperti Steven Naifeh dan Gregory White Smith (Van Gogh: The Life, 2011) berpendapat peluru itu berasal dari pistol dua remaja desa yang bermain di sana. Van Gogh memilih diam agar mereka tidak disalahkan. Bagaimanapun, tak ada yang tahu pasti bagaimana peluru itu bersarang di dadanya.

Ketika Van Gogh meninggal pada 1890 di Auvers-sur-Oise, Roulin menyimpan potret dirinya dengan bangga. Ia selalu berkata kepada orang-orang bahwa ia “pernah mengenal pelukis besar itu sebagai teman.”5 Kini, lukisan-lukisan Roulin menjadi koleksi berharga di berbagai museum, mulai dari Museum of Modern Art di New York hingga Kunstmuseum Basel. Namun, lebih dari itu, potret-potret tersebut menjadi saksi abadi tentang bagaimana persahabatan dapat menghidupkan kembali harapan di masa-masa tergelap.

Di hari-hari terakhirnya, Van Gogh tetap hidup dalam kesendirian. Di antara sepi dan sakit yang menelannya, hanya Roulin sahabat sejati yang terlintas di benaknya.  Sosok satu-atunya yang menerimanya tanpa syarat. Barangkali ia membayangkan Roulin menunggunya di suatu tempat yang damai. Tempat di mana tak ada lagi stigma, di mana mereka bisa duduk bersama di bawah langit Arles, meneguk anggur, dan berbincang tentang warna-warna kehidupan tanpa rasa takut dihakimi. Karena bagi Van Gogh, Roulin adalah rumah – tempat di mana jiwanya diterima apa adanya.

 

*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographer Society (ICS).

__________

Catatan Kaki

 1 Dietrich Blumer, “The Illness of Vincent van Gogh,” American Journal of Psychiatry 159, no. 4 (2002): 519–526.

 2 Michael Howard, Van Gogh: His Life & Works in 500 Images (London: Lorenz Books, 2011),

 3 Steven Naifeh & Gregory White Smith, Van Gogh: The Life (2011)

 4 Vincent van Gogh, The Letters of Vincent van Gogh, edited by Leo Jansen, Hans Luijten, and Nienke Bakker, Van Gogh Museum, 2009, letter no. 573, 1888.

5 Martin Gayford, The Yellow House: Van Gogh, Gauguin, and Nine Turbulent Weeks in Arles (London: Fig Tree, 2006),

—–

Daftar Pustaka

Naifeh, S., & Smith, G. W. (2011). Van Gogh: The life. New York, NY: Random House.

Van Gogh, V. (2009). The letters of Vincent van Gogh. London: Penguin Classics.

Van Gogh Museum. (n.d.). Vincent van Gogh: Letters. Amsterdam: Van Gogh Museum. https://www.vangoghmuseum.nl