Bingkai Vertikal: Tayangan Film di Era Mobile
Oleh Bambang Supriadi*

Ilustrasi vertikal film/video dan micro-drama dihasilkan oleh AI, arahan Bambang Supriadi
Kata “mobile” berakar dari bahasa Latin, mobilis, yang berarti bergerak, yang bisa digerakkan. Bayangkan kursi di ruang tamu yang mudah digeser, atau langkah kaki yang menjejak di jalan yang basah, yang selalu mencari tempatnya sendiri. Dalam kata itu tersimpan gagasan tentang fleksibilitas, tentang sesuatu yang tak pernah diam.
Dalam dunia media, mobile menangkap perubahan cara kita menonton, berpusat pada perangkat yang bergerak bersama kita, yaitu ponsel, tablet, layar yang selalu dalam genggaman. Fenomena ini dicatat oleh Adriana de Souza e Silva dan Larissa Hjorth dalam The Routledge Companion to Mobile Media Art (Routledge, 2020), yang menunjukkan bagaimana pergeseran teknologi mengubah pengalaman kita dalam menangkap, menyerap, dan membagi cerita.
Istilah ini tidak hanya menggambarkan cara audiens mengakses konten, melainkan juga menandai perubahan dalam bahasa sinematik yang meliputi format, durasi, dan ritme narasi. Layar vertikal mendorong lahirnya bentuk tayangan baru seperti vertical film/video atau micro-drama, yang dirancang agar nyaman ditonton melalui perangkat mobile, baik diproduksi menggunakan ponsel maupun kamera profesional.Singkatnya, era mobile bukan sekadar perkembangan teknologi, melainkan juga merupakan transformasi estetika dan pengalaman sinematik yang membedakannya dari pola tontonan tradisional berbasis layar lebar. Pemikiran ini sejalan dengan pandangan Larissa Hjorth dan rekan-rekannya dalam buku Digital Ethnography: Principles and Practice (SAGE Publications, 2016), yang menjelaskan bahwa budaya digital telah membentuk cara baru manusia berinteraksi, mencipta, dan menikmati narasi visual di kehidupan sehari-hari.
Dari Kinetoscope ke Layar Vertikal
Fenomena sejarah tampak berulang: tontonan personal yang lahir pada era Kinetoscope kini kembali hadir di era digital. Pada akhir abad ke-19, Thomas Edison bersama asistennya, William Dickson, menciptakan Kinetoscope, sebuah mesin yang memungkinkan satu orang menonton gambar bergerak secara intim melalui lubang pandang, berbeda dengan pengalaman kolektif di layar besar atau televisi yang muncul kemudian. Pandangan ini didukung oleh Richard Abel dalam bukunya The Ciné Goes to Town: French Cinema, 1896– 1914 (University of California Press, 1998), yang menekankan bagaimana Kinetoscope menciptakan pengalaman menonton individu yang unik dan pribadi.
Lebih dari satu abad kemudian, film vertical menghadirkan pengalaman tontonan personal dengan cara yang lebih fleksibel dan dapat dinikmati di mana saja, yang menyesuaikan dengan ritme kehidupan modern. Kedua era ini menegaskan bahwa, meskipun teknologi berkembang, inti tontonan personal, yaitu menonton gambar bergerak secara privat, tetap memiliki daya tarik bagi penonton.
Kini, pengalaman personal itu berkembang lebih luas. Dari sisi pengalaman menonton, mobile memungkinkan audiens menikmati tayangan dalam durasi pendek, di perjalanan, sambil menunggu, atau di sela aktivitas sehari-hari. Hal ini mendorong munculnya format vertical film atau micro-drama, yang disesuaikan dengan layar vertikal ponsel dan perangkat mobile lain.
Selain sebagai format layar, istilah vertical juga dapat dipahami sebagai refleksi adaptasi manusia terhadap keterbatasan ruang dan waktu, serupa dengan hunian vertikal yang memungkinkan kehidupan urban lebih praktis dan fungsional. Begitu pula, vertical film menyesuaikan durasi dan narasi agar selaras dengan ritme aktivitas sehari-hari yang dinamis, menekankan mobilitas, personalisasi, dan fleksibilitas pengalaman menonton di era digital.
Teknologi dan Perilaku Budaya
Perkembangan teknologi digital, khususnya penetrasi smartphone yang pesat, telah mengubah perilaku budaya masyarakat Asia dalam mengonsumsi media. Kini, kegiatan menonton, membaca, dan berinteraksi dengan konten tidak lagi bergantung pada ruang dan waktu tertentu. Layar kecil di genggaman menjadi panggung utama bagi berbagai bentuk hiburan dan ekspresi diri. Seperti dicatat oleh Andrew Zi Han Yee dalam Mobile Media Use Among Children and Youth in Asia (Springer Nature, 2025), generasi muda di Asia membangun kebiasaan baru dalam menikmati media, mereka menonton sambil bergerak, berkomunikasi sambil mengonsumsi hiburan, dan menjadikan ponsel sebagai ruang personal yang sekaligus sosial.
Di negara-negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, dan Thailand, kebiasaan menonton konten melalui ponsel dalam posisi vertikal telah menjadi bagian dari gaya hidup. Cara menonton seperti ini tidak lagi semata pilihan praktis, melainkan cerminan perubahan cara masyarakat menikmati cerita dan berinteraksi dengan visual. Layar ponsel kini menjadi ruang personal sekaligus sosial, tempat hiburan hadir secara cepat dan efisien, sejalan dengan ritme urban yang serba dinamis.
Format vertical film, yang dikenal dengan istilah “Duanju” di Tiongkok, menjadi salah satu manifestasi perubahan tersebut. Serial drama berdurasi pendek ini dirancang khusus untuk ponsel, dengan aspek rasio 9:16 dan narasi yang cepat, serta cliffhanger untuk mempertahankan perhatian penonton. Produksi seperti ini dilakukan dalam waktu singkat dan dengan anggaran terbatas, namun tetap mengutamakan kualitas profesional.
Di Korea Selatan, fenomena serupa muncul melalui snack culture, yaitu kebiasaan menikmati hiburan berdurasi pendek, kurang dari lima belas menit. Pola ini tumbuh seiring meningkatnya penggunaan smartphone dan kebutuhan akan tontonan yang bisa dinikmati di sela aktivitas sehari-hari. Snack culture memperlihatkan perubahan mendasar dalam perilaku budaya, di mana penonton kini menuntut hiburan yang cepat, mudah diakses, dan fleksibel.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya mengubah alat untuk mengakses media, tetapi juga membentuk pola konsumsi budaya. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, waktu untuk menikmati tontonan panjang semakin terbatas. Muncul kebutuhan akan bentuk hiburan yang ringkas dan mudah disesuaikan dengan tempo kehidupan sehari-hari.
Format video vertikal dan drama pendek seperti duanju menjadi jawaban atas kebutuhan itu. Bentuk ini tidak hanya memanfaatkan teknologi ponsel pintar dan jaringan internet berkecepatan tinggi, tetapi juga menghadirkan cara baru manusia menikmati hiburan, baik di sela perjalanan, waktu istirahat, maupun di ruang publik. Transformasi ini bukan sekadar persoalan teknis atau estetika layar, melainkan adaptasi budaya terhadap ritme kehidupan kontemporer.
Cara masyarakat menonton vertical film juga mencerminkan penyebaran budaya dari negara asal di Asia ke global, termasuk ke Indonesia. Di kota-kota besar, kita dapat melihat bagaimana para penumpang transportasi umum, meski berdesakan di bus, kereta, atau ojek, tetap meluangkan waktu untuk menikmati film pendek di ponsel mereka. Fenomena ini menegaskan bahwa hiburan personal kini telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat urban Indonesia.
Dalam konteks ini, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pasar dan ruang kreasi penting bagi format vertical film dan micro-drama. Dengan jumlah pengguna media sosial yang termasuk terbesar di dunia, yaitu lebih dari 190 juta pengguna aktif (We Are Social dan Meltwater, Digital 2025 Report), serta budaya digital yang kuat di kalangan generasi muda, ekosistemnya sangat mendukung lahirnya bentuk-bentuk baru sinema mobile. Keterhubungan digital yang tinggi, kebiasaan berbagi konten, dan preferensi terhadap durasi singkat membuka peluang besar bagi para pembuat film dan kreator lokal untuk bereksperimen dengan bahasa visual yang segar.
Jika di Asia Timur format duanju berkembang menjadi arus utama, maka di Indonesia bentuk serupa berpotensi tumbuh melalui adaptasi gaya bercerita dan konteks sosial yang khas Nusantara, yang memadukan spontanitas media sosial dengan kedalaman narasi sinematik.
Ciri Khas Vertical Film/Micro Drama
Video vertikal umumnya berdurasi sangat pendek, antara satu hingga tiga menit per episode, dan disajikan dalam bentuk serial dengan puluhan adegan singkat. Pola ini membuat penonton terus menantikan kelanjutan cerita.
Dari segi tema, mayoritas mengusung romansa, melodrama, fantasi, atau kisah hiperbolik— tentang kekayaan, pengkhianatan, dan balas dendam—sering kali dibumbui elemen mitologi seperti vampir atau manusia serigala. Judul populer di Asia antara lain The King’s Avatar: Dreaming Arena, Love Revolution, The Secret of Angel, dan Miss Truth. Waralaba seperti XXL Size Wife bahkan telah diterjemahkan ke delapan bahasa.
Kesuksesan format ini di Asia kemudian diikuti Hollywood, yang menyesuaikan ceritanya dengan perilaku penonton mobile-first di platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan ReelShort. Model bisnisnya mengandalkan episode awal gratis dan pembelian dalam aplikasi, dengan potensi pendapatan miliaran dolar.
Dalam konteks produksi, serial vertikal memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan film horizontal tradisional. Berbeda dengan film konvensional yang biasanya hanya memuat satu atau dua adegan aksi besar dalam satu proyek, serial vertikal mampu menggabungkan seluruh adegan dalam satu rangkaian syuting yang relatif singkat. Misalnya, seluruh adegan untuk satu batch episode dapat diselesaikan hanya dalam delapan hari, termasuk pengambilan gambar beberapa adegan sekaligus. Pendekatan ini memungkinkan produksi lebih cepat dan efisien, sekaligus menyesuaikan dengan konsumsi konten melalui perangkat mobile.
Di Tiongkok, perusahaan Content Republic menunjukkan efisiensi dan produktivitas tinggi dalam produksi serial vertikal. Perusahaan ini telah menghasilkan sekitar 60 serial global bertema romansa dan komedi, dengan pengambilan gambar menggunakan dua kamera dan durasi produksi berkisar antara satu hingga tiga minggu. Praktik ini mencerminkan tren global dalam industri konten vertikal, di mana kecepatan produksi dan adaptasi terhadap platform digital menjadi faktor kunci keberhasilan (The Hollywood Reporter, 2025; The Guardian, 2025).
Platform tayang yang populer antara lain Bilibili, Douyin, KakaoTV, Naver TV, dan LINE TV di Asia; serta ReelShort, DramaBox, NetShort, TikTok, dan Instagram Reels di Amerika Serikat.
Keberhasilan Komersial
Pendapatan micro-drama di Tiongkok melonjak dari 0,5 miliar dolar AS pada 2021 menjadi 7 miliar dolar pada 2024, dan diproyeksikan mencapai 16,2 miliar dolar pada 2030, menurut laporan Media Partners Asia. Di luar Tiongkok, aplikasi serupa meraih 1,2 miliar dolar pada 2024, dengan 60% berasal dari pasar AS.
Di Los Angeles, pendapatan industri mikrodrama meningkat signifikan, dari $23 juta pada Januari 2024 menjadi $122 juta pada Januari 2025 (FilmLA, 2025). Meskipun demikian, secara keseluruhan produksi film dan televisi di wilayah ini menurun; laporan FilmLA mencatat bahwa produksi di lokasi turun sebesar 22,4%, dengan televisi turun 30,5% dan film fitur turun 28,9% pada kuartal pertama 2025 (FilmLA, 2025).
Platform DramaBox, sebagai pemain utama dalam kategori mikrodrama vertikal, mencatat pendapatan lebih dari $450 juta pada 2024 dari pembelian dalam aplikasi secara global (Sensor Tower, 2025). DramaBox telah memperluas jangkauannya ke pasar AS dan berencana memperluas produksi bersama studio Hollywood, termasuk menjalin kemitraan melalui program Disney Accelerator dengan pembuat konten ternama seperti Dhar Mann (The Walt Disney Company, 2025).
Tantangan dan Peluang Film Vertikal
Pembuat film profesional yang terbiasa dengan format horizontal menghadapi tantangan signifikan saat beralih ke vertical. Rasio layar 9:16 menuntut penyesuaian framing, depth- of-field, dan penataan latar; wide shot dan camera movement harus diadaptasi, serta penggunaan vertical space menjadi krusial. Peralatan dan workflow produksi, awalnya dirancang untuk horizontal, memerlukan rotasi kamera, alat tambahan, atau set yang disesuaikan. Kualitas suara juga menjadi penting, karena konsumsi melalui ponsel menuntut audio yang jelas dan seimbang.
Perkembangan dunia film selalu ditandai oleh inovasi yang lahir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada zamannya melalui teknologi. Pada era Kinetoscope, mesin ini memungkinkan tontonan personal bagi satu orang, menekankan eksperimen awal dan pengalaman individual (Britannica, 2025). Kemudian, Lumière Bersaudara menghadirkan gambar bergerak/hidup kepada publik abad ke-19 (History.com, 2025). Hingga kini, inovasi berlanjut dalam bentuk serial vertikal yang menyesuaikan format dengan konsumsi mobile saat ini (Magnetic Creative, 2023; ClickPlay Films, 2023). Setiap langkah inovatif menunjukkan bagaimana teknologi dan konteks sosial berpadu menciptakan pengalaman menonton yang relevan dan baru.
Dalam konteks Indonesia, dinamika ini tidak hanya menjadi persoalan estetika dan teknologi, tetapi juga berkaitan dengan arah kebijakan pengembangan ekonomi kreatif nasional. Transformasi film vertikal sebagai respons terhadap budaya mobile-first memiliki keterkaitan langsung dengan mandat Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dalam penguatan ekonomi kreatif berbasis teknologi digital. Adaptasi format 9:16, perubahan alur kerja produksi, hingga optimalisasi distribusi melalui platform seperti TikTok dan YouTube menunjukkan bahwa inovasi sinematik kini berjalan beriringan dengan transformasi infrastruktur digital dan pola konsumsi masyarakat. Dalam konteks ini, film vertikal bukan sekadar eksperimen estetika, melainkan bagian dari ekosistem konten digital yang memiliki nilai ekonomi dan potensi perluasan pasar.
Kehadiran bingkai vertikal pada platform digital juga tidak hanya relevan bagi industri hiburan, tetapi berpeluang dimanfaatkan oleh para penggiat UMKM sebagai medium promosi visual yang efektif dan adaptif terhadap perilaku konsumsi pengguna gawai, sehingga dapat berkontribusi pada peningkatan pendapatan mereka. Dengan demikian, tantangan teknis yang dihadapi sineas sekaligus membuka ruang atensi kebijakan, baik melalui pelatihan, inkubasi kreator, penguatan literasi digital, maupun fasilitasi distribusi, sejalan dengan agenda transformasi digital dan peningkatan daya saing ekonomi kreatif nasional.
***
*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographer Society (ICS).




