Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.
BALADA CERMIN RETAK DI LEMARI JATI
Di sudut kamar tua
sebuah cermin retak
terkunci dalam lemari jati
yang tak pernah dibuka
sejak kematian Ibu.
Pantulan wajah di dalamnya
selalu berbeda
kadang lelaki bersorban
kadang bocah menangis
kadang wajah sendiri
tapi setengah tak kukenali.
Aku bertanya pada retaknya,
“Siapa aku dalam matamu?”
Ia menjawab
dengan senyap yang gemetar,
“Kau bukan wajah
kau bayangan yang mencari sumber cahaya.”
Malam-malam aku mengintipnya,
berharap ada bisikan
dari balik kabut debu
dan serpih kenangan.
Tapi yang kudengar hanya
detak jantung lemari
dan nafas hening dari langit.
Orang bilang,
cermin itu menyimpan rahasia:
wajah-wajah yang hilang
karena lupa diri,
doa-doa yang mengendap
karena tak jadi lirih,
dan Kekasih
yang bersembunyi
di sela retakan paling dalam.
Pernah kupaksa mengangkatnya,
tapi kayu jati memeluknya
seperti penjaga pusara.
Pernah kubersihkan kacanya,
tapi garis-garis luka itu
semakin terang
seperti kaligrafi tak terbaca.
Dan suatu subuh,
saat kuusap wajah dengan air wudu,
kulihat sekilas
bukan aku,
tapi seseorang yang tersenyum
dalam retakan itu.
Ia seperti tahu segalanya
tentang diriku
yang tak pernah selesai
mencari wajah Kekasihnya
di dalam cermin yang luka.
2025
BALADA PAKU YANG MENOLAK KARAT
Ia terpaku
di kusen tua
sebuah langgar sunyi
yang menghadap ke matahari terbit.
Tak ada yang tahu
sejak kapan ia ditanam,
mungkin sebelum genting
jatuh satu per satu
oleh angin dari musim
yang tak jadi hujan.
Paku itu tidak bengkok,
tidak karatan.
Padahal kayu di sekelilingnya
sudah rapuh,
dinding sudah berlumut,
dan malam sering bocor
oleh lolong anjing kampung.
Orang-orang bertanya,
mengapa ia masih bertahan?
Paku-paku lain
telah patah atau hilang,
tapi ia tetap menusuk
tanpa dendam,
seperti doa yang menahan
atap dari rubuh.
Seorang kakek bilang,
“Paku itu disemat
oleh tangan seorang abid
yang tak dikenal langit
kecuali oleh sujudnya.”
Malam-malam tertentu,
paku itu bergetar
saat azan ditiupkan angin.
Bunyinya pelan,
seperti wirid
yang menolak dunia.
Ia tahu,
besi pun bisa lapuk
oleh waktu,
tapi bukan yang
ditancapkan oleh cinta
dan tak pernah berkhianat
pada kiblatnya.
2025
BALADA SANDAL WUDU
YANG KETINGGALAN
Suatu sore yang gerimis,
aku keluar dari tempat wudu
dengan kaki basah dan ringan,
tapi hanya sebelah sandal
yang menunggu di rak tua itu.
Yang satu entah ke mana
seperti zikir yang hilang
di sela gaduh pikiran
atau bait doa
yang tercecer
di antara sibuknya dunia.
Kakiku ragu melangkah,
lantai mushola dingin
seperti lembar kehidupan
yang belum selesai
dibaca niatnya.
Orang-orang lalu-lalang,
tak ada yang tahu
siapa yang mengambil
atau lupa mengembalikan
karena kehilangan kecil
tak selalu disadari
selagi jiwa terburu
menuju rakaat.
Tapi bagiku,
ia bukan hanya alas kaki.
Ia saksi air wudu
yang membasuh debu dunia
dan menyisakan basah
di telapak hati.
Kukejar jejaknya
hingga ke serambi
namun yang kutemui hanyalah
jejak basah yang menguap
di lantai
seperti kehidupan
yang terus bergerak
meninggalkan yang tertinggal.
Malam pun datang,
aku pulang dengan sebelah kaki
menapak tanah,
sebelah lagi
menapak kesunyian.
Dan dalam sepi itu
aku paham:
sandal yang tertinggal
hanyalah isyarat kecil
bahwa yang sejati
tak pernah benar-benar pergi.
2025
BALADA BOTOL MINYAK KAYU PUTIH
Di sudut almari tua,
di antara mukena Ibu dan sisir patah,
sebotol minyak kayu putih
masih menyimpan hangat
yang tak bisa kadaluarsa.
Botol kecil itu
menyimpan sunyi
yang pernah ditiupkan Ibu
di perutku yang menggigil,
atau di dadaku yang sesak
karena demam dan rindu
yang belum kupahami namanya.
Aromanya lembut
seperti doa yang ditiupkan
di antara sela rambut
saat aku tertidur
dengan peluh kecil
di dahi dan ketakutan di dada.
Waktu berlalu seperti hujan
di genting malam
tapi botol itu tak pernah habis
meski tutupnya berdebu
dan labelnya memudar
seperti ingatan yang mencoba bertahan.
Kadang kubuka perlahan,
menghirup dalam-dalam
dan tiba-tiba Ibu hadir
tanpa suara,
memandang dengan kasih
yang bahkan tak menuntut
apa pun dariku selain
ingatan yang jernih
dan hati yang bersyukur.
Botol itu,
bukan sekadar minyak
tapi wangi masa kecil
yang masih membalut luka
tanpa bertanya dari mana datangnya.
Dan setiap kali aku terjatuh
di jalan takdir yang tak kupahami,
selalu ada seulas harum
yang mengingatkanku
bahwa cinta tak selalu bersuara,
dan kasih yang tulus
tak butuh alasan untuk tetap tinggal.
2025
BALADA SERBET DAPUR MBOK NYAI
Setiap pagi
serbet lusuh tergantung
di paku dapur
seperti jubah tak terlihat
dari seorang wali
yang tak pernah dikenal langit
tapi dikenali bumi.
Serbet itu tak bersuara,
namun menyerap
tumpahan kuah,
air mata bawang,
dan kepulan asap
dari sayur asem yang mengingatkan
pada rasa pulang.
Mbok Nyai menyekanya
tanpa banyak bicara
di ujung serbet itulah
ia sembunyikan zikirnya,
“Ya Latif… Ya Quddus…”
di sela sisa minyak
dan remah nasi anak-anak
yang tak sempat sarapan.
Waktu berlalu dalam kepulan uap,
dan serbet itu tak pernah diganti,
seperti kesetiaan
yang memilih tinggal
dalam kesunyian wangi bawang putih
dan rerintik keringat di dahi
yang jarang dipandang.
Orang-orang datang dan pergi,
mencari ilmu,
menimba hikmah,
tapi tak melihat
bahwa barakah kadang
menetes dari ujung kain
yang mengusap ceceran sambal
di meja makan pesantren.
Pernah suatu malam,
angin masuk lewat jendela,
dan serbet itu terbang sebentar
kutangkap bayangannya
seperti bendera putih
yang dikibarkan tanpa kekalahan:
tanda bahwa kekuatan sejati
ada pada tangan-tangan lemah
yang tak pernah meminta
apa pun dari dunia.
Dan kelak,
saat tak ada yang tersisa
selain sisa-sisa doa
di dasar dandang,
kita akan mengerti:
serbet dapur Mbok Nyai
adalah kitab rahasia
yang hanya dibaca
oleh hati yang bersih.
2025
BALADA JARUM DAN BENANG
SERAMBI PESANTREN
Setiap sore,
di serambi yang menghadap kiblat,
seorang ibu duduk bersila
dengan jarum kecil
dan segulung benang warna tanah.
Ia tidak banyak bicara
tangannya bergerak perlahan,
menusuk-narik kain sarung
yang robek di bagian lutut,
seperti menambal sunyi
di hati anak-anak santri
yang tak sempat pulang.
Jarum itu berkilat
seperti doa yang tak bersuara,
dan benangnya
menari dalam pola tak terlihat,
menyulam bukan sekadar kain,
tetapi luka-luka kecil
yang ditinggalkan waktu
dan pengorbanan.
Di tiap tusukan,
ada harap yang dililit:
semoga malam ini
anak-anak tidur nyenyak
tanpa kelaparan,
tanpa tangis diam
karena rindunya belum bisa disampaikan.
Tak ada yang tahu
siapa ibu itu.
Ia bukan ustadzah,
bukan pengasuh resmi,
hanya penjaga dapur
yang memeluk dunia
dengan tangan berkain tepung
dan hati seluas sajadah.
Serambi itu tak pernah sunyi,
karena di sela nafasnya
selalu ada tasbih
yang dijahitkan diam-diam
pada pinggiran sarung,
“Subhanallah…
Subhanallah…”
hingga benang habis
dan malam turun
seperti azan yang tak disuarakan.
Suatu hari nanti,
sarung-sarung itu akan lusuh,
dan ibu itu mungkin telah tiada
tapi setiap tusukan benang
akan tetap membentuk baris-baris puisi
di tubuh santri yang berjalan
menuju cahaya.
2025
BALADA DASTER LUSUH IBU PENGAJIAN
Ia datang paling awal,
dengan langkah kecil di tikungan mushola,
membawa kantung berisi mukena,
kitab kuning,
dan sisa doa yang belum selesai semalam.
Daster yang ia kenakan
telah pudar warnanya
bunga-bunga kecil
nyaris lenyap digerus waktu,
tapi setiap helainya
telah merekam ribuan ayat
yang tak pernah dihafalkan
dengan lidah,
melainkan dengan sabar
dan cucuran air mata.
Perempuan-perempuan muda
melewati dia begitu saja,
dengan hijab-hijab mahal
dan tas tangan berkilau.
Tak ada yang tahu
daster itu pernah basah
oleh keringat dapur
dan tumpahan air wudu
di tengah malam buta
saat dunia masih tertidur
dan langit belum membuka rahmatnya.
Ia duduk di pojok ruangan,
membaca pelan
lafaz demi lafaz,
seperti sedang menjahit dirinya sendiri
yang sobek oleh hari-hari panjang
tanpa ucapan terima kasih.
Orang tak melihatnya,
karena kesuciannya
tak seperti jubah putih di televisi,
tak seperti ceramah viral
di layar kaca.
Kesuciannya berdebu
dan menyatu
dalam lipatan daster
yang lusuh
namun harum
oleh keikhlasan.
Suatu hari nanti,
saat kita mengenangnya,
mungkin hanya daster itu
yang masih tergantung di pintu kamar
diam,
namun memancarkan cahaya
yang tak bisa dijelaskan
oleh kata-kata.
2025
BALADA GIGI YANG COPOT DI SUBUH HARI
Subuh itu,
ketika langit belum sepenuhnya jernih
dan suara azan
masih merambat pelan
di sela kabut pagi,
sebuah gigi terjatuh
di ujung sajadahku.
Bukan karena gigitan keras
atau luka yang tiba-tiba,
tapi karena usia
yang diam-diam melonggarkan
apa yang dulu kokoh
dan menggigit dunia.
Ia tergeletak kecil,
seperti biji doa
yang terlepas dari tasbih waktu,
tak bersuara
namun berbicara
lebih jujur dari lisan.
Aku memungutnya
dengan jari yang sedikit gemetar
bukan karena sakit,
melainkan karena sadar:
segala yang melekat padaku
tak abadi,
bahkan yang tumbuh
dari tubuhku sendiri.
Kupandangi gigi itu,
putih kekuningan,
seperti serpih bulan
yang jatuh dari langit mulut,
mengingatkanku
bahwa segala bentuk
akan kembali menjadi sunyi.
Di luar,
burung-burung sudah mulai menyebut
nama Tuhan.
Aku bergegas berwudu,
dengan air yang tiba-tiba terasa
lebih dingin
dan lebih dalam.
Dan ketika aku sujud,
aku tahu:
ada bagian dariku
yang telah ditinggalkan,
dan bagian lain
yang harus kupersiapkan
untuk meninggalkan.
2025
BALADA TETESAN AIR DI UJUNG HIDUNG SAAT SUJUD
Subuh belum utuh,
dinding mushola memantulkan dingin
dan bayang-bayang sajadah
yang bergelombang seperti laut batin.
Aku bersujud,
air wudu belum kering
mengalir pelan dari kening
menuju ujung hidung
tempat tetesan kecil menggantung
seperti doa yang ragu
antara jatuh atau kembali.
Tak ada yang tahu,
di balik gerak hening itu,
ada desir rindu
yang ingin luruh tepat di bumi
tempat para pecinta
meletakkan dahinya
bukan sekadar karena perintah
tapi karena tak sanggup
berdiri lebih lama
di hadapan Kekasih.
Tetesan itu akhirnya jatuh
dalam diam paling dalam
sebuah sujud yang tak lagi butuh kata
hanya gemetar
dan air.
Ia tak besar,
tapi cukup
untuk membasahi bumi
dengan cinta
yang tak dipamerkan.
Dan pada titik itu,
aku paham:
yang paling dekat dengan langit
adalah saat tubuh ini
mencium tanah
dengan seluruh jiwa
yang basah.
2025
BALADA NAFAS YANG DIHITUNG MALAIKAT
Malam menyimpan sunyi
seperti peti tua
yang ditinggal pemiliknya
tanpa pesan.
Di antara detik jam
dan desir angin
aku mendengar helaan nafas sendiri
seperti embun yang takut jatuh
terlalu dini.
Mereka bilang,
ada malaikat
yang tak pernah tertidur,
menghitung setiap hela
dengan tinta cahaya
di kitab yang tak pernah kering
halamannya.
Setiap tarikan
bukan hanya hidup
tapi waktu yang dipinjam,
kesempatan yang digadaikan
untuk satu pengakuan:
aku fana.
Kadang nafas ini tercekat
bukan karena sesak,
tapi karena tersadar
berapa banyak hela
yang telah terbuang
tanpa makna,
tanpa sebutan Nama
yang seharusnya mengisi ruang dada
seperti pelita yang setia.
Malaikat itu diam,
tak pernah menegur,
tapi jumlahnya pasti
dan batasnya dekat.
Ia tak menunggu sakit,
tak perlu tanda.
Dan pada satu subuh
ketika dunia masih tidur,
aku duduk di sudut sajadah
menghitung diam
antara satu nafas
dan yang berikutnya.
Tak ada yang istimewa
kecuali kesadaran
bahwa aku masih diberi
satu hela lagi
untuk menyebut-Nya
sebelum nama ini
menjadi senyap.
2025
—
*Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Wachid lulus Sarjana Sastra dan Magister Humaniora di UGM, dan menjadi Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Abdul Wachid B.S. lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (15/1/2019). Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022). Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***





