Puisi-puisi Tengsoe Tjahjono
Syawal Hari Pertama
Rembulan pecah di telapak tangan,
serpihan cahaya mengaliri urat rindu.
Langit bergetar, menyulut doa dalam dada,
puing-puing malam bersandar di sejadah sunyi.
Jejak kaki di pasir waktu,
mencari sisa gema takbir yang merunduk,
angin berbisik di sela sajadah kosong,
menitipkan luka yang mekar dalam sujud.
Cawan penuh rahmat, meneteskan sunyi,
menggenangi kelopak mata yang rapuh.
Hari pertama, jendela terbuka,
bayang-bayang diri menyusup ke dada.
Daging dan tulang bersyahadat pada cahaya,
keringat menjadi tasbih di pori-pori bumi.
Di antara gema dan sunyi,
Syawal memahat takdir di kening waktu.
2025
Kudengar Tabir di Malam Akhir Ramadhan
Bayang-bayang berpendar di pelataran sunyi,
angin menyusup ke sela detak jantung.
Langit menganga, menelan sisa doa,
bintang gemetar di tepi cahaya.
Tasbih melingkar di pergelangan waktu,
butir-butirnya meleleh di genggaman takdir.
Suara-suara tumbuh dari akar gelap,
menyelinap di lipatan sajadah usang.
Malam bergetar di tubuh lampu,
nyala redup menari di jendela lengang.
Luka menjelma azan yang patah,
mengalir ke sela urat penantian.
Tabir terbuka, rahasia luruh,
Ramadhan melepaskan napas terakhirnya.
Di pusaran rindu, sujud bersetia,
menjemput fajar dalam dekap cahaya.
2025
Filosofi Mudik
Jalan melata di punggung bumi,
aspal mendidih di telapak kenangan.
Jejak-jejak asing berdesakan di kaca waktu,
matahari terpanggang di pelipis rindu.
Tangan-tangan mencengkeram arah,
kompas retak dalam genggaman hasrat.
Klakson menggema di dada kendaraan,
sinyal tersesat di palung cakrawala.
Rumah menjelma ilusi di kelokan ingatan,
pintu terbuka tanpa suara ibu.
Langit menampung napas para perantau,
fatamorgana nostalgia menguap di udara.
Mudik, arus yang mengembalikan bayang,
jalan pulang melingkar dalam labirin pasar.
Di antara tiket dan doa yang menguap,
takdir beringsut dalam antrean tak berujung.
2025
Dalam Kerumunan Kendaraan di Jalan Bebas Hambatan
Mesin-mesin berdesakan di urat jalan,
asap melilit langit yang pecah.
Klakson melolong di antara jeda,
kecepatan menggilas jarak yang lunglai.
Wajah-wajah terperangkap di kaca,
mata menggenang di pusaran waktu.
Peta terlipat di telapak tangan,
arah merayap di nadi aspal.
Tulang-tulang kota meregang,
rindu mengembun di lampu merah.
Jalan bebas hambatan menelan langkah,
mengulur mimpi ke tepian senja.
Di arus yang tak berujung,
rumah menjauh, rumah mendekat.
Mudik, labirin tanpa batas,
saban tahun, saban rindu.
2025
Malam Menjelang Lebaran
Jam dinding menggerakkan jarum sunyi,
bintang-bintang bergetar di cawan gelap.
Takbir menjulang di tiang angin,
suara mengalir, membelah malam.
Pintu-pintu menganga tanpa suara,
lampu-lampu merapat di jendela ingatan.
Bantal menyimpan sisa doa,
mimpi-mimpi bersujud di tikar waktu.
Jalan lengang menampung jejak,
rindu menguap di sela detik.
Bayang-bayang saling mencari,
rumah menjelma bisikan lampau.
Malam rebah dalam dekap cahaya,
subuh mengetuk di ufuk resah.
Lebaran merayap di kelopak pagi,
menghampar takdir di genggaman tangan.
2025
Maafkan, Aku Tak Bisa Mudik Kali Ini
Angin mengetuk jendela kamar,
membawa wangi tanah halaman.
Di kejauhan, doa menggantung,
bergetar di serambi rumah.
Ayah, bayangmu menjelma dahan,
menahan waktu di batang rindu.
Bunda, suaramu melarut di subuh,
menetes di ujung sajadah.
Jalanan berdenyut, arus melaju,
aku terjebak dalam kota asing.
Langit penuh sorot kendaraan,
bulan terkurung di lengkung beton.
Tanganku meraba udara kosong,
mencari genggaman yang tertinggal.
Ayah, Bunda, maafkan aku,
pulang masih sebatas doa.
2025
Doa di Malam Lebaran
Langit merunduk,
bulan pecah di telapak senyap,
bintang-bintang terlepas dari genggaman,
jatuh ke pelataran doa.
Takbir melayang di puncak hening,
angin mengusung suaranya ke batas cakrawala.
Dalam rukuk yang memanjang,
nama-nama tenggelam di pusaran cahaya.
Pintu rumah terbuka tanpa suara,
kursi tua menampung bayang yang hilang.
Di meja, secangkir harap mengendap,
uapnya mengalir menuju sudut langit.
Waktu berputar di nadi kesunyian,
detiknya bergetar seperti tasbih tanpa ujung.
Malam merangkul rindu yang rapuh,
doa melaju di arus sunyi.
Lebaran merambat di ufuk subuh,
menyelinap ke sela jemari yang berpagut.
Dalam genggaman ini,
ada maaf yang mekar,
ada pulang yang tertunda.
2025
Mohon Maaf
Senja merekah di pelupuk waktu,
angin mengusung desir yang terhenti.
Takbir melayang di sela gedung-gedung,
gema samar di lengkung jalan.
Tangan-tangan terulur tanpa sentuh,
kata-kata luruh di lantai sunyi.
Di jendela kaca, bayang bertanya,
mencari jejak yang mengabur.
Lebaran merayap di celah rindu,
rumah-rumah menyimpan isyarat bisu.
Di sudut meja, cawan kenangan mendingin,
sisa doa melingkar di permukaannya.
Maaf meluruh di balik dinding waktu,
terukir di udara yang sesak.
Di dada perayaan,
ada luka yang tak sempat bicara,
ada janji yang tersesat di kalender.
2025
Pintu Maaf
Jendela pagi terbuka perlahan, membiarkan cahaya menelusup ke sela kota yang masih mengantuk,
takbir melayang di atas genting-genting tua, menggetarkan udara dengan denting rindu yang jauh,
jalan-jalan panjang mengulur bayang-bayang, menampung langkah-langkah yang pulang tanpa suara,
di ujung lonceng yang bergetar perlahan, waktu menggulung harapan yang tertinggal di batas malam.
Tangan terulur pada udara yang hampa, meraba sisa pertemuan yang tak sempat dirayakan,
bayang-bayang berdesakan di ambang pintu, menunggu suara yang tak kunjung tiba,
di lantai yang dingin, doa-doa terhampar seperti daun-daun gugur di penghujung musim,
kursi tua di sudut ruangan masih setia menampung denting jam yang tak mau berhenti berbisik.
Lebaran mengetuk tanpa suara, menyusup perlahan di celah dinding yang mulai retak oleh waktu,
pada lembar kalender yang nyaris terlepas, ada luka-luka kecil yang tak sempat tersentuh,
maaf mengendap di sudut hati yang ragu, mengalir pelan di sela genggaman yang belum terbuka,
menunggu dipetik seperti cahaya pagi yang akhirnya jatuh di halaman rumah yang sunyi.
2025
****
* Tengsoe Tjahjono lahir di Jember 3 Oktober 1958. Penyair ini pernah mengajar di Hankuk University of Foreign Studies Korea (2014-2017). Sejak pensiun dari Universitas Negeri Surabaya (2023) ia mengajar di Universitas Brawijaya Malang. Pada tahun 2012 mendapat penghargaan sebagai Sastrawan Berprestasi dari Gubernur Jawa Timur. Buku puisinya Meditasi Kimchi memperoleh Anugerah Sutasoma 2017 dari Balai Bahasa Jawa Timur. Penggagas cerpen tiga paragraf (pentigraf). Atas dedikasinya berkarya 40 tahun di bidang sastra ia memperoleh penghargaan dari pemerintah Indonesia melalui Badan Bahasa pada tahun 2024. Karya antologi puisi terbaru: Dari Menjerat Sepatu Sampai Membuka dan Menutup Jendela (2021), Pelajaran Menggambar Bentuk (2023), 17-an di Kampung Halaman (2024), dan Jenggirat (2025).