Pos

ASLI: Akademi Seni Lupa Indonesia

Oleh Agus Dermawan T. *   Lupa adalah penyakit turunan orang Indonesia, kata orang tua yang tak mau disebut namanya. Kumpulan lupa yang paling mudah diingat adalah yang menimpa para pejabat negara. ————- DALAM pagelaran stand up comedy saya menyaksikan seorang monodramator beraksi. Kedengarannya benar. Namun menurut keyakinan saya, apa yang ia katakan ada yang […]

Kolektor sebagai Produsen Makna: Membaca EZ Halim dan Amrus Natalsya

Oleh Syakieb Sungkar* Cara seorang kolektor mengoleksi dapat dipahami sebagai suatu disiplin pengetahuan tersendiri, sebagai bentuk epistemologi praksis: pengetahuan yang lahir dari pengalaman berulang, afeksi, intuisi, kegagalan, dan keterlibatan jangka panjang dengan karya seni. Dalam memilih karya, cara mengkurasi seorang kolektor sering kali tidak sepenuhnya dapat dirumuskan secara verbal, namun hasilnya sangat presisi dalam praktik. […]

Piknik Itu Perlu! Tapi Harus Sehat Dulu

Oleh: Agus Dermawan T.*   Data buku Judul buku: Piknik Itu Perlu – Bikin Sehat dan Awet Muda. Penulis: Dr. Handrawan Nadesul. Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Jakarta. Tahun terbit: 2025. Tebal buku: xxiii + 326 (352 hlm.) ISBN: 978-623-523-562-2 ———–   Buku yang mengajarkan bagaimana seseorang yang akan berpiknik harus menyiapkan kesehatan tubuhnya. Agar serangan […]

Kelahiran yang Kedua

Oleh: I Gde Jayakumara*   Seperti kelahiran kedua dari tuhan Dionysius, satu tuhan dalam mitologi Yunani, enam pelukis akademis Bali (diantaranya: Made Gunawan, I Wayan Santrayana, I Ketut Suasana Kabul, I Made Sutarjaya, I Ketut Suwidiarta, dan I Wayan Gede Budayana) mengelar pameran bersama bertajuk ‘Paradiso’. “Kelahiran pertama adalah kelahiran sebagai sosok subjek yang berDNA […]

Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025, dan Mengapa Kritik Seni Jurnalistik-Akademis

Oleh: Agus Dermawan T.*   Upacara penerimaan Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025 digelar megah di gedung teater Ciputra Artpreneur, Jakarta, pada 17 Desember 2025. “Ini puncak penghargaan untuk orang-orang hebat yang bekerja sebagai mata air kebudayaan Indonesia,” kata penyelenggara. ———————— PADA hampir penghujung upacara Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 di gedung teater Ciputra Artpreneur, Jakarta, Menteri […]

Iqi Qoror: Realitas Penampakan ala Zaman Simulakra

Oleh Bambang Asrini Widjanarko* Kita bersua dengan perupa Indonesia yang memiliki keberuntungan mampu berpameran sampai sepuluh kali pameran tunggal. Ia mewakili sedikit perupa kita yang getol melalui ‘pelancongan artistik’ ke berbagai galeri privat dan art fair dunia. Semisal di Singapura, Shanghai, London sampai Los Angeles, namun ia berlabuh Desember ini di artspace berjuluk Sal Project […]

Bencana Sumatera dan “Cerita Si Bunga Angkasa”

Oleh Agus Dermawan T.*   Cerita sangat pendek gubahan 43 tahun lalu bertaut erat dengan bencana Sumatera yang terjadi pada November-Desember 2025. Kita lalu ingat sosok Pendekar Lingkungan Hidup: Emil Salim. ————– BENCANA besar melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Banjir dan longsor melumpuhkan sangat banyak wilayah. Lebih dari 1.000 orang tewas, ribuan lain […]

Tanah Air Mata Ibu

Oleh: Bambang Asrini Widjanarko*   Bulan Desember dalam konteks kebangsaan, meyisakan hari sakral, yakni 22 Desember kelak dengan sebuah perayaan untuk seorang ibu. Bukan semata figur ibu secara harfiah adalah manusia yang memiliki rahim dan membesarkan anak-anaknya serta bertanggung jawab pada keluarga, namun ia memberi spasial makna lebih tinggi secara kolektif, ingatan tentang: ibu negeri. […]

Kemilau Toeti Heraty 92 Tahun: Pameran ‘Menyingkap Pretensi’

Oleh: Bambang Asrini*   Sebuah helatan milad, atau peringatan kelahiran seorang tokoh budaya memberi beban tersendiri bagi seorang penulis, apalagi menafsirkan cendekiawan skaliber Toeti Heraty yang multi-talenta dan penekun ilmu-pengetahuan filsafat pun seorang penyair. Tokoh kompleks dan sumbangsihnya yang nyata bagi pergerakan dan advokasi perempuan, penulis sajak-sajak yang piawai merangkai kata dan makna, seorang maesenas […]

 Pameran Seni ‘Descending’ di Artsphere, Dharmawangsa Square: Agnes dan Tali-Temali Primitif Yang Kontemporer 

Oleh Bambang Asrini Widjanarko* Seorang seniman muda, Agnes Hansella, 33 tahun membawa seni tali-rajut kuno, warisan bangsa Moor klasik, menjadi karya seni kontemporer terkiwari. Yang mengejutkan, karya-karya ‘separuh ekspresif-nya’, di masa lalu itu mempesona brand-brand luxurious seperti Hotel Marriott, Louis Vuitton (LV), sampai Hermès.  Kali ini, galeri seni Artsphere, milik pecinta seni sejati, Maya Sudjatmiko […]