Pos

Retakan Raden Saleh: Agensi dalam Ambivalensi

oleh : Kasiyan* “Art is the lie that enables us to realize the truth.” Picasso, P. (1923). Picasso speaks. In M. de Zayas, The Arts, 3(4), 315–326. https://monoskop.org/images/5/5f/De_Zayas_Marius_Picasso_Speaks.pdf Mei yang basah, dan cermin yang retak. Mei selalu datang dengan janji yang manis sekaligus getir. Dalam imajinasi peradaban lama, ia adalah bulan ketika dunia seolah sedang memaafkan […]

Dua Dekade Kelana Garis

Pameran Lukisan Retrospeksi Wayan Kun Adnyana Oleh : Arif Bagus Prasetyo* Ketika memasuki ruang pameran, pengunjung langsung dihadang sebarisan figur lelaki gemuk. Mereka tidak menyambut dengan wajah cerah. Sebaliknya, justru memunggungi pengunjung. Masing-masing hadir secara tunggal pada sederet kanvas, figur-figur itu bertubuh bulat karikatural seperti bola batu. Sebagian besar dari mereka menyembunyikan tangan di punggung […]

Membaca Majalah Musik Helopop di Era Scroll: Cherry District Road to Cherrypop 2026

Oleh : Aulia Febriana* Di tengah kebiasaan membaca yang semakin cepat, di mana orang lebih sering menggulir layar daripada membuka halaman, benda-benda fisik justru perlahan menemukan cara untuk kembali. Kaset mulai dipajang lagi, piringan hitam kembali diputar, dan berbagai merchandise musik kembali dicari, bukan sekadar sebagai alat dengar atau benda pakai, tetapi sebagai sesuatu yang […]

Horor Mei Taman Suropati

Oleh Agus Dermawan T* Pada Mei 1998 silam Taman Suropati di Jakarta Pusat, menjelma jadi lapangan horor sosial-politik menyeramkan. Mari mengingat sejarah kecil taman artistik yang berusia seabad lebih ini. ———– TAMAN Suropati, yang bersentuhan dengan Jalan Diponegoro dan Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, adalah taman legendaris di Jakarta. Alkisah taman ini dibangun oleh F.J.Kubatz […]

Dalí yang Mungil di Lantai 53

Oleh: Kristian S* Seni modern sering kali adalah sebuah ilusi megah yang dikelola dengan sangat rapi melalui dinding-dinding putih museum. Ia mematri kanon di kepala kita, mendikte apa yang agung dan apa yang banal, melalui buku-buku teks sejarah yang ditulis oleh tangan-tangan Barat. Namun, ilusi itu menuntut untuk diuji secara fisik. Perjalanan saya untuk menguji […]

Ode to My Friend: Privilege itu Bernama Teman

Oleh : Abad Akbar*   Berkatalah seorang penyair tentang pertemanan: “Jika sedikit hartaku maka tidak ada yang ingin menjadi sahabatku, dan apabila hartaku bertambah maka semua orang seolah-olah menjadi sahabatku. Betapa banyak musuh menjadi teman karena kekayaanku, dan betapa banyak sahabat berubah menjadi musuh karena kemiskinanku.” Begitulah sedikit gambaran tentang mahalnya sebuah pertemanan sejati. Dalam […]

Arsip Visual Fotografi Koleksi Melani Setiawan

Oleh Mikke Susanto* Dulu kita sering mengandalkan teks untuk mengingat masa lalu. Entah dalam bentuk prasasti, lontar, buku sejarah, sms, WhatsApp, atau mungkin teks kuratorial. Namun ada satu jenis ingatan yang bekerja dengan cara berbeda yakni fotografi. Arsip visual berupa fotografi tidak menjelas-jelaskan seperti halnya arsip tekstual. Justru di dalamnya menunjukkan hal-hal yang menuntut kita […]

Obituari: Lanny Andriani

Oleh Agus Dermawan T.*   Patricia Lanny Andriani dikenal sebagai pelukis, guru melukis dan sekaligus penyelenggara pameran seni lukis. Sejak tahun 1980-an namanya tidak pernah lepas dari kegiatan seni rupa. Setelah berkiprah lebih dari 40 tahun, setelah mengarungi hidup yang meriah sekaligus rumit, ia pergi tanpa pamit.  ———– PADA minggu pertama April, isteri saya Iliana […]

Sehari Boleh Gila: Menguji Batas Seni, Menyembuhkan Luka, dan Menemukan Kebebasan

Oleh Abad Akbar* Dalam lanskap seni rupa Yogyakarta yang dinamis, terdapat satu program yang secara konsisten menghadirkan ruang refleksi sekaligus eksperimen ia dinamai Sehari Boleh Gila (SBG). Program ini bukan sekadar peristiwa tahunan, melainkan ruang alternatif yang mempertemukan gagasan, praktik artistik, serta pengalaman batin yang jarang terakomodasi dalam sistem seni yang semakin terstruktur dan berorientasi […]

In Memoriam: Pelukis Titis 

Oleh Agus Dermawan T.* Pelukis yang menekuni media pastel sepanjang karir, sangatlah jarang di Indonesia. Salah satu yang terbaik, Titis Jabaruddin, baru saja meninggal dunia. ————- TITIS Jabaruddin, pelukis perempuan Indonesia kelahiran di desa Duari, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, 2 Januari 1943, baru saja wafat. Dengan bahagia ia meninggalkan dunia fana pada Jum’at malam, 10 […]