Pos

Menyusuri Dunia Puisi Aslan Abidin: Dimensi dan Posisi dalam Perpuisian Indonesia

Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Pendahuluan Membaca puisi-puisi Aslan Abidin sering kali terasa seperti memasuki sebuah kota pada jam-jam yang tidak dicatat dalam peta wisata. Ada senja yang basah, lorong-lorong sosial yang pengap, percakapan batin yang berlangsung setengah berbisik, setengah memberontak. Makassar hadir, tetapi tidak sebagai latar geografis semata. Ia menjelma pengalaman. Dari sanalah […]

“Surat Wasiat” dan Etika Ingatan: Membaca Agus R. Sarjono dari Puisi yang Mengikat Puisi-Puisinya

Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Masuk Melalui Pertanyaan Estetik Ada satu pertanyaan yang selalu terasa mengganjal setiap kali kita berhadapan dengan penyair yang puisinya banyak, beragam, dan (yang terpenting) saling berbicara satu sama lain: bagaimana mungkin kita memilih satu puisi terbaik tanpa mengkhianati puisi-puisi yang lain? Pertanyaan ini bukan perkara selera, apalagi soal peringkat. […]

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP

DI DEKAT JEMBATAN KALI CIREBAH kau tahu, suasana kampung kecil di dekat jembatan kali cirebah? hingga saat ini tetap merindukanmu, perempuan embun au, kita menenun gugusan kabut menjadi puisi sederhana kita masak daun singkong, jamur, pare, ikan asin, sayur bening dan sambel terasi untuk menyambung hidup apa adanya, tentu dengan harapan semuanya alami– juga kecantikan […]

Berpuisi Sebagai Liturgi

Sebuah Simfoni Kosmik Eksistensi Oleh: Gus Nas Jogja* Puisi bukanlah sekadar deretan kata yang dipaksa berima, melainkan sebuah tindakan sakramental. Ia adalah jembatan antara yang fana dan yang baka, sebuah ruang di mana bahasa menanggalkan jubah fungsionalnya dan mengenakan jubah cahaya. Menulis dan membaca puisi adalah sebuah liturgi—sebuah perayaan atas keberadaan yang melibatkan seluruh dimensi […]

Melawan dengan Dapur: Etika Hidup Sunyi dalam Puisi Fajrul Alam

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Kesederhanaan sebagai Pilihan Estetik dan Etika Esai ini berangkat dari satu keyakinan yang sengaja saya letakkan di awal: kesederhanaan dalam puisi-puisi Fajrul Alam (Resep Bahagia, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Jejak Pustaka, 2025) bukanlah akibat dari keterbatasan estetik, melainkan hasil dari pilihan sadar: pilihan ideologis sekaligus etis. Di tengah iklim perpuisian […]

Estetika Perpuisian Warih Wisatsana: Ziarah Kesadaran, Etika Diam, dan Orisinalitas yang Mengendap

Oleh Abdul Wachid B.S.*   Pendahuluan Di tengah lanskap perpuisian Indonesia kontemporer yang semakin plural, eksperimental, dan terkadang fragmentaris, puisi-puisi Warih Wisatsana hadir sebagai oase kesabaran dan ketenangan. Larik-lariknya panjang, ritmenya melambat, dan gerak puisinya menyerupai perjalanan kesadaran, bukan ledakan emosional yang memusat pada “aku”. Warih tidak terburu-buru menutup makna; pertanyaan kerap dibiarkan menggantung, seakan […]

Beni Satria di Tengah Manusia Algoritma

 Oleh Mahwi Air Tawar* Ada masa ketika seorang penyair memilih diam. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena kata-kata belum menemukan ruang yang tepat untuk pulang. Dalam rentang waktu yang cukup panjang (2015-2023), Beni Satria berada pada fase itu: menulis, tetapi tidak tergesa mempublikasikan; membaca zaman, tetapi belum sepenuhnya ingin bicara. Diamnya bukan kevakuman, melainkan semacam […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA NISAN TANPA NAMA Di bukit sunyi, di bawah pohon bidara yang menggugurkan bayang, ada seonggok tanah merah yang tak dikunjungi pelayat. Tak ada batu pualam, tak ada tanggal wafat, hanya sekeping kayu lapuk tanpa aksara dan wangi samar yang turun tiap petang menjelma doa. Burung hantu sering bertengger di dahannya, bukan membawa kabar, tapi […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA JIN PENJAGA SUMUR LANGGAR Di balik langgar kayu tua yang menganga sepi selepas Isya, ada sumur kecil berlumut hijau dan bercahaya samar seperti mata yang tak ingin dilihat. Tak ada yang berani menimba kecuali mereka yang telah bersuci dan menyebut nama-Nya dengan nafas pelan dan dada tunduk. Dulu, kata Mbah Sarwan, ada jin alim […]

Puisi-puisi Mulyadi J. Amalik

WAYANG SULUH Jangan bangunkan aku di lautan mimpi tengah malam. Tunggulah usai bersauh dini pagi diurai kokok ayam. Tiba padam mercusuar, tiba matahari penggantinya. Aku kan sarapan sesuai harapan. Makan berlauk garam berbutir penantian. Menggosok gigi seputih hati dan lisan. Lalu bekerja menjalankan mimpi selepas tadi. Aku wayang pencetus janji tanpa tepi. Maju menjadi suluh […]