Pos

Beni Satria di Tengah Manusia Algoritma

 Oleh Mahwi Air Tawar* Ada masa ketika seorang penyair memilih diam. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena kata-kata belum menemukan ruang yang tepat untuk pulang. Dalam rentang waktu yang cukup panjang (2015-2023), Beni Satria berada pada fase itu: menulis, tetapi tidak tergesa mempublikasikan; membaca zaman, tetapi belum sepenuhnya ingin bicara. Diamnya bukan kevakuman, melainkan semacam […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA NISAN TANPA NAMA Di bukit sunyi, di bawah pohon bidara yang menggugurkan bayang, ada seonggok tanah merah yang tak dikunjungi pelayat. Tak ada batu pualam, tak ada tanggal wafat, hanya sekeping kayu lapuk tanpa aksara dan wangi samar yang turun tiap petang menjelma doa. Burung hantu sering bertengger di dahannya, bukan membawa kabar, tapi […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA JIN PENJAGA SUMUR LANGGAR Di balik langgar kayu tua yang menganga sepi selepas Isya, ada sumur kecil berlumut hijau dan bercahaya samar seperti mata yang tak ingin dilihat. Tak ada yang berani menimba kecuali mereka yang telah bersuci dan menyebut nama-Nya dengan nafas pelan dan dada tunduk. Dulu, kata Mbah Sarwan, ada jin alim […]

Puisi-puisi Mulyadi J. Amalik

WAYANG SULUH Jangan bangunkan aku di lautan mimpi tengah malam. Tunggulah usai bersauh dini pagi diurai kokok ayam. Tiba padam mercusuar, tiba matahari penggantinya. Aku kan sarapan sesuai harapan. Makan berlauk garam berbutir penantian. Menggosok gigi seputih hati dan lisan. Lalu bekerja menjalankan mimpi selepas tadi. Aku wayang pencetus janji tanpa tepi. Maju menjadi suluh […]

Puisi-puisi Abang Patdeli Abang Muhi

Penjilat Barangkali, sudah tersurat dalam lohmahfuz  bahawasanya demi pangkat dan darjat demi kuasa yang tidak kekal lama demi harta yang tidak seberapa demi kedudukan yang tidak setinggi mana ada sida-sida yang sejak sekian lama kerjanya hanya membodek dan menjilat meski mereka tahu persis yang dijilat itu penuh nista dan najis kendati mereka tahu benar yang […]

Kesiur Cinta: Bahasa, Sunyi, dan Etika Ketidakhadiran dalam Puisi Timur Sinar Suprabana

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Kesiur Cinta: Metafora yang Sunyi Puisi cinta, dalam kebiasaan baca yang umum, kerap dipahami sebagai wilayah luapan emosi. Ia diharapkan menyuarakan kegembiraan, kehilangan, cemburu, atau rindu dengan nada yang tegas, bahkan kadang berlebih. Cinta diasumsikan mesti hadir sebagai peristiwa yang terasa: menyala, menggelegak, dan mudah dikenali. Dalam kerangka semacam […]

Menjadi Penyair Badai: Anatomi Sastra Vivere Pericoloso

Oleh Gus Nas Jogja* Secara etimologis dan historis, Bung Karno mempopulerkan frasa ini dari bahasa Italia untuk menggambarkan revolusi Indonesia yang belum selesai. Namun, secara filosofis, anatomi dari vivere pericoloso berakar jauh pada pemikiran Friedrich Nietzsche tentang Amor Fati. Hidup yang berbahaya bukanlah hidup yang konyol; ia adalah hidup yang menyadari bahwa stabilitas hanyalah ilusi […]

Dunia Ahmad Syubbanuddin Alwy: Spiritualitas, Sejarah, dan Eksistensi dalam Puisi Modern Indonesia

Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Pendahuluan Di jagat sastra Indonesia modern, nama Ahmad Syubbanuddin Alwy berdiri sebagai fenomena yang menautkan sejarah, spiritualitas, dan pengalaman eksistensial dalam suatu harmoni puisi yang jarang kita temui. Ia bukan hanya penyair lokal yang menulis tentang kota asalnya, Cirebon, melainkan seorang pengembara batin yang merentang kesadaran manusia ke dalam […]

Puisi-puisi H.MAR

Bayang-Bayang yang Menolak Pulang Bayangku menolak berdiri di sebelahku hari ini, katanya, aku terlalu bercahaya. Dia menyelinap ke bawah katil, bercakap dengan habuk tentang malam yang tidak pernah selesai. Aku cuba memujuk dengan jendela terbuka, tapi dia hanya tertawa “Siapa kau tanpa kegelapanmu sendiri?”   Dinding yang Berbisik dalam Bahasa Burung Dinding di kamar ini […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA KENDHIT DAN LURIK LELUHUR Pagi itu, embun masih menempel di pucuk kelor dan bambu halaman. Aku membuka peti tua warisan Bapak, pada malam yang didekap mimpi oleh suara azan yang tak sempat dijawab. Dalam peti itu, kendhit tua tergulung rapi seperti ular tanah yang lama berpuasa dalam doa. Dan lurik kusam terlipat bisu seperti […]