Pos

Semiotika Puisi Michael Riffaterre: Teori, Tahapan, dan Aplikasinya pada Puisi “Aku” Karya Chairil Anwar

Oleh: Abdul Wachid B.S.* 1. Pendahuluan 1.1. Latar Masalah Puisi selalu mengundang kekaguman sekaligus kebingungan. Bahasa yang digunakan penyair sering kali tampak “menyimpang” dari logika bahasa sehari-hari. Diksi yang padat, struktur yang tidak linear, dan lapisan makna yang beragam menjadikan puisi seperti misteri yang menunggu untuk diungkap. Dalam konteks akademik, banyak mahasiswa mengalami kesulitan membaca […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

TUBUHKU MASIH MEMBUKA KITAB Tubuhku kini adalah kitab yang kubuka dengan napas.   Halaman pertama tidak bertuliskan apa-apa.   Hanya dada yang bergerak, seperti pintu yang masih mengenali tangan yang mengetuknya.   Sesuatu datang, lalu pergi, tanpa pernah mengucapkan namanya.   Darah berjalan di bawah kulit. Ke mana? Ia tidak tahu.   Atau mungkin akulah […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

AURORA Pada usia lima tahun,   seorang anak belum tahu rumah dapat kehilangan bentuk tanpa satu pun dinding runtuh.   Dunia masih dikenalnya dari hal-hal kecil:   suara mama yang dipanggilnya,   kedatangan papa yang ditunggunya,   pagi yang membuka pintu, malam yang memejamkan mata.   Lalu mama dan papa berpisah.   Orang-orang dewasa mempunyai […]

Ketika Metafora Kehilangan Pengalaman (Bahasa Puitik di Era Generatif)

Oleh: Abdul Wachid B.S.* 1. Bahasa Puitik yang Menjadi Terlalu Mudah Belakangan ini, puisi hadir hampir di setiap sudut ruang digital. Linimasa media sosial dipenuhi larik-larik yang silih berganti muncul di antara berita, iklan, video pendek, dan percakapan sehari-hari. Dalam satu hari, seseorang dapat membaca puluhan bahkan ratusan puisi dari berbagai akun pribadi, komunitas sastra, […]

Puisi-puisi Seno Joko Suyono

Sajak Sajak Korea   67 Cheonho-daero 45-gil Angin musim gugur mendinginkan ginsengku Kutahu jalan di depan sepi dini hari ini Entah yang kudengar deram kereta atau Suara-suara dari lorong yang terbantun luruh menjelang subuh Jarak dari stasiun Cheongyangni tak begitu jauh Bunyi sepatu tergesa-gesa turun naik tangga terbawa sampai kamar kecilku Tapi kemudian menghilang ketika […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

NING Malam turun ke sebuah tanah di antara sawah dan bukit. Bukan hujan, bukan angin. Malam. Ia turun dari punggung gunung, menyusuri rumpun bambu, melewati pematang, menyentuh rumah-rumah yang lampunya satu demi satu memadamkan diri. Dari sebuah pesantren suara ngaji naik ke langit. Satu lampu. Dua. Tiga. Lalu seluruh pesantren menjadi perahu yang berlayar tanpa […]

Bertumbuh dalam Sunyi, Pulang dalam Syukur: Membaca Perpuisian Tania Rahayu

Oleh: Abdul Wachid B.S.* Lahirnya Sebuah Dunia Kepenyairan Ada penyair yang mula-mula menemukan puisinya dari kata-kata besar: sejarah, politik, filsafat, atau kegelisahan zaman. Ada pula yang menemukan jalan kepenyairannya dari hal-hal yang dekat dengan tubuh dan kehidupan sehari-hari: rumah, ibu, bapak, kebun, tanah, musim, luka, dan penantian. Tania Rahayu tampaknya termasuk yang kedua. Dalam sejumlah […]

Ekologi Sastra di Banyumas

Oleh: Abdul Wachid B.S.* Ruang yang Dibuka oleh Sebuah Narasi Kampus. Esai Bayu Suta Wardianto berjudul “Mencari Celah Tumbuh dan Berkembangnya Sastra di Kampus Banyumas”, yang dimuat di  borobudurwriters.id pada 14 Mei 2026, menarik perhatian pada satu ruang yang dalam beberapa dekade terakhir menonjol dalam perkembangan sastra Banyumas: kampus. Pilihan itu memiliki dasar historis. Sejak […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

PUISI-PUISI CINTA INSANIAH   LELAKI TUA PENJUAL KORAN DI PAGI BUTA Masih gelap. Lelaki tua itu berjalan dengan setumpuk koran di atas bahunya. Pagi belum lahir, tetapi berita sudah mencari rumahnya. Setiap koran sebuah pintu. Setiap pintu sebuah dunia yang belum tahu siapa mengetuknya. Ia berhenti. Selembar koran diletakkan di beranda. Tangan itu sebentar menyentuh […]

Trilogi Konseptual Abdul Wachid B.S.: Memetakan Sastra Pencerahan, Sastra Hikmah, dan Sastra Santri dalam Kesusastraan Indonesia

Oleh: KRHA. Prof. (HC). Dr. Dimas Indianto S.*   Pendahuluan Di tengah mekanisasi digital dan riuh-rendah algoritma yang semakin memengaruhi kehidupan sehari-hari, kesusastraan religius kita masih kerap ditempatkan dalam dikotomi yang kurang produktif. Kritik sastra modern yang bertumpu pada nalar sekuler acap kali memandang curiga karya yang lahir dari pengalaman keagamaan. Karya semacam itu mudah […]