Pos

Teater Dalam Pembelajaran Mendalam (Mengulik Teater Pelajar)

Oleh: Madin Tyasawan* Kendala sistemik dan guru yang tak menguasai strategi pengajaran membuat teater kurang mendapat perhatian di sekolah. Kita akan berdecak kagum saat menyaksikan penampilan kelompok teater pelajar berlaga di Festival Teater Pelajar (FTP) yang digelar setiap tahun di Jakarta. Pada rerata penampilannya, mereka memiliki semangat bermain yang enerjik, tubuh yang luwes, dengan vokal […]

Dialektika Genosida dan Ekosida dalam Kebiadaban Manusia

Oleh: Gus Nas Jogja*   Preludium: Ketika Langit Malu Menatap Bumi Di hadapan mimbar sejarah yang retak, kita berdiri memegang dua belah pisau yang sama tajamnya: Genosida dan Ekosida. Satunya menyayat nadi kemanusiaan (humanity), yang lainnya memutus napas alam semesta (ecosystem). Pertanyaan “mana yang lebih biadab?” sejatinya adalah sebuah upaya untuk mengukur kedalaman neraka di […]

Seni dan Hermeneutika: Ketika “Tafsir” dan “Riset” Menjadi Senjata Legitimasi

Oleh: Eko Yuds*   Tulisan ini berpijak pada satu posisi yang tegas: hermeneutika bukanlah pembenar tafsir bebas dalam seni, melainkan disiplin pemaknaan yang justru membatasi kesewenang-wenangan makna. Ketika “tafsir” dan “riset” digunakan tanpa prinsip metodologis dan kesadaran etis, seni berisiko kehilangan watak dialogisnya dan berubah menjadi instrumen legitimasi simbolik—baik bagi ego individual maupun kepentingan institusional. […]

Menyobek Kalender: Kapai-Kapai Arifin C Noer dan Ilusi Pergantian Waktu

Oleh: Purnawan Andra*   Yang Kelam: Ini adalah tahun 1960. Ini bukan tahun 1919. Dia akan mati pada tahun 1980. Sudah waktunya kerut ditambah di dahinya. Abu: Tobat, apa yang telah kau lakukan? Yang Kelam: Menyobek kalender! (Kapai-kapai, Arifin C Noer, 1970)   —— Pergantian tahun hampir selalu dibingkai sebagai peristiwa yang menjanjikan dan penuh […]

Gastronomi Politik: Dialektika Rendang, Gudeg, dan Gado-Gado dalam Cawan Demokrasi Indonesia

Oleh: Gus Nas Jogja*   Mukadimah: Meja Makan sebagai Altar Peradaban Demokrasi bukanlah sekadar bilik suara yang dingin atau tumpukan kertas suara yang mati. Demokrasi adalah sebuah perjamuan agung. Di atas meja kebangsaan kita, terhidang narasi-narasi rasa yang lebih tua dari republik ini sendiri. Jika politik sering kali dipandang sebagai perebutan kuasa yang gersang, maka […]

Ekoteologi Ronggowarsito dan Manusia Avatar

Oleh: W. Sanavero*   Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan. Oleh karena adanya jaman Kala, kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi. Lain orang lain pikiran dan maksudnya.  (Serat Kalatidha, Ronggowarsito) ——-   Masa itu telah tiba (lagi), masa yang disebut-sebut sebagai […]

Home Alone dan Produksi Makna Natal

Oleh: Purnawan Andra*   Setiap menjelang Natal, film Home Alone (1990, sutradara Chris Colombus) yang dibintangi Macaulay Culkin hampir selalu kembali diputar. Di televisi, layanan streaming, atau potongan klip di media sosial, film ini hadir sebagai tontonan yang dianggap “wajib”. Banyak orang menontonnya, sebagai hiburan, yang tak perlu banyak dipikirkan. Sebagai tontonan keluarga, nostalgia masa […]

Kebudayaan Digital dan Tradisi Lisan Nahdliyin: Apakah Kita Kehilangan Ruang Tafsir?

Oleh: Abdul Wachid B.S.*   Dari Langgar ke Layar: Lanskap Baru Tradisi Di banyak kampung yang dulu hidup oleh suara rebana dan lantunan syair manaqib setiap malam Jumat, kini udara terasa lebih senyap. Gamelan pengajian weton yang dahulu menjadi irama sosial, sekarang hanya terdengar sebulan sekali, atau bahkan lenyap tanpa jejak. Sebaliknya, anak-anak muda di […]

Sutardji, Puisi, dan Sepotong Roti

Oleh: Mahwi Air Tawar*   Bang Tardji—Sutardji Calzoum Bachri—saya menulis catatan ini bukan untuk mengulang legenda “pembebasan kata” yang telah lama kausiramkan ke tubuh sastra Indonesia. Bukan pula untuk menegaskan kembali julukan Presiden Penyair, sosok yang memukul-mukul bahasa sampai menyerah. Esai ini lahir dari sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih menusuk: sepotong roti, selembar puisi, […]

Natal, Api, dan Seni

Oleh: Agus Dermawan T.*   Dua cerita mengenai patung yang berkait dengan Natal. Suatu realitas betapa seni rupa, apa pun bentuk dan kontennya, selalu berhubungan dengan ekonomi, politik dan sosial. Dari yang teduh sampai yang banal. ——–   DI KOTA Gävle, sekitar 100 mil di utara Stockholm, Swedia, pada Desember sampai awal Januari, selalu berdiri […]