Situs Bumiayu: Pertemuan Jejak Prasejarah dan Sejarah

Oleh Dimas Indiana Senja

Bumiayu merupakan sebuah kecamatan yang terletak di wilayah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Namun dalam hal ini Bumiayu bukan semata diartikan secara geografis sebagai satu kecamatan, melainkan secara sosio-kultural yang berarti wilayah Brebes bagian Selatan, yang meliputi kecamatan Tonjong, Bumiayu, Sirampog, Paguyangan, Bantarkawung, dan Salem. Wilayah Brebes (bagian) Selatan ini lebih sering disebut dengan nama Bumiayu, meski sesungguh nama Bumiayu hanyalah salah satu nama kecamatan.

Di Bumiayu, tersebar banyak jejak prasejarah sekaligus jejak sejarah. Sesuatu yang jarang dimiliki oleh daerah lain, khususnya di Jawa Tengah. Sragen, misalnya, di sana terkenal dengan situs prasejarahnya, namun tidak ditemukan jejak sejarah. Di dataran tinggi Dieng, Wonosobo, banyak ditemukan candi-candi sebagai jejak sejarah, namun tidak ditemukan jejak prasejarah.

Di Bumiayu, hingga saat ini, terdapat ribuan fosil potongan tubuh hewan purba yang disimpan di museum mini Buton (Bumiayu-Tonjong). Fosil-fosil itu meliputi rahang gajah purba jenis Mastodon, Stegodon, dan Elephas. Kemudian ada juga rahang badak (Rhinosertidae), tulang kerbau, kepala buaya, gigi sapi, keppala dan tanduk kerbau, serta gigi monyet. Selain itu, di situs Bumiayu ditemukan juga artefak berupa beliung, kapak perimbas, kapak genggam, dan bola batu.

Selain penemuan jejak prasejarah (pra-aksara) itu, ditemukan juga beberapa situs sejarah berupa candi, di antaranya situs Watubelah di dukuh Pungkuran dan Dukuh Karangjati, Desa Kalierang; situs Watujaran di Desa Laren, Arca di Wanatirta kecamatan Paguyangan1, Batu Wali di Desa Jatisawit Kecamatan Bumiayu, dan Batu Lingga di Candi Pangkuang Desa Cilibur, Kecamatan Paguyangan. Dari data ini, maka dapat disimpulkan bahwa situs Bumiayu merupakan pertemuan jejak prasejarah dan sejarah.

Jejak Prasejarah

Situs Bumiayu adalah salah satu situs prasejarah yang terletak di sebelah timur Situs Cijolang dan barat daya dari Situs Semedo. Secara administratif berada di Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes. Daerah ini menyimpan kandungan arkeologis di beberapa lokasi diantaranya adalah Kaliglagah, Satir dan Cisaat. Daerah Bumiayu merupakan Zona Serayu Utara yang berbatasan dengan Zona Bogor. Derah ini telah terangkat ke atas oleh gerakan geosinklinal Pulau Jawa bagian utara selama Kala Plestosen Bawah (sekitar 1,8 juta tahun lalu) yang kemudian tertutup oleh endapan volkanik. Kemungkinan daerah Bumiayu, Cijulang, Prupuk, dan Ajibarang merupakan batas Pulau Jawa bagian timur pada akhir Kala Pliosen, ketika Jawa bagian barat sudah merupakan daratan sedangkan Jawa bagian tengah dan Jawa bagian timur masih berada di bawah laut pada 2 – 2,4 juta tahun yang lalu2.

Berdasar pada peta fisiografi oleh van Bemmelen (1949), daerah Bumiayu dan sekitarnya termasuk dalam dalam Zona Serayu utara bagian barat. Zona Serayu Utara dipisahkan oleh gunungapi kuarter yaitu Gunung Slamet. Bagian barat dibatasi oleh Zona Bogor, pada bagian timur dibatasi oleh Zona Kendeng, bagian utara dibatasi oleh Zona Dataran Aluvial Jawa Utara, dan pada bagian selatan dibatasi oleh Zona Depresi Jawa Tengah 3. Wilayah yang mengandung fosil vertebrata terletak di perbukitan di bagian barat jalan Tegal-Bumiayu sekitar 6 km sebelah utara Bumiayu. Lapisan-lapisan berumur Miosen ke atas dan juga mengandung fosil vertebrata dapat diamati di beberapa lembah sungai, yaitu Kaliglagah, Kalibiuk, dan Cisaat 4.

P.-Y. Sondaar (1984) mengelompokkan jenis fauna Bumiayu menjadi tiga kelompok:

  1. Fosil-fosil tertua (lokasi 1-4) di lembah Kaliglagah, dekat kampung Satir, dan lokasi 8 di lembah Cisaat. Letaknya beberapa puluh meter di atas batas antara formasi Kalibiuk dan Kali Glagah (batas lautan/darat).
  2. Kelompok fauna yang ditemukan di lokasi 6,9,11,13 di lembah Cisaat terletak 150 m s/d 220 m di atas situs yang tertua. P.Y. Sondaar sangat berhati-hati sekali mendefinisikan kelompok ini sebagai Fauna Cisaat karena lokasi-lokasi stratigrafinya begitu terpisah dalam seri daratan.
  3. Fosil-fosil yang ada di bagian atas di aliran sungai yang bukan in situ, merupakan “Obere Wirbeltier Horizont” (“horizon vertebrata bawah”) menurut von Koenigswald, sementara kelompok (1) dan (2) merupakan “Untere Wirbeltierschichten” (“lapisan vertebrata atas”)5.

Pada masa lampau, Bumiayu merupakan salah satu jembatan darat yang memungkinkan proses migrasi dari daratan Asia ke Jawa dan merupakan situs paleontologi tertua di Jawa Tengah 6. Penentuan umur oleh von Konigswald berdasarkan fosil vertebrata tersebut dilakukan dengan cara memperbandingkan kumpulan fosil vertebrata yang terdapat di India (zona Tatrot) yang dikenali sebagai fauna Siwalik. Dijumpainya fosil-fosil vertebrata di Pulau Jawa yang mempunyai banyak kesamaan dengan fauna Asia ini memperkuat dugaan bahwa telah terjadi proses migrasi dari Asia ke Indonesia Barat.

Penemuan di Bumiayu ini disinyalir mampu merobohkan teori out of africa. Sebagaimana galib diketahui, selama ini pembahasan mengenai kedatangan manusia purba selalu merujuk pada teori out of africa yakni migrasi besar-besaran dari Africa 2,5 juta tahun yang lalu menuju Indonesia. Selama ini pendaratan pertama diyakini di situs Sangiran yang berusia 1,5, juta tahun. Sementara usia fosil manusia purba yang ditemukan Bumiayu adalah 1,8 juta tahun. Maka, usia fosil manusia purba di Bumiayu lebih tua dibandingkan dengan usia fosil manusia purba di Sragen.

 

Penulis bersama warga lokal saat eksavasi fosil di tengah hutan Galuh Timur

Ada dua tim peneliti yang serius melakukan kajian terhadap situs Bumiayu ini, yakni pertama dari tim Badan Arkeologi Yogyakarta yang terdiri dari Prof. Dr. Harry Widianto (Ketua Tim); Prof. Dr. Truman Simanjuntak; Drs. Gunadi Kasnowihardjo, M.

Hum; Alifah, S.S., MA; Dr. Agus Tri Hascaryo; Dr. Mirza Amsyori; Iwan Setiawan Bimas, S.S; Mudjiono; Joko Raharjo, S.E.; Slamet Widodo. Kedua, dari tim BPSMP Sangiran, yang terdiri dari Suwita Nugraha, S.T., M.A. (Ketua Tim); Ari Swastikawati, S.Si., M.A., Wahyu Widiyanta, S.S., Haris Rahmanendra, S.S., M.Sc., Pipit Meilinda, S.Hum., Khopip Duhari Rahmat, S.S., M.Sc., M. Rais Fathoni, S.T., Wulandari, S.Si., Nur Kholis, A.Md., Rindy Gita Wahyuni, S.Hum., Irene Clarissa Desmaristi Manda, S.Sos., Joko Supriyanto. Adapun untuk pelestari dari warga lokal antara lain; H. Rafly Rizal, Karsono, Taslam, Romi, Wahid, Agung, Nasikin, Levi, dan Wildan.

Pemerintah daerah Kab. Brebes sejauh ini belum membangun museum untuk menyimpan dan merawat temuan-temuan fosil selama beberapa tahun ini. Selama ini, hanya ada satu museum yang didirikan justru oleh warga sipil, yakni  H. Rafly Rizal yang bertempat di perumahan Bumi Sari Ayu Kecamatan Bumiayu. Tempat ini dijadikan bascamp bagi para peneliti untuk melakukan pertemuan dan diskusi di sela-sela kegiatan penelitian. Di tempat inilah, fosil-fosil temuan ditata di rak seadanya dan sesekali ada kegiatan kunjungan dari siswa sekolah. Padahal, jika pemerintah lebih peduli, museum ini bisa dikelola dengan baik untuk dijadikan wahana wisata edukasi.

Penampakan luar museum mini BUTON

 

Jejak Sejarah

Sebagaimana diterangkan di awal, di Bumiayu terdapat banyak penemuan jejak Hindu-Budha yang ditandai dengan beberapa candi. Penemuan ini bahkan sudah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat setempat. Hanya saja, pemerintah tampak belum serius dalam mengelola salah satu kekayaan kultural ini. Tercatat ada beberapa titik penemuan candi yang sampai saat ini tergeletak tanpa ada upaya pelestarian. Padahal, banyak peneliti dari luar yang serius mengkaji usia dan jejak peninggalan sejarah ini.

Salah satu peneliti itu adalah Veronique, dari EFEO Prancis, yakni sebuah lembaga dari Prancis yang konsen dalam penelitian mengenai kebudayaan Asia. Pada tahun 2018 ia datang ditemani peneliti arkeologi nasional (Arkenas) Agus Sianto Indra Jaya. Keseriusan para peneliti luar itu adalah pertanda bahwa penemuan-penemuan jejak sejarah di Bumiayu bukanlah hal yang remeh, melainkan sebuah penelusuran penting mengenai jejak awal masuk Hindu-Budha di Jawa bagian tengah.

Baru-baru ini ada penemuan yang cukup mengeggerkan, yakni penemuan reruntuhan candi di kawasan milik Perhutani di desa Galuh Timur, Kecamatan Tonjong. Penemuan ini bermula dari kegiatan inventarisasi bukti sejarah desa yang melibatkan perangkat desa, perhutani, serta masyarakat sekitar. Pada mulanya ditemukan arca Dwarapala yang sudah pecah dan hampir rusak, serta umpak (pondasi) di sekitar lokasi. Selain itu, ditemukan juga sumur berbentuk kotak sekitar 80×80 cm. Setelah itu penelitian dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta yang diketuai oleh Prof. Gunadi.

Belum ada data valid mengenai usia jejak peninggalan candi ini. Untuk itulah masih perlu dilakukan penelitian lanjutan. Sejauh ini banyak teori yang dijadikan landasan mengenai identitas candi tersebut. Antara lain, teori yang menyatakan bahwa candi itu dibangun sekitar 500 tahun sebelum masehi (SM) sampai 500 tahun masehi. Teori lain menyebutkan bahwa candi itu merupakan peninggalan Hindu Klasik abad VII sampai VIII. Beberapa lagi menyebutkan bahwa masih ada keterkaitan dengan kerajaan Galuh Purba. Mengenai temuan sumur sendiri, teori yang diyakini adalah candi itu merupakan tempat suci. Untuk menjaga agar tidak terjadi kerusakan, sumur ditutup dengan bambu dan genting, sementara batu-batu dan arca yang ditemukan dikelilingi garis polisi.

Lokasi candi sempat menjadi tempat wisata bagi warga yang penasaran, sebelum akhirnya kembali tertutup rumput lantaran penggalian candi terhenti. Namun, beberapa waktu kemudian masyarakat pelestari di sekitar candi kembali membersihkan komplek candi dipimpin oleh Mbah Alit (Mbah Dipo) dan Sekretaris Desa, Muhajir. Beberapa kali dilakukan semacam ruwatan yang dilakukan bersama masyarakat sekitar. Hal ini dilakukan, konon, dalam rangka menyambung komunikasi dengan para penunggu komplek candi.

Tumpukan batu dan arca yang ditemukan di sekitar candi

Menurut keterangan Mbah Dipo, di wilayah Galuh Timur ada sekitar 8 titik candi. Candi Gagang Golok hanya salah satu di antaranya. Kedelapan titik itu, saat ini sudah ditemukan keberadaannya. Namun untuk menjaga kelestarian dan keamanan dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, informasi lengkapnya belum bisa dipublikasikan. Dari penemuan-penemuan ini, yang melengkapi penemuan candi sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa daerah Bumiayu merupakan daerah dengan sebaran peninggalan sejarah yang cukup lengkap. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa mengungkap rahasia besar yang terkandung di dalamnya.

—————-

¹Lihat Maulana, Irvan, dkk. Inventarisasi Data Geologi, Paleontologi, Dan Arkeologi Situs Buton (Bumiayu-Tonjong), Jawa Tengah Sebagai Dasar Penentuan Kawasan Warisan Geologi (Geoheritage). Proceeding, Seminar Nasional Kebumian ke-11 Perspektif Ilmu Kebumian Dalam Kajian Bencana Geologi di Indonesia 5-6 September 2018, Graha Sabha Pramana.  

²Lihat Tim Kajian BPSMP Sangiran. 2018. Laporan Kajian Potensi Cagar Budaya Situs Bumiayu Tahap I “Potensi dan Posisi Stratigrafi Temuan” Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. Hlm. 12.

³Lihat Tim Kajian BPSMP Sangiran. 2018.  Laporan Kajian Potensi Cagar Budaya Situs Bumiayu Tahap I “Potensi dan Posisi Stratigrafi Temuan” Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.

4Ter Haar I. C., 1929. Bumiayu district: Geological Guide to The Fossil Locality of Kali Glagah. Fourth Pacific Science Congress. Java, 1929, Excursion C1; Hlm. 15.

5Semah, F., 1986. “Umur Endapan Pengandung Fosil Hominid dan Vertebrata yang Tertua di Pulau Jawa: Permasalahannya Dewasa Ini” dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi ke IV: Buku I, Manusia, Lingkungan, dan Teknologi. Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala Jakarta: Depdikbud hlm 61-62.

6Semah, F., A.M. Semah., T. Djubiantono., 1990. They Discovered Java. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Museum National D’Histoire Naturelle. Jakarta.

_______________

Daftar Bacaan  

Maulana, Irvan, dkk. Inventarisasi Data Geologi, Paleontologi, Dan Arkeologi Situs Buton (Bumiayu-Tonjong), Jawa Tengah Sebagai Dasar Penentuan Kawasan Warisan Geologi (Geoheritage). Proceeding, Seminar Nasional Kebumian ke-11 Perspektif Ilmu Kebumian Dalam Kajian Bencana Geologi di Indonesia 5-6 September 2018, Graha Sabha Pramana.  

Rahardjo, A.T., 1993. Studi Kuarter : Keterpaduan Berbagai Bidang Ilmu. Buletin Jurusan Geologi ITB. Vol 23. Bandung. Hal. 58-61

Semah, F., 1986. “Umur Endapan Pengandung Fosil Hominid dan Vertebrata yang Tertua di Pulau Jawa: Permasalahannya Dewasa Ini” dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi ke IV: Buku I, Manusia, Lingkungan, dan Teknologi. Jakarta: Proyek Penelitian Purbakala Jakarta: Depdikbud hlm 61-62.

Semah, F., A.M. Semah., T. Djubiantono., 1990. They Discovered Java. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Museum National D’Histoire Naturelle. Jakarta.

Sondaar, P.Y., 1984. Faunal Evolution and The Mammalian Biostratigraphy of Java. The New Standard Biozonation For The Hominid Bearing Deposits of Java. Institute for Earth Sciences. Utrecht. The Netherlands. Hlm. 219-235

Ter Haar I. C., 1929. Bumiayu district: Geological Guide to The Fossil Locality of Kali Glagah. Fourth Pacific Science Congress. Java, 1929, Excursion C1; Hlm. 15.

Tim Kajian BPSMP Sangiran. 2018.  Laporan Kajian Potensi Cagar Budaya Situs Bumiayu Tahap I “Potensi dan Posisi Stratigrafi Temuan”. Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. Hlm 12.

 

*Penulis adalah Peneliti, Dosen di IAIN Purwokerto, Sastrawan dan pendiri BCCF (Bumiayu Creative City Forum)