Puisi-puisi D. Zawawi Imron
DALAM HUTAN
(bersama Sinansari Ecip)
Hutan ini mengajarkan harmoni
Bagaimana angin membisiki daunan
Dan burung pun berkicau tanpa lidah yang keseleo
Selintas hanya menyanyikan lagu yang sudah-sudah
Padahal itu ada maksudnya
Ada maksudnya
Jangan bicara soal waktu di sini
Kita di luar hari dan tahun
Inilah sediakala, inilah purbakala
Engkau dan aku sama-sama telanjang
Tanpa kebutuhan syahwat
Makanya sujud menjadi indah
Di atas seni dan filsafat
Karena yang tiga bukan yang empat
Dan hidup bukan sekadar bermain sempat
Itulah perlunya zikir dan doa
Detik-detik berjalan sangat perlahan
Sangat perlahan
Kita nikmati persaudaraan
Sehingga tak ada bedanya
jauh dengan dekat
Allahu Akbar
Fitrah ini bagai hamparan kasih
Yang menuju keabadian
Ada sejuta semoga dalam
Amin
KECIPAK LUMPUR
Bagaimana darahku tak kan bergetar
Saat tanah sawah berbongkah-bongkah
Kecipak lumpur mengajar bersyukur
Dalam langkah kerbau mengukuhkan jejak
Hatiku lalu kubajak
Agar jemariku meluncurkan sajak
Pak Tani,
Ajari aku bertanam benih
Agar getar jiwaku semakin gigih
Agar langkah berkelindan tasbih
Aku ingin tersenyum di tengah hamparan sawah
Bersama pohon kapuk yang berbuah randu
Kupandang puncak Gunung
Raung yang biru
Akhirnya kuyakin
Aku benar anaknya Ibu
SALAWAT BUNGA
Kembangkan cintamu
seperti mekarnya bunga
di bawah siraman cahaya dan embun pagi
Sejukkan hatimu selembut harum gaharu
Tak kan seteduh payung syafaat Rasul
di padang makhsyar nanti
Ya Nabi
Salam padamu
Ya Rasul
Rindu kami untukmu
DADAR JAGUNG ELI
Eli, buktikan dengan dadar jagung itu
Kamu menjalankan darma
Untuk orang tua atau guru
yang menuntunmu ke sumur
Tempat jarum jam
membisikkan debur
Tentang dunia dan kelanjutan kubur
Akhirnya kau tahu
Kedip bintang tak selamanya jujur
Kita percaya yang sederhana
Bahwa dadar jagung itu
menampung makna
Gigi dan geraham bukan sekadar alat
Yang bisa dijelaskan dengan filsafat
Ada kedalaman di luar rekayasa
Tentang perlunya mendidik
nyawa menebar rindu
Bahwa aku orang tuamu
Engkau memberi
Aku pun menerima
Gairah hidup yang tertitip
pada kunyahan itu
Angin yang tak tampak
kadang lebih seru bergetar
Membisikkan keikhlasan
seluas bumi yang terhampar
Kejujuran yang terindah adalah
Sujud mohon ampunan dosa
SECANGKIR KOPI
Dari kopi pahit kita belajar
kemurnian cinta
Padahal tak ada kemunian
Kalau kita tidak mengaji cinta
Sedangkan fakta untuk membuktikan
Di luar yang ada jelas ada
yang lebih dari tanda
Kenyataan wujud
yang memandu kita bersujud
Sedangkan kopi bukan terlanjur diciptakan
Tapi memang untuk melengkapi yang tidak ada
Melengkapi denyut nadi dan
bibir yang harus basah
Di sini ada Eli yang menyeduh bubuk kopi
Menjadi cairan yang memulai alif ba ta
Melangkahlah kalau kamu ingin tidur
Sehingga jelas
Tidur hanya gatra pengukur
Selebihnya keringat yang harus bicara
Dan gula
Tak harus ada
Tapi makna dan nilai
Adalah taruhan nyawa
PANCASILA DALAM SECANGKIR KOPI
Dari kopi pahit kita belajar
kemurnian cinta
Padahal tak ada kemurnian
Kalau kita tidak mencari sumbernya kasih
Sedangkan fakta untuk membuktikan
Di luar yang ada jelas ada
yang lebih dari tanda
Kenyataan wujud
yang memandu kita bersujud
Dari sini kita memahami bangsa
Sedangkan kopi bukan
terlanjur diciptakan
Tapi memang untuk
melengkapi yang tidak ada
Melengkapi denyut nadi dan
bibir yang harus basah
Suara tanah air dalam tubuh
Irene yang menyeduh bubuk kopi itu
Untuk menjadi cairan
yang memulai aksara
Kalau aku Bhinneka
Engkaulah Tunggal Ika
Melangkahlah
Untuk jejak yang lebih mulia
Sehingga jelas
Tidur hanya gatra pengukur
Selebihnya keringat yang harus bicara
Dan gula
Tak harus ada
Tapi makna dan nilai
Adalah taruhan nyawa
Untuk itu kita bercinta
Tak sekedar mengekarkan raga
DENGAN SEPEDA
Menatap ke utara
Gunung Raung tampak malas bicara
Padahal tak ada mendung merundung
Tapi aku membaca
Semangat hidup harus perkasa
Itulah mungkin mengapa kau memilih sepeda
Bukan gelar yang membuat orang tak berdaya
Baling-baling di atas pokok kelapa
semakin kencang berputar
Seperti menyanyikan angin
yang tak mau selesai
Seperti semangat pedesaan
Yang bergetar oleh Firman
Tuhan
Sembilu ada juga di sini
Tapi terasa
Saat jengkerik mengaji di malam hari
Tapi kalah oleh gerakmu
Saat mengayuh sepeda
Itulah karena sorot matamu
Selalu kauasah pada bara Subuh
Agar takbir menjadi hasrat yang teguh
Tetes embun di ujung daunan
menggamit jiwa
Detik-detik umur makin berharga
Pagi sebentar lagi
Kau kulihat anggun mengayuh sepeda
Kau memang manusia biasa
Kelebihannya punya kedalaman Cinta
ANAK-ANAK ITU
Anak-anak itu melempar buah mangga
Di kebun tetangga
Tak ada yang kena
Tapi semua batu yang dilempar
Terbang ke langit
Tak ada yang jatuh ke bumi
Kemudian Tuhan membalas lemparan itu
Dengan hujan lebat
Dan anak-anak itu semua
mandi sambil menari
Di akhir puisi ini aku berdoa
Semoga anak-anak itu tidak lain
Kamu dan aku
JANGAN BERBISIK
Jangan berbisik
Harapan itu sudah disiarkan
Mengiringi kumandang azan
Maka pagi mengolah
diri menghidupkan
bayang-bayang
Sesudah itu ada yang genap terukur
Sesudah berpisah dengan kasur
Ternyata Tuhan tak main-main
Dengan kabut pagi yang bukan asap
Lanjutnya
Hanya bisik-bisik yang mampu meresap
Ada makna yang makin dekat
Makin meresap
Hingga puisi tak cuma cakap
BUKAN PUISI
Dilihat atau tidak
Pemulung itu telah melangkah
Memungut benda-benda
yang paling sampah
Dipikir hanya emas dan permata
Yang boleh bergantung di leher jenjang
Cakrawala bisa juga bermain bahasa
Melebihi puisi
Tapi senyum pemulung itu
Telah membakar kita punya hati nurani
—
D. Zawawi Imron, lahir di Batang-Batang, Sumenep, Madura, 1946. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di media lokal, nasional, dan internasional. Buku puisinya (1) Semerbak Mayang (1977), (2) Madura, Akulah Lautmu (1978), (3) Bulan Tertusuk Lalang (1982), (4) Nenekmoyangku Airmata (1985), (5) Celurit Emas (1986), (6) Derap-derap Tasbih (1993), (7) Berlayar di Pamor Badik (1994), (8) Laut-Mu Tak Habis Gelombang (1996), (9) Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), (10) Madura, Akulah Darahmu (1999), (11) Kujilat Manis Empedu (2003), (12) Cinta Ladang Sajadah (2003), (13) Refrein di Sudut Dam (2003), (14) Kelenjar Laut (2007), dan beberapa lainnya. Buku kumpulan esai sosial keagamaannya Unjuk Rasa kepada Allah (1999), Gumam-gumam dari Dusun (2000). D. Zawawi Imron pernah juara pertama menulis puisi di AN-teve (1995), dan menjadi pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunai Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunai Darussalam (Maret 2002). Sastrawan-budayawan ini memenangkan Hadiah Mastera 2010 dari Kerajaan Malaysia dan The SEA Write Award 2011 dari Kerajaan Thailand. Dari khalayak pembaca luas, Kiai Haji D. Zawawi Imron mendapat gelar “Penyair Celurit Emas”, dan tetap tinggal di desa kelahirannya, di Batang-Batang, sebuah desa ujung timur pulau Madura. Pada Minggu, 9 Desember 2018, Presiden RI Joko Widodo memberikan penghargaan kepada dua budayawan dan dua sastrawan pada acara Kongres Kebudayaan Indonesia Tahun 2018 di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, satu di antaranya ialah D. Zawawi Imron, atas kontribusinya sebagai penyair dan pendakwah yang terus menyiarkan kebajikan sastra dan religi ke seluuruh Indonesia.





