Melani Setiawan dari Selipan Buku # 2: Di Antara Pencipta Seni dan Ultrasonografi

Oleh: Agus Dermawan T.*

                     

Tiga jilid buku spesial berjudul Indonesia “Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive”, terbitan R&W Publishing, Jakarta, telah beredar pada 2026. Buku penuh warna ini berisi dokumen foto peristiwa seni rupa selama 45 tahun. Berikut adalah cerita tipis-tipis mengenai Melani. Terusan dari artikel “Melani Setiawan dari Selipan Buku # 1”, yang terbit di BWCF edisi 4 Maret 2026 lalu.

————

MELANI W. Setiawan selalu bertutur bahwa sehabis melihat seni rupa, hatinya senantiasa terasa lapang. “Mata, pikiran dan jiwa saya betul-betul diindahkan.”

Namun sampai menjelang tengah 1970-an, ia belum mengoleksi seni. Alasannya, sebagai dokter muda ia belum banyak memiliki uang. Kedua, ia merasa harus mematangkan apresiasi sebelum menentukan pilihan. Walaupun ia percaya bahwa masalah selera dalam memilih seni rupa adalah urusan personal pikiran, hati dan mata apresian. De gustibus non est disputandum, kata ungkapan Latin lama. Masalah selera tidak bisa diperdebatkan, sehingga sesungguhnya seseorang boleh memilih seni yang mana saja. Namun Melani beranggapan bahwa selera harus memiliki standar. 

Kecintaan Melani kepada seni rupa agaknya berkelanjutan kepada simpatinya kepada para perupa. Ini lantaran ia merasa bahwa untuk memahami sepenuhnya lapisan makna seni, seseorang tak lagi bisa sebatas menatap karya sebagai wujud, namun juga harus menghayati karya sebagai bagian dari jiwa dan pikiran para penciptanya. Melani punya keyakinan bahwa mendekati seniman secara langsung adalah modus yang paling tepat untuk memahami kosmologi karya-karya seni. Melani percaya kepada upaya pendekatan ini.

“Dekati senimannya terlebih dahulu, sebelum kita mencintai karya-karya seninya,” katanya bersungguh-sungguh. Aneh rasanya bagi pengamat seni yang gemar menduga-duga isi karya. Tapi biasa bagi Melani, yang akhirnya mengawali cara pengoleksian ini sejak 1977. 

Maka pada tahun itu ia mulai menjatuhkan pilihan koleksi pertamanya. Lukisan tersebut adalah karya Idran Yusup, kelahiran Pagaralam – Sumatera Selatan, jebolan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia “Asri” Yogyakarta. Idran pernah hidup susah namun pantang-mundur, kurang pintar berbicara, tapi kukuh dalam berpendapat dan ngeyelan. 

Lukisan Idran menggambarkan burung-burung di atas pohon. Melani memilih lukisan ini berdasarkan kebutuhan dekorasi rumah barunya di Jalan Arjuna, kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat. Sebagai penghias ruangan, karya yang membawakan trend dekoratif khas Ancol itu dianggap sangat memadai, dan sekaligus punya cerita. “Ini karya bervisual manis dari pelukis yang pernah hidup pahit. Ini lukisan yang ringan dan lapang dari pelukis yang ngototan,” katanya.

Melani Setiawan dalam satu acara pameran. (Sumber: Buku Indonesia Art World)

Berbagai handphone yang digunakan oleh Melani untuk memotret para seniman. (Sumber: Agus Dermawan T)

Soal rumah, Melani memang memiliki kehendak besar untuk menjadikan kediamannya sebagai hunian yang estetik. Rumah itu sendiri secara arsitektural sudah didesain artistik. Sebagian besar elemennya terbuat dari kayu, dengan beberapa mengambil pola joglo. Pintu gerbang yang terbikin dari kayu merbau setinggi tiga meter dihiasi kolasi “gunungan” berbahan besi stainless karya perupa Basori. Pintu ini menyambut tamu yang datang dengan perasaan seni. 

Di dalam rumah bergantungan elemen-elemen dekorasi beraroma etnik, seperti lampu-lampu kuno ala keraton Jawa. Sementara furnitur yang tertata nampak didatangkan dari Jawa Tengah, Malang sampai Bali. Sekelebat hadir pula citra interior Cina, ketika dalam satu ruang muncul tempat tidur Cui Ho, yang terbuat dari kayu jati Jawa.   

“Rumah saya adalah kesenian. Karena itu, selain menjadi istana keluarga, rumah juga bisa menjadi istana seni rupa,” jelasnya.

*

Rumah ini berdiri di sebidang tanah yang berluas 1.400 meter persegi. Dengan begitu rumah laksana dikelilingi taman yang sedari awal dipersiapkan untuk menjadi surga di tengah kota. Di sudut taman berdiri satu bangunan yang oleh Melani disebut kamaran. Pada saat kemudian komunitas seni rupa tahu bahwa bangunan ini diperuntukkan bagi para tamu yang menginap. 

Catatan keluarga menulis, pada suatu waktu banyak perupa Indonesia dan pemikir seni mancanegara yang menginap di sana. Mereka umumnya sedang mempersiapkan pameran, melakukan penelitian atau menuliskan penelitian. Melani – dan keluarganya tentu –  membuka rumahnya untuk para sahabat yang ingin bertandang. Suatu kesediaan yang hanya bisa  muncul dari keterbukaan hati dan hasrat berkawan-kawan. Meski pada hari tuanya rumah itu ditinggalkan. Melani dan suaminya memilih hidup di apartemen yang juga luas dan nyaman. 

Sementara di luar Melani tak segan-segan mengetuk pintu hati dan pikiran seniman untuk berbagi cerita seni. Para seniman itu ditemui di rumah sampai ruang pameran. 

Di Museum Seni Rupa dan Keramik di kawasan Jakarta Kota, misalnya, ia berkesempatan menonton pameran karya Maria Tjui, dan sekaligus berdialog lama dengan pelukis wanita ulet, nyentrik dan “bohemian” itu. Gaya cipta serta sikap hidup kesenian Maria Tjui menjadikan Melani semakin tertarik kepada dunia seni rupa. “Ini juga salah satu trigger mengapa saya juga cinta kepada pencipta seni, bukan semata kepada hasil kreasi,” katanya. 

Semakin banyak ia bercakap dengan seniman yang memiliki peri kehidupan “aneh”, semakin mendalam penghayatannya kepada kesenian. Dan ia melihat, seganjil-ganjilnya sikap hidup seniman, perspektif dan muaranya selalu luhur. “Dalam kesenian, dalam dunia kesenimanan, tidak pernah terbersit hasrat untuk berbohong, menyelipkan mens rea, apalagi bermuslihat,” tuturnya.

Pada hari-hari kemudian ia bertemu dengan S. Soejono Ds. Pada tahun 1981 itu Soejono (baca: Suyono), pelukis alam benda dan pemandangan piawai yang sudah berpameran di beberapa negara, sedang mengalami sakit keras, sehingga butuh bantuan. 

Melani Setiawan bersama Putu Sutawijaya di Yogyakarta, 1999. (Sumber: Indonesia Art World)

Sketsa pelukis Subroto SM tentang Melani. Dicipta saat pertemuan di Museum Widajat, Mungkid, Magelang, 5 September 2004. (Sumber: Indonesia Art World)

Rasa simpati Melani menuntun langkahnya ke kediaman Soejono. Dalam kunjungan itu ia melihat bagaimana Soejono, di tengah sakitnya, kembali mengingatkan kepada isterinya agar lukisan yang berjudul “Flamboyan” tidak dijual. Kecuali apabila kebutuhan ekonomi sangat-sangat memaksa. Kepada isterinya Soejono kembali berkata, “Isteriku, sejak kanvas itu kosong, telah saya niatkan lukisan itu hanya untuk kamu.” 

Romantisme sederhana dan kekukuhan sikap seniman seperti itu membawa Melani kepada kesimpulan, bahwa bergaul dengan seniman akan selalu menerbitkan pandangan-pandangan baru tentang kehidupan. “Bagi saya, mengenali lukisan dan mengenali seniman sangat penting. Karena dari percakapan dengan seniman ruang batin saya menjadi lebih cair, lebih berwarna, banyak nuansa, dan lebih bergembira,” tuturnya.

Di sini hatinya lantas menuliskan kesimpulan: memiliki karya seni adalah satu hal, sementara memahami falsafah dan mengerti pikiran seniman adalah hal lain. Apabila mendapat salah satunya, ia merasa beruntung. Namun apabila ia mendapat keduanya sekaligus, ia merasa mendapat segalanya. 

Sejak itulah Melani guyub dengan para seniman, terutama pelukis, di berbagai kesempatan. Semua itu terjadi pada setiap kali usai praktiknya sebagai dokter, dan di sela-sela waktunya mengurusi keluarga. Di selipan berbagai pertemuan itu biasanya kameranya berbicara. Melani selalu memotret seniman yang bersangkutan, memotret karyanya, dan lantas melakukan potret bersama. Kenangan atas saat-saat mengesankan baginya sungguhlah berharga.  

Dari hari ke hari Melani semakin antusias menelusuri dunia kesenimanan. Studio-studio pelukis banyak dikunjungi, dan aneka pertemuan seniman tak pernah dilewatkan. Berbagai acara pembukaan pameran di galeri dan museum di mana saja sedapat mungkin ia hadiri. Oleh karena opening ceremony umumnya dilakukan setelah matahari tenggelam, ia pun acap kali pulang pada larut malam. 

Melani beruntung mendapat suami Fanny Setiawan, yang betul-betul memahami keterhanyutan isterinya dalam dunia kesenirupaan. Dari sini, satu demi satu karya seni ia koleksi. 

“Suami saya mendukung kegiatan ini. Bahkan sekali waktu, meski sangat jarang, ia ikut terlibat,” kisahnya.

Sebagai dokter spesialis ia pernah berpraktek di RS (Rumah Sakit) Sumber Waras, RS Jakarta, RS Medistra, RS Honoris, RS Pantai Indah Kapuk, RS Pluit, dan RS Gading Pluit di Kelapa Gading. Agar bisa membagi waktu dengan seni rupa, ia akhirnya memilih bekerja di tiga rumah sakit saja.  

*

Namun kegiatan berkesenian Melani mendadak terhenti ketika pada tahun 1986 memperoleh kesempatan belajar USG atau ultrasonografi di School of Medicine-University of Rijeka di kota Zagreb, Yugoslavia, bersama 10 dokter Indonesia lain. 

Ia memang merasa harus belajar bidang ultrasonografi, karena bidang ini pada tahun 1980-an dianggap sebagai disiplin baru yang menandai lompatan jauh di bidang kedokteran. Ilmu ini diakui sangat membantu para dokter untuk membuat diagnosa secara lebih teliti. Sebagaimana diyakinkan oleh Prof. Asim Kurjak, dokter dari Ultrasonic Institute University of Zagreb, teknologi USG di antaranya dapat mendiagnosa kandungan seorang ibu secara relatif akurat. 

Dengan USG segala sesuatu yang tersembunyi, seperti sehat dan abnormalnya kandungan akan nampak lebih jelas di layar monitor. Teknologi USG juga mampu mendiagnosa bermacam penyakit atau fungsi organ tubuh manusia, seperti kelainan kandung empedu, diagnostik kelainan hati, kepala, kelenjar getah bening dan sebagainya. Bahkan pada perkembangan akhir muncul ultrasonografi tiga dimensi, atau USG-3D sampai USG-4D.

Studi ini kemudian dilanjutkan ke Sophia Childrens-Erasmus University, Rotterdam, sebelum balik lagi ke Clinical Medical Center- Medical Faculty University Rijeka di kota Zagreb, Yugoslavia, untuk menyusun disertasi Master of Medical Science pada tahun 1988. 

Selama empat tahun ia harus ulang-alik Jakarta – Zagreb untuk melanjutkan program Doctor of Science-nya. Padahal waktu itu situasi di Yugoslavia sedang dilanda krisis politik. Memuncak ketika negara bagian Serbia terus menekan Kroasia yang ingin memisahkan diri. Ya, perang sewaktu-waktu meledak. Suasana kacau serta mengancam nyawa. 

Kesibukan Melani pada kurun itu menyita waktu, sekaligus membutuhkan biaya banyak. Memang, ia membiayai program pembuatan thesis itu secara mandiri, dengan bantuan penuh dari sang suami. Ia tak tahu bahwa sesungguhnya ada sejumlah sponsor yang mungkin saja bersedia membeayai hasratnya untuk memperluas ilmu kedokteran yang masih langka itu. 

“Saya agak terkejut ketika teman-teman di Universitas Tarumanagara bilang, mengapa tidak meminta bantuan ke Universitas. Saya pikir ini ‘kan ilmu untuk saya, meskipun nanti untuk kepentingan orang lain,” katanya. 

Melani Setiawan bersama Romo Mudji Sutrisno S.J. dan Romo Franz Magnis Suseno S.J. dalam pameran sketsa Mudji Sutrisno, “Dari Stupa ke Stupa” di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 2014. (Sumber: Indonesia Art World)

Melani Setiawan di studio perupa Yani Mariani Sastranegara, 2002. (Sumber: Indonesia Art World)

Berbarengan dengan kegiatan pembuatan thesis, Melani masih menelusup ke kampus-kampus lain untuk menggali sumur pengetahuan medisnya. 

Tahun 1988 ia mendadak sudah ada di School of  Post-graduate Medical Studies di National University of Singapore. Kemudian tampak sebagai peserta The First Asian Teaching Course in Gastroenterology and Endoscopy di University of Malaya Medical Center. Tahun 1989 ia sekonyong-konyong berada di Departement of Pediatrics-National Childrens Hospital, Tokyo. Di sini ia memperoleh bimbingan dari para pakar rumah sakit itu, seperti Morihiro Sakei dari Departement of Surgery, dan Masanori Tamura dari Departement Neonatology. 

Pada tahun-tahun lain, masih di Jepang, ia mengenyam ilmu di Keio University, Juntendo University, Tsukuba University, Showa University, Sapporo University dan Kyoto University. Di Hongkong ia pernah belajar di Chinese University of Hongkong dan Prince of Wales Hospital. Di Amerika ia pernah duduk di bangku University of California-Davis. Bukan main sibuknya Melani!   

Sementara dalam menyelesaikan thesis bidang USG ia mendapat bimbingan dari Prof. Z. Fuckar, MD, Phd. Untuk keperluan penelitian ia dibantu oleg DR. Mirna yang bertugas di Bagian Anak Rumah Sakit Universitas Vladimir Bakaric, Rijeka. Melani juga harus mengingat nama Dr. Salim dari Pontianak, yang dianggap banyak mendukung.

“Saya selalu mengenang kebaikan mereka. Tanpa mereka saya hanya seorang Melani Setiawan tanpa keahlian,” ujarnya.

Menarik diketahui, peraih gelar Master Medical Science dan pemegang sejumlah diploma post-graduate program ini punya beberapa penghargaan penting dalam kedokteran. 

Tahun 1995 dari The New York Academy of Scienses. Tahun 1996 dari American Institute of Ultrasound in Medicine. Tahun 1997 dari The Marquis Who’s Who in the World. Ia juga menulis belasan buku mengenai perkembangan ultrasonografi. Dan telah menyampaikan lebih dari 130 makalah untuk seminar nasional dan internasional. 

Prestasi yang layak dicatat. *** (Bersambung)

—-

*Agus Dermawan T. Penulis buku budaya dan seni. Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025.