ASLI: Akademi Seni Lupa Indonesia
Oleh Agus Dermawan T. *
Lupa adalah penyakit turunan orang Indonesia, kata orang tua yang tak mau disebut namanya. Kumpulan lupa yang paling mudah diingat adalah yang menimpa para pejabat negara.
————-
DALAM pagelaran stand up comedy saya menyaksikan seorang monodramator beraksi. Kedengarannya benar. Namun menurut keyakinan saya, apa yang ia katakan ada yang keliru. Mari kita dengarkan apa yang ia katakan di panggung suram itu.
*
Mohon ijin, perkenalkan nama saya Pandi Pragilapratomo. Di panggung ini saya ingin bercerita apa saja yang belum sempat saya lupakan. Maka dengarkan.
Lima belas tahun lalu sampai hari ini, seorang teman alumnus Akademi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta ke mana-mana mengenakan T-shirt bertuliskan “ASLI: Akademi Seni Lupa Indonesia”. Sekilas terasa ASLI yang tertulis hanyalah plesetan dari ASRI, perguruan tempat ia dulu belajar. Namun setelah memperhatikan ilustrasinya – gambar lelaki sedang puyeng dengan pandangan mata kosong – siapa pun boleh curiga.
Dari situ saya pun menanyakan makna yang ada dalam T-shirt itu. Si teman pun menjawab demikian:
“Ini untuk menyadarkan, betapa bangsa Indonesia suka melupakan masa lalu, dan gemar berpura-pura lupa mendokumentasi dan memaknai kejadian masa silam. Sehingga plus-minus sejarah itu tidak dijadikan pelajaran untuk menempuh masa depan. Lupa, atau pikiran yang lepas dari ingatan, adalah kebudayaan asli bangsa Indonesia. Itu sebabnya lupalogi jadi pelajaran pokok dalam Akademi Seni Lupa Indonesia,” katanya ceria.
Padahal, sambungnya, penolakan atas ASLI sudah diisyaratkan oleh Presiden Sukarno lewat pidatonya yang gemuruh pada 60 tahun lalu: Jasmerah! Jangan sekali-sekali melupakan sejarah!
(Penonton asyik mendengarkan dengan kuping kiri, meski lalu keluar dari kuping kanan)

Monodramator sedang bercerita kelindan lupalogi di depan mikrofon. (Sumber: Ilustrasi Supriyanto/Kompas)
Ihwal berlupa-lupa, bangsa Indonesia telah membuktikan di banyak bidang dan jurusan. Tengok kejadian yang terus berulang.
Lebih dari sepuluh tahun silam sejumlah pejabat Departemen Agama lupa bahwa mencuri adalah dosa, sehingga mereka pun menilep duit penerbitan Al-Quran. Tapi lupa itu berterusan sampai sekarang, sehingga muncul berita terbaru, kasus Y. Menteri Agama ini pada minggu pertama Januari 2026 ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK alias Komisi Pemberantasan Korupsi. Ia diduga menyelewengkan itung-itungan kuota haji. Sang menteri pun terancam masuk bui.
Sejak lama memang orang Indonesia suka lupa kepada hati nurani dan teriakan mulutnya sendiri! Yang paling gemar lupa ihwal itu adalah legislator.
“Katakan tidak kepada korupsi!,” kata mereka berapi-api. Namun begitu ada sela, mereka melahap uang negara, sehingga beberapa tokoh “anti korupsi” seperti AS dan AU masuk penjara.
Begitu juga para pemungut pajak, yang tugas sejatinya mengumpulkan uang dari rakyat untuk negara, yang kemudian dikelola, dan ujungnya dikembalikan dalam bentuk fasilitas segala rupa, agar rakyat sejahtera.
Mereka lupa bahwa pajak yang dipungut tidak boleh diakal-akali. Mereka lupa bahwa tindakan memeras para wajib pajak sama dengan memalak. Meski mereka menyangkal dan ngeyel, tetap akan dihadiahi sel. Berkait dengan muslihat memeras dan akal-akalan itu, Kepala KKP atau Kantor Pelayanan Pajak Madya Jakarta Utara DBI tercengang kala terjebak dalam Operasi Tangkap Tangan. Bersamanya ikut dicokok Penilai KKP Jakarta Utara AB, dan Kepala Seksi Pengawas dan Konsultasi KKP Madya Jakarta Utara S.
(Penonton mulai risi, lantaran yang diperkatakan menyangkut pribadi-pribadi.)
Lupalogi memang tak hanya dipelajari dan diimplementasi pada kurun kemarin saja. Ilmu ini justru semakin dipelajari, dipahami dan dihayati oleh bangsa Indonesia pada hari-hari ini. Sehingga halimun lupa semakin pekat menyelimuti.
Mari melihat peristiwa yang terdahulu. Di jagat birokrasi, tahun 2013 silam tersebutlah nama AF. Bupati ini pada suatu kali dikecam luas lantaran ulahnya yang sangat melecehkan martabat perempuan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono marah, AF pun dicopot dari jabatannya. Namun sang lupa mampu menyihir ingatan masyarakat. Pada pemilu legislatif tahun berikutnya AF dipilih rakyat, sehingga ia duduk nyaman di kursi dewan.

Lukisan Salvador Dali, “The Persistence of Memory”, metafora kegigihan ingatan yang akhirnya meleleh juga bersama waktu. (Sumber: Agus Dermawan T.)
Pada kurun silam Menteri Agama SA dituduh lupa memperbaiki kerusakan jalan raya menuju surga ketika menjalankan tugasnya. Kerusakan itu menyebabkan ia sendiri terperosok ke dalam lubang korupsi dana haji. Rupanya sang menteri lupa kepada ucapannya sendiri: betapa kesempatan sering membuat orang merencanakan pencurian. Occasio facit furem, begitu ungkapan Latin menuturkan.
Yang ini sungguh komedis. Dalam suatu gelaran pemilu, W, pendiri partai H, mencalonkan diri sebagai capres, dengan berpasangan dengan HT. Begitu sadar bahwa partainya tetap saja gurem sehingga tidak memiliki harapan, W diam-diam mendekati partai sebelah, untuk mendukung pasangan capres dan cawares lain. Ya, W ini tega-teganya melupakan HT, yang berbulan-bulan jadi “wakil presiden”nya, dan erat bergandeng tangan kampanye bersama.
(Para penonton ramai tertawa. Huuahahahaha.)
Nah, yang ini adalah lupanya seorang tokoh besar J. Beberapa belas bulan setelah mengucapkan sumpah untuk menjalankan jabatan sebagai Gubernur, J tiba-tiba melompat dari kursi gubernur, dan memposisikan diri sebagai calon presiden. Sang gubernur ini dituduh lupa kepada komitmen: mengemban jabatan gubernur selama lima tahun. Dan masyarakat pendukungnya pura-pura lupa kepada upacara sumpah yang digelar bersama dan dengan gembira disaksikannya.

Bagian dari karya seni rupa F.X. Harsono,”Writing The Erased Name 1”, yang menolak lupa hilangnya kebudayaan Tionghoa di Indonesia akibat politik. (Sumber: Dokumen.)
Sementara itu masyarakat pemrotes juga lupa bahwa J adalah petugas partai, yang syahdan memiliki loyalitas tak terperi kepada institusi. Dengan begitu tekatnya untuk menuruti permintaan partai tidak bisa dikoreksi, walau dikeroyok dari segala lini.
Meski dalam hal ini J juga dianggap lupa pada prinsip moral-politik yang dipetik dari Jean Paul Sartre, tokoh eksistensialis Prancis: “A statesman, like a thinker, philosopher and writer, must refuse to allow himself to be transformed in to a institution.” Seorang negarawan, seperti halnya seorang pemikir, filsuf dan penulis, harus menolak ketika dirinya diubah menjadi sebuah lembaga. Ia harus berdiri sebagai pribadi yang bebas.
Yang menarik, J juga sering lupa dengan perkataan dan sikapnya sendiri. Buktinya, akhirnya ia melupakan dan serta-merta keluar dari partai yang menjadikannya sebagai pemimpin tertinggi.
Di sisi sana, sebagian masyarakat lalu mengeritik sebisa-bisa, sambil pura-pura lupa bahwa J adalah pemimpin yang dulu mereka dukung dengan hati berjuta bunga. Masyarakat juga lupa bahwa J juga punya terobosan kerja luar biasa untuk bangsa dan negara.
(Penonton melongo.)
Di Indonesia memang bukan hanya para pejabat dan politikus saja yang suka lupa, tapi juga sebagian atau bahkan segenap rakyatnya.
Ketika P mengajukan diri sebagai capres, masyarakat ramai-ramai mendukung. Atas hal ini masyarakat dianggap melupakan stigma P yang pernah diberhentikan sebagai tentara lantaran dianggap melanggar HAM. Bahkan pada pemilu tahun 2024 P berhasil memenangi pemilihan umum.
Sementara pihak P menganggap masyarakat lupa bahwa ia telah berkali-kali meluruskan tuduhan soal HAM itu. Masyarakat juga lupa, betapa ketika P menjadi cawapres mendampingi capres MS, persoalan HAM tidak pernah dipersoalkan.
(Penonton gregetan dan protes. Mengapa sejak awal nama-nama tokoh dalam cerita hanya dipanggil inisialnya saja. Apa si monodramator takut ditangkap aparat?)

Foto karya Oscar Motuloh, “Depan Rumah Om Lim, Jalan Angkasa, Jakarta, 14 Mei 1998, pukul 13.18 wib”. Menggambarkan ingatan pembakaran lukisan konglomerat Lim Sioe Liong dan isteri, karya seniman Li Shuji. (Sumber: Dokumen.)
Namun, benarkah masyarakat Indonesia memang biangnya lupa, karena di negeri ini perguruan tinggi ASLI – Akademi Seni Lupa Indonesia, sudah lama berdiri? Belum tentu. Karena banyak orang diam-diam lebih percaya kepada Charles-Maurice de Talleyrand. Negarawan Perancis ini berkata, “Sesungguhnya tidak ada yang mereka lupakan! Karena mereka sedari awal memang tidak mempelajari, memahami dan mengingat apa-apa!”
Kalau yang dibilang Charles benar, Indonesia terselamatkan dari sebutan “negeri kaum alzheimer”.
Atas semua lupa-lupa jagat politik dan birokrasi ini, dunia kesenian Indonesia, spesifik dunia seni rupa, juga lupa merekamnya. Sehingga ribuan karya yang hadir hanya menyajikan pikiran dan perasaan seniman yang sekadar klangenan dan berkhayal-khayal saja. Dengan imajinasi yang sekadar keluyuran ke mana-mana. Jauh dari perkara politik, kemasyarakatan dan ekonomi yang banal. Padahal, katanya, seniman itu antena dan sosial. Dengan begitu, alumnus Akademi Seni Rupa Indonesia yang berT-shirt ASLI itu juga lupa kepada persoalan-persoalan besar bangsanya sendiri.
(Penonton bertepuk tangan. Lalu dengan meringis buru-buru meninggalkan ruangan.)
*
Begitulah sang monodramator komedi itu berkata-kata. Menurut keyakinan saya, apa yang dia ungkapkan kurang benar adanya. Namun saya lupa, bagian mana yang harus disebut keliru. ***
—
*Agus Dermawan T. Penulis. Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025.




